
" Kenapa? Apa aku kurang lihai? " Shen mensejajarkan wajahnya, tapi tangannya masih tidak berhenti. Celana berpinggang karet itu mempermudah tangan Shen untuk masuk kedalam dan menggenggam bagian bawah Arnold yang sudah sesak itu.
" Ah! Shen! " Arnold sungguh sudah tidak tahan lagi saat tangan Shen mulai memijat bagian bawahnya ke atas dan ke bawah. Mau menepis juga tangannya serasa tertahan oleh sesuatu, mau memberontak tapi bibirnya dibekap dengan buas oleh Shen. Cukup lama dia tetap diam menahan diri, tapi pada akhirnya dia sungguh tidak tahan lagi.
Brak! prang!
Semua barang yang ada di meja kokoh itu jatuh ke lantai saat Arnold bangkit dan membuang seluruh benda yang ada di meja. Dia menjatuhkan tubuh Shen disana, lalu menahan kedua tangan Shen di atas kepalanya.
" Ini kesempatan terakhir. Pergilah sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kau sesali nanti. " Bola mata Arnold kini sudah sangat merah, nafasnya memburu tak teratur, bagian inti bawahnya dapat Shen rasakan berkedut karena menempel dengan satu pahanya.
" Apa yang akan aku sesali? " Shen mengangkat kepalanya kembali membenamkan bibirnya di bibir Arnold. Sejenak Arnold terdiam masih ingin menahan, hingga tanpa sadar tangannya yang menahan tubuh Shen mengendur, lalu Shen bisa kembali beraksi. Dia memeluk tengkuk Arnold, kembali menyesap rakus bibir Arnold, dan memainkan lidahnya disana.
" Jangan salahkan aku! " Ucap Arnold sesaat melepaskan bibirnya dari Shen, lalu kembali menyatukan bibirnya. Sekarang bukan hanya Shen yang terkesan rakus, Arnold juga tak kalah buas dengan ciuman itu. Empat tahun lebih, dia tidak pernah lagi menyentuh wanita yang kini berada di bawah tubuhnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, tapi sungguh bagian bawahnya sudah membutakan seluruh akal sehat dan seluruh tubuhnya.
Mereka berdua bak pasangan yang di mabuk cinta, saling melepas pakaian dengan nafas yang memburu seolah tak tertahankan. Suara decapan begitu jelas terdengar memenuhi ruang baca yang beberapa saat lalu sunyi.
" Em! " Keluh Shen saat Arnold menyesap bagian bawahnya, kedua tangannya aktif memijat bagian dadanya, hingga tak berapa lama satu tangan Arnold turun kebawah untuk memberikan tusukan-tusukan kecil di inti Shen.
" Shh.... " Desis Arnold saat giliran Shen memainkan benda bawahnya dengan gerakan yang begitu sensasional. Sempat terlintas dibenaknya, apakah pria yang berciuman dengan Shen saat itu yang mengajari ini semua? Kenapa Shen begitu lihai dalam permainan panas seperti ini? Ingin protes, tapi dia juga cukup sadar diri dengan kesalahannya sendiri.
Setelah beberapa saat yang terdengar hanyalah suara lenguhan nikmat yang keluar dari mulut Shen dan Arnold, padahal mereka belum melakukan penyatuan dan Shen masih memijat bagian bawah Arnold saja.
Saat Arnold akan melesakkan bagian bawahnya ke inti Shen, dia kini tertahan sembari mengeryit.
" Shen, kau sedang datang bulan? "
Shen menutup mulutnya seolah-olah dia kaget.
" Ya ampun! Aku benar-benar tidak tahu! "
Arnold mendesah kesal, dia memundurkan tubuhnya, mencari pakaian Shen, lalu memungut pakaiannya.
" Kembalilah ke kamar. " Ucap Arnold menahan kecewa.
Shen tersenyum tipis, lalu mengangguk seolah-olah dia sangat kecewa, sama kecewanya dengan Arnold saat ini. Shen kembali memakai pakaiannya, lalu diam sejenak melihat Arnold yang tengah menahan sesuatu.
" Arnold, apa kau akan menemui Mona karena tidak bisa melakukanya denganku? " Shen menatap sedih.
" Arnold, mari kita lihat seberapa kuat kau akan bertahan dengan ke bimbangan mu itu. " Gumam Shen, dia tersenyum puas lalu berjalan keluar meninggalkan ruang baca. Dia kini semakin tersenyum lebar karena Mona sudah tidak ada disana, dan pasti Mona sudah memikirkan hal yang seharusnya terjadi.
Hancur! Hancur, sehancur hancurnya. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana hati Mona saat ini. Dia masih berdiri dan melihat bagiamana Arnold dan Shen bergulat nikmat. Tangannya sampai gemetar menahan rasa kecewa, juga kepedihan karena merasa gagal membuat Arnold memilihnya.
Langkah kaki yang gontai, ditemani dengan air mata yang bercucuran seolah menjadi pelampiasan atas kesedihannya. Sungguh dia tidak bisa mengatakan seberapa besar kesedihan yang ia rasakan saat ini, meski awalnya dia merasa terganggu dengan kembalinya Shen, dia juga sempat dibuat tenang karena Arnold sama sekali tidak terlihat memperhatikan Shen. Jadilah dia berpikir bahwa Shen hanyalah wanita berstatus istri yang tidak akan pernah bisa merebut hati Arnold.
Sekembalinya Mona kerumah orang tuanya, Mona tetap tak bicara dan membiarkan saka air matanya jatuh, dia bahkan mengabaikan pertanyaan orang tuanya yang mengkhawatirkannya.
" Arnold, aku tidak mau kehilanganmu! Aku tidak mau! Shen hanyalah wanita tidak berguna, aku yang pantas untukmu! " Rintih Mona saat dia sudah berada di dalam kamar. Benar, memang banyak laki-laki tampan yang ada di dunia ini, tapi Mona merasa jika Arnold lah yang paling cocok dengannya. Mulai dari wajah, postur tubuh, juga harta yang dimiliki pria itu.
Berjam-jam sudah berlalu, Mona masih saja menangis dan mengabaikan kedua orang tuanya yang terus mengetuk pintunya dan bertanya apa yang terjadi. Seolah tak mau perduli lagi, Mona membanting vas bunga, lalu memungut pecahannya. Dengan tangan gemetar dia mengarahkan pecahan kaca itu ke pergelangan tangannya.
" Arnold, kalau kau lebih memilih Shen, maka aku juga tidak punya alasan untuk hidup. " Mona memejamkan mata seraya mengarahkan pecahan kaca itu untuk memotong urat nadinya. Masa bodoh dengan kedua orang tuanya yang histeris begitu mendengar pecahan dari dalam kamarnya, Mona hanya fokus memikirkan rasa sakit yang tak tertahankan dihatinya.
Brak....
Setelah lelah menggedor pintu dan tidak mendapat jawaban, akhirnya orang tua Mona memutuskan untuk mendobrak saja pintu kamar putrinya. Bak disambar petir, orang tua Mona begitu terkejut melihat bagaimana darah mengalir dari pergelangan tangan putrinya yang masih terisak setengah sadar. Bergegas Ayahnya Mona mencari pengikat untuk mengikat tangan Mona agar bisa menghentikan darah yang terus mengalir, lalu membawanya ke rumah sakit dengan segera.
Beberapa jam setelah Mona mendapatkan perawatan, Orang tua Mona kini terduduk lesu karena bingung dengan masalah apa yang tengah dihadapi putri pertamanya sehingga memilih untuk mencelakai dirinya. Keadaan Mona memang sudah baik, tapi sekarang mereka harus mencari tahu, dan membantu putrinya menghadapi masalah.
" Ayah, Ibu, Aku akan mencari tahu tentang apa yang terjadi dengan kakak setelah kakak tenang nanti, Ibu dan Ayah jangan terlalu khawatir ya? " Pinta adik Mona yang bernama Marisa. Gadis itu sangat mirip dengan Ibunya, lembut dan pengertian.
Ayah dan Ibu Mona mengangguk meski tak bisa menyembunyikan betapa mereka khawatir dan juga sedih.
" Sekarang, Ayah dan Ibu pulang saja dulu, biarkan aku yang menjaga kak Mona. "
Setelah kepergian orang tuanya, Marisa berjalan masuk untuk menemui kakaknya yang masih belum sadarkan diri. Marisa meraih tangan Mona, lalu mengusapnya dengan lembut.
" Arnold, Arnold jangan tinggalkan aku! Jangan memilih Shenina, aku tidak mau kita berpisah, Arnold..... "
Marisa mengeryitkan keningnya setelah mendengar kakaknya mengigau.
" Kak, siapa Arnold? Apakah dia kekasihmu yang berselingkuh? "
Bersambung......