
Bara menggandeng tangan Nana saat keduanya memasuki gedung apartemen. Ya, tiga hari menginap di hotel dan hanya terus memproduksi seorang baby membuat Nana sedikit merasa kelelahan.
Padahal masa suburnya sudah terlewat dan dia tidak yakin akan bisa langsung hamil di periode berikutnya.
"Kamu gak apa-apa kan kita tinggal di apartemen dulu?" Tanya Bara.
Nana menganguk. "Ini kan memang rencana kita, Sayang!"
"Kita cuma berdua dan aku rasa jauh lebih baik kalau kita tinggal di sini dulu."
Mereka masuk ke dalam lift. Bara merangkul bahu Nana dan melihat bayagan mereka di dinding lift.
"Kayak mimpi!" bisiknya pelan.
Nana menatap Bara. Pria ini selalu bersikap romantis semenjak mereka sah menjadi suami istri.
Morning kiss, kopi di pagi hari, pelukan hangat di depan kaca jendela, bisikan mesra sebagai isyarat iya-iya, menjadi hal baru bagi Nana.
"Mimpi apa?"
"Merangkul kamu, membawa kamu ke apartemen dengan lebel halal disentuh, dulu semua itu kayak mimpi, Na."
Nana tertawa. Mereka keluar dari lift dan terua berjalan menuju unit Bara.
"Berarti kemarin-kemarin, fikiran kamu jorok terus ya kalau aku main ke apartemen kamu?" tanya Nana.
"Setan mana yang gak menggoda, Na. Kita cuma berdua, di apartemen tipe studio pula."
"Gak ada orang lain, dan tetangga pun gak peduli-peduli amat."
Nana tertawa. Bara membuka pintu dengan acsess card. Dan...
"Selamaaaaat dataaaaaaaang!" Teriakan melengkin dari mama Tamara dan mama Ayu serta Syakiel menyambut kedatangan mereka.
"Astagfirullah!" Teriak Bara dan Nana kompak.
"Ada penyusup, Na!" Bara berteriak pada Nana.
Tamara langsung melemparkan buket mawar yang harusnya ia serahkan pada menantunya, tapi mendadak ia lupa akan hal itu karena putra kurang ajarnya menyebut dirinya sebagai penyusup.
"Hahahah... Untung tangkainya gak kena mataku, Ma!" Bara terkekeh.
Ayu menarik tangan Nana dan membawanya masuk. Sementara Bara mereka biarkan di depan pintu.
"Astaga! Begini amat! Tuan rumah gak ada harganya sama sekali." Bara menggeret koper dan langsung duduk di samping Syakiel yang sudah duduk di sofa dan membuka game onlinenya.
"Mabar kuy!" ajak Bara tak peduli dengan dua wanita yang sedang membawa Nana ke dapur.
Syakiel tersenyum lebar. "Boleh!"
Sementara itu, Nana sedang di giring ke sudut pantry oleh mama sambung dan mama mertuanya.
"Na, gimana?" tanya mama Tamara antusias. "Anak mama gak letoy kan?"
"Gak mengecewakan kamu kan?"
"Soalnya mama khawatir, senjatanya pendiam kayak orangnya."
Sementara itu mama Ayu menahan tawa mendengar pertanyaan besannya yang sedikit fulg***ar.
Astaga! Nih para emak kenapa nanya hal beginian sih? Aku kan jadi malu. Ya kali aku ngaku kalau anaknya super hebat. Senjatanya gak pendiem, malah kokoh kayak tugu perbatasan.
Astagfirullah*! Batin Nana menyadari apa yang ia ucapkan dalam hatinya malah membuatnya merindukan miniatur tugu perbatasan yang pagi tadi baru saja mengobrak-abrik pertahanannya.
Nana tersenyum canggung. Pipinya memerah dan senyum Tamara seketika terbit bak mentari pagi yang cerah.
"Yeees!" Kedua mama itu malah bertos ria.
"Calon cucu kita segera on the way, Yu!" ucap mama Tamara pada mama Ayu.
Nana membulatkan mata. Ia tak menyangka kedua wanita di depannya punya ekspektasi yang begitu besar.
"Ma..." Lirih Nana dan keduanya langsung menatap Nana.
"Ada apa sayang?" tanya Ayu yang melihat kegelisahan di wajah Nana.
"Sebenarnya, masa subur Nana udah terlewat, Ma."
"Jadi kemungkinan Nana belum bisa hamil bulan ini."
Ayu dan Tamara tersenyum kecil.
"Dan Nana juga khawatir, mama Salma hanya bisa punya Nana dan Nana takut, kalau Nana gak bisa...." Mendadak Nana merasa khawatir kalau dirinya tidak bisa memberikan keturunan untuk Bara.
"Ssst!" Keduanya memeluk Nana karena merasa bersalah sebab seolah memberikan Nana tugas yang begitu berat.
"Mama percaya, Nana sehat, Nak." Mama Ayu mengusap rambut Nana.
"Na..."
"Mama boleh kasih saran?" Tanya mama Tamara.
Nana menangguk.
Tamara tersenyum kecil. "Begini sayang!"
"Stress dan khawatir berlebihan, itu bisa menjadi faktor kenapa sepasang suami istri belum bisa mendapatkan keturunan."
"Maka dari itu, setelah kamu datang bulan nanti, segera ke dokter ya sayang. Periksakan kondisi rahim kamu."
"Rahim kamu bagus dan gak bermasalah sekalipun, gak bisa menjamin kamu hamil jika kamu stress."
"Intinya, bahagia dulu! Nikmati masa-masa pengantin baru ini dengan saling mengenal satu sama lain."
"Jalani hari-hari kamu dengan bahagia dan Mama yakin, kamu akan bisa menjadi seorang ibu, kelak."
"Terima kasih, Ma." Nana tersenyum lebar. Ia tak menyangka akan dikelilingi orang-orang baik seperti ini.
***
"Na, taburi bawang goreng diatasnya." perintah mama Ayu pada Nana.
"Nana bawa ke depan sekalian ya, Ma." Nana membawa mangkuk dengan uap panas yang masih mengepul itu ke ruang tamu. Sofa dan meja mereka geser demi membuat ruangan menjado sedikit lebih luas.
Nana meletakkan mangkuk itu ditengah -tengah karpet karena malam ini, keluarga besarnya akan makan malam bersama di sini.
Keluarga Hadi, Wawan dan keluarga Tamara membuat apartemen ini seketika menjadi sempit.
Mama Salma dan suaminya tidak ada disini karena mereka sudah kembali ke Bali untuk menjalani aktivitas mereka sebagai tenaga medis.
Tepat jam 10 malam. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing karena esok harus bekerja dan Syakiel harus sekolah.
"Tadi ngobrolin apa sama mama?" tanya Bara penasaran.
Nana sedang mengoleskan lotion di tangan dan kakinya sementara Bara sudah bersandar di headborad ranjang.
"Gak ngobrolin apa-apa!" Jawab Nana tanpa menatap wajah Bara.
"Gak usah bohong! Kamu kayak habis nangis tadi."
"Gak ada." jawab Nana lagi.
"Jangan bohong, Sayang! Aku udah tau gimana kamu."
"Mama Tamara marahin kamu, ya?" selidik Bara.
Nana menggeleng. Ia lantas duduk disamping suaminya. Bara sedikit bergeser agar Nana bisa duduk dengan nyaman.
Bara menarik tubuh Nana dan membiarkan wanita itu bersandar di bahunya.
"Lalu apa?" tanya Bara.
Nana menceritakan semua kejadian di dapur tadi. Menurutnya ia tak salah dengan menceritakan semuanya. Toh bukan hal yang membuat Bara akan bertengkar dengan mamanya.
Bara menghela nafas. "Sekarang perasaan kamu gimana?" tanya Bara.
"Aku... aku sedikit khawatir sih."
Bara mengusap rambutnya. "Bawa happy aja."
"Kita masih 23 tahun, masih produktif dan kamu jangan khawatir berlebihan."
"Aku nikahin kamu, supaya bisa lihat senyum dan tawa kamu lebih dekat dan setiap hari."
"Aku mau jadi penyebab kebahagiaan kamu."
"Bukan malah buat kamu khawatir dan terbebani begini."
"Anak?"
"Itu rezeki, sayang! Gak bisa kita yang tentukan."
"Allah kasih, ya kita terima. Allah belum kasih..." Bara mencium kening istrinya, "itu artinya aku harus usaha lagi."
Nana mendengar tawa kecil Bara. Ada maksud terselubung dalam kalimat terakhirnya dan Nana faham akan hal itu.
"Mumpung besok masih libur, gimana kalau kita..." ajakan Bara yang sudah Nana tebak kemana ujungnya.
"Aku capek, jadi jangan minta aku untuk..."
"Siiip!" Sambar Bara. "Kamu releks aja sambil nerima benih-benih cinta dari aku!"