
Bara belum sampai di bengkel tapi dering ponsel membuatnya terpaksa berhenti dipinggir jalan.
Nomor Salsa yang muncul di layar membuatnya sedikit terheran. Untuk apa pacar temannya itu menghubunginya.
Namun, saat ia mengingat, Salsa adalah teman kerja Nana, Bara langsung menggeser icon berwarna hijau di layar ponselnya.
Sebuah kabar yang membuat jantungnya berdegub gencang. Nana pingsan!
Bara segera memutar arah dengan perasaan gelisah. Perasaan dan dugaannya bahwa Nana tidak baik-baik saja ternyata terbukti.
Bara akhirnya sampai di kantor berbarengan dengan papa mertuanya.
"Bar? Buru-buru sekali?" tanya Hadi saat melihat Bara masuk ke dalam lobby kantor dengan terburu-buru bahkan tidak menyapa dirinya yang dilewati begitu saja.
Bara menghentikan langkah dan berbalik. Ia langsung menyalami mertuanya. "Mbak Salsa nelfon, katanya Nana pingsan, Pa!"
"Nana pingsan?" Hadi terkejut.
"Bara duluan, Pa!" Bara berjalan cepat menuju lift.
"Dari sini, Bar!" Ajak Hadi agar Bara menaiki lift khusus jajaran direksi.
"Dari sana pasti antri! Jam kerja sudah mepet." Hadi sudah hafal, di jam kurang lima menit dari jam kerja, lift khusus karyawan akan padat dan sesak.
Hadi maklum, karena rata-rata karyawannya menggunakan angkutan umum, seperti bus dan ojek online.
Bara mengikuti arah yang Hadi tunjuk. Lagi pula ia tidak tahu dimana ruang kerja Nana. Sangking paniknya, ia hanya terus berjalan cepat. Ia hanya tau dilantai mana Nana bekerja dan selebihnya, ia bisa bertanya, itu yang ada difikirannya tadi.
"Dia sakit?" tanya Hadi pada Bara saat mereka berada di dalam lift.
Bara menggeleng. "Dia bilangnya baik-baik aja, Pa. Bara juga udah tanya dia, karena Bara lihat wajahnya agak pucat."
"Kamu gak larang dia untuk bekerja dan istirahat di rumah aja?"
Bara menghela nafas. "Papa tahu sendirilah, Nana seperti apa orangnya."
"Dia ngotot kalau dia baik-baik aja."
Mereka keluar dari lift dan masuk ke dalam ruangan Nana. Di dalam Nana sudah duduk dengan menenggelamkan kepalanya di atas meja. Salsa dan seorang wanita yang Bara kenal bernama Hilda mendampingi Nana.
"Na..."
"Nana..."
Suara Hadi dan Bara membuat Nana mengangkat kepalanya dan menoleh ke asal suara.
"Papa..."
"Bara..."
Salsa dan Hilda memberi ruang pada Hadi dan Bara agar bisa melihat kondisi Nana.
Bara menangkup kedua pipi Nana dengan telapak tangannya. Ia sedikit membungkuk dan memandang wajah pucat itu.
"Kamu kenapa, Sayang?"
"Kita ke rumah sakit sekarang, ya!" ajak Bara.
Hadi menempelkan punggung tangannya di kening Nana. "Kamu gak demam sayang, tapi kamu pucat sekali!"
"Kamu memang sebaiknya ke rumah sakit aja, sayang!"
"Bar, nanti hubungi Mama untuk jaga Nana di rumah sakit!"
"Papa ada meeting sampai siang! Nanti kalau udah selesai, papa juga akan menyusul ke rumah sakit."
Semua karyawan melihat bagaimana Hadi begitu perhatian pada Nana dan baik pada Bara. Hal yang sangat jarang mereka lihat karena sangking profesionalnya ayah dan anak itu.
Bara mengangguk. "Iya, Pa."
"Ayo sayang!" Bara iba melihat wajah istrinya yang pucat itu.
Bara mengambil tas Nana dan memakainya menyilang di tubuhnya. Bara bersiap menggendong istrinya.
"Kita pulang aja sayang! Aku cuma butuh tiduran."
"Tapi, Na..."
"Sayang, please!" mohon Nana.
Bara menatap Hadi dan mertuanya itu mengangguk. "Boleh! Dengan syarat, pulang ke rumah Papa."
"Disana ada mama yang bisa bantu Bara urus kamu, Sayang!"
"Nanti papa akan minta mama untuk menghubungi dokter Anggun!."
Hadi menyebut nama dokter yang bisa datang ke rumah saat dirinya, Ayu atau Syakiel sedang sakit.
Bara menggendong Nana dan membawanya ke luar dari ruang kerja itu.
Kembali menggunakan lift khusus direksi, Bara hanya berdua dengan Nana karena jam kerja sudah dimulai.
"Berat, ya?" tanya Nana dengan suara lemah. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Bara. Matanya terpejam karena ia akan merasa pusing saat membuka mata.
"Enggak. Demi kamu, gendong sampai monas juga aku gak masalah, sayang!" Bara tertawa kecil.
Nana mencubit kecil leher Bara, dimana tangan Nana melingkar disana.
Bara tertawa. "Udah gak berdaya begini, masih bisa mencubit rupanya."
"Terima kasih!"
"Gak ada kata terima kasih antara suami istri sayang!"
"Pak, tolong! Kuncinya di kantong celana saya!"
Bara akhirnya bisa mendudukkan Nana di kursi depan. Ia setengah memutari badan mobil dan segera duduk di kursi kemudi.
"Kamu kenapa sih, bohong sama aku?" tanya Bara kepada Nana.
"Bohong apa?" tanyanya Nana dengan suara lemah tanpa membuka matanya.
"Kamu bilang baik-baik aja, tapi belum 20 menit, kamu udah pingsan!"
"Untung jalan sedikit macet, jadi aku belum terlalu jauh dari kantor kamu."
"Aku juga gak tau, Sayang!"
"Tadi aku sama mbak Salsa lagi bercanda, terus mbak Salsa dorong kursi aku..."
"Terus kamu jatuh?" potong Bara dengan nada marah.
"Dengar dulu, sayang!" Lirih Nana.
"Aku gak jatuh, tapi aku sedikit terkejut dan aku terhuyung ke samping. Dan setelahnya entah kenapa aku tiba-tiba pusing, gelap dan aku gak sadar."
"Kamu gak terbentur kan?" tanya Bara khawatir.
"Kita ke rumah sakit aja deh!"
"Gak mau, Bara!"
Bar menghela nafas berat. Nana memang tidak terlalu menyukai suasana rumah sakit. Hadi dan Salma selalu bercerita kalau Nana sejak kecil memang enggan dibawa ke rumah sakit ketika sedang tidak sehat.
Mamanya seorang dokter hingga ia memilih dirawat sendiri di rumah. Dan karena tidak menyukai rumah sakitlah, mengapa Nana tidak ingin mengikuti jejak mamanya menjadi seorang dokter.
Bara menggendong Nana saat tiba di rumah orang tua Nana. "Pelan-pelan sayang!" bisik Nana saat Bara sedang berusaha mengeluarkan tubuhnya dari dalam mobil.
"Aku gak akan buat kepala kamu terbentur, Sayang!" kekeh Bara karena Nana benar-benar merendahkan kepalanya sangking takutnya terbentur atap mobil.
Wanita yang tengah merawat tanaman bunganya di halaman depan seketika mengerutkan kening kala meligat mobil menantunya itu memasuki halaman rumah.
Dan Ayu lebih heran lagi saat melihat Bara dengan susah payah berusaha mengeluarkan tubuh Nana dari dalam mobil.
"Nana kenapa, Bar?" tanya Ayu khawatir. Ia segera meletakkan selang air dan mencuci tangannya dan berjalan cepat mendekati Bara.
"Nana tadi pingsan, Ma," ucap Bara membawa Nana ke dalam rumah.
"Bawa ke kamar tamu aja, Bar!" perintah Ayu sambil menunjukkan dimana letak kamar tamu yang bisa Nana gunakan.
"Papa belum hubungi mama untuk menghubungi dokter?" tanya Bara.
"Papa bilang begitu?" tanya Ayu dan Bara mengangguk.
"Ponsel mama ada di kamar, Bar! Maaf ya, mama akan segera menghubungi dokter."
Ayu keluar dari kamar itu dan segera meminta asisten rumah tangga untuk mengambilkan air hangat untuk Nana.
Ia segera menghubungi dokter dan dokter akan sampai dalam 30 menit.
"Biar saya aja, Bi." Ayu membawa nampan dengan segelas air hangat di atasnya."
"Tolong, siapkan untuk membuat sup ya, Bi. Yang masak biar saya aja."
"Bibi siapkan dulu bahan-bahannya." perintah ayu kemudian.
Bara sudah membuka blazer di tubuh Nana dan menyisakan kemeja lengan pendek dan celana bahan. Heels-nya juga sudah dibuka.
Bara mengeluarkan minyak angin khusus bayi dari dalam tas Nana. Benda yang sering Nana bawa sejak dulu. Karena jika ia tiba-tiba pusing, mual atau masuk angin, benda itu cukup membantu.
Bara mengoleskan sedikit di kening dan dibawah hidung istrinya. Bara juga mengusapkannya di perut Nana.
Ayu masuk dan segera meminta Nana untuk minum sedikit. Bara membantu Nana untuk bangun dan duduk.
"Kamu kenapa sayang?"
"Apa yang kamu rasa?"
"Pusing?"
Nana mengangguk lemah.
"Mual gak?" tanya Ayu lagi.
Nana menggeleng.
"Sepertinya anemia ya, Ma?" tanya Bara. "Tadi pagi, dia udah pucat, Ma."
"Tapi dia tetap ngotot kalau dia sehat!"
Ayu tersenyum kecil. "Dia kan memang seperti ini, Bar!"
"Kamu sabar ya... jaga Nana sebentar ya. Mama mau masakin sup dulu untuk Nana." pamit Ayu.
"Ma..." panggil Nana saat Ayu sudah berbalik.
"Kalau ada, pakai iga sapi, Ma." pinta Nana tak biasa.
Ayu mengerutkan keningnya. Lalu mengangguk, tak ingin membuat Nana kecewa. "Iya. Sabar sebentar tapi, yaaa... Mama akan minta bibi untuk ke pasar dulu."
Nana mengangguk. "Terima kasih, Ma."
"Sama-sama sayang!"