Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 28 DILLARA SAKIT



"Sambara, Selena, dan Calvin, ikut saya sekarang!" Bu Gina, wali kelas mereka memanggil ketiganya. Padahal mereka masih mengerjakan tugas Biologi yang di berikan oleh Bu guru yang berhalangan hadir.


Seketika kelas menjadi ramai, karena murid-murid lain bertanya-tanya mengapa ketiganya dipanggil oleh wali kelas mereka.


"Tetap tenang dan jangan berisik. Kerjakan tugas kalian. Jangan sampai suara kalian terdengar sampai ke kelas sebelah, apa lagi sampai ada yang keluar kelas."


"Ibu hukum bersihkan kamar mandi selama 2 minggu! Kalian faham?"


"Faham, Bu..." jawab mereka kompak.


Hanya 10 detik dari menghilangnya Bu Gina, Bara, Nana dan Calvin dari arah pintu. Suara berisik mulai terdengar.


"Zahra!" Panggil salah satu murid.


"Apa?" tanya Zahra jutek. Ia setengah mati menahan debaran jantungnya karena ketakutan namanya akan terseret dalam kasus malam itu.


Gadis itu yakin, ketiganya dipanggil karena masalah malam itu. Mereka memang terlibat secara langsung. Sementara Dimas, Sherly dan Zahra tidak terlibat secara langsung.


"Mereka kenapa?" tanya murid perempuan yang memanggilnya tadi.


Zahra dengan ragu mengangkat bahunya. "Gak tau gue!" Ia kembali menunduk untuk mengerjakan tugas.


"Sherly!" Gadis itu menarik satu sudut bibirnya saat seorang murid perempuan memanggil namanya.


"Huh!Miss Kepo!" gumamnya pelan.


"Ada apa Bel?" Ia menatap Bellatrix acuh. Padahal gadis itu sedang berdiri di samping mejanya.


"Lo kan wakil ketua kelas, gue yakin lo tau masalah mereka."


Nah kan? Kepo! Batin Sherly.


"Kenapa mereka bertiga sampai dipanggil Bu Gina."


"Gue gak tau." Sherly kembali mengerjakan tugasnya.


"Lo yakin?"


"Putra yang ketua kelas aja gak tau masalah mereka, Bel." Bellatrix melihat kearah Putra yang juga fokus mengerjakan tugasnya.


"Put, Lo yakin?"


"Lo mau duduk atau gue laporin ke bu Gina!" Ancam Putra dengan nada dingin.


"Ah, lo berdua gak asik!" Bella bersungut kesal sambil berjalan menuju kursinya. Ia tetap harus mematuhi perintah Putra karena Bu Gina tidak pernah main-main dengan ucapannya.


"Sher, gue takut!" bisik Zahra pada Sherly.


"Lo tenang aja. Kita bakalan aman!" Sherly menenangkan tanpa menatap teman semejanya itu karena Bella terus memperhatikan keduanya. Sherly hanya tak ingin si biang kepo, biang kerok, si ratu gosip sok populer itu semakin curiga.


***


Di ruang kepala sekolah.


"Kalian telah di jemput oleh seorang pria karena ada urusan yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana." Bapak kepala sekolah menunjuk Pengacara yang Calvin perintahkan untk mengurus masalah kemarin malam.


"Kalian kenal?" lanjutnya lagi.


"Saya kenal, Pak. Beliau adalah pengacara keluarga saya," jawab Calvin.


"Baiklah Calvin, kalau kalian mengenal beliau, kalian boleh ikut."


"Semoga masalah kalian cepat selesai."


"Tas kalian, silahkan ambil ke kelas."


"Ehm, Pak. Kami langsung saja." ucap Bara." Biar Putra dan Sherly yang urus."


"Ponsel kalian gak tertinggal kan?" tanyanya pada Calvin dan Nana. Keduanya mengangguk. "Ada di kantong."


Ketiganya keluar dari ruangan kepala sekolah dan masuk ke dalam mobil milik pengacara Calvin.


Pengacara Calvin telah menjelaskan duduk masalah yang menyeret ketiganya kepada kepala sekolah. Beliau juga berjanji nama baik sekolah tidak akan terusik asalkan kasus ini tidak bocor di lingkungan sekolah.


***


Dikantor polisi, ketiganya dimintai keterangan secara bergantian. Wawan, Hadi dan orang tua Calvin ternyata juga turut hadir untuk mengawal kasus ini sampai tuntas.


"Kami akan segera mengirimkan surat panggilan kepada Saudari Dillara." Ucap salah satu petugas kepolisian.


"Mohon kerja samanya adik-adik sekalian. Jika suatu saat kalian kembali di periksa."


****


"Ini yang pertama dan terakhir, papa mengurus kasus seperti ini, Na." Ucap Hadi saat berjalan menuju parkiran dengan Nana yang berada disampingnya.


"Jangan sampai terulang lagi."


"Iya, Pa... Iya..."


"Hadi, maaf untuk semuanya."


"Karena putraku kalian semua jadi terlibat. Kamu juga Vin, Om minta maaf." Wawan meminta maaf kepada mereka. Ia telah mendengar cerita dari berbagai sisi. Dan semuanya menjelaskan hal yang sama. Tidak ada yang berbeda. Hingga Wawan mengambil kesimpulan bahwa memang benar semua ini adalah rencana Dillara.


Kedua pria yang menjadi tersangka juga menjelaskan hal yang sama. Wawan sempat tak percaya putri sahabatnya yang notabene berasal dari keluarga terpandang bisa bertindak sekonyol itu.


****


Dillara duduk termenung diatas ranjang rumah sakit. Ia tidak ingat siapa yang membawanya ke rumah sakit. Ia juga tidak ingat berapa lama ia tak sadarkan diri.


"Makan dulu, Sayang." Dillara menatap kosong sendok berisi bubur di depan mulutnya. Ia menggeleng pelan. Salsabilla, sang mama hanya bisa menghela nafas berat. Sudah entah berapa kali ia mencoba menyuapi putrinya.


"Ayo dong, Sayang. Mama dari tadi udah bujuk kamu loh, Nak."


Dillara membuang muka. "Dillara gak butuh dibujuk," ucapnya dengan nada kesal. Wajah pucat dengan lingkar mata yang tampak menghitam membuat Salsabilla tidak tega meninggalkan anak gadisnya itu sendirian.


"Kamu kenapa, sayang? Cerita sama mama."


"Mama pergi aja, Ma. Urus semua pekerjaan mama dan jangan pedulikan Dillara." Dillara memunggungi mamanya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Salsabilla bingung dengan sikap putrinya.


Dillara diam.


Wanita empat puluhan tahun itu menarik bahu Dillara agar melihat kearahnya. "Mama tanya. Kamu kenapa?" Bentaknya.


Rasa sabarnya sudah diambang batas. Ia terpaksa meninggalkan semua pekerjaan demi menemani putrinya. Namun kata-kata menyakitkan yang ia terima sebagai balasannya.


Salsabilla sadar, selama ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bagitu juga suaminya. Namun begitu, ia telah memenuhi semua kebutuhan putrinya. Terlebih saat Dillara minta transferan diluar jadwal pemberian uang saku bulanannya.


"Apa salah mama? Apa masalah kamu?"


"Untuk apa kamu mengurung diri di kamar mandi, Dillara?"


"Dillara mandi, bukan mengurung diri," elaknya.


"Jangan coba-coba bohong," ucapnya tegas. "Gak ada orang mandi dengan pakaian lengkap, Dillara!"


Dillara menundukkan kepalanya. Dia takut. Dia benci dibentak. Dia tidak suka suara keras. Air matanya perlahan menetes. Isak tangisnya begitu terdengar memilukan.


"Dil... Dilla..."


Tak ada sahutan. "Dillaraa!"


"Braak!" Pintu dibuka dengan kasar dari arah luar. Dillara sampai terjingkat kaget dan Salsabila sampai memegani dadanya.


Pintu memang dibuka dengan sangat kasar, bahkan lebih terlihat seperti didobrak.


Suryo masuk dengan wajah memerah. Matanya memancarkan kilatan amarah. Tangan kirinya mengepal menahan geram dan tangan kanannya memegang selembar kertas putih.


"Papa...."


"Sudah selesai meetingnya?" tanya Salsabilla.


Suryo menatap mata basah milik putrinya. Mata memerah dengan lingkaran hitam di bawahnya membuatnya mengerti satu hal. Putrinya memang sedang dalam masalah besar.


"Jelaskan apa ini, Dillara?" tanyanya dengan pipi bergetar menahan geram. Rahangnya mengeras.


"Jelaskan ini apa?" Suryo menunjukkan kertas putih ditangannya. Ia bahkan merentangkan kertas itu agar Dillara bisa membacanya.


Dillara membulatkan mata melihat surat panggilan dari pihak kepolisian itu tertulis namanya.


"Untuk apa kepolisian memanggilmu ke kantor?" bentakan itu membuat tubuh Dillara ambruk.


****