
"Gue mau ketemu Bara!"
"Gak bisa, Neng! Mas Bara gak bisa diganggu!"
"Pokoknya gue mau ketemu Bara! Bilang ke dia kalau Dillara, calon tunangannya datang."
"Hahahahaha..."
"Ngaku-ngaku Neng?"
"Selera Bara bukan ondel-ondel."
"Selera Mas Bara itu yang gak banyak tingkah."
"Yang mukanya gak kayak tembok sekolah Tk."
"Sini pink. Sini biru, sini merah, onoh coklat."
"Hahahhahah."
Bara yang tengah tidur di sofa ruangannya merasa terganggu dengan keributan di luar. Ia tahu siapa yang datang karena gadis itu menyebutkan namanya tadi.
Sudah dua hari Bara selalu ke bengkel saat pulang sekolah dan kembali ke rumah saat malam hari. Semenjak pertengkaran malam itu, rumah semakin terasa sepi dan penuh ketegangan.
Perdebatan bahkan masih terjadi di meja makan saat esok paginya. Dan malam kemarin, kedua orang tuanya tidak pulang.
Bagian mana yang disebut 'bertahan' dan 'keluarga' yang Wawan maksud malam itu.
Bara sama sekali tidak merasakan adanya suasana yang disebut keluarga. Bara bahkan lupa kapan terakhir kalinya mereka duduk bersama sambil menonton tv.
Bara tidak menampik semua tuduhan yang orang tuanya saling lemparkan. Semua yang mereka katakan memang benar.
Bara tahu hubungan tidak biasa antara mamanya dan Bosnya. Ia pernah melihat mamanya merangkul manja pada pria seusia papanya dan masuk ke dalam sebuah rumah minimalis saat tanpa sengaja ia lewat.
Dan malam harinya mamanya itu tidak pulang ke rumah. Kemana lagi jika tidak untuk menghabiskan waktu bersama kekasih terlarangnya.
Dan Papanya. Bara pernah melihat Wawan tidur di sofa dengan layar laptop yang terbuka. Dan saat Bara hendak membangunkan papanya, tanpa sengaja ia melihat sebuah foto di layar laptop.
Foto wanita dengan bayi perempuan berusia sekitar 2 tahunan tengah tersenyum lebar.
Hati Bara hancur, ia segera masuk ke kamarnya. Ia merasa dicurangi. Sebuah pukulan telak, dibohongi oleh dua orang sekaligus.
Kenapa kalian tidak hati-hati menyembunyikan ini dariku. Membuatku tahu dengan begitu mudah dan menghancurkan satu-satunya hati yang ku punya.
Kejadian dua tahun lalu itulah yang membuat Bara fokus pada bengkel pemberian papanya ini.
Ia tidak peduli tidak punya teman atau pacar. Karena orang yang paling dekat dengannya saja bisa dengan mudah berkhianat.
Suara ribut di luar ruangannya membuat Bara segera turun. Dillara tersenyum penuh kemenangan.
Ia berjalan mendekati Bara dan bergelayut manja di lengan lelaki itu.
"Kok aku lihatnya kayak monyet ya pak?" bisik Dadang, salah satu montir pada om Galuh-manager bengkel.
"Bukan ah! Kurang lengkap. Tepatnya topeng monyet!"
"Hihihihi..." Mereka tertawa sambil menutup mulut.
Dillara menatap tajam para montir dan manager bengkel itu.
"Sayang! Mereka ngetawain aku." Dillara menempelkan kepalanya di bahu Bara sambil berucap manja.
Bara berusaha melepaskan pelukan Dillara dan berdiri sedikit menjauh membuat gadis itu menghentakkan kaki kesal.
"Bubar!" Bara membubarkan pekerjanya. "Om, urus mereka!" Perintahnya pada om Galuh sambil menunjuk para montir dengan dagunya.
Mereka semua bubar tapi sambil tertawa dan mengejek Bara.
"Sayang... opo kowe krungu... jerite atiku..." Dadang dengan suara cemprengnya menyanyikan sebuah lagu dangdut seolah mengejek Dillara yang manggil sayang ke Bara tapi tidak di respon.
"Orah krungu dek." Sahut Fahri dingin menirukan suara Bara.
"Hahaha..." keduanya terawa bersama.
"Hadeeeuh... sore-sore ada topeng monyet. Bikin soremu penuh hiburan!" Teriak seorang montir yang baru saja masuk ke kolong mobil untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Heiii... Kerja! Kerja! Jangan main terus."
"Siiaaapppp pak mandooooorrr!" teriak mereka semua kompak.
"Saya manager!" balas Galuh kesal karena mereka selalu menyebutnya mandor.
Meninggalkan kekisruhan dan ke tengilan karyawan bengkel. Kita kembali pada Ownernya yang tengah terjebak bersama Dillara.
"Sebaiknya kamu pulang!" Usir Bara yang langsung berbalik untuk naik ke ruangannya.
"Bara tunggu!" Dillara menarik tangan Bara.
Bara berhenti dan melepaskan tangan gadis itu dengan sebelah tangannya.
Merasa di tolak, Dillara melancarkan aksi selanjutnya.
"Jalan, yuk!" ajaknya sok yakin.
"Kamu mau kemana? Ke mall, nonton atau mau makan? Kamu udah makan belum?" tanyanya dengan suara melengking dan sok kenal sok dekat.
Suaranya aja udah bikin kuping gue sakit. Gimana lagi tingkahnya. Bisa sakit jiwa gue ngadepin dia!
Dia berhenti tiba-tiba dan berbalik. Dillara masih berada dua anak tangga dibawahnya. Gadis itu tersenyum senang.
"Menjauh dari gue karena perjodohan itu udah gue batalin!" ucap Bara dingin tanpa ekspresi.
Dillara tercengang. "Kok Bisa! Gak mungkin Bara! Papi gak bilang ke gue kok! Lo bohong kan?"
"Terserah lo mau percaya apa gak!"
"Bara! Kita kan udah di jodohin! Gue gak peduli pacar lo banyak. Gue gak peduli meski lo cuma punya bengkel ini! Gue suka sama lo, Bara. Bahkan saat pertama kali ketemu lo!"
"Siapa suruh jadi cewek baperan!"
Bara sadar apa yang dia ucapkan ini sangat menyakitkan tapi ini demi dijauhi gadis yang sama sekali tidak mencuri perhatiannya itu.
Bara benci pada gadis manja, dan keganjenan seperti gadis dihadapannya ini.
"Gue akan bilang ke papi untuk mempercepat pertunangan kita." Ancaman Dillara sedikitpun tidak membuat Bara gentar.
"Bagus!" Ucap Bara dengan seringainya.
"Semakin cepat terlaksana maka semakin cepat lo jadi janda." Bara tersenyum sinis menunjuk gadis di depannya.
"Papi gak akan biarkan pernikahan kita berujung perceraian."
"Kalau begitu, bersiaplah untuk dimadu!"
"Gue gak akan biarin itu terjadi."
"Semua akan terjadi sesuai kehendak gue!" Balas Bara tegas. Ia ingin menunjukkan pada Dillara bahwa melanjutkan perjodohan adalah bukan pilihan tepat.
"Lo gak akan bisa lawan papi gue, Bara!" Dillara masih terlihat santai. Ia bahkan bersadar pada besi pagar tangga dan melipat tangannya di dada.
Psikopat! Dia gak gentar sama sekali. Batin Bara.
"Bilang ke bokap, Lo!"
"Bara gak takut!"
Bara berbalik dan akan masuk ke dalam.
"Gue akan bilang ke papi untuk menutup bengkel ini." Ancaman yang membuat Bara semakin yakin, gadis ini tidak cocok untuknya.
"Bilang!" Bara berdiri melipat tangannya di pagar balkon.
"Kalau bokap lo melakukan itu, dan membuat karyawan gue kehilangan pekerjaan, maka gue pastikan akan muncul berita tentang Suryo Birowo, pengusaha kaya berhati ibli*s menutup sebuah bengkel dan menyebabkan semua karyawannya kehilangan pekerjaan."
Bara bertepuk tangan. "Kerajaan bisnis perlahan akan kehilangan pondasi."
"Investor pergi."
"Bokap lo di kejar wartawan dan dipanggil ke kantor polisi."
"Karyawan gue akan jadi saksi kelakuan bokap lo."
"Cctv akan jadi saksi atas ancaman lo!" Bara menunjuk dua cctv disini kanan dan kiri atas.
"Lo kira bokap gue gak bisa kasih pekerjaan layak buat karyawan lo yang gak seberapa ini?"
"Lo fikir, karyawan lo gak bisa disuap! Orang seperti mereka pasti berpihak ke siapapun yang kasih cuan, Bara!" Dillara menunjukkan dua jemarinya sebagai isyarat kalau yang dimaksud adalah uang.
"Lo gak boleh lupa itu!"
Bara tertawa pelan. "Gue percaya mereka."
"Perlu bukti?"
"Sekali gue kasih perintah untuk gak mengizinkan lo keluar dari sini."
"Maka lo gak akan bisa keluar!"
"Meski mobil, uang dan harga diri lo tawarkan."
"Lo lihat mereka!" Bara menunjuk arah belakang Dillara dimana semua karyawannya yang berjumlah 8 orang itu berdiri tegak siap melaksanakan perintah.
Dillara berbalik dan kakinya bergetar saat melihat montir dengan baju dan wajah penuh oli serta peralatan bengkel di tangan mereka.
"Sebaiknya lo pergi sekarang, sebelum lo gak bisa pergi sama sekali."
Dillara lari tunggang langgang menuju mobilnya. Ia segera keluar dari bengkel ini dengan melajukan mobilnya cepat.
"Hahahahahahah..." Semua karyawan Bara tergelak melihat gadis itu terlihat panik.
"Thanks semuanya!"
"Sama-sam Bos! Cewek kayak gitu layak di kasih pelajaran biar gak sombrong!"
"Sombong, Dang!" protes Galuh.
"Dia itu sombongnya udah level tertinggi, Pak, jadi namanya sombrong."
Bara masuk ke ruangan dan mengambil air minum di dispenser. "Kebanyakan ngomong bikin haus juga ternyata."
****
Bara yang pendiam akhirnya mengeluarkan taring dan tanduknya. 😃