
Bara berjalan meninggalkan Dimas. Semua yang Dimas katakan membuat hatinya tersentil.
Gue memang pengecut. Dimas benar, gue pengecut.
Gue biarin masalah ini berlarut-larut. Padahal gue sendiri gak bisa tidur nyenyak karena rasa bersalah gue.
Bara berjalan tak tentu arah. Ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Dimas juga tidak terlihat mengikutinya.
Bara sampai di sebuah pantai yang menurutnya sangat indah. Ia mencari tempat duduk disalah satu restoran dan memesan minuman.
Ia duduk termenung melihat kearah bibir pantai. Bara tidak menduga akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan Nana meski dalam kecanggungan.
Hubungan kedua keluarga masih baik-baik saja. Sepertinya Nana tidak menceritakan pada orang tuanya tentang ucapan Bara lima tahun lalu, dimana ia menyamakan gadis itu dengan Diandra.
Bara semakin diselimuti rasa bersalah. Nana mampu menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri. Sementara orang tua mereka hanya mengetahui bahwa hubungan mereka tidak berlanjut karena Nana memberikan satu alasan yang cukup masuk akal.
Nana mengatakan bahwa ia ingin kuliah di luar negeri dan tidak ingin konsentrasinya terbagi antar pendidikan dan percintaan.
Kala itu, Nana juga meyakinkan pada orang tuanya bahwa jika keduanya berjodoh, mereka akan kembali bersama suatu saat nanti.
Bara saat itu hanya bisa mengangguk pasrah atas apa yang Nana katakan. Ia bahkan tidak berani mengatakan kebenarannya pada orang tuanya sendiri.
Bara juga membuat satu alasan untuk bisa pindah sekolah. Ia mencari sekolah yang dekat dengan apartemennya. Alasan itu tidak bisa Wawan tolak karena semua demi kemandirian Bara. Wawan ingin putranya itu bisa bertanggung jawab atas keputusanya sendiri.
Keinginan Bara untuk kuliah jauh dari orang tua membuat Wawan faham bahwa Bara memang harus belajar mandiri sejak dini.
Drrt... Drrt..
Ponsel Bara bergetar, ada nama Putra disana.
"Ya, Put?" tanyanya.
"Lo dimana? Kita mau mantai, nih?"
"Kalian duluan aja, gue lagi... Gue lagi cari-cari sandal sama sepatu, nih. Soalnya gue cuma bawa satu." Bara memberi alasan. Ia masih ingin menyendiri.
"Lo awas nyasar!"
"Lo pikir gue anak kecil. Gue bisa lihat map, Put!"
"Oke. oke. Siapa tahu lulusan Luar negeri nyasar di negara sendiri."
Putra mengakhiri panggilannya tanpa membiarkan Bara membalas ocehannya.
"Kebiasaan buruk!" gumam Bara yang kesal karena Putra selalu menyangkut-pautkan mengenai pendidikannya yang ia tempuh di negara orang.
Tanpa terasa, Bara menghabiskan waktu di tempat itu hingga malam hari. Ia berjalan kaki untuk kembali ke rumah orang tua Nana. Lumayan jauh memang, tapi tidak masalah baginya. Ia malah menikmati setiap langkah kaki di pulau indah itu.
Bara sempatkan diri untuk mampir di sebuah toko yang menjual sandal dan sepatu. Dia benar-benar hanya membawa satu sepatu untuk liburan tanpa rencana ini.
Tak perlu waktu lama, ia keluar dengan dua plastic bag di tangannya.
"Gue butuh uang cash," gumamnya.
Ia lantas mampir ke ATM untuk mengambil uang dari tabungannya. Bara melanjutkan perjalanan yang mungkin sekitar 5 menit lagi.
Bara sampai di sebuah rumah dua lantai dengan gerbang berwarna putih dan silver. Bara masuk ke dalam dan ia begitu terkejut Nana sedang duduk dan tertawa dengan seorang pria di taman depan rumah.
Bara menatap keduanya bergantian. Begitupun mereka yang tiba-tiba saja diam dan mematung melihat kedatangannya.
Bara tersenyum kecil pada pria tersebut. Pria yang tampak tampan dengan setelan jeans pendek dan kaos berkerah. Pria yang pernah Bara lihat wajahnya beberapa tahun silam.
Bara berjalan masuk sambil mengingat siapa pria itu. Dan ia ingat, pria itu adalah pria yang sama seperti yang ia lihat lima tahun lalu. Pria yang membelikan Nana sepasang sepatu.
Pria itu tampak semakin dewasa, namun badan atletis dan wajah putih terawat membuat wajahnya tak terlihat tua sedikitpun padahal Bara yakin usia mereka terpaut cukup jauh.
Pantas saja dia masih menjomblo hingga sekarang, ternyata pria itu masih menunggunya. Mereka masih berhubungan dengan baik.
Bara tersenyum kecut. Memperbaiki semuanya dan kembali bersama sepertinya tidak akan mungkin lagi.
***
Nana menghela nafas saat melihat Nara masuk ke dalam rumah begitu saja.
"Dia orangnya, kan?" tanya pria yang duduk di sebelahnya. Pria yang juga membalas Bara dengan senyuman kecil.
"Iya, kak!" Nana mengangguk.
"Kulkas begitu!" ejek Evan dengan nada dingin. "Move on deh, Na," lanjut Evan.
"Seribu pria kayak dia bisa kamu dapat di Bali." Evan tertawa kecil.
Nana ikut tertawa. "Satu aja bikin aku gak bisa gerak bebas di rumah, Kak. Apa lagi seribu? Bisa lupa nafas aku tuh!" Nana cemberut.
Ya, sedari tadi, Nana memang sedang berbincang dengan Evan, kakak sambungnya. Ia dan Evan memang sering memilih berbincang di luar rumah. Evan baru tiba sore tadi, bersama istri dan anaknya yang saat ini sedang berada di dalam kamar.
Keduanya membicarakan masalah bagaimana Nana harus bersikap. Sejauh ini, hanya Evan tempatnya bercerita. Evan menjadi satu-satunya orang yang mengetahui alasan ia tidak melanjutkan hubungannya dengan Bara.
Awalnya, Evan merasa bersalah menjadi penyebab kandasnya hubungan sang adik. Namun, perlahan Evan mengerti, bahwa semua itu bukan salahnya. Yang salah adalah Bara karena terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa bertanya dulu.
"Kenapa kamu biarin mereka tinggal disini, kalau kamu sendiri gak nyaman, Na?" tanya Evan.
"Mereka belum apa-apa udah nanya, kak? Kita numpang tinggal disini, boleh?" Nana menirukan ucapan Calvin siang tadi saat ia baru saja menyambut kedatangan mereka.
"Lagi pula aku gak nyaman cuma sama satu orang kak."
"Gak mungkin juga ku bilang, semua boleh menginap, kecuali lo!" Ucap Nana sambil menunjuk arah depan seolah ia tengah berbicara dengan Bara.
"Hahahah..." Evan tertawa. "Kalau kamu berani bilang begitu di depan teman-teman kamu, kakak traktir kamu sepuasnya di resto pilihan kamu." Evan lanjut tertawa lagi.
Nana cemberut kesal. "Aku masih waras kak!"
Evan diam setelah ia puas tertawa. "Itulah kelemahan kamu, Na," ucapnya menatap Nana.
"Kamu terlalu memikirkan perasaan orang lain."
"Kamu tahu, kamu gak nyaman. Tapi kamu paksakan."
"Kamu gak nyaman karena apa, Na?"
Nana diam. Tentu karena bagiku terlalu sulit untuk menghilangkan perasaan ini, kak!
Evan tersenyum. "Kakak tau, perasaanmu masih sama. Tapi kecewamu jauh lebih besar." Nana menatap Evan.
"Maafkan dia, Na. Maka semua beban di hatimu akan hilang."
"Bicaralah!" Evan mengusap kepalanya.
"Kakak tau, kamu merasa sakit hati karena ucapan dan sikapnya dulu. Padahal alasannya simple, sampai kamu belum melupakan hal itu."
Nana menatap Evan lekat-lekat.
"Karena dari lubuk hati kamu yang paling dalam, kamu ingin hidup bersamanya."
Nana diam dan menunduk. Ia menyadari yang Evan katakan ada benarnya. Ini bukan masalah sikap dan sikap, ini bukan masalah tampan dan jelek. Ini masalah hati yang ia sendiri tidak mengerti.
Evan menyentuh bahunya. "Tapi kamu dan dia sama-sama egois, Na."
"Kalian terlalu berdiri tegak diatas prinsip kalian masing-masing."
Nana menatap Evan. "Percayalah, Na."
"Semua ini tidak sesimple yang ada di fikiran kamu."
"Menikah itu menyatukan dua otak dengan pemikiran berbeda, menyatukan dua hati, dan menyatukan dua karakter yang mungkin bertolak belakang."
"Orang tua kamu pernah gagal, Na."
"May be penyebabnya adalah salah satu dari hal yang kakak sebutkan tadi."
"Mereka pasti berusaha menyelesaikannya Na, tapi buntu!".
Ya, memang buntu, Kak. Papa ingin anak, tapi mama tidak bisa memberikannya.
"Tapi, Na. Tidak semua masalah itu berakhir dengan jalan buntu."
"Intinya, jika pondasi cinta kalian kuat, percayalah. Badai sebesar apapun, tidak akan bisa membuat genggaman tangan kalian terlepas."
Nana menghela nafas. "Jadi, aku harus bicara dengannya, Kak!"
"Ya, jangan dong!" larang Evan dengan suara agak keras.
Nana sampai mendorong bahu pria itu karena terkejut.
"Jadilah gadis yang bermain dengan cara yang elegan!" ucap Evan.
"Cari tahu dulu soal perasaannya. Jangan minta balik kalau dia aja udah move on!"
"Atau, tunggu sampai dia yang mengajakmu bicara."
Nana cemberut. "Kalau dia udah move on gimana, kak?"
Evan tersenyum lalu dia berdiri. "Balik lagi ke kata-kata kakak yang awal tadi."
Nana mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Seribu pria kayak dia bisa kamu dapatkan di Bali." Evan tertawa dan berlari meninggalkan Nana sebelum sepasang sendal terlempar kearahnya.
"Issh!" geram Nana. "Solusi kakak gak bermutu!" Teriaknya.
Evan mengintip dari balik pintu. "Atau kita hunting di pasar, besok. Kakak yakin pasti lebih banyak, Na!"
"Apaan?" jawab Nana masih kesal.
"Kulkas dua pintu!" Evan menjulurkan lidah dan kali ini Nana benar-benar berlari mengejar pria itu.
***
Next bab kita obrak-abrik fikiran Bara yuk 😂
Biarkan Evan yang bekerja 😅
Tunggu kelanjutannya ya 😂