Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 17 PENAGIH HUTANG 2



Nana baru saja membuka pintu ruangan Bara. "Baaar!" panggilnya.


Seketika matanya membulat sempurna saat ia melihat Bara dan gadis bernama Dillara saling berhadapan. Jarak mereka memang tak terlalu dekat tapi pakaian gadis itu yang terbuka membuat Nana menyimpulkan hal buruk telah terjadi.


"So... sorry... gue ganggu!" ucapnya gugup setengah mati. Nana kembali hendak menutup pintu.


"Berhenti, Na!" Bentak Bara.


Nana sampai terkejut. Ia diam mematung di pintu yang terbuka setengah itu.


"Lo! Kesini!" Perintah Bara tegas.


Nana seperti terhipnotis, ia menuruti keinginan lelaki itu. Nana berjalan mendekat kearah Bara. Dimana Dillara juga sedang berdiri di dekatnya.


"Gue tau lo manu nagih hutang kan?"


Haaa? Nana tercengang.


"Iya! Gue bakalan bayar!" Bara marah marah. Ciri khas seseorang saat ditagih hutang. Yups, lebih kejam dari si penagih.


Bara berdiri dan mengambil sweaternya di lemari pakaian dibelakangnya.


"Kita pergi sekarang. Gue gak punya cash!"


"Dil, lo lebih baik pulang. Gue punya urusan sama nih anak!" Tunjuk Bara pada Nana.


Dillara memicing curiga. Ia tak percaya bara memiliki hutang pada Nana.


"Lo jalan duluan! Gue gak bakal kabur!" Bara mendorong bahu Nana pelan.


Nana masih bingung dengan kelakuan Bara yang menurutnya aneh. Ia keluar dari ruangan itu.


"Gue gak tertarik sama tubuh lo."


"Tawarin aja ke yang lain." Bisik Bara pada Dillara dan ia juga ikut keluar dari ruangan itu.


Bara memegang handle pintu. "Lo mau keluar atau tetap didalam?" Tanyanya pada Dillara yang masih mematung.


"Atau gue masukin dadang buat kelarin keinginan lo?"


Dillara terkesiap. Ia segera mengambil tasnya dam bersiap keluar. Saat tubuhnya berselisihan dengan Bara. Ia sempat berbisik.


"Gue akan buat lo bertekuk lutut dihadapan gue!"


"Gue tunggu!" Bara menunjukkan seringainya.


***


Bara menarik lengan Nana dan menuntun gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya. Bara memasang seatbeltnya sendiri dan juga milik gadis itu.


Keduanya saling pandang cukup lama. Nana dengan mata berkaca menahan sesak di dada akibat bentakan yang tidak ia duga tadi ditambah pemandangan yang menurutnya sangat tidak pantas untuk dilihat itu.


Gue bingung banget, Bar. Lo asyik berduaan sama gadis itu, dan sekarang lo ajak gue jalan. Sebenernya hati lo terbuat dari apa, Bar?


Lo tau gak sih? Lo itu selalu buat gue berharap, tapi lo juga yang buat harapan itu pupus dengan cara seperti tadi. Lo kayak nerima dia banget di dekat lo.


Gue gak tau perasaan lo ke dia dan ke gue. Lo baik, tapi kenapa tadi lo bentak gue. Dan sekarang gue gak tau lo mau bawa gue kemana.


Bara melajukan mobilnya keluar dari bengkel. Ia sesekali melihat spion, siaga satu jika seandainya Dillara mengikuti mobilnya dari belakang.


Bara membawa mobilnya mengelilingi kota. "Sorry udah buat lo bingung."


Nana melihat ke samping. Ia mengangguk dan tersenyum kecil


"Gue sama Dillara..."


"Jangan dijelasin," potongnya. Terlalu sakit, Bar.


"Kenapa?" Tanya Bara yang tak peka sebagai manusia.


"Bukan hak gue untuk dengar penjelasan apapun."


Bara menatap Nana dalam. "Lihat ke depan, Bar." Nana gugup seketika.


"Masih lampu merah, Na." Nana menatap ke depan dan benar saja, lampu merah masih puluhan detik lagi.


Aduh Na. Lo gimana sih. Kok bisa gak perhatiin jalan gini.


"Lihat depan Bar!" Nana mendorong wajah Bara agar lelaki itu melihat ke depan.


"Lo cantik." Nana langsung tersipu, pipinya mungkin sudah semerah tomat.


"Sayang..." Nana menoleh. "nya gue boong! Hahahahahah...."


Nana mengeram kesal. Sayangnya gue boong! Lo sengaja kan ngejeda kalimat lo tadi.


Bara kembali melajukan mobilnya. "Tapi beneran kok. Lo cantik."


"Gue gak peduli." Nana melipat tangannya di dada.


"Apa lagi gue! Jelek sekalipun, bodoh amat!" Ucap Bara tak kalah cuek. "Lo tetep sahabat gue."


Ya Allah sakitnya cuma dianggap sahabat.


"Gue mau bayar utang budi, nih. Lo mau apa?"


"Gue gak pernah kasih si Budi utang!"


"Ck! Bukan gitu, Na."


"Tapi yang gue tangkep begitu, Bara!"


Bara terkekeh. "Oke, gue mau balas kebaikan lo! Lo mau apa?"


Mau jadi pacar lo. Nana menatap Bara dalam.


"Jangan minta bibir gue, plisss!"


Nana terkesiap. Ia memundurkan badannya. Dan kembali menatap ke depan. "Gak bakal!"


"Yakin?" Bara semakin menggoda Nana.


"Yakinlah. Siapa gue," Nana menunjuk dirinya sendiri. "Dan siapa lo!" Lalu ia menunjuk Bara.


Bara diam seketika. Ia memalingkan muka dan menatap lurus ke depan.


Nana menyadari diamnya Bara. Tapi ia tidak mengerti apa sebabnya.


"Sedang dalam proses perceraian." Jawab Bara tenang.


Bara membelokkan setir menuju sebuah tempat makan di pinggir jalan yang letaknya di area taman kota.


"Semoga selalu bahagia."


"Mereka bahkan sangat bahagia."


Mobil itu berhenti, dan saat Bara melepas sabuk pengamannya, Nana mencekal tangan Bara. "Dan apa lo bahagia?" Tanya Nana.


"Gue?"


"Belum..." lanjut Bara.


"Kenapa?"


"Belum ada yang bisa bikin gue bahagia sejauh ini."


"Lo nunggu atau lo cari?"


Bara tersenyum kecil. "Gue cari tapi gak pernah ketemu, dan gue tunggu tapi gak pernah datang."


"Sesuai dugaan," balas Nana dengan senyum kecil.


"Harusnya lo ciptakan sendiri kebahagiaan lo?"


"Caranya?" Tanya Bara.


Nana diam dan tersenyum kecil. "Gue butuh makan buat mikir."


Bara tertawa kecil. "Ayo turun."


Keduanya turun dari mobil dan memilih duduk di dekat gerobak bakso.


"Disini?" Tanyanya pada Nana.


Nana mengangguk. "Boleh!"


"Bakso 2 bang!" Pesan Bara pada abang tukang bakso.


"Minumnya apa?"


"Tuh!" Tunjuk Nana pada penjual es kelapa muda beberapa meter didekat mereka.


"Sini sebentar."


Tak lama, pesanan datang bersamaan dengan Bara yang datang membawa dua gelas besar es kelapa muda.


"Ini sih, gak muat di perut gue." Keluh Nana melihat bakso dengan porsi besar di depannya.


"Makan aja. Pasti abis."


"Sok tau." Cibir Nana.


Ia memindahkan bakso berukuran besar ke mangkok Bara. "Buat lo!"


"Na, gue gak bisa habisin semua ini."


"Makan aja. Pasti abis." Nana membalasnya dengan kalimat yang ia ucapkan tadi.


Bara lagi-lagi terkekeh. "Tanpa lo sadari, lo udah ketawa terus dari tadi, Bar. Artinya lo bahagia."


"Dan itu cuma sama lo, Na."


"Bukan, karena gue bisa buat lo menciptakan kebahagiaan itu."


"Bukan, tapi itu karena lo." Tegas Bara.


Nana mengangkat bahu. Ia memilih untuk menyantap semangkok bakso di hadapannya.


"Lo kenapa kayak gak peka banget sama sekitar, Na."


"Justru gue sangat peka." Nana menuangkan sedikit saos sambal di sebuah bakso kecil yang ia tusuk dengan garpu.


"Tapi lo kayak gak nangkep sinyal yang Dimas sama Calvin kasih. Mereka suka sama lo."


Nana tertawa sinis. "Calvin, jelas bukan tipe gue."


"Tapi fans dia banyak."


"Dan gue gak termasuk, Bar!" Nana menggulung mienya dengan garpu dan memasukkan ke mulutnya dengan suapan besar.


"Dimas?" Tanya Bara.


"Dia terlalu perfect buat gue."


"Tapi lo gak jauhin mereka?"


"Karena gue gak maulah kehilangan mereka sabagai teman gue."


"Pernah di tembak?" Tanya Bara.


Nana meminum es kelapa muda dengan sedotannya. "Gue udah kasih sinyal penolakan. Mana beranilah."


"Sinyal penolakannya gimana?"


"Heheheh... gue bilang, gue suka sama sejenis."


"Haaaaaa!" Bara ternganga tak percaya.


"Hahahaha... Biasa aja muka lo!"


"Serius?"


"Enggaklah!"


"Isss!" Bara memasukkan suapan besar ke mulutnya.


"Gue doyan laki-laki. Tapi yang tertentu."


"Yang besar?" Tanya Bara ambigu.


"Ia. Rasa tanggung jawabnya." Untung Nana selalu positif thinking.