Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 21 TERJEBAK



Nana akhirnya masuk ke dalam club hanya berdua dengan Calvin, sementara Dimas, Zahra dan Sherly menunggu di dalam mobil.


"Perasaan gue gak enak banget, Sher." Zahra terus menggigit kuku tangannya. Ia khawatir karena Nana tak pernah masuk ke tempat seperti itu.


"Dia sama Calvin, kalian jangan mikir yang enggak-enggak." Dimas yang duduk di kursi belakang ikut bicara, tapi matanya memindai keluar kearah seluruh tempat parkir itu.


"Gue takut, Calvin asik sendiri sampai-sampai melupakan Nana."


"Kita berdoa aja Ra." balas Sherly.


Nana masuk ke dalam, ia merasakan sesak di dadanya karena asap rokok yang mengepul hampir disetiap tempat.


Nana mengedarkan pandangannya tapi tidak menemukan Bara. Ia memilih duduk di kursi tepat di depan bartender.


Calvin.


Gue gak lihat Bara. Bahkan sampai ke kamar mandinya.


^^^Gue juga gak lihat Bara. Kepala gue udah pusing banget, Vin.^^^


Lo jangan minum apapun, Na. Jangan juga terima apapun kalau ada yang kasih meski cuma air putih.


^^^Iya bawel.^^^


Kayaknya di tempat ini ada beberapa VIP room, Na. Ada ruang karaokenya juga.


"Waduh! Gimana nih? Kalau Bara gak disini, itu berarti dia ada di ruangan lain," gumam Nana pelan.


^^^Coba cari sebisa lo, Vin!^^^


Nana mengedarkan pandangannya dan ia berjalan menuju toilet. Ia tetap menajamkan pendengaran dan penglihatannya.


"Dia sudah saya bawa ke VIP room nomor 6, Bos." Nana mendengar suara seorang pria yang terdengar mencurigakan.


Ia mengintip dari balik tembok dan menemukan Dillara sedang berbicara pada seorang pria berbadan besar.


VIP room nomor 6. Bara disana? Batin Nana.


"Urus dia dulu. Nanti gue menyusul," perintah Dillara.


Tanpa fikir panjang, Nana diam-diam mengikuti langkah kaki pria itu yang ia yakini akan membawanya ketempat dimana Bara berada.


****


Sambara masih duduk dengan memakai hoodienya disalah satu sudut club. Ia mengirm pesan pada Dillara.


^^^Lo dimana? Gue udah di club.^^^


Tak menunggu lama, Bara langsung mendapatkan balasan dari Dillara.


Tunggu di meja bartender aja. Gue masih di ruang karaoke. Lima menit lagi gue keluar.


Bara mengerutkan keningnya. Ia menduga-duga, Dillara benar-benar hanya mengerjainya atau ada rencana lain. Kenapa terkesan gadis itu benar-benar hanya ingin mengerjainya.


Bara duduk di salah satu meja di depan Bartender. Ia memakai kacamata hitam dengan rambut yang ia buat sedikit berantakan dengan jemarinya.


Disudut meja Bar, ia melihat seorang pelayan memasukkan serbuk yang entah apa efeknya kedalam segelas kecil berisi minuman.


Gue harus hati-hati, bisa aja Dillara melakukan hal yang sama. Batin Bara.


Dillara menepuk bahu Bara. "Dari tadi, lo?" tanyanya.


"Lumayan!" balas Bara.


Dillara duduk disamping Bara. Dillara memakai kemeja yang hampir setengah kancingnya terlepas semua hingga memperlihatkan belahan dada dan br* yang tampak menggiurkan di mata para pria.


Bara tertawa remeh dalam hatinya. Dia kaya, tapi kenapa semurahan ini?


"Balikin hp gue!" Bara menengadahkan tangannya dan satu tangannya lagi menodorkan ponsel milik Dillara yang ada padanya. Volume suara yang kalah dengan dentuman musik membuatnya terpaksa berbicara dengan sedikit isyarat.


"Buru-buru amat, lo!"


"Kita ke dance floor?" Dillara juga menengadahkan tangannya berharap Bara menyambutnya.


"Gue mau pulang sekarang!" Teriak Bara.


Dillara meminta Bartender memberikan dua gelas minuman pada mereka berdua.


"Lo gak akan mabuk!" Dillara mendorong gelas kecil berisi minuman itu kehadapan Bara.


Bara diam beberapa saat. "Gue mau hp gue sekarang!" Teriak Bara lagi.


"Minum dulu!"


"Enggak!"


"Oke!" Ucap Dillara. Ia mengambil sesuatu di tasnya. Dillara memberikan ponsel Bara pada pemiliknya. "Nih..."


"Kok mati?" tanya Bara saat melihat ponselnya tidak bisa dinyalakan.


"Gue juga gak tau, dari tadi utuh di tas gue."


"Gak lo apa-apain kan?" Bara menatap curiga gadis itu.


"Diiih!" Dillara memasang ekspresi paling menyebalkan. "Buat buka kuncinya aja pake sidik jari lo!"


Bara tertawa dalam hatinya.


"Minum dulu!" Dillara memaksa Bara dengan menyodorkan gelasnya.


"Bersulang!"


Sejak kapan kami bertingkah seperti teman?


"Gue ke toilet dulu!" Bara berpamitan. "Mules gue!"


"Minum dulu, lo gak menghargai banget sih."


Bara mengalah. Ia menenggak habis minuman dalam gelas itu dan mengangkatnya tinggi di depan wajah Dillara seolah menunjukkan minuman itu sudah habis.


Bara segera pergi dan berlari di toilet. Dillara memberi kode pada orang suruhannya untuk mengikuti Bara dan membawa lelaki itu ke ruangan yang sudah ia persiapkan setelah Bara sudah tidak sadarkan diri.


Dillara tersenyum senang. "Cuma butuh waktu 2 menit, Bara. Meski cuma seteguk, lo akan tetap berada dibawah kendali gue."


"Dan ya, untung aja gue bisa baca pesan di ponsel lo meski hanya dari notifikasi yang muncul di layar."


"Dan lo tau Bara, gadis cupu itu mau gagalin rencana gue. Dan sekarang, dia udah masuk dalam jebakan gue dan pasti saat ini dia udah jadi santapan serigala liar di ruangan itu. Hahahah." Dillara tertawa senang.


Suara kerasnya musik tidak ia pedulikan. Yang terpenting adalah ia harus segera ke ruangan lain untuk menghabiskan malam bersama Bara.


Sementara itu, Bara segera berlari kebelakang. Di toilet, Bara memuntahkan semua minuman yang sama sekali belum ia telan itu. Rasa yang aneh dalam mulutnya harus ia tahan meski sulit.


"Gil*! Itu minuman apa racun!" Bara berkumur dengan air bersih dan tak lama ada seorang pria berbadan besar berdiri di sampingnya.


Bara bisa melihat dari cermin, pria itu menatapnya dan seperti menunggunya karena pria itu tidak melakukan apapun. Ia hanya berdiri di depan washtafel di sampingnya.


Kenapa dia mencurigakan.


Bara segera keluar sambil memegangi kepalanya. Ini hanya pura pura dan benar saja pria itu masih mengukutinya.


Sial! Berarti di minuman itu memang ada sesuatu. Dan pria ini suruhan Dillara.


Bara berjalan memegangi tembok dan pria itu berjalan tak jauh darinya.


Oke, permainan di mulai.


Bara segera berbaur dengan ramainya orang di dalam club. Ia sempatkan membuka jaketnya hingga menyisakan kaos putih di tubuhnya.


Bara segera keluar dan berhasil membuat pria itu kehilangan jejak. Bara segera masuk ke dalam mobilnya.


"Itu Bara!" Teriak Dimas saat ia melihat Bara membuka pintu mobilnya.


"Nana sama Calvin kemana?" Zahra langsung panik.


"Keluar, Dim!" Sherly langsung keluar dari mobil untuk menghampiri Bara. Dimas dan Zahra segera menyusul.


Ketiganya mengetuk mobil Bara yang sudah dinyalakan mesinnya. "Bara! Keluar, Bar!"


"Tok... tok... tok..."


"Dimas?" gumam Bara. Ia segera membuka kaca mobilnya. "Masuk!" perintahnya karena belum cukup aman untuknya keluar dari mobil.


Ketiganya masuk ke dalam mobil. "Kalian juga disini?" tanyanya heran saat Sherly dan Zahra juga masuk ke dalam mobil.


"Lo baik-baik aja, Bar?" tanya Zahra tak sabar.


"I... iya." jawab Bara bingung karena pertanyaan Zahra seolah mengetahui ada hal buruk yang akan terjadi padanya.


"Nana sama Calvin mana? Lo ketemu mereka gak?"


Pertanyaan Sherly berhasil membuat jantungnya berdebar kencang. "Maksudnya Nana sama Calvin apa? Gue gak tau mereka dimana?"


"Aduh!" Zahra dan Sherly kompak memijat kening mereka.


"Bara! Lo tau gak? Nana itu ratusan kali nelpon dan kirim pesan chat ke hp lo!"


"Dia khawatir karena katanya ada gadis yang mau ngejebak lo!"


Hp gue sama Dillara, itu artinya gadis itu tau kalau Nana mengetahui rencananya!


"Jadi, Nana dimana?"


"Mereka di dalam dan gak ada yang balas pesan gue," Zahra membuat Bara semakin panik.


"Baj*ngan!" geramnya. Bara segera keluar dari mobil dan kembali masuk ke dalam club. Ia langsung menduga ada hal buruk yang terjadi di dalam.