Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 30 JALAN



Tok... tok... tok...


Ketukan di pintu kamar Nana menyita perhatiannya. Ia yang tengah menopang dagu di atas meja belajarnya memikirkan alasan Bara untuk backstreet sungguh membuat kepalanya pening.


Dengan malas ia berjalan untuk membuka pintu yang ia kunci dari dalam.


"Na... Kamu tidur, sayang?"


"Sebentar, ma..."


Nana membuka pintu dan terlihat wanita cantik dengan balutan kaos lengan panjang dan celana kulot 3/4.


"Ada Bara di bawah."


Sebuah informasi yang membuat matanya membulat sempurna. Ia menatap mamanya dengan mulut terbuka seolah tak percaya lelaki yang memenuhi fikirannya itu ada di dalam rumahnya.


"Na, kok kaget..."


Ia terkesiap. "Ah... ehm... anu, Ma."


"Ba...ra disini? Ngapain?" tanya Nana tergagap.


"Mana mama tau." Wanita di depannya itu menggerakkan kedua bahunya. "Mau ngajak kamu jalan, kali. Soalnya dia rapih banget."


Bara mau ngajak gue jalan? Kok gue gak yakin, ya.


Dia pengen backstreet, tapi dia datang kesini? Lo maunya apa sih Bar?


"Na... hei..." Ayu melambaikan tangan di depan wajah Nana. "Ngelamun, Na?" Ayu tertawa.


"Ehm... enggak."


"Ayo cepat turun, Na." Ayu berjalan lebih dulu meninggalkan Nana. "Jangan lama-lama, keburu dia balik."


Dengan malas, ia masuk kembali ke kamarnya. Ia melihat penampilannya di depan cermin.


"Jeans selutut dengan kaos putih."


"Ah, not bad lah!"


Nana mengaplikasikan lip balm di bibirnya. Ia kembali menatap wajahnya di cermin. "Huuh! Gue kok deg degan ya?" Ia memegang dadanya yang berdebar tak karuan.


"Perasaan tadi biasa aja."


Ia kembali menarik nafas dalam dan ia segera keluar kamar untuk menemui Bara.


Ia menuruni anak tangga dan... "Itu kakak!" Nana tersenyum saat Syakiel menunjuknya. "Benerkan Syakiel bilang, kakak lagi bobo di kamar." Syakiel berbicara dengan lelaki yang duduk di sampingnya.


Tatapan matanya bertemu dengan lelaki yang memakai kaos putih dengan kemeja navi yang sengaja tidak di kancingkan. Tak lupa jeans selutut berwarna senada dengan kemejanya.


Nana melihat tatapan mata itu terus membidiknya selama ia berjalan menuruni anak tangga. Entah apa yang salah dengan dirinya tapi Nana sungguh tidak kuat menatap mata tajam itu lebih lama lagi.


"Kakak cantik, ya Bang?" bisik Syakiel sambil terkikik menutup mulutnya.


Bara memutus tatapannya pada gadis berkaos putiu itu lalu ia tersenyum kecil dan mengusap rambut bocah laki-laki yang menurutnya sangat menggemaskan.


"Kata siapa?"


"Kata Syakiel," jawabnya sambil tertawa.


"Kakak cantik, kayak mama."


"Kalau Syakiel ganteng, kayak papa."


"Siapa yang bilang kalau kamu ganteng, Sayang?" Nana langsung mengangkat bocah itu dan memindahkannya di pangkuan Nana.


"Hihihi... kata papa, Kak."


Nana mengerutkan keningnya. "Papa bilang begitu?"


"Iya..." Syakiel mengangguk mantap.


"Syakiel, kesini sayang!" Panggil Ayu dari arah dapur pada putranya.


"Dipanggil mama, tuh!" Nana menunjuk arah dapur. Syakiel langsung turun dari pangkuannya dan berlari menuju dapur.


"Jalan, yuk." Ajak Bara tiba-tiba saat Syakiel sudah tidak terlihat lagi.


Nana mengerutkan kening. To the point banget lo, Bar!


***


Nana menyandarkan kepalanya di jok mobil yang kini tengah dikemudikan oleh Bara. Nana hanya bisa pasrah karena tanpa menjawab ajakan Bara, lelaki itu sudah lebih dulu melangkah ke dapur untuk berpamitan pada Ayu.


"Nananya mau kok, tan."


"Lagi pula cuma jalan-jalan sore aja. Gak sampai malam."


"Hati-hati, ya... Jangan buat Nana dimarahin sama papanya."


Nana bisa mendengar bagaimana ia meminta izin dari mama Ayu. Ia sedikit kesal karena ia sendiri belum setuju untuk ikut dengan Bara.


"Kenapa diem? Gak suka jalan sama gue?" tanya Bara saat Nana sama sekali tidak membuka mulutnya.


Lo mah keren. Lah gue cuma pakai jeans pendek sama kaos buluk begini. Mana gue cuma pakai sandal jepit, lagi! Awas kalau lo bawa gue ke tempat ramai.


"Lagi mogok ngomong, ni?"


Nana meliriknya sekilas lalu kembali menatap ke depan.


"Gue ci*um aja gimana?" Bara memgatakannya sambil menahan senyum. Mana berani ia mengulang kesalahan manis itu.


Nana langsung menatap tajam wajah yang tengah menahan senyum di bibirnya itu.


"Becanda, Na."


"Gue gak berani lagi."


"Takut..."


Nana mengerutkan keningnya.


"Takut nagih." Bara terbahak saat secara tiba-tiba Nana mencubit pingangnya.


"Aduh...! Ampun, Na. Hahahah! Gue masih nyetir!"


"Makanya jangan mes*um!"


Bara menangkap tangan Nana. Ia segera menepikan mobilnya.


"Na..."


"Lepas, Bar!" Ia meminta Bara melepaskan tangannya.


"Na... Sorry!" ucap Bara tiba-tiba.


"Jangan marah sama gue!"


"Marah soal apa?" tanya Nana tak faham.


"Soal backstreet."


Nana membuang muka. Ia menatap ke depan dengan kedua tangan yang masih Bara genggam. Gue benci bahas ini.


"Na, lihat gue, please!


"Na..."


Nana menatap Bara. Ia menatap mata sayu itu. Bara seperti memohon.


"Na, percaya sama gue. Cuma lo yang gue sayang!"


Gombal gak nih?


"Gak ada yang lain."


"Soal hubungan kita, bersikap biasa aja. Gue tetap duduk di samping lo. Kemana-mana bareng sama lo."


"Gak ada yang berubah, Na. Hanya saja kita saling mengakui perasaan kita."


"Gue bisa aja bilang seluruh dunia kalau lo pacar gue."


"Gue bisa bilang ke semua orang kalau lo milik gue."


"Tapi gue gak bisa ambil resiko, Na."


"Kemarin Dillara. Bahkan semuanya belum benar-benar selesai."


"Dan saat ini ada Diandra di depan kita."


"Lo lihat? Dia belum menyerah, Na."


"Lo juga gak tahu seberapa bahaya dan nekadnya dia."


Bara menggeleng. "Gak, Na. Gue gak mau ambil resiko."


Nana menghela nafas. Lo mikir terlalu jauh, Bar!


"Bar, Diandra udah tau kalau kita pacaran." Bara mengerutkan keningnya.


"Dia ngancem gue tadi." Nana menatap wajah Bara. "Dia bilang, lo gak akan lama jadi pacar gue!"


Bara tertawa hambar. "Dia nekat kan, Na?"


Nana mengangguk pelan.


"Mulai sekarang, jangan dengarkan dia. Jauhi dia dan sebisa mungkin jangan berhubungan sama dia." Bara memperingatkan Nana.


"Harusnya gue yang bilang begitu, Bar."


Bara lagi-lagi tertawa. "Iya,ya... Tapi gue gak tertarik sama dia, Na."


"Lo hati-hati, Bar. Jangan sampai masuk dalam jebakan lagi."


"Iya pacar! Iya...!"


***


"Saya harus bawa anak saya ke dokter, Pak?" mohon Salsabilla saat mendapat kabar dari kepolisian bahwa Dillara terus saja muntah sejak kemarin.


Gadis itu juga tidak makan sama sekali sejak beberapa hari lalu. Apa yang ia makan pasti kembali keluar.


Dillara saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang menimpa Nana dan Bara beberapa waktu lalu.


"Bu, bisa bicara sebentar." Seorang Polisi wanita meminta waktu untuk berbicara dengan Salsabilla.


"Ada apa, Bu."


"Saya cuma memohon, supaya anak saya mendapatkan pertolongan medis."


"Belum satu bulan dia disini, tapi tubuhnya semakin kurus, Bu."


"Apa tidak bisa dia mendapatkan perawatan terbaik meskipun dia pelaku kejahatan?"


Salsabilla memang kecewa pada putrinya. Tapi, naluri seorang ibu tidak akan tega melihat putri yang selalu ia cukupi kebutuhannya itu kini tampak tak berdaya.


"Bu, Dokter sudah memeriksa putri Ibu."


"Dan dia dinyatakan hamil."


"Duuaarr!!!" Bak tersambar petir. Salsabilla menutup mulutnya tak percaya.


"Ha... mil?"