Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 80 Tiga Bulan Kemudian



Nana mengumpulkan 8 tespack yang ia pakai selama dua bulan terakhir. Terkadang Nana terlalu antusias, ia baru terlambat datang bulan dua hari, tapi sudah melakukan tes. Dan akhirnya ia kecewa karena strip satu yang terlihat di benda pipih itu.


Nana memandang bayangan dirinya di cermin. Ia sedang berada di kamar mandi. Sejak kemarin, harusnya menjadi jadwalnya datang bulan. Tapi, seperti akan terlambat seperti dua bulan terakhir.


Nana ingat, ia masih punya stok tespack yang belum ia gunakan di lemari gantung di kamar mandi ini. Namun, ia tak ingin melakukan tes hari ini. Ia takut kecewa.


"Tiga bulan program hamil tapi hasilnya masih belum ada." lirihnya sedih.


Nana menggambil tespack dengan hasil negatif itu dari dalam lemari. Ia segera membuang semua benda itu. Ia tak ingin mengumpulkan benda seperti itu lagi. Ia sudah pasrah jika memang belum diberi kesempatan untuk mengandung.


"Aku harus lebih sabar lagi. Toh Bara gak menuntut banyak dariku."


Nana keluar dari kamar mandi. Waktu subuh masih 30 menit lagi. Tapi, ia tidak bisa tidur.


Nana langsung berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas dan melihat bahan makanan yang tersisa di dalamnya.


Nana mengigit bibir bawahnya. Ia bingung akan masak apa pagi ini. Nana kembali menutup kulkas.


"Huh!" Ia menghembuskan nafas.


"Roti panggang aja deh!" ucapnya saat melihat masih ada roti di lemari gantung di dapur itu. "Lagian, bingung banget mau masak apa!"


"Dan bikinnya nanti aja, kalau udah mau berangkat."


"Gue nyuci aja deh!" Nana masuk ke loundry room dan memasukkan pakaiannya ke mesin cuci.


Sambil menunggu, Nana membersihkan ruang tamu. Tidak terlalu melelahkan karena apartemen ini tidak terlalu luas.


Selesai membilas dan menjemur pakaian, Nana membangunkan Bara dan segera mandi. Keduanya melaksanakan Sholat subuh berjamaah.


"Kita sarapan ini aja, ya Sayang!" Ucap Nana membawa dua piring berisi roti panggang dengan topping buah-buahan.


Bara mengangguk. "Gak masalah, Sayang!"


Bara menatap Nana yang tampak berbeda hari ini.


"Hari ini, kita makan siang diluar aja ya. Aku gak siapin bekal soalnya!"


"Iya... gak masalah sayang!"


"Kalau kamu capek atau lagi malas masak, ya gak usah masak, Na."


"Kamu kerja, mengurus rumah juga, masak juga."


"Kamu kecapek-an pasti, Na."


Nana tersenyum kecil. "Tapi aku suka mengerjakan semuanya, Sayang!"


"Iya. Tapi kamu jangan memaksakan diri." Bara menatap Nana. "Urusan rumah, kita bisa minta tolong sama asisten rumah tangga di rumah mama Tamara atau papa Wawan."


"Aku gak mau kamu maksain diri lagi, Na."


"Lihat! Muka kamu pucet loh hari ini!"


Nana mengerutkan kening. "Aku sehat-sehat aja, Sayang!" ucapnya yakin.


"Lipstick aku mungkin yang kurang cerah sayang! Hari ini aku pakai yang nude." ucap Nana lagi.


Bara menggeleng. "Lebih baik kita sarapan sebelum topping buah ini berubah jadi rujak!" Bara terkekeh.


Nana menyungingkan senyum tipisnya. "Kamu pagi-pagi udah ngelawak."


Entah mengapa Bara terus-terusan merasa kalau Nana tampak berbeda. Istrinya itu tampak pucat dan seperti lebih banyak diam.


"Ada yang kamu fikirkan?" tanya Bara saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor.


Nana menatap suaminya sekilas lalu menggeleng lemah. "Gak ada."


"Gak bohong?" tanya Bara lagi.


"Beneran!" Nana mengangguk. "Aku mana pernah bohong sama kamu, Sayang!"


Bara tersenyum kecil. "Kalau ada yang mau kamu bicarakan, bilang aja, Na."


"Aku gak mau kamu mikirin masalah kamu sendiri. Aku gak mau kamu sedih dan gelisah sendiri."


"Kita harus berbagi rasa, mau suka atau duka, Sayang!"


Nana mengangguk. "Memang gak ada apa-apa, Sayang!" ucap Nana meyakinkan Bara.


Sesampainya di kantor, Nana masuk ke dalam ruang kerjanya dimana ada Salsa yang selalu saja menjadi penggoda. Tapi, pagi ini, gadis itu terlihat murung.


"Kenapa, Mbak Salsa?" tanya Nana yang mendaratkan tubuhnya di kursi kerja.


Salsa melirik Nana sekilas, lalu gadis itu tampak terkejut. Salsa langsung menegakkan duduknya.


"Lo beda, Na!" Salsa mengerutkan kening mencoba menelisik apa yang tampak berbeda dari Nana.


"Ck!" Nana berdecak kesal. "Sama aja sama Bara! Bilang aku berbeda. Padahal entah apa yang tampak berbeda!" gerutu Nana kesal.


"Lo... lo pucat, Na!"


Nana menatap Salsa. "Nah! Sama lagi nih sama Bara. Bilang aku pucat. Aku cuma ganti lipstik, Mbak!" ucap Nana pada Salsa.


"Yang ini lebih nude, gitu." lanjutnya.


Salsa masih menelisik wajah Nana. "Mata lo juga agak sayu, kantung mata juga kelihatan."


"Ah, masa sih?" Nana mengambil cermin di tasnya dan melihat matanya.


Ia menoleh ke kanan dan kiri, menyentuh area bawah matanya. "Perasaan biasa aja," gumamnya.


Nana tertawa. Padahal hatinya teriris. Baru subuh tadi ia merasa sedih memikirkan baby yang tak kunjung hadir dalam rahimnya.


Dan sekarang, Salsa malah membahas mengenai baby lagi. "Makanya nikah!"


Salsa cemberut, ia mengeluarkan kotak bekalnya dan membukanya diatas meja kerja.


"Wih, belum sarapan nih?" goda Nana karena ia tahu, Salsa pasti tidak berangkat bersama Dimas.


Salsa meliriknya sekilas. "Kayak yang lo lihat! Berantem gue sama Dimas."


Salsa membuka box bekalnya yang berisi mie goreng dan telur ceplok diatasnya. Ada irisan tomat dan timun disusun di sekat berbeda di kotak bekal itu.


"Kenapa?" tanya Nana yang sedang membersihkan mejanya dari debu yang menempel.


"Ya kali, dia ngajakin gue nikah bulan depan," gumam Salsa sebelum menyuapkan mi goreng ke mulutnya.


"Bukannya bagus!" balas Nana. "Dimana-mana orang pacaran tuh minta dinikahi. Ini malah galau diajak nikah!"


"Bukan gak mau, Na. Tapi mendadak banget. "


"I have a dream wedding, Na."


Nana mencebikkan bibir dan mengangguk.


"Gue rasa semua cewek punya dream wedding!" lanjut Salsa.


"Gue gak mau mendadak nikah, malah jadinya asal. Gak terkonsep dan awut-awutan."


Nana terkekeh. "Calon laki lo tajir, bokapnya tajir!"


"Lo gak perlu khawatir kali, Mbak! Duit bisa ngatur semuanya." jawab Nana.


"Gue gak butuh pernikahan mewah, Na."


"Sederhana tanpa resepsi juga gak masalah bagi gue! Gue sadar, gue bukan orang tajir!"


"Gue juga butuh kesiapan mental dan gue juga harus pegang uang sendiri, Na. Minimal cukuplah buat beli barang-barang kebutuhan gue sendiri."


Nana menghela nafas. "Lo tau, Mbak! Persiapan pernikahan gue 6 bulan loh!" Nana menunjukkan 6 jari tangannya.


"Enam bulan! Dan mental gue juga belum siap-siap banget, pas gue nikah!"


"Lo bayangin, gue yang biasa bangun pagi cuma buat ngurus diri gue sendiri, mendadak gue harus jadi baby sitter, jadi ART, jadi koki, jadi tukang loundry, dan lo tau? Mendadak gue ngerasa kayak berubah aja jadi super women yang bisa melakukan semuanya."


Nana membuat Salsa tertawa. "Lo mah enak, tinggal cuma berdua."


"Lah gue, bakal ikut mertua!"


"Hahaha. Gue udah nemu jawabannya!" Potong Nana.


Salsa mengerutkan kening.


"Dream wedding cuma alasan, lo! Lo gak siap karena takut tinggal sama mertua kan?"


Salsa menatap Nana dan mengangguk ragu. Nana tertawa. "Kalau kira-kira ngerepotin, ajak ngopi si-anida aja!"


Brak!


Salsa mendorong kursi Nana hingga menabrak meja.


"Sesat!" gerutu Salsa.


Nana yang terkejut karena kursi kerjanya didorong tiba-tiba. Ia merasa pusing akibat tubuhnya terhuyung ke samping.


"Mbak!" gumam Nana dan ia berpegangan pada meja serta memegangi kepalanya.


"Na, lo jangan akting!" marah Salsa saat melihat Nana yang pura-pura terjadi sesuatu padanya.


Nana merasa pandangannya mulai gelap dan perlahan tubuh Nana terkulai diatas meja.


Salsa berdiri dan mengguncang tubuh Nana. "Bangun, Na! Na! Nana!"


"Na! gak lucu loh ini!"


Salsa melihat wajah Nana yang terlihat makin pucat.


"Mbak Hilda! Jo!"


"Nana kenapa ini?" tanya Salsa panik. Ia berdiri dan berusaha menegakkan tubuh Nana dan menopang kepala Nana di perutnya.


Hilda dan Jo mendekat. Wanita bernama Hilda itu langsung memberikan minyak kayu putih di hidung Nana.


"Na... bangun, Na!" Hilda menepuk pipi Nana pelan. "Nana...."


"Jo, ambilin hp gue!" perintah Salsa.


Salsa langsung mencari nomor ponsel Bara.


"Hallo!" Sapa Bara yang baru menjawab panggilannya setelah panggilan ke 2.


"Bar! Nana pingsan!" Ucap Salsa.


"Hah! Kok bisa, Mbak?" tanya Bara.


"Gak tau. Lo cepat kesini. Dia lemes banget nih. Dia udah mulai sadar, Bar!" ucap Salsa saat Nana mulai membuka matanya dan kembali terpejam karena ia masih merasa pusing.


"Oke. Gue kesana sekarang!"


"Segera ya, Bar!"