Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 26 JUJUR



Pagi hari...


"Na, semaalam kamu pulang jam berapa sayang?" tanya Ayu pada Nana. Wanita yang tengah berkutat di dapur itu masih sempat bertanya pada anak sambungnya yang baru saja turun dari lantai atas.


Nana berjalan tepat di sebelah Ayu, mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral dari dispenser.


"Ehm, malam banget ma. Tapi papa tau kok," jawabnya jujur. Nana meneguk air mineral yang hampir penuh itu.


"Masak apa, Ma?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan agar tak lagi membahas masalah malam tadi.


"Papa pengen nasi goreng seafood."


"Dih, kayak orang ngidam aja, Ma." Nana tertawa kecil. Ayu juga ikut tertawa.


"Hussh! Kamu ini. Mama udah tua, gak pengen hamil lagi."


"Ma, mama masih muda ma... Syakiel juga masih pantas punya adik lagi. Hihihihi..." Nana terkikik sambil meninggalkan Ayu.


"Na, kamu gak niat bantu mama?" teriak Ayu saat Nana mulai menjauh dari dapur.


"Nana gak mood ma..." ia mendudukkan dirinya di meja makan.


Ayu tak lagi membalas putrinya, ia tak keberatan atas jawaban Nana karena ia sudah selesai memasak.


"Papa masih nunggu, Na."


"Astaga!" Nana tersentak kaget. Ia bahkan sampai berdiri dari kursinya. Sedari tadi ia tak menyadari Hadi sedang duduk di meja makan dengan laptop yang terbuka.


"Papa bikin kaget aja sih! Untung aja jantung Nana pegangan erat sama paru-paru. Kalau gak, ahh!!!" Nana berlagak lemas. "Bisa lewat Nana, Pa." Nana kembali mendudukkan dirinya di kursi makan.


"Udah! Jangan ngeles kamu! Jangan pura-pura lupa." Hadi masih fokus pada laptopnya. Tangannya terus mengetik di atas keyboard laptop berwarna silver itu.


"Pa..." Nana berjalan ke arah belakang papanya. Ia memijat punggung lebar berbalut kaos rumahan itu. "Kita sarapan dulu, yuk!" rayunya.


"Nasi goreng request-an dari papa kayaknya menggoda selera banget, Pa." Nana makin getol memijat bahu papanya.


"Mata Nana langsung ngasih sinyal ke lambung untuk ngajak usus besar beserta cacing-cacing di dalamnya untuk mengeliat dan demo."


Hadi terkekeh pelan. "Kamu hari ini aneh, Na."


"Jantung pegangan erat sama paru-parulah! Terus lambung ngajak usus besarlah." Hadi menggeleng pelan tak habis fikir dengan ucapan putrinya.


"Papa tau ada sesuatu." Hadi tiba-tiba serius. Pria itu bahkan langsung menutup laptopnya.


"Hahahah... Papa kan selalu tau semuanya." Nana memeluk leher Hadi dari belakang. Mengecup pipi yang mulai keriput itu sekali.


"Kakaaaaak!" Teriakan Syakiel membuat keduanya menatap kearah depan. Dimana seorang bocah dengan boneka dinosaurus ditangannya memberengut kesal.


"Ini dia boneka chaki," bisik Nana pada papanya.


"Itu papanya Syakieeeeeel." Bocah itu kembali berteriak.


"Sayang! Jangan teriak-teriak, Nak!" Tegur Ayu saat membawakan semangkuk besar nasi goreng dan meletakkannya di meja makan.


"Papanya kakak juga." Nana menjulurkan lidahnya.


"Tirex, makan kak Nana sekaraaaang!" Syakiel berlari ke arah Nana sambil mengangkat boneka berwujud tirex itu keatas seolah boneka itu bisa menggigit Nana.


Nana terbahak. "Tolong papa..." Ia pura-pura takut. "Nana takuuuuttt!" Ucapnya sambil makin memeluk Hadi.


"Hax... hax... hax..." Syakiel menirukan suara seperti tirex yang akan melahap mangsanya.


Suasana seketika riuh karena Nana tak beranjak dari tubuh Hadi sementara Syakiel terus ngotot menyuruh Tirex menggigit kakaknya.


****


Syakiel bermain di halaman belakang. Dimana Nana, Hadi dan Ayu juga turut mengawasinya disana.


Selesai sarapan, mereka duduk santai di sebuah kursi kayu. Nana memeluk lengan Ayu dan merebahkan kepalanya di bahu wanita yang entah sejak kapan mulai membuatnya nyaman. Ia duduk di tengah diantara kedua orang tuanya.


"Na..." sebuah kode dari Hadi bahwa sekarang saatnya untuk bercerita.


"Pa... Ma..."


"Sebelumnya Nana minta maaf. Nana bukan berniat membohongi mama dan papa."


"Malam tadi, Nana berusaha menyelamatkan Bara dari jebakan seseorang."


"Kamu?" tanya Hadi heran. Siapa yang akan menjebak dia?"


Nana menceritakan semuanya yang terjadi saat di Cafe sore itu, saat ia bertemu Calvin dan saat ia berada di Club tanpa terkecuali. Tapi soal hubungannya dengan Bara, ia belum ingin cerita.


Nana menyeka air matanya. "Maaf Nana melampaui batas, Pa, Ma."


Ayu memeluk putrinya. "Untung saja kamu gak kenapa-kenapa, Na."


"Kamu seharusnya lebih berhati-hati dan berfikir panjang sebelum mengambil keputusan, Na. Mama gak tau apa yang akan papa kamu lakukan kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu."


Nana mengangguk. "Maaf sekali lagi, Ma, pa."


Hadi merasa geram karena nyaris saja putrinya menjadi korban. Jika Bara dan Calvin terlambat sebentar saja, entahlah Hadi tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi.


"Jujur, papa kecewa sama kamu, Na."


"Malam tadi, kamu hanya sedang beruntung. Dan keberuntungan kamu itu mungkin saja gak akan terulang di lain waktu jika kamu berada dalam situasi yang sama."


Hadi mengelus kepala putrinya. "Jadi, berjanjilah untuk tetap berhati-hati, Na."


"Jangan masuk lagi ke tempat itu."


"Dunia ini begitu luas, Na. Banyak tempat yang jauh lebih baik dari pada tempat itu."


"Dan satu hal lagi." Hadi mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan angka satu. "jangan sampai niat baik kamu justru malah membahayakan diri kamu sendiri."


"Iya, Pa. Nana gak akan ada di tempat seperti itu lagi." Nana beralih memeluk Hadi.


"Om Wawan tau soal ini, Na?" tanya Hadi pada putrinya.


Nana mengangkat bahu. "Entahlah, Pa. Nana fikir, itu haknya Bara. Biar dia yang mengatakan pada papanya, Pa."


"Papa yakin, Wawan gak akan melanjutkan perjodohannya."


Bak angin segar di tengah gurun pasir, kalimat Hadi barusan berhasil membuat harapan baru kembali muncul dalam benak Nana.


Apakah ini bisa jadi kesempatan buat gue dan Bara untuk bersama?


"Pa, tapi apakah Dillara bisa terbukti bersalah, pa? Sementara kami gak punya bukti kalau dia dalang dibalik semua ini."


"Na, itu gunanya proses penyelidikan. Polisi pasti bisa mengungkap kasus ini melalui dua orang yang kalian laporkan itu."


Nana mengangguk. Kenapa gue gak mikir sampai kesana, ya.


"Tapi, mereka kan gak kenal Dillara, Pa? Mereka cuma suruhannya."


"Na, semua pasti terungkap, sayang," balas Ayu.


"Pa, biar kepolisian yang urus, ya..."


"Kita ikuti aja semua prosesnya," pinta Ayu.


"Tentu, Ma. Kita akan tetap mengawal kasus ini sampai selesai."


"Pa, apa kasus ini akan mempengaruhi nama baik dan pekerjaan para orang tua?"


Hadi mengusap rambut Nana. "Itu adalah resikonya sayang."


"Tapi bisa dirahasiakan kan, Pa?" Nana menatap Hadi.


"Tergantung, Na. Kalau wartawan tau, yaaa..." Hadi mengangkat bahunya. "Kita bisa apa?"


"Tapi papa akan urus supaya identitas kalian semua tidak dibuka. Karena nama baik sekolah juga menjadi taruhannya."


"Sebisa mungkin tidak ada wartawan yang tau. Papa akan usahakan, Na."


***