
Bara dan Nana tiba di sebuah hotel mewah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat resepsi pernikahan mereka.
Menginap 3 hari dengan paket bulan madu di kelas terbaik di hotel itu merupakan ide para mama. Nana dan Bara hanya bisa menuruti wanita-wanita yang sudah berpengalaman itu.
Bara menggandeng tangan Nana sambil sesekali melihat kearah gadis yang tersenyum kaku padanya. Ia tak henti mengulum senyum karena menyadari tangan yang ia gandeng terasa dingin.
Di depan mereka berjalan seorang laki-laki berseragam hotel yang bertugas mengantar mereka ke kamar sambil membawa koper milik Bara dan Nana.
Bara dan Nana terkejut melihat kamar luas dengan desain interior yang begitu indah. Bara dan Nana lebih terkejut melihat ranjang yang di penuhi kelopak bunga mawar merah yang disusun sedemikian rupa dengan bentuk hati.
Nana menutup mulutnya dan...
"Hahahahah...."
"Hahahahah...." Nana dan Bara terbahak bersamaan.
Nana memijat keningnya dan Bara duduk di sofa sambil memegani perutnya.
"Astaga... Hahah..." Bara masih terbahak.
"Huh! Huh!" Nana membuang nafas berkali-kali.
"Ya ampun! Ini paket bulan madu pilihan mereka?"
"Aku kok rasanya geli ya Sayang!" Nana menatap Bara yang juga mengangguk.
"Aku apa lagi, Na. Pilihan mama siapa nih?" tanya Bara.
Nana menggeleng. "Mereka fikir, ini bakalan bikin suasana makin romantis, Sayang."
Bara mengangkat bahunya. "Tau deh! Aku mau cuci muka dulu."
Bara berjalan ke dalam toilet. Nana duduk di sofa sambil memperhatikan sekeliling.
"Tempat yang indah, Ma. Ide siapapun ini, Makasih banyak. Ini memang pelayanan yang diimpikan sama pasangan pengantin baru."
"Tapi kalian kan tahu, aku sama Bara sedikit berbeda."
"Naaaaaa!" Teriak Bara dari kamar mandi membuat Nana seketika melompat dari Sofa dan masuk ke dalamnya.
"Ada apa, Bar!" Nana mendorong pintu kamar mandi yang kebetulan tidak dikunci oleh Bara.
"Lihat itu, Na!"
Nana mengikuti arah telunjuk Bara dimana bathtube di kamar mandi itu berisi air dan taburan kelopak mawar.
Keduanya saling tatap dan sama sama menggeleng.
"Permintaan mereka ke pihak hotel ada-ada aja, sayang!" keluh Nana. "Atau ini memang pelayanan dari hotel?"
Bara menggeleng. "Padahal aku gak butuh semua ini kalau cuma untuk buat kamu hamil!" jawab Bara santai sambil memperhatikan sekitar kamar mandi yang bahkan di washtafel juga terdapat beberapa tangkai bunga mawar.
Nana memperhatikan wajah Bara, tanpa disadari oleh siempunya.
"Katakan sekali lagi, Bar?" pinta Nana.
"Aku gak perlu semua ini kalau cuma untuk buat kamu hamil, Na."
"Di sofa apaertemen juga bisa!"
"Di karpetnya juga bisa."
"Di washtafel, di pantry, di closet, bahkan sambil berdiri juga bisa!" Bara tetap santai berbicara karena ia tidak sadar dengan apa yang ia katakan.
"Bar, are you okay?" Nana menangkup pipi Bara sehingga suaminya itu menatap matanya.
"Hahahah...." Bara malah tertawa.
"Bar! Kamu gak lagi kesurupan kan?" Nana mulai khawatir karena Bara tidak seperti biasanya.
"Aku kesurupan, sayang!" jawab Bara.
Nana melepaskan tangannya di pipi Bara dan perlahan mundur selangkah hingga tubuhnya membentur tembok.
"Bar, please! Ini gak lucu!" Nana mulai berdebar. "Masa iya kamu kesurupan setan mes*um?"
Bara semakin mendekat. Ia menatap Nana semakin dalam dan tanpa berkedip.
"Baaar!" Nana semakin gelisah. Ia bersiap akan lari dari kamar mandi.
"Mau kemana, sayang!" Bara mengulurkan tangannya hingga menyentuh tembok dan mengukung Nana.
"Bar! Sadar sayang! Ini aku, Nana." Nana mendorong dada berotot itu namun kesulitan.
"Bar! Aku istri kamu! Kita baru menikah sayang!"
"Bar! Sadar Bar! Masa iya aku malam pertama sama setan!" Nana hampir menangis.
Bara semakin mendekat dan mencium kening Nana. "Ini masih aku sayang!"
"Hahahah!" Bara tertawa keras sementara Nana cemberut pada pria yang ternyata hanya mengerjainya.
"Gak lucu!" ucap Nana sinis dan gadis itu keluar dari kamar mandi.
"Na..."
"Nana..."
"Sayang!" Bara mengejar Nana yang sepertinya marah padanya.
Bara sebenarnya tidak ingin melakukan itu pada Nana, tapi saat istrinya itu mengatakan bahwa ia kesurupan, Bara jadi punya ide seperti tadi.
"Aku cuma bercanda sayang!"
"Na..." Bara sedikit berlari untuk mengejar Nana.
Nana tiba-tiba berbalik dan Bara menabrak tubuhnya hingga keduanya terjatuh di lantai.
"Ahhh! Aduuhh!" Nana mengeluh kesakitan karena pinggangnya terbentur lantai ditambah tubuh Bara yang menindih tubuhnya.
"Baraaaa!" Rengek Nana yang merasakan sakit.
Bara langsung bangun dan mengangkat Nana ke atas ranjang.
"Sakit!"
"Apanya?" tanya Bara panik.
"Pinggang!" Nana memegangi pinggangnya. Ia bahkan memiringkan posisi tubuhnya.
"Sini biar ku periksa." Bara menyibak kaos yang istrinya pakai.
Tangan Nana menghalangi tangan pria Bara. "Malu, Bar!"
Bara tertawa. "Ya ampun, Na! Aku suami kamu, sayang!"
Nana menurut saja. Ia membiarkan Bara memeriksa pinggangnya.
"Enggak ada luka atau memar, sayang!" ucap Bara setelah melihat pinggang mulus nan putih itu.
Nana perlahan membaringkan tubuhnya. "Masih sakit, Sayang!"
"Ck! Kasurnya gak bener nih, Na." Bara menunjuk kasur dan menyalahkan benda empuk nan nyaman itu.
"Bukan salah kasurnya, Bar. Salah pinggang aku!"
"Mau coba ku pijat?" tawar Bara.
Nana berfikir sejenak. "Boleh." Ia susah payah bangun demi untuk berganti pakaian. Ia tidak mungkin nyaman tidur dengan mamakai celana jeas seperti ini.
"Mau kemana?" tanya Bara.
"Ganti baju sebentar." Nana bangun dengan menahan sakit dipinggangnya.
"Sini aja. Biar aku aja yang ambil."
Bara mengambil koper, meletakkannya di sofa dan membuka resletingnya perlahan.
Ia melihat ada beberapa warna pakaian berbeda berbahan sangat tipis.
"Kamu gak bawa baju, Na?" tanya Bara.
"Kurang tau, Bar. Kan mama yang packing!" Jawab Nana. "Kenapa? Baju aku gak ada?'
Bara menggeleng, ia berbalik dan menunjukkan baju tidur super mini. "Apa ini yang dimaksud baju, Na?"
Nana melihat apa yang Bara pegang. Keningnya berkerut dan seketika matanya membulat sempurna. "Li*ngerie?" gumamnya kemudian.
"Apa namanya, Na?"
Nana langsung panik. "Balikin ke koper, Bar! Cari yang bener! Pasti ada baju aku di situ!" Nana menunjuk koper.
Bara duduk di sofa dan kembali mencari baju yang Nana maksud.
"Baju apa tadi namanya sayang?" Bara masih penasaran. Ia tidak menatap Nana karena matanya tertuju pada isi koper.
Gini nih kalau punya suami taunya cuma oli sama air radiator! batin Nana kesal.
"Li*ngerie!"
"Oh, pantes kamu langsung minta aku balikin ke koper. Kamu takut yah, karena namanya ngerih!"
"Huuh!" Nana menghembuskan nafas kasar. "Ada gak, sayang?"
Bara menggeleng. "Udah aku cari, Na."
"Yang ada cuma ini!" Bara mengangkat li*ngerie yang sama, berwarna hitam. Lalu menurunkannya lagi.
"Yang ini!" Bara mengangkat lagi dengan tangannya. Kali ini yang warna navi.
"Dan yang ini!" Lalu kembali mengangkat warna putih.
Bara melemparkan asal pakaian yang sangat layak pakai di depan suami itu. Ada sekita enam pasang yang berserakan di lantai.
"Pakai yang ada aja, Na!"
Nana cemberut. "Kalau aku pakai itu, yang ada kamu menerkam aku, Bar!"
Bara tertawa. "Aku bakalan lakuin kalau seadainya pinggang kamu gak cidera sayang!"
Bara mendekat, ia membawa sepasang pakaian aneh itu dan meletakkanya di tangan Nana.
"Pakai aja, dari pada kamu gak nyaman tidur pakai celana jeans."
Nana menatap Bara curiga. Ia menelisik wajah dan ekspresi Bara.
Bara tertawa. "Kamu gak percayaan banget sih sayang!"
"Ayo ganti!" Bara mengangkat tubuh Nana dan membawa istrinya itu ke kamar mandi.
Ia mendudukkan Nana di closet. "Aku tahu kamu malu, aku keluar sebentar." Bara keluar dari kamar mandi.
Nana sudah berganti pakaian dan ia memandang bayangan dirinya dicermin.
"Ternyata oke juga!" Nana tersenyum geli.
"Sayang banget, pinggangku bermasalah!" gumamnya lagi.
"Na...." Suara Bara memanggil namanya.
Tak lama ia membuka pintu kamar mandi dan tubuh Nana terlihat jelas oleh Bara.
Keduanya saling tatap. Bara sudah seperti seekor kucing yang disuguhkan menu fried chicken paling istimewa. Sepasang paha dan dada.
"Heem!" Nana berdehem.
Bara terkesiap. Ia menuntun Nana untuk berbaring ke ranjang. "Cari posisi senyaman kamu!" ucap Bara.
"Ada minyak telon di tas aku, Bar!" Nans menunjuk tasnya dan menelungkupkan tubuhnya.
Bara mengambil minyak yang Nana maksud dan mulai menggosok pinggang Nana. Bagian bawah tubuh istrinya ia tutup dengan selimut.
Bara lama kelamaan menyadari Nana tak lagi berbicara bahkan nafas gadis itu sudah teratur. Bara melihat wajah sang istri dan ternyata gadis yang baru dinikahinya itu sudah tertidur.
Cobaan banget, ya Tuhan! Batin Bara. Di depannya ada yang menggoda mata, tapi tidak tega untuk ia sentuh.