
Sore itu, Bara yang sedang istirahat dikejutkan oleh suara bel apartemennya yang berbunyi.
"Siapa sih? Perasaan belum ada yang tau tempat tinggal baru gue." Bara dengan malas, bangun dari tempat tidurnya. Ia sebenarnya sedang memainkan game di ponselnya dan tidak ingin diganggu. Tapi bunyi bel yang tak kunjung berhenti membuatnya terpaksa harus bangun dan membukakan pintu.
Bara memasang raut wajah datar tanpa ekspresi setelah melihat wajah paling menyebalkan muncul di depannya sesaat setelah ia membuka pintu.
"Mau apa, lo!" tanyanya ketus.
"Loh! Terserah gue dong!" Gadis itu menyelonong masuk meski bahunya membentur dada Bara yang berdiri tegak di depan pintu.
"Apartemen ini punya calon mertua gue yang saat ini ditinggali sama calon tunangan gue!" Gadis bernama Dillara itu langsung duduk di sofa.
Bara berbalik menatap tajam pada gadis yang berpakaian kurang bahan itu. Sebuah tanktop tali spaghetti dengan rok mini yang batasnya diatas lutut, serta rambut pirang yang ia biarkan terurai membuat Bara merasa jengah. Bukan seleraku.
"Yang sopan bertamu ke rumah orang!" Ucap Bara sinis dan ia tetap berdiri agak jauh dari Dillara.
"Terserah gue!" Balas Dillara tak kalah sinis.
"Terserah lo? Tapi gue males lihat muka lo!"
"Terserah lo juga, karena apapun yang terjadi lo tetap akan jadi suami gue!"
"Dasar gil*!" dengus Bara.
Dillara tertawa remeh. "Dan penyebabnya adalah lo!" Dillara langsung menatap tajam kearah Bara.
"Dasar baperan!" Bara duduk di sofa bersebrangan dengan gadis itu.
Bara meletakkan ponselnya di meja dan melipat tangannya didada. "Katakan! Lo mau apa kesini?"
"Gak ada." Dillara mengangkat bahunya dan ia menjawab dengan santai.
"Kalau gak ada, lo bisa pulang sekarang!" Usir Bara terang-terangan.
"Lo ngusir gue?" tanya Dillara tanpa malu.
"Udah dari tadi!" Bara berdiri dari duduknya. "Lo mau keluar sendiri atau gue seret keluar?" Ancam Bara.
"Ck!" Decak gadis itu. "Iya, gue bakalan keluar! Gue juga udah janjian sama temen gue. Mau nyalon!" Dillara berdiri sambil menyibakkan rambutnya ke belakang.
"Da Baraaaaa!" Dillara melambaikan tangan saat mendekati sofa yang Bara duduki.
Bara menatapnya jengah. Ia tak peduli, jika boleh, ia ingin gadis itu tidak pernah lagi datang ke apartemennya.
Dillara yang memakai sepatu heels 7 cm kehilangan keseimbangannya. "Aaaahhh!"
Ia terjatuh. Bukan di atas tubuh Bara, tapi tepat di kakinya. Ya, diantara sofa dan meja. "Aduuuhh!" keluhnya.
Bara mengulum senyum dan langsung menaikan kakinya ke sofa. Dillara yang kesal, langsung berdiri dari posisinya sambil memegangi pinggang.
"Bukain pintu!" Perintahnya pada Bara.
"Dengan senang hati!"
Bara berjalan lebih dulu di depan Dillara. Ia tertawa tanpa suara melihat gadis yang ia usir itu terjatuh. Bara membuka pintu dan membiarkan gadis itu pergi.
Dillara segera meninggalkan kawasan tersebut. Di dalam mobil, ia tertawa pelan. "I'll get you, Bara!"
Sebenarnya Dillara punya satu tujuan saat datang ke apartemen Bara sore ini. Ia bahkan rela jatuh di kaki pria itu.
"Ide gue memang aneh. Tapi gue jamin berhasil," Dillara bermonolog.
"Lo tunggu aja, Bara!"
"Setelah malam ini, lo gak akan bisa nolak gue lagi." Dillara tersenyum miring. "Gak ada yang bisa nolak gue, Bar!"
"Dan gak ada yang gak bisa bagi gue!"
"Dillara selalu mendapatkan apa yang dia mau!"
***
Bara menyalakan Tvnya. Moodnya memainkan game mendadak hilang karena kemunculan gadis itu.
Bara berjalan ke dapur untuk membuat minuman dingin sebagai teman nontonnya. Ia juga mengambil cemilan dan membawanya ke sofa.
Dua jam, Bara menghabiskan waktu menonton tv. Dan hampir jam 6 sore ia mengambil ponselnya yang tak tersentuh selama dua jam terakhir.
"Gue undang Calvin sama Putra boleh juga nih!" ucapnya saat memegang ponsel yang layarnya masih gelap itu.
"Kok hp gue kayak beda ya."
Bara menghidupkan layar ponselnya. "Astaga! Ini punya siapa?" Bara terkejut saat wallpaper di ponselnya bukan seperti biasanya.
"Keformat?" tanyanya sendiri.
Ia memeriksa ponsel dengan *soft*case hitam seperti miliknya. "Ini bukan punya gue!" geramnya.
"Ini pasti ulah Dillara!"
Ya, memang benar. Ini ulah Dillara. Saat Bara berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu Dillara sempatkan menukar ponsel milik Bara dengan ponsel yang baru ia beli. Ponsel yang sama dengan milik Bara.
"Sialan!" Makinya saat ia hanya menemukan kontak Dillara di ponsel itu.
Tanpa fikir panjang, Bara langsung menghubungi nomor itu. Ia mondar-mandir dengan perasaan kesal dan dibodohi.
Bara kesal karena bisa-bisanya kecolongan. Dan lebih kesal lagi saat ia baru mengetahuinya setelah 2 jam. Jika ia tahu seketika setelah Dillara pergi, kemungkinan untuk bisa mengejarnya jauh lebih besar.
Berulang kali Bara menghubungi gadis itu. Dan panggilan ke tiga baru dijawab.
"Balikin hp gue!" Bentaknya sesaat setelah panggilan itu dijawab.
"Hahahah..! Sorry, lo sih jutek banget. Kan gue jadi punya ide buat ngerjain, lo!"
Dia bilang ngerjain? Gue gak yakin. Batin Bara.
"Gue bilang, balikin hape gue!" bentak Bara.
"Gue di salon Baraaa!"
"Gue kesana sekarang!"
"Silahkan kalau lo mau lihat gue setengah naked. Gue lagi luluran, Bara!"
"Jadi, kapan gue bisa ambil hape gue?"
"Ehhhm... kapan ya?"
"Kapan, Dillara!" geram Bara karena gadis itu cenderung mengulur waktu.
"Ehmm..."
"Malam ini, di club X. Jam 10."
"Gil*! Gue gak mau!"
"Terserah lo!"
Tut... tut... tut...
"Arrgghh!" Bara membanting ponsel itu di sofa.
"Lo keterlaluan, Dil!" Teriak Bara kesal. "Mana tuh ponsel penting banget, lagi!" Bara mengacak kasar rambutnya sendiri.
Bara melihat jam dinding. " Masih sore. Sekitar 4 jam lagi."
"Huuh! Masa gue kalah sama tuh cewek."
Bara lari ke kamarnya dan bersiap mencari jaketnya. "Gue harus cari dia sekarang!"
Bara turun ke basement untuk mengambil mobilnya. Saat akan membuka pintu mobil mendadak otaknya memikirkan sesuatu.
Harusnya gue lacak dulu dimana lokasi hp gue! batinnya.
"Ck!" Bara berdecak. Ia kembali ke unit apartemennya karena laptopnya ada disana.
Bara duduk di ranjang dan mulai mencari tahu dimana lokasi ponselnya.
"Dia beneran di salon." gumam Bara pelan saat menemukan lokasi ponselnya benar-benar di sebuah salon besar dan ternama.
Bara menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan laptop yang masih menyala di atas bantal.
Kenapa dia malah minta ketemuan di Club? Pasti ada sesuatu. Batin Bara.
Tak lama Bara malah tertidur. Ia kembali terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Astaga!" ia tersentak kaget. Ia ingat harus segera mengambil hp nya yang saat ini ada ditangan Dillara.
Bara segera mandi dan bersiap keluar dari gedung apartemen. Sebelum berangkat ia sempatkan menghubungi seseorang yang merupakan supir di rumah papanya.
"Pak, tolong bawa mobil kak Samara di SPBU di jalan X."
"Saya mau pakai."