
Dillara berusaha melepaskan tangannya yang sudah dipegang Nana. "Lepasin tangan gue!" Lirih Dillara.
"Sebentar Dil, gue pengen ngobrol sama lo!"
"Sayang!" Tatapan mata Bara yang sulit diartikan tidak Nana pedulikan.
"Gue gak ada waktu!" Ucap Dillara kesal.
"Sebentar aja!" Pinta Nana.
"Dillara, sayang!" Seorang pria yang menggendong bocah laki-laki yang beberapa bulan lalu pernah menabrak Bara saat mereka sedang berada di mall.
Pria yang menggendong bocah itu juga pria yang sama seperti beberapa bulan lalu.
"Mas, bisa bicara sebentar!" Ucap Nana cepat sebelum Dillara bicara pada pria itu.
"Jangan Mas! Jangan izinkan!" Ucap Dillara tegas.
Pria itu bimbang. Ia melihat orang-orang disana memperhatikan mereka.
Pria bertubuh berisi itu mengangguk. "Kami tunggu di foodcourt depan!"
Nana mengangguk. Ia dan Bara membawa barang-barang di troli ke bagian kasir untuk dibayar.
Pria itu dan Dillara juga melakukan hal yang sama. Mereka juga membayar barang belanjaan mereka.
Bara menatap Nana curiga. Entah apa yang akan dilakukan istrinya itu pada Dillara, wanita yang dulu pernah menjebaknya dan berakhir dengan perginya wanita itu dari kehidupan mereka sebagai syarat agar Bara dan Nana mau mencabut laporan di kepolisian.
Mereka memesan makanan terlebih dahulu. Kecanggungan jelas terasa di meja yang tidak terlalu luas itu.
Nana sesekali menatap bocah laki-laki yang kedapatan beberapa kali tersenyum menunjukkan gigi-gigi kecilnya. Dan bocah itu juga sesakali menatap Dillara yang diam seribu bahasa.
"Dewa!"
"Ya Daddy!" Jawab bocah itu.
"Ikut dengan mami sebentar sayang!"
"Belikan daddy es krim di sana?" Tunjuk pria itu kearah kerumunan orang yang sedang mengantri untuk membeli es krim.
Pria itu mengangguk kecil pada Dillara yang menatapnya. Entah kode apa yang mereka mainkan, tapi yang pasti Nana faham, pria itu tidak ingin melihat Dillara dalam keadaan tegang seperti saat ini.
"Bolehkah mami? Dewa boleh makan es krim juga?"
Dillara tersenyum dan mengusak rambut bocah laki-laki itu. "Tentu, sayang!"
"Dewa mau rasa apa?" Dillara berdiri dan menurunkan putranya itu dari kursi.
"Vanilla, coklat, and taro!"
Dillara tertawa, ia menggandeng tangan putranya dan berjalan riang menuju antrian pembeli es krim.
Nana dan Bara menatap kepergian dua manusia berbeda jenis kelamin dan usia itu.
"Dia istriku!" Ucap pria di depan Nana dan Bara membuat keduanya langsung menatap pria itu.
"Perkenalkan, namaku Deva!" Pria itu mengulurkan tangan pada mereka.
"Kalian Selena dan Sambara, kan?"
Nana dan Bara saling tatap hingga akhirnya mereka berjabat tangan.
"Dillara sudah cerita semua."
"Semuanya tanpa ada yang dia sembunyikan."
"Menjebak kamu dan akhirnya dia terjebak bersamaku!"
Keduanya membulatkan mata. "Saat Dillara hamil, dia sedang berada di luar negeri."
"Aku mencarinya, dan orang tuanya mencariku."
"Dia stres berat saat mengandung Dewa dulu."
"Aku bersedia bertanggung jawab atas kehamilannya, tapi dia menolak!"
"Dia mencariku hanya agar aku tidak pergi. Agar kelak anaknya tahu bahwa aku adalah ayah dari anak itu."
"Dia gak butuh tanggung jawab dariku."
"Aku memutuskan untuk tinggal didekatnya selama hampir satu bulan, di negara asing. Dan aku perlahan tahu, dia tengah tertekan."
"Dia ditekan oleh orang tuanya dan dia merasa telah dibuang!"
"Berbulan-bulan, aku rutin mengunjunginya."
"Dia mulai percaya padaku."
"Dan satu keajaiban, tendangan pertama Dewa yang saat itu ada di dalam perutnya, membuatnya terbangun dan tersadar dari kesedihan dan keterpurukan."
"Dillara mulai rutin ke dokter dan saat itulah aku meyakinkan bahwa dia dan janinnya butuh aku."
"Singkatan cerita, kami menikah sebelum Dewa lahir."
"Dia trauma pulang ke Indonesia. Tapi, bertahun-tahun harus LDR begitu terasa berat. Belum lagi dia yang kewalahan atas tingkah Dewa."
"Dia akhirnya memutuskan untuk kembali ke sini dan tinggal bersamaku."
"Hampir setiap malam ia ketakutan setelah pertama kali bertemu kalian beberapa bulan lalu."
"Dia sudah berjanji untuk tidak masuk dalam kehidupan kalian lagi. Dan ku mohon, percayalah! Dia hanya milikku dan dia tidak akan pernah bisa menjauh dariku."
"Ku mohon, bicaralah padanya. Bebaskan dia dari tekanan kalian dulu."
"Kalian sudah menikah, kan?"
Nana dan Bara kompak mengangguk. "Dua minggu yang lalu."
Keduanya mengangguk. "Terima kasih."
"Jadi, bisakah kalian memafkan kesalahnya dulu?"
"Aku berjanji dan aku bisa menjamin, kalau Dillara tidak akan masuk lagi dalam kehidupan kalian."
Nana mengangguk. "Untuk itu aku ingin bicara dengannya."
"Saat pertama kali kami kembali bertemu, aku terheran karena Dillara seperti melihat hantu." Nana tertawa kecil.
"Dia segera pergi dan aku tahu dia ketakutan."
"Sejak saat itu, aku merasa sepertinya dia memang belum bisa melupakan masa lalu. Dan dia takut melanggar poin-poin di surat perjanjian diantara kami."
"Aku merasa bersalah akan hal itu, Mas!" Nana menatap sekilas pada suami Dillara.
"Dia sudah punya anak. Harusnya dia jadi supermom yang gak takut akan apapun. Tapi, melihat kami saja dia seperti itu."
"Aku gak bisa bayangin gimana dia menjelaskan pada putranya kenapa ia ketakutan."
"Mungkin dia mengatakan kami orang jahat." Nana tertawa pelan. "Ya, supaya Dewa berhenti bertanya."
"Aku ingin menghapus semua kenangan buruk dan melupakan masalah yang sudah berlalu."
"Aku gak bisa larang dia untuk tinggal di negara atau kota manapun."
"Na..." Bara mengusap bahu Nana yang tampak sedih saat melihat Dillara dengan sabar menggendeng tangan Dewa.
"Sayang...!"
"Dia jera, sayang!"
"Kita bahkan gak tau loh, dia punya Dewa setelah tragedi itu."
"Hidup yang dia lalui bahkan lebih berat dari kita, sayang!"
Bara mengangguk. "Bagaimana dengan orang tua kita."
"Mereka pasti mengerti sayang!"
"Sekarang dia sudah jadi orang tua. Dan kelak kita juga akan punya anak."
"Daddy!" Dewa menghambur dalam pelukan Deva. Bocah itu langsung minta dipangku.
"Dia minta langsung kembali kesini, Mas!" Ucap Dillara.
"Gak apa-apa!" jawab Deva.
"Kita makan disana, yuk! Daddy suapin!" Deva menggendong Dewa dan membawa putranya itu sedikit menjauh.
"Dil!" Nana membuat Dillara menatapnya.
"Sorry!"
Dillara terdiam.
"Gue mau lo lupain masa lalu kita!"
Dillara melirik Bara sekilas. Dan Bara langsung mengangguk.
"Lo bebas tinggal dimana aja."
"Maaf selama ini buat lo susah karena isi perjanjian itu."
"Gue tau loh udah bahagia! Lo punya suami baik, dan anak yang ganteng!"
"Dan dari situ, gue percaya lo gak akan mengganggu hidup gue sama Bara lagi."
Dillara mengangguk lemah.
"Bahkan lo lebih bahagia sekarang!" Nana tersenyum kecil. "Gue dan Bara belum punya anak."
"Kalian, bukannya baru menikah?" Tanya Dillara ragu.
"Kamu tahu?" Tanya Nana heran.
Dillara mengangguk lemah. "Om Hadi mengundang orang tua gue! Tapi mereka gak bisa hadir karena sedang berada di Bali.
"Oh, ya?" Tanya Nana antusias. Itu artinya hubungan antara kedua orang tua mereka sudah membaik.
Dillara mengangguk.
"Maaf kalau selama ini buat hidup lo gak tenang." lanjut Nana.
"Gue sama Bara udah maafin lo!"
"Buang truma dan ketakutan lo demi Dewa. Lo harus jadi mami yang kuat untuk Dewa."
Dillara mengangguk lemah. Lalu ia melirik Bara yang tidak mengatakan apapun.
"Sayang! Kamu maafin dia kan?" tanya Nana pada Bara.
Bara mengangguk. "Gue udah maafin lo, Dil!"
Dillara berkaca-kaca. Perasaanya semakin lega. Selama ia tinggal di kota ini, ia tidak berani keluar dari rumah karena takut bertemu Bara dan Nana di jalan.
Ia ke mall bersama Dewa dan Deva hanya disaat hari kerja. Ia tidak akan ke tempat yang terlalu ramai jika weekend tiba.
Ia takut, melanggar isi perjanjian mereka hampir 6 tahun lalu itu.
"Terima kasih!" Lirih Dillara.
"Sama-sama!" Nana mengenggam tangan Dillara di atas meja.