Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 63 Persiapan



"Havana oh Nana..."


"Half of my heart is in Havana, ooh Nana..."


"Yang kemarin dilamar Bara..."


"Wajahnya pasti ceria..."


"Dan bisa dong traktirin kitaaa..."


"Ya Nana, oh Nana..."


Nyanyian Salsa yang menggunakan nada lagu Havana membuat Nana nyaris tergelak. Ia baru saja datang dan duduk di kursinya, tapi sambutan paling absurd dari sahabatnya itu mampu memancing tawanya.


"Ujung-ujungnya minta traktir, ya Mbak!" sindir Nana sambil tertawa.


"Hahaha.. sekali-kali, Na." balas Salsa. "Anggap aja kamu lagi syukuran."


Kabar bahwa Bara telah melamar Nana sudah diketahui oleh sahabat-sahabat mereka. Jika Dimas tahu, otomatis Salsa juga tahu.


Nana memang sudah berniat mentraktir teman-teman seruangannya ini. Ia akan memesan pizza untuk makan siang mereka nanti.


"Oke... nanti kita makan bareng di kantin, yaaa... Gue akan pesen pizza untuk kita semua."


Nana menyalakan komputernya. Namun, tanpa sengaja netranya menangkap sisok pria yang sedang melihat kearahnya. Di depannya ada Dodit yang menatapnya dalam-dalam.


"Ada masalah, pak Dodit?" tanya Nana yang mulai risih terus-terusan di tatap oleh pria di depannya itu meski ia sejak tadi mencoba untuk tidak peduli.


Sudah lama memang, pria ini tidak berulah. Tidak memancing emosinya dan tidak mencari gara-gara dengannya ataupun dengan yang lain.


Ruangan ini beberapa minggu terakhir memang terasa lebih nyaman. Mungkin karena pekerjaan yang dilimpahkan pada pria itu lumayan banyak hingga tidaj ada lagi waktu untuk membuat ulah.


"Tidak ada." Pria itu menggeleng.


Nana mengangguk. "Kalau begitu, berhentilah menatap saya seperti itu."


"Kenapa?" tanya Dodit menantang.


"Saya merasa risih dan tidak suka." jawab Nana tegas. Semua staff yang mendengar mulai melihat kearah mereka.


"Bukankah para gadis suka jika dilihat terus menerus oleh lawan jenisnya, Selena?"


"Itu tandanya gadis itu terlihat menarik."


Huuh! Mungkin sekrup dan baut di mulutnya memang udah pada kendor. Sampe-sampe kalau ngomong gak bisa hati-hati. Perlu nih gue bawa ke bengkel Bara.


"Tapi saya tidak ingin terlihat menarik di mata anda!" ucap Nana dengan senyum sinis.


Dodit tersenyum remeh. Pria itu tak mengatakan apapun lagi karena jam kerja sudah mulai.


***


"Waah, makasih loh Selena!" ucap salah satu temannya sambil mengambil satu potong pizza dari box yang terletak di atas meja. Mereka saat ini sedang berada di kantin. "Sering-sering aja, begini."


"Hahaha, kan kita jadi enak!" sahut yang lain.


Salsa tertawa. "Enak di kalian, berat di Nana."


"Gapapa, mbak. Sekali-sekali boleh lah. Tapi kalau tiap hari, bisa bonyok isi dompet gue, mbak!" sahut Nana.


Semua orang yang ada bekerja di divisi keuangan ada disana, kecuali Dodit. Pria itu memilih untuk makan di tempat lain. Tidak bergabung dengan mereka.


"Pak Dodit gak gabung, nih?" tanya Nana yang memang tidak tahu biasanya pria itu makan siang dimana. Ia memang jarang makan di kantin perusahaan. Ia lebih sering makan bersama Bara atau sesekali makan di pantry karena membawa bekal dari rumah.


"Dia gak makan pizza, Na." jawab seorang pria yang bekerja tepat di belakang meja kerja Dodit.


"Dia makannya cuma ayam sama cabe." Nana mengerutkan kening sementara yang lain sudah tertawa. Lambat laun Nana mulai mengerti ayam dan cabe apa yang di maksud temannya itu.


"Tau banget, lo!" sindir Salsa pada temannya.


"Hahahah, gue masih belajar jadi dia." Jawaban pria itu memancing tawa yang lainnya.


***


"Aku suka konsep yang ini, Na!" tunjuk Bara pada salah satu foto dekorasi pertunangan.


Saat ini keduanya sedang berada di salah satu kantor Event Organizer. Mereka sedang memilih konsep dan dekorasi pertunangan yang akan mereka pakai minggu depan.


Disela-sela kesibukan mereka, hari ini keduanya menyempatkan diri untuk mengurus semuanya. Acaranya memang mendadak, tapi semoga berjalan dengan lancar.


"Dominasi putih, Sayang?" tanya Nana pada Bara karena memang sepertinya pria itu sedari tadi lebih tertarik dengan dekorasi berwarna putih. Mulai dari bunga hingga kainnya.


Bara mengangguk. "Lebih bersih aja kelihatannya," jawab Bara.


Nana mengangguk. Ia sepertinya juga setuju dengan pilihan Bara yang sepertinya tidak berlebihan dan cenderung sederhana namun mewah.


"Oke kita pilih ini aja, ya. Aku juga gak terlalu suka yang ribet-ribet."


***


Esok sorenya...


"Bar! Apa gak berlebihan?" tanya Nana saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Cincin ini baru tiga hari ada di jariku, loh! Kita pakai ini aja untuk pertunangan kita." Nana mengangkat tangannya menunjukkan cincin di jari manisnya.


Bara terkekeh. "Itu hadiah dariku, Sayang! Selama sama kamu, aku gak pernah kasih hadiah kan?"


Nana menggeleng. Bara memang tidak pernah memberinya hadiah dalam bentuk perhiasan. Bukan pelit, tapi pria itu memang tidak romantis.


Pria itu hanya sesekali mengajaknya belanja, dan membayarkan barang belanjaannya. Umumnya seperti pakaian, tas atau sepatu.


Bara tersenyum. "Jadi, itu hadiah dariku untuk kamu."


"Kita langsung cari dua pasang cincin," lanjut Bara.


"Dua?" tanya Nana heran. "Banyak baget, Bar!"


"Iya dong, Na. Satu pasang untuk pertunangan, satu pasang lagi untuk cincin kawin."


Nana menghela nafas. "Kamu terlalu terburu-buru sayang! Kita belum menentukan tanggal pernikahan. Jadi, ku rasa nanti aja, kalau udah deket sama hari H."


Nana jelas keberatan. Acara pertunangan ini saja sudah menguras kantong pria itu. Ditambah lagi dengan sekaligus membeli cincin kawin, pasti biaya pengeluaran akan semakin membengkak.


"Maksudku, biar sekalian, Na. Hitung-hitung nyicil lah! Kalau semuanya aku beli pas mau dekat hari H, takutnya..."


"Bara, please! Aku tahu kamu terlalu excited! Tapi pakai logika dong!" kritik Nana. Ia bahkan berani memotong ucapan Bara. "Pengeluaran kamu gak sedikit loh untuk acara ini. Mana kamu gak mau aku bantu, lagi!"


Bara tertawa. "Bahaya banget punya istri yang kerjanya sebagai staff keuangan. Biaya bengkak sedikit langsung di sunat!"


Nana ikut tertawa. "Sesingkat-singkatnya 3 bulan, Bar! Pernikahan itu butuh persiapan."


"Cari gedung, W.O, persiapan A sampai Z. Banyak Bara!" Nana mulai mengomel.


"Biayanya juga gak sedikit. Kamu manage deh dari sekarang. Tentuin budgednya berapa. Supaya pernikahan nanti sesuai sama kemampuan kamu."


"Gak perlu lah mewah-mewah tapi maksa."


"Dan inget, sayang! Semua gak sesimple apa yang ada dalam fikiran kamu."


"Gak sekedar saya terima nikah bla... bla... bla... bla..."


"Dan Sah!"


Bara tertawa mendengar Nana bicara tanpa jeda. "Kamu lucu banget sih, Na."


"Aku lagi ngomel, Bara! Malah dibilang lucu," balas Nana kesal.


"Lagi pula, aku mau pilih cincin kawin yang sesuai keinginanku. Gak terburu-buru karena cincin itu Insyaallah akan kita pakai seumur hidup, Bar!"


Bara mengangguk. "Kamu atur deh, Na. Kamu kayaknya lebih pinter hitung dan ngatur keuangan."


"Haha... itu memang kerjaanku, Bar! Emangnya kamu, duduk di kursi kerja, periksa laporan dari bagian kasir, dan... beres!" Nana mengomentari pekerjaan Bara yang memeng seperti itu.


"Gak sesimple itu juga kali, Na!" Balas Bara tak terima.


"Aku yang bertanggung jawab kalau ada kompalin, aku yang bertanggung jawab kalau mobil langganan kenapa-kenapa."


"Aku yang keluarin duit buat bemu sparepart kalo stock lagi habis."


"Aku harus meeting sama suplyer."


"Banyak lagi, Na!"


"Tapi, kan masih ada manager bengkel yang buat kamu gak harus langsung urus semua itu, Bar!"


"Dia bantu kamu juga kan, Bar?" Bara mengangguk sambil terkekeh.


Mereka tiba di sebuah toko perhiasan dia salah satu pusat perbelanjaan. Bara dan Nana sama sama memindai, dan memperhatikan cincin mana yang mencuri perhatian mereka.


"Harus dua, Bar?" tanya Nana. Membeli sepasang cincin sama saja menambah biaya. Apa tidak bisa hanya satu saja. Hanya untuknya atau untuk Bara dan dia bisa memakai cincin yang Bara berikan kemarin.


"Namanya tunangan, ya tukar cincin, Na."


"Jadi, ya harus dua," lanjut Bara.


"Tau dari mana kamu, kalau cincin tunangan harus dua?"


"Dari acara tunangan Putra sama Sherly," jawab Bara membuat Nana tertegun.


Ah, ya. Dia tidak hadir di acara pertunangan mereka sedangkan Bara hadir disana.


Pramuniaga sampai senyum-senyum sendiri mendengar obrolan mereka.


"Yang ini, Na."


"Lihat yang ini, mbak!"


Nana dan Bara saling tatap saat mereka menunjuk sepasang cincin yang sama.