
"Sejak kapan?" tanya Nana terkejut. Ia yang baru pulang bekerja, dan melihat Bara sudah duduk di ruang tamu rumahnya bersama Hadi.
"Lumayan, Na." jawab Bara santai.
"Kamu lembur?" tanya Bara.
Nana mengangguk. Dan Bara tidak lagi bertanya apa-apa. Pacarnya itu malah lebih memilih untuk melanjutkan bercerita dengan Hadi, membuat Nana sedikit kesal.
Gadis itu berjalan menuju kamarnya dan sesekali menatap Bara yang sama sekali tidak menatapnya.
Ia tahu, papanya pulang lebih awal hari ini. Setelah meeting jam tiga sore tadi, pemimpin perusahaan itu langsung pulang ke rumah sedangkan Nana harus lembur satu jam untuk menyelesaikan pekerjaannya karena besok adalah hari libur.
Nana segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Hampir magrib ia baru turun ke lantai satu dan tidak melihat Bara di ruang tamu.
Hadi juga tampak sudah memakai sarung dan kopiah, pria itu sudah bersiap untuk sholat Magrib berjamaah di masjid sekitar rumahnya.
"Bara udah pulang, Pa?" tanya Nana.
Hadi menghentikan langkah dan menatap putrinya itu. "Udah, Na. Sekitar lima belas menit yang lalu."
Nana mengangguk dan Hadi segera keluar rumah. Suara sepeda motor matic terdengar menjauh dari rumah, tanda bahwa papanya itu sudah berangkat ke masjid.
"Sholat yuk, Na!" Ajak Ayu.
"Nana lagi gak sholat, Ma." jawab Nana.
"Ya, mama sholat sendirian dong!" Nana tersenyum pada ibu sambungnya itu. Syakiel, adik laki-lakinya juga ikut papanya ke masjid. Mungkin bocah sembilan tahun itu sudah menunggu diluar tadi.
****
Tepat jam 7 malam. Ponsel Nana berdering. Dan tampak nama Bara muncul di layar.
Nana menjawab panggilan itu dengan malas. Ia masih kesal pada pria yang tidak pamit padanya ketika pulang itu. Dan baru menghubunginya sekarang.
"Hallo..." sapa Nana pelan.
"Sayang, bersiap sekarang! Sepuluh menit lagi aku sampai di rumah kamu."
Nana membulatkan matanya. "Kamu baru dari sini, loh sayang?"
Terdengar tawa Bara. "Memangnya aku gak boleh kesana lagi, Na? Aku mau ajak kamu dinner loh ini."
Nana merasa bingung melihat Bara. Sore tadi pria itu ada disini dan tidak mengatakan apapun. Dan sekarang, malah mengajaknya makan malam bersama.
"I-iya... aku siap-siap dulu."
****
Bara tersenyum kecil saat mendengar reaksi Nana yang sepertinya terkejut saat mendengar bahwa ia mengajaknya makan malam bersama.
Sore tadi, Bara sudah menemui Hadi...
Flashback On.
Bara memasuki kawasan rumah Nana. Ia sudah membuat janji dengan Hadi untuk bertemu. Dan ternyata Hadi meminta untuk bertemu di rumah saja.
Bara pulang dari bengkel lebih cepat dari biasanya. Ia sudah menyiapkan mentalnya untuk bertemu calon mertuanya.
Bara sudah berhadapan langsung dengan Hadi dan Ayu. Ia sedikit deg-degan padahal ia sudah sering bertemu bahkan berbincang dengan pria yang berprofesi sebagai seorang pengusaha itu.
"Om, sebenarnya maksud saya datang ke sini, saya ingin meminta restu dari Om dan tante. Malam nanti saya berencana mengajak Nana makan malam dan akan melamarnya."
"Saya mohon restu, Om."
Hadi dan Ayu tersenyum lebar. "Pasti om merestui, Bar!"
Bara bisa bernafas lega karena kedua orang tua Nana sudah memberi restu.
Sepulang dari rumah Hadi, Bara mempersiapkan semuanya. Memiliki banyak relasi membuat Bara mudah mengatur acara makan malam istimewa untuknya dan Nana.
Ia pulang ke apartemen dan segera mandi. Bara tak lupa meraih satu paperbag berukuran kecil yang ia simpan diatas lemari. Bara mengambil isinya, sebuah kotak perhiasan berwarna biru navi.
Bara membukanya dan tampaklah sebuah cincin berlian yang tidak murah harganya. Cincin yang ia beli tanpa mengajak Nana.
"Semoga cincin ini pas di jari kamu, Na."
Flashback Off.
Bara tiba di rumah Nana. Hadi dan Ayu kembali menyambutnya. Pria itu terlihat rapi dengan setelan jeans, kaos putih dan sebuah blazer berwarna navi. Rambut pria itu juga disisir rapi.
"Terima kasih, Om!"
"Semoga Nana menerima saya, ya Om!"
"Dia pasti akan menerima kamu, Bar!"
"Ssst! Nana udah keluar dari kamarnya." Ayu membuat keduanya menatap ke lantai dua dimana Nana baru saja keluar dari kamar.
Gadis yang memakain dress putih selutut dengan corak bunga berukuran kecil itu terlihat tampak anggun. Walaupun wajahnya masih tampak kesal, meski sapuan make up natural sudah menyempurnakan penampilannya.
"Cemberut aja, sih Na? PMSnya udah dong!" Ayu meraih bahu Nana dan berdiri di dekat Hadi dan Bara.
"Kasian Bara tuh, dia udah ajak kamu, nungguin kamu, tapi muka kamu kayak gak ikhlas gitu, sayang?"
Nana menghela nafas. "Salah dia, Ma. Ngajak dinner tapi mendadak. Padahal tadi dia kesini, loh?"
"Dia kesini karena ada urusan sama papa, Na."
"Mungkin dia mendadak ngajak kamu dinner karena rekan bisnisnya juga mengajaknya mendadak, Na."
"Positif thinking dong sayang!" lanjut Hadi.
Nana mengalah, enggan memperpanjang perdebatan ini. Dan akhirnya keduanya pergi menuju sebuah restoran mewah tak jauh dari rumah Nana.
"Kita kesini?" tanya Nana yang sedari tadi hanya diam saja. Ia enggan bicara dengan Bara yang sepertinya juga lebih banyak diam malam ini.
Padahal pria itu sedang berusaha mengumpulkan satu demi satu kata yang akan ia susun menjadi kalimat paling indah yang akan ia ucapkan saat berlutut di hadapan gadisnya itu.
"Iya... kamu gak keberatan kan sayang?" tanya Bara dan Nana menggeleng lemah.
"Aku gak salah kostum kan, Yang?"
Bara tersenyum lebar. "Always perfect!" Bara mengerling dan hal itu memancing tawa Nana.
"Kamu lama-lama jadi genit gitu, sih?"
"Hahaha.. Akibat kebanyakan...."
"Diciu*m kamu!" bisik Bara pelan.
Pria itu langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Nana.
"Bar, kok aku gugup?"
"Sama, aku juga."
Nana menatap Bara. "Klien penting banget?"
Bara mengangguk. "Sangat penting sayang!"
Mereka masuk ke restoran itu dan Nana merasa bingung saat Bara malah membawanya ke area rooftop di restoran tiga lantai itu.
Nana melihat ada satu meja ditengah luasnya rooftop itu. Di atas lantainya tersebar banyak lilin yang menyala. Feelingnya sudah tidak enak.
"Bar?" Nana menatap Bara yang malah menggenggam erat tangannya.
Bara mengangguk dan menuntun Nana untuk mendekat kearah meja yang hanya ada dua kursi yang saling berhadapan.
Bara menarik satu kursi untuk Nana duduki. "Silahkan sayang!"
Nana mulai merasa curiga. Ada hal tidak beres dibalik semua ini. Tapi ia tidak berani menebak-nebak, karena takut kecewa.
Nana menoleh kebelakang dan seorang pria berpakaian pelayan mendorong troli yang sudah pasti membawa hidangan diatasnya.
Seporsi beef steak serta seporsi baked salmon sudah tersaji diatas meja. Dilengkapi dengan beberapa minuman dan makanan penutup.
"Selamat menikmati, Sayang!" ucap Bara, dan ia memulai untuk makan.
Nana makan dengan tenang. Ini mungkin hanya dinner romantis saja. Karena Bara benar-benar hanya mengajakku makan malam. Tapi tempat ini begitu indah dan romantis.
Dan ini pertama kalinya Bara mengajakku makan ditempat seperti ini.
Bara sesekali melirik Nana yang makan dengan tenang. Ia merasa sedikit lega karena sepertinya Nana juga tidak merasa curiga padanya.
Aku harus tenang supaya semuanya bisa berjalan dengan lancar.