Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 9 JANGAN LIHAT!



"Nana..."


"Bara..."


Keduanya sama sama terkejut karena tanpa sengaja bertemu di minimarket ini.


"Sama siapa?" tanya Bara.


"Sendirian?" tanya Nana bersamaan dengan Bara.


Keduanya merasa canggung. Bara sampai mengusap tengkuknya sedangkan Nana menu dukkan pandangan sambil mengulum senyum.


"Ya, gue sendiri."


"Gue juga sendiri. Cari apa?" tanya Nana. Bara mengangkat minuman kaleng di tangannya.


"Oh... gue cari barang dulu, ya." Nana tampak gugup melihat Bara yang terlihat keren dengan jaket kulitnya serta rambut yang sedikit acak-acakan itu.


Bara mengikuti Nana dari belakang. "Kenapa?" tanya Nana yang tengah memilih camilan dan Bara ada di belakangnya.


Bara terlihat gugup. Dia sendiri bingung kenapa kakinya secara otomatis mengikuti langkah kaki Nana, gadis yang memakai celana kulot 7/8 serta baju rajut pas badan berlengan panjang.


"Eh... Ini!" Bara langsung mengambil asal camilan di rak dan memasukkan ke keranjang yang Nana pegang. "Untuk besok di sekolah! Ya, untuk besok. Zahra sama Sherly pasti seneng."


Nana memperhatikan raut wajah Bara yang tampak tegang. "Kita gak pernah makan keripik begini, Bara!" tolak Nana sambil meletakkan kembali cemilan berbungkus mengelembung itu.


Bara semakin gugup, tapi ia pandai menyembunyikannya dari gadis itu. "Ya kali aja pengen yang beda," ucapnya datar.


"Ck!" decak Nana. "Yang biasanya aja deh, wafer kek, malkist kek." Nana berjalan kearah rak dimana makanan seperti wafer, malkist, biskuit tersusun rapi di sana.


Bara mengambil beberapa bungkus wafer dan malkist berbagai rasa membuat Nana mengerutkan kening merasa keheranan.


Nih cowok kenapa sih? Aneh banget?


Keranjang yang Nana pegang kini sudah penuh. Padahal niatnya kesini untuk membeli pembalut, kapas pembersih wajah dan tissu tapi kini keranjangnya malah berisi makanan.


"Sini, gue bawa!" Bara mengambil keranjang ditangan Nana. "Udah selesaikan? Ayo pulang!"


Pulang sana! gue belum beli apapun, Baraaaa! Ingin rasanya Nana menjerit dihadapan pria itu. Tapi akal sehatnya masih melarangnya melakukannya.


Dia diam, gue pingin denger dia ngomong. Tapi pas ngomong, rasanya nyebelin banget!


Bara sudah berjalan ke kasir. Nana kesal kembali mengambil keranjang di dekat meja kasir.


"Ada lagi yang mau lo beli?" tanya Bara. Nana tidak peduli, ia mencari apa yang ia beli di deretan rak tak jauh dari posisinya berdiri sekarang.


"Titip sebentar, mbak," ucap Bara pada wanita yang bekerja dibalik meja kasir itu.


Bara mengikuti Nana dan ia melipat tangannya didada melihat Nana yang dengan teliti membaca benda yang ia pegang.


"Nyari apa?"


Nana tersentak kaget mendengar suara Bara. Nana bisa melihat pria itu ada di dekatnya.


Nana langsung menyembunyikan sebungkus pembalut di tangannya ke belakang tubuhnya.


"Nyari apa?" ulang Bara.


"Bu... bukan apa-apa."


"Cepat, gue tungguin. Biar sekalian dihitung."


"Lo bisa kesana dulu, gak?" pinta Nana.


"Gak bisa. Gue gak ganggu. Pilih aja lo mau yang mana!"


Astaga Baraaa! Gue malu lah milih pembalut di depan muka lo!


"Issh! Sana dulu!" Usir Nana mengerakkan tangannya di depan Bara.


"Oke. Gue balik badan. Cepat pilih!" Bara membalikkan badannya. Ia mengulum senyum melihat wajah panik Nana tadi.


Selama ini Bara kesepian. Di rumah ia tidak punya teman, dan di sekolah ia malas berbaur karena alasan tidak ingin banyak orang tahu tentang kehidupannya.


Tapi saat ini, ia seperti punya mainan baru. Nana sepertinya bisa mengusir rasa sepinya. Tapi satu hal yang tidak berubah, ia tidak ingin Nana terlalu masuk dalam kehidupannya.


Kehidupan keluarganya terlalu memalukan untuk diketahui banyak orang. Zahra, Sherly, Putra dan Calvin adalah empat orang yang sedikit banyak tahu tentang keluarganya, meski tidak detail dan seluruhnya mereka ketahui.


Nana berdecak sebal. Nih cowok kesambet setan apa sih? Kok aneh begini?


"Jangan lihat!" bentak Nana.


Nana segera mengambil 6 bungkus pembalut dengan dua varian, untuk siang dan untuk malam hari. Sebenarnya ini belum waktunya ia datang bulan, masih sekitar 2-3 hari lagi. Tapi ia beli untuk persediaan.


Dia juga dengan asal mengambil tissu dan kapas pembersih wajah dari rak. Nana melangkah menuju kasir melewati tubuh Bara. Ia akan membayarnya di kasir, tapi terlambat karena Bara telah mengeluarkan kartu debitnya.


Nana dan Bara keluar dari minimarket dengan Bara yang hanya membawa sekaleng minuman dan Nana membawa dua plastik berukuran besar.


"Ini serius gue yang bawa?" tanya Nana seperti orang bodoh.


"Iyalah, lo kan bawa mobil."


"Simpan aja dimobil, lo."


"Setiap pagi ambil beberapa dan bawa sekelas."


"Segitu banyak kan cukup buat seminggu."


Ingin rasanya Nana menimpuk wajah tampan yang memporak-porandakan hatinya itu dengan bungkusan kresek ditangannya.


Nana memasukkan belanjaannya ke mobil dan bersiap meninggalkan tempat itu.


Bara memberikan struk belanjaan pada Nana. "Hitung barang-barang lo, dan tambahkan ke hutang lo!"


"Gue becanda!" Bara membuat Nana menatapnya tajam.


"Balik sana!" usir Bara yang berdiri disamping pintu mobil Nana.


"Ck!" Nana berdecak dan menutup kaca jendela mobilnya.


Ia segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan geram. Gue gak ngerti sama lo, Bar.


Lo biasanya pendiam, cuek dan gak semenyebalkan ini. Tapi malam ini, gue rasa lo beda!


****


Hari berikutnya di kelas XI IPA 1.


"Banyak banget, Na?" Zahra berbinar saat Nana mengeluarkan beberapa bungkus malkist dan wafer dari laci ke atas meja. Padahal saat ini mereka bertiga tetap membawa bekal seperti biasa.


"Bawa apa?" tanya Bara melirik kotak bekal Nana.


"Sebentar, kita lihat mama bawain apa?" Nana membuka tutup kotak bekalnya.


"Wah, bolu pisang..." ucap Nana saat melihat potongan bolu pisang tersusun rapi di kotak bekal.


Semenjak Nana mengatakan bahwa teman-temannya menyukai masakan mama Ayu, mamanya itu selalu membawakan bekal yang berbeda setiap harinya.


Bara langsung mengambil sepotong. "Enak, Bar?" tanya Putra.


Bara hanya mengacungkan jempolnya. Nana memperhatikan pria disebelahnya itu.


Kalau gini, lo kayak manusia normal, Bar.


Saat mereka tengah becanda dan bertukar makanan, tiba-tiba Diandra masuk ke dalam kelas.


Zahra yang pertama kali menyadari kehadirannya. "Apapun yang terjadi, lo jangan mau pergi dari kursi lo, Na!" ancam Zahra pada Nana. Ia tidak suka kejadian beberapa hari lalu, dimana Nana mengalah dan pergi dari kursinya.


"Bara, lo beresin deh!" Zahra langsung merasa muak dengan kedatangan miss perusuh itu.


"Mau apa lo kesini?" tanya Bella, siswi populer di kelas ini. Bella bertanya langsung dari mejanya.


"Gue mau ketemu Bara!" jawab Diandra dengan wajah sombongnya.


"Cih!" Bella berdecih. "Masih ngejer si cupu lo! Setelah kapten Basket lo porotin?" sindir Bella tak suka.


Diandra langsung memasang wajah marahnya. "Gue gak pernah porotin dia. Bokap gue tajir!"


"Minggu lalu gue baru ke paris!" pamernya.


"Cih! Ke Paris atau open B*O di Hotel?" Wajah Bella tampak meremehkan Diandra.


"Tutup mulut, lo!" Diandra menuding Bella yang duduk di bangku barisan nomor dua.


Putra segera berdiri dari kursinya. "Stop Bel." Perintah Putra dan Bella langsung diam.


"Heeh!" Diandra tersenyum sinis. "Takut banget lo sama ketua kelas doang!" Diandra menatap remeh pada Putra.


Bella tak ingin menjawab. Jika Putra sudah turun tangan maka masalah ini bisa saja dibawa sampai kemeja BP.


"Kamu ada perlu apa kesini?" tanyanya pada Diandra.


"Ketemu Bara!"


"Boleh. Tapi yang sopan!"


"Bara!" Putra melambaikan tangannya memanggil Bara. "Lo selesaikan!"


Bara langsung maju ke depan dan membawa Diandra keluar dari kelas. Nana hanya bisa menatap punggung Bara dengan tatapan kosong. Mereka mau kemana? Kenapa gue cemburu?


"Semoga setelah ini Diandra mundur," ucap Sherly lemah.


Nana langsung menatap Sherly. "Sebagai info buat lo Na."


"Diandra sudah berkali-kali di tolak."


"Tapi entah apa yang dia incar dari Bara. Sehingga dia terus maju."


"Diandra di gosipkan sebagai gadis yang bisa dipakai dalam tanda kutip." Sherly menggerakkan dua jemari tangannya disamping kepala menandakan tanda kutip.


Nana mendelik tak percaya. "Biasa aja kali, Na." Zahra tertawa melihat wajah Nana yang terlihat lucu.


"Udah! Jangan pada gosip!" Putra kembali duduk.


Nana terus memikirkan apa yang sedang dilakukan Bara dan Diandra. Mereka sedang membicarakan apa. Nana sangat penasaran.


Sementara itu di ujung lorong, Diandra tengah menatap mengagumi Bara yang mengeraskan rahang di hadapannya.


"Ini kali terakhir, Di."


"Jangan lagi datang."


"Hargai diri kamu sendiri. Jangan seperti pengemis yang selalu datang mencari perhatian."


"Gue suka sama lo, Bar! Kenapa lo gak ngerti juga?"


"Gue gak bisa bales, Di."


"Sorry."


Bara meninggalkan Diandra begitu saja. Ia sudah berkali-kali memperingatkan pada gadis itu bahwa dirinya tidak tertarik untuk menjalin hubungan spesial. Bahwa Bara tidak bisa membalas perasaannya.


Bara tidak pernah peduli dengan gosip miring tentang Diandra karena sama sekali tidak penting dan tidak ada hubungan dengan dirinya.