Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 57 Makan Siang



"Cie... yang diantar pacar!" goda Salsa bahkan saat Nana belum mendaratkan bok*ngnya di kursi kerja. "Semakin semangat dong kerjanya."


"Apa lagi kalau dapet... morning kiss!" bisik Salsa pelan.


Nana menatap jengah seniornya yang sedikit gil* ini. Ia duduk di kursi kerjanya dan duduk menghadap Salsa yang juga sedang duduk menghadap kearahnya.


"Pakai pelet apa, Mbak?" tanya Nana melipat tangannya di dada.


"Pelet?" Salsa mengerutkan keningnya. "Gak ada pakai pelet, gue Na."


"Oh, ya?"


Salsa mengangguk. Ia tidak menyangka Nana menuduhnya bermain kotor begitu. Ia tidak pernah menggunakan pelet, susuk atau bahkan tubuhnya untuk menggoda pria manapun.


Ia akan akrab dan melakukan kontak fisik hanya dengan pria yang ia cintai dan mencintainya. Ia juga bukan tipe gadis yang asal menerima pria hanya untuk sebuah status pacaran.


Jika memang ia begitu, mungkin saat ini ia sudah tidak virg*in lagi atau mungkin sudah menikah.


Dia memang gadis yang bebas, urakan, tidak suka diatur, dan ia tidak bersikap lemah lembut seperti gadis biasanya, tapi bisa menjaga dirinya dan membedakan mana yang baik dan tidak.


"Kamu kenapa tanya begitu, Na?" tanya Salsa lagi.


Nana menyadari raut wajah Salsa yang tampak berbeda. Nana tersenyum kecil.


"Heran aja, Mbak! Dimas yang sebelas dua belas sama Bara bisa berubah drastis." Salsa tersenyum kecil.


"Jangan marah, ya. Gue cuma becanda, kok!" Nana merasa menyakiti perasaan Salsa.


"Gue heran, Dimas itu gak pernah pacaran dari SMA. Kalau pas zaman kuliah, gue juga gak tau. Kita gak sekampus soalnya. Tapi kayaknya sih gak ada, mbak."


"Tapi dia bisa romantis, dan memperlakukan mbak dengan sangat baik." Nana bisa melihatnya saat di pesta Putra kemarin.


"Kalau atitude, gue memang acungi jempol ke dia." Nana mengacungkan ibu jarinya.


"Dulu dia pernah jadi ketua osis dan ketua kelas."


"Dia pendiam tapi gak separah Bara." Nana terkekeh. "Bara mah, parah. Tugu perbatasan."


"Kalau Dimas kayak palang pintu kreta api, masih mending bisa dibawa naik sama turun. Hahaha." Nana dan Salsa sama-sama tertawa.


"Ada aja kamu julukin mereka berdua, Na."


"Mbak gak lihat sih, gimana mereka berdua pas SMA dulu."


"Oh, ya. Dimas cerita, katanya dia pernah suka sama kamu." Kalimat Salsa membuat Nana membulatkan mata.


"Dia... Dia cerita?" tanya Nana gugup.


Salsa mengangguk lalu tersenyum. "Tapi dia sadar kamu nolak dia secara halus, dan kamu suka sama Bara."


Nana bersandar di kursinya. Ingatannya melayang ke masa-masa SMA. Ia tersenyum kecil lalu kembali menatap Salsa.


"Gue gak ngerti, magnet apa yang buat gue tertarik sama Bara."


"Gue gak ngerti, kenapa gak ada lelaki manapun yang kelihatan menarik bagi gue selain dia."


Salsa tersenyum kecil melihat cinta dimata Nana. Salsa tahu, gadis itu begitu mencintai Bara. Mungkin karena didikan orang tua yang ketat dan sudah terbiasa hidup dalam keluarga yang terhormat, Nana bisa menjaga jarak dengan siapapun. Bahkan dengan Bara, pacarnya sendiri.


"Dimas, nyaris perfect!" Nana tertawa kecil dan ia bisa melihat Salsa begitu menikmati ceritanya."Tapi," Nana mengangkat bahunya.


"Gak ada jedag-jedugnya di hati gue."


Salsa tertawa. "Emang Dimas apaan, Na?"


Nana tertawa juga. "Gimana gue jelasinnya, mbak. Lo pasti ngertilah, seganteng apapun cowok di depan lo kalo sinyal lo sama sinyal dia gak sama, gak bakalan ngena kan?"


Salsa mengangguk.


"One more!" Nana melirik jam dinding, masih ada 10 menit lagi untuk cerita.


"You know Calvin?" tanya Nana. Salsa juga sudah bertemu Calvin di pernikahan Putra- Sherly kemarin, gadis itu pasti bisa menilai Calvin karena mereka duduk semeja selama beberapa jam.


"Pria yang selalu live itu?" Salsa tertawa.


Nana ikut tertawa. "Nah, iya. Baru kenal aja udah tau ciri khasnya Calvin."


"Dia dulu juga suka sama gue!"


"Apa?" Salsa terkejut. "Bisa banget lo hidup sama dua..." Salsa menunjukkan dua jemarinya, "Oh, No! Bukan dua, tapi tiga. Lo bisa hidup sama tiga pria yang suka sama lo tanpa canggung?"


"Lo gak takut mereka berantem, Na?" tanya Salsa.Ia tidak menyangka ada gadis setenang itu dikelilingi tiga pria yang menyukainya dan lebih buruknya mereka berada dalam satu lingkaran pertemanan.


"Serius, mereka gak pernah berantem, Na?"


Nana menggeleng. "Kayaknya sih enggak."


"Dan bersyukurnya gue, mereka bukan tipe cowok yang seperti itu, berantem cuma untuk rebutan cewek."


Salsa bisa membayangkan betapa bahagia dan serunya masa-masa SMA mereka.


"Masa SMA lo berwarna banget ya, Na." ucap Salsa.


Nana tersenyum kecil. Iya. Sampai lo denger kisah gue, Bara, Dillara dan Diandra. Kalau lo tau cerita itu, mungkin lo bakalan menarik kata-kata lo itu, mbak. Tapi gue gak akan cerita hal itu. Gue udah menutup kisah itu dan gak mau membahasnya lagi. Sekarang, gue sama Bara sedang menata ulang hubungan kami.


***


Bara tersenyum melihat Nana buru-buru keluar dari kantor saat jam makan siang. Ia sudah menunggu di lobby kantor. Kebiasaannya mengantar dan menjemput Nana membuat security sudah hafal dengan wajah dan mobil pria itu.


Hampir semua karyawan kantor mengetahui bahwa Bara adalah pacar Nana. Dan hal yang membuat mereka heran, Nana dan Bara tidak seperti pasangan biasanya yang akan beradegan mesra di hadapan mereka.


Huh! Jangankan dihadapan mereka, berdua saja mereka tidak melakukan itu.


"Dari tadi?" tanya Nana.


"Belum..." Bara membukakan pintu depan untuk Nana dan ia langsung mengendarai mobilnya menuju restoran yang sudah ia pesan.


Mereka tiba di restoran dan baru dua menit duduk, makanan sudah datang di atas meja mereka.


"Lebih cepat dari yang ku duga." Nana terkekeh.


"Ya karena kamu gak mau telat balik ke kantor, kan? Jadi tadi aku udah langsung pesan sama ownernya."


"Oh, ya?" tanya Nana.


Bara mengangguk. "Kebetulan langganan di bengkelku."


"Langganan kamu banyak juga ya?" tanya Nana.


"Itu karena bosnya tampan dan ramah. Jadi pelanggan gak akan kabur kemana-mana, malah akan terus nambah."


Nana menyunggingkan senyum kecil. Mereka makan dalam diam. Bara sesekali melirik Nana yang begitu menikmati makan siangnya. Seporsi steak lengkap dengan kentang goreng dan sayur dilahap tanpa malu-malu.


Gini amat pacaran sama temen sendiri. Gak ada malu-malunya. Hahah. Bara tertawa dalam hatinya.


"Kenapa?" tanya Nana sambil menyeka bibirnya dengan tissu. Ia mendapati Bara tengah menatap kearahnya.


Seporsi steak di piring Bara masih ia makan sedikit. "Enggak. Enak aja lihat kamu makan, selera terus!"


Nana mengangguk. "Gak ngerasain sih, gimana nasibnya kerja bagai kuda. Harus menyelesaikan tugas tepat waktu dan harus bener pula."


"Meleset satu angka nol aja, habis perusahaan bokap!" Nana tertawa.


"Kamu sih enak, tinggal atur-atur, periksa-periksa laporan, beres!"


Bara tersenyum kecil. "Gak semudah itu Na."


"Semakin berada di puncak kepemimpinan, tanggung jawab yang diemban semakin besar."


"Mungkin karena yang ku pimpin cuma bengkel, jadi gak serumit perusahaan yang menaungi ribuan karyawan."


Nana mengangguk setuju. Ia tetap melahap makanannya hingga tak bersisa di piring.


"Tapi kamu lebih baik. Setingkat manager di kantor aja masih diatur orang."


"Kamu malah mengatur orang lain."


"Tapi gajiku juga gak sekelas menager!" Bara menyuapkan potongan terakhir steak daging di piringnya.


"Yang penting uang halal, Bar!"


Bara mengangguk dan tersenyum. "Weekend ini ikut sama aku, mau?" tanya Bara.


"Kemana?"


"Grand opening bengkel D'Service yang ke 3."


Nana mengangguk senang. "Selamat, ya. Semoga custemernya lebih banyak dari bengkel yang pertama dan kedua."


"Amin..."