Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 25 HARUS LEPAS



Nana dan Bara hanya bisa saling diam menikmati perjalanan pulang yang sepertinya hanya menyisakan waktu beberapa menit lagi. Nana tak ingin bicara apapun karena ia tengah menikmati bayangan rasa manis yang menyapu bibirnya beberapa menit lalu.


"Na..." suara Bara mengejutkannya.


"Ah, ya..." Nana menatap Bara yang kini tengah menatapnya. Kebiasaan Nana selalu terkejut tiap kali Bara tiba-tiba memecah lamunannya.


"Udah sampe."


"Haaa?" Kaget Nana dan ia segera melihat sekeliling dan ternyata mobil sudah terparkir di depan rumahnya.


"Perasaan cepet banget waktu berlalu." gumamnya pelan agar Bara tak mendengarnya.


"Ngelamun lagi, hem?" Bara menyentuh kepalanya. Nana segera menatap wajah yang kini sangat dekat dengannya itu.


"Eng...Enggak..." Nana kembali gugup. Jantungnya belum siap untuk terus berdekatan dengan Bara.


"Gue duluan, Bar." Nana berusaha menghindar dan ia segera membuka pintu mobil.


Nana keluar. "Thanks, Ya!" Ia segera berjalan menuju teras rumah. Terlalu mendebarkan melihat wajah Bara sedekat itu.


"Good night, Pacar!" Kalimat Bara berhasil membuatnya menghentikan langkah dan berbalik kebelakang.


"Mimpi indah." Bara mengerling. Nana speachless. Tampan banget sih! Tuhan, ciptaanmu ini begitu luar biasa.


Nana mengangguk dengan senyum kecil dan segera berlari masuk kedalam.


Di dalam rumah, Nana mengintip dari balik tirai jendela memastikan mobil Bara sudah meninggalkan rumahnya.


"Astaga! Mimpi apa gue, si tugu perbatasan bisa se sweet itu?" Gumam Nana senang sambil memegangi jantungnya. Ia melompat lompat kecil seperti seekor anak kambing.


"Pacar? Oh My God, dia panggil gue pacar." Nana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menggeleng-gelengkan kepala kegirangan tak lupa bibirnya mengembangkan senyum lebar.


"Pacar siapa, Na?" Suara berat Hadi mengejutkannya. Terlebih saat suara langkah kaki berjalan semakin mendekat.


Mati gue! Papa.


Nana berbalik dengan wajah kikuknya. "Ehm, Heheheh... Papa." Nana nyengir kuda. "Ada apa, Pa?" tanya Nana pura-pura tak mendengar perkataan Hadi tadi.


Hadi mengerutkan kening. "Tadi kamu sebut-sebut pacar. Pacar siapa? Pacar kamu? Dimana?" Hadi berusaha mendekat kearah jendela untuk melihat siapa yang ada di luar.


"Bu... bukan, Pa." Elak Nana. "Pacar apaan? Itu tadi, pacarnya temen."


"Kamu dianter pacarnya temen?" tanya Hadi heran.


Nana refleks mengangguk. Tapi ia sadar, jawabannya beresiko. "Mak... sud Nana. Nana dianter temen sama pacarnya juga."


Hadi diam dan mulai mencerna jawaban putrinya. Nana perlahan menghembuskan nafas lega saat Hadi berbalik dan sepertinya percaya dengan alasan Nana.


"Mobil kamu dimana? Papa gak dengar suara mobil kamu?" Hadi kembali berbalik menatap putrinya membuat Nana yang sudah merasa sedikit lega kembali berdebar.


"Nana tinggal di rumah temen, Pa. Udah kemaleman juga, jadi mereka antar Nana."


"Siapa teman kamu? Bara? Kan kata kamu, kamu mau ke rumah Bara?"


Aduh, jawab apa nih gue!


"I... iya, Pa."


"Nana masuk dulu, Pa." Nana meninggalkan papanya demi menghindari pertanyaan yang semakin menjebaknya.


"Na..." Nana kembali berbalik saat suara bariton itu memanggilnya. Nana baru menaiki 2 anak tangga.


"Kamu ganti baju?"


Oh Tuhan. Gue jawab apa?


Nana menatap tububnya. Ia baru menyadari, pakaian yang dipakai tidaklah sama dengan yang ia pakai saat beberapa jam lalu, ketika ia berpamitan pada papa dan mamanya.


Hadi mengangguk pelan. "Kamu berhutang penjelasan sama papa!"


"Oke!" Nana menyatukan ujung ibu jari dan telunjuknya memberi isyarat Ok.


"Papa cepat tidur. Jaga kesehatan, Pa."


****


"Baam!" Nana menutup pintu kamarnya. Lalu berjalan dengan langkah gontai menuju ranjang. Tubuhnya terasa lelah dan letih. Tenaganya seperti habis terkuras.


Baginya beberapa jam ini berlalu layaknya lintasan roller coaster, begitu mendebarkan.


Ia segera merebahkan diri diatas ranjang. "Malam yang luar biasa!" Ia mengeluh, tapi sekaligus lega. Dia masih utuh dan dalam keadaan baik-baik saja malam ini.


Hanya satu yang hilang, first kiss gue. Batin Nana.


"Maafkan Nana, Pa." Ini kali pertama ia berbohong. Menyembunyikan hal sebesar ini.


Dan ia masih memikirkan buntut dari kejadian malam ini. Akan sangat runyam jika wartawan sampai tahu. Banyak nama baik yang akan tercoreng. Orang tuanya, orang tua Bara dan Orang tua Dillara juga.


"Cepar atau lambat papa akan tau semuanya. Terlebih kemungkinan pihak kepolisian akan memanggil papa untuk dimintai keterangan." Nana bermonolog sambil menatap langit-langit kamar.


"Semoga semuanya baik-baik aja." Nana berharap hal ini tidak berdampak buruk pada hubungan baik semua orang tua mereka.


Nana menutup matanya. Bayangan wajah Bara kembali muncul. Padahal malam ini ada bahaya besar yang hampir merusak masa depannya. Tapi mengapa malah c*uman tanpa balasan yang Bara lakukan padanya lebih menarik dan sulit dilupakan.


"Bara... Kalau ini semua mimpi, gue harap, gue gak pernah terbangun lagi," gumamnya pelan.


****


Bara tiba di apartemennya. Dan ia segera masuk ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket sama seperti rasa manis yang tertinggal di bibirnya.


"Satu langkah lebih dekat dengan Nana." Bara menatap bayangan wajah yang terlihat lebih segar dan rambut yang masih basah di cermin.


"Dillara..." Dia ingat gadis yang berusaha menjebaknya itu. Gadis yang dijodohkan dengannya namun berusaha menjebak dirinya.


"Gimana caranya gue menjauh dari dia. Selama papa belum membatalkan perjodohan itu, Gue gak akan bisa mengakui Nana sebagai pacar gue di depan semua orang."


"Gue gak mau semua orang menyudutkan Nana. Apalagi sampai menuduhnya."


"Apa gue bilang aja ke papa kalau Dillara berusaha menjebak gue?"


"Tapi gue mana mungkin bisa sembarangan mengatakannya ke papa."


"Mana gak sempat ambil bukti lagi!" ucapnya kesal. Karena tidak sempat mengambil bukti berupa foto atau rekaman selama di club.


Otaknya berfikir keras. Nyatanya setelah menyatakan cintanya pada gadis bernama Nana itu, belum membuat hatinya lega. Karena antara dirinya dan Dillara masih ada rencana perjodohan orang tua mereka.


Bara membaringkan tubuhnya di ranjang. "Papa gak mungkin percaya."


"Apa lagi tanpa bukti."


"Papa terlalu keras kepala, dan Om Suryo... Huhh! Bisa habis gue kalau menuding putrinya tanpa bukti."


"Tapi gue harus tetap lepas dari dia. Apapun caranya."


"Dillara udah kelewat batas! Dia hampir mengorbankan banyak orang. Apalagi Nana. Kalau sampai dia kenapa-kenapa, gue gak akan bisa maafin diri gue!"


"Karena gue dia ada disana. Dan semua ini karena kelakuan Dillara." Bara mencengkram guling yang ada di sampingnya. Geram dan marah bercampur jadi satu.


"Gue harus tetap waspada, biar bagaimanapun gadis itu terlalu berbahaya."


"Gak ada yang tau, hal nekat apa yang akan dia lakukan."


****