Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 27 DILLARA



Bara tengah bermain game online versama Calvin dan Dimas di apartemennya. Hari libur ini mereka gunakan untuk bersenang senang, sambil mengatur langkah selanjutnya.


Buntut permasalahan malam tadi pasti akan sangat panjang. Dimana Calvin sendiri harus bersaksi di depan pihak berwajib. Tapi ia cukup terbantu dengan pengacara yang ia minta untuk mengurus kasus ini.


"Pengacara udah atur semua, Bar. Fokus dong mainnya!" Marah Calvin pada Bara karena seperti kehilangan fokus saat bermain game. Dan Calvin mengaitkan itu dengan kejadian malam tadi.


"Tau nih, jangan pusing-pusing! Come on Bara! Anggap aja masalah malam tadi kayak kerikil yang loe injek, terus lo buang ke laut!" Dimas tak kalah heboh menyemangati Bara.


Lo gak tau aja, semalaman gue gak tidur. Dan sekarang kalian maksa ngegame segala! Sungut Bara dalam hatinya.


Ting!


Ting!


Ting!


Notifikasi dari ponsel Bara.


"Ada pesan, gue balas dulu!"


"Entar!" Teriak Calvin karena mereka hampir menang.


"Tau ah!" Bara bangkit dari tidurnya dan langsung berjalan menuju jendela besar di kamarnya.


"Yaah, lo mah gak jelas Bar!"


"Kacau dah!" Keluh Calvin lagi.


Bara tidak menanggapinya. Ia memilih untuk membuka pesan dari Nana.


Bar, gue udah cerita ke bokap tentang semuanya. Kecuali tentang kita. Dan syukurnya bokap ngerti banget.


Gue harap, lo juga cerita ke om Wawan atau tante Tamara.


Ini demi kebaikan kita, minta bantuan bokap lo supaya jangan sampai media tau. Besar resikonya. Menyangkut nama baik sekolah dan keluarga.


Bara mengehembuskan nafas berat. Ia memegang ponselnya cukup lama sambil menatap keramaian kota dari jendela besar itu.


Nana benar, ini menyangkut nama baik banyak pihak.


Bara memasukkan ponselnya ke saku celana pendek miliknya, meraih jaket dan kunci mobil diatas nakas.


"Gue keluar sebentar!" pamit Bara pada Dimas dan Calvin.


"Mau kemana, lo?" tanya Calvin.


"Rumah bokap."


"Gak lama." Bara membuka pintu kamarnya.


"Kalian santai aja disini."


"Vin, kirim nomor hp pengacara lo!" teriak Bara saat ia sudah keluar dari kamar.


"Ya!" jerit Calvin.


"Tuh anak gak bisa tidur bener, Dim."


"Kalau gue jadi Bara, gue juga gak bakalan bisa tidur, Vin."


"Dijodohin sama cewek Psyco begitu."


"Kalo aja Bara kena jebak, habis masa depan dia Vin," lanjut Dimas.


"Gak kebayang, kalau seandainya bulan depan kita kondangan ke kawi*nannya Bara." Calvin bergidik geli, lalu ia dan Dimas terbahak bersama.


"Mana gue gak punya partner lagi!" Dimas makin terkekeh.


"Lah gue apa kabar?" balas Dimas. "Terpaksa deh, pake kedok dari kelas XI IPA 1, Bar!" Dimas memperagakan seolah dirinya tengah menyerahkan sekotak kado pada Bara. Keduanya kembali terbahak.


***


"Bar?" Wawan menyapa Bara yang baru saja datang. Ia yang tengah duduk di teras rumah terkejut dengan kedatangan Bara yang tanpa menghubunginya lebih dulu.


"Pa... bisa ngobrol sebentar?"


Wawan mempersilahkan Bara untuk duduk dengan menunjuk kursi di sampingnya.


Bara melihat sekeliling, ada pekerja yang sedang merapihkan tanaman di taman halaman rumah. "Di ruang kerja aja, Pa. Penting soalnya."


Wawan sempat menelisik wajah putranya lalu mengangguk. "Ayo."


Keduanya berjalan beriringan ke ruang kerja milik Wawan.


"Duduklah!" Wawan menyuruh putranya duduk bersebrangan dengannya.


"Ada apa, Bar?"


"Bara mau cerita."


"Cepat atau lambat, papa pasti akan tahu hal ini. Dan Bara mau, itu dari pengakuan Bara. Bukan dari orang lain."


"Dillara berusaha menjebak Bara!"


Wawan mengerutkan kening, mendengar sebaris kalimat yang lebih terdengar seperti tuduhan di telinga wawan.


"Menjebak bagaimana?" tanya Wawan penasaran.


Bara menceritakan semua hal yang ia alami, mulai dari saat Dillara sengaja menukar ponselnya, hingga saat kejadian di Club. Bahkan saat Nana nyaris terjebak, ia juga ceritakan.


"Selena anaknya Hadi, kan Bar?" tanya Wawan.


"Iya, Pa."


"Dari mana Selena tau kalau Dillara berusaha menjebak kamu?"


Bara diam sebentar lalu mengangkat bahunya. "Bara gak tau pasti, karena Nana belum cerita dan kami belum bertemu lagi sampai saat ini."


Keduanya saling diam sejenak. Wawan tak percaya Dillara, anak sahabatnya yang ia jodohkan dengan putranya bisa melakukan hal senekat itu.


"Selama ini, kamu terlalu cuek padanya, Bar!"


"Mungkin dia gak berniat menjebak kamu, Bar."


Bara memasang ekspresi datar. "Gak berniat gimana, Pa?"


"Nana juga hampir jadi korban, loh Pa?" Bara sedikit kesal. Bagaimana mungkin disebut tidak berniat sementara jelas-jelas semuanya seperti tersusun rapi.


"Minuman yang Bara muntahkan, 2 orang pria yang jelas-jelas mengejar Bara."


"2 orang yang jelas-jelas memancing Nana dan menjebaknya. Lagian dua laki-laki itu juga ngaku, Pa. Kalau mereka cuma suruhan." Bara duduk bersandar di kursinya. Ia memijat keningnya yang mulai terasa menegang.


"Kalau papa gak bisa bantu, gak apa-apa. Seenggaknya Bara udah cerita dan sewaktu-waktu pihak berwajib meminta papa datang, papa gak akan kaget lagi."


Bara merapikan jaketnya. "Dan setelah kejadian ini, Bara harap perjodohan itu tidak ada lagi."


"Bara balik dulu, Pa." Pamitnya. Bara berjalan meninggalkan Wawan yang masih bungkam.


"Bara, Papa akan bantu."


Bara yang sedang memegang handle pintu berbalik, "terima kasih, Pa."


****


Sementara itu...


Di rumah mewah yang lainnya...


"Hiks... hiks... hiks..." Dillara menangis dibawah guyuran shower di kamar mandinya. Pakaiannya yang sama masih menempel ditubuhnya.


Ia berdiri dengan kedua tangan menempel didinding seolah ia mendorong dinding itu.


"Gue kenapa bisa sebodoh ini!" ucapnya lirih. Air mata tak terhitung lagi berbaur dengan air shower dan berakhir ke saluran pembuangan.


"Gue habis di ranjang pria yang sama sekali gak gue kenal."


"Gue..."


"Hiks... hiks... hiks..."


Gue memang liar. Gue memang nakal. Gue memang sering keluar masuk club. Tapi selama ini gue jaga harga diri gue. Dan sekarang gue udah kehilangan semuanya. Batin Dillara menjerit.


"Aaaahhhh!"


"Braaaakkkk." Seketika barang-barang di kamar mandi itu berserakan. Ia marah dan melempar semua perlengkapan mandi di rak ke lantai.


Dia mengingat. Menjelang subuh tadi, Dillara terbangun dengan lengan besar yang melingkar di perutnya. Ia melihat wajah yang tidak ia kenali sangat dekat dengannya wajahnya. Hembusan nafas teratur terdengar jelas tanda pria itu tengah terlelap.


Dillara terkejut. Ia coba mengingat siapa pria ini. Namun nihil. Ia tidak bisa mengingat apapun. Yang ia ingat adalah ia gagal menjebak Bara dan melampiaskan kemarahannya dengan minum terlalu banyak alk*ohol.


Dillara yang panik, langsung berusaha bangun. Sesekali ia memegang kepalanya yang terasa begitu berat. Dengan menahan perih di bagian bawah tubuhnya, ia memakai kembali pakaiannya.


Disaat kesadarannya belum pulih sepenuhnya akibat pengaruh minuman keras, Dillara masih sempat mengambil foto pria di atas ranjang itu.


Tak lupa ia juga membawa identitas pria itu yang ia ambil dari dompet berwarna coklat yang tergeletak di atas lantai.


Dillara duduk di lantai kamar mandi yang dingin. Tubuhnya mulai menggigil dan bibirnya mulai memucat.


"Bara!"


"Semua ini gara-gara, lo!"


"Gue terlalu terobsesi untuk memiliki lo!" Dillara terisak.


"Gue hancur, Bar! Gue hancur!" suaranya melemah dan tubuhnya ambruk.


***


Terima kasih untuk kalian yang masih menanti kisah ini 😊