
"Setiap meja, kumpulkan satu makalah tentang bab 1 yaitu Kinematika dengan analisis vektor," ucap Bu Gina memberi tugas Fisika pada murid-muridnya.
"Dikumpulkan 3 hari dari sekarang," lanjutnya.
"Yaaaa.... buk kok cepat banget, Buk?" protes murid-murid pada bu Gina, wali kelas mereka.
"Seminggu dong, Bu."
"Dua minggu dong, Bu."
"Itu belum selesai," potong Bu Gina karena reaksi murid-muridnya yang menurutnya berlebihan. Kelas yang tandinya sunyi mendadak ramai karena protesan mereka.
"Sebagai tambahan, kumpulkan tugas latihan halaman 32." Murid-murid membuka halaman 32 dan mereka semakin memberontak.
"Ya ampun Buk, ini banyak banget loh!" Semua murid lagi-lagi terkejut dengan tugas yang Bu Gina berikan.
"Ini tugas kelompok. Berdua loh ngerjainnya."
"Kalian bisa mulai dari sekarang!"
"Diskusi kerjakan soal di halaman 32."
"Ibu mau, jawabannya kalian tulis di kertas HVS dan masukkan di halaman terakhir dalam klip makalah kalian!"
"Faham?"
Semua murid diam dan cemberut.
"Faham tidak?" tanyanya sekali lagi.
"Faham, Buk...." murid-murid menjawab kompak.
"Ada lagi yang kurang jelas? Silahkan kalau masih ada yang mau bertanya. Jangan diam saja, kalau masih kebingungan!"
Calvin mengangkat tangan. "Bu, boleh nanya?"
"Ya, silahkan Vin!"
"Kalau tugas yang di buku boleh gak diskusi dengan kelompok lebih besar, misal 10 atau 20 orang, Buk?"
Bu Gina tersenyum. "Itu namanya kamu mau nyontek, Vin!"
"Mau terima bersih, kamu kan?"
"Huuuuuuuuu...." Seisi kelas menyoraki Calvin. Yang dikatakan bu Gina benar. Memang itu tujuannya. Jika dikerjakan dengan kelompok yang lebih banyak anggotanya, otomatis tugas lebih cepat selesai dan yang pasti, sebagian orang yang tidak memahami materi tinggal menyalin jawaban, termasuk dirinya.
"Ini hanya boleh di kerjakan bersama teman semeja."
"Tiga hari, dari sekarang."
"Buat sebagus dan serapih mungkin!"
"Dan yang tidak mengumpulkan tugas, bersiap dapat hukuman!"
"Yaaaaa...." teriakan lemas murid-murid membuat Bu Gina mengulum senyum.
"Tugas ini mudah, cari di internet!"
"Ibu yakin kalian semua bisa!"
"Putra, Sherly, ibu titip kelas."
"Sepuluh menit lagi ada rapat wali kelas. Jadi, jangan ada yang keluar, apa lagi nongkrong di kantin!"
"Kalau kalian kena tangkap guru BP. Ibu tidak akan membela kalian!"
"Mengerti?"
"Mengerti, Buk." Sahut mereka kompak.
Bu Gina berjalan keluar. Saat baru keluar dari pintu, Bu Gina kembali masuk ke kelas dan melihat Calvin sudah duduk diatas meja.
"Ya Allah! Baru 2 detik, Vin!" teriak Bu Gina frustasi karena Calvin sudah tidak berada dikursinya.
"Eh... Iya... Buk." Calvin seketika menjadi bahan tertawaan teman-temannya. Ia langsung kembali duduk di kursi.
Sementara itu, Nana bingung harus bagaimana mengerjakan tugas ini bersama Bara. Saat ini ia hanya bisa diam dan menjawab soal-soal di buku pelajaran.
Bara hanya bertopang dagu melihat Nana mengerjakan soal-soal itu tanpa terlihat ingin membantu.
Nana yang merasa diperhatikan lama-kelamaan merasa canggung dan gugup.
"Bara!" Panggil Nana pada lelaki berambut rapi sebelahnya.
"Heem!"
Nana menatap Bara, sementara lelaki itu malah menatap jemari Nana yang tengah memegang pulpen dan tengah menghitung jawaban dari soal nomor 6.
"Ini tugas kelompok."
"Terus?" tanya Bara.
"Ya, lo gak ada niat gitu buat bantuin gue ngerjain soal-soal ini?"
"Lo kerjain aja yang lo bisa," jawab Bara santai. Keduanya kali ini bertatap muka.
"Terus, lo yang kerjain sisanya?" tanya Nana.
"Ya enggak, dikosongkan aja."
"Astaga Baraaa!" Nana geram karena mengira Bara akan membantunya mengerjakan tugas yang katanya tugas kelompok ini.
****
Pulang sekolah...
Nana baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Tubuhnya terasa lengket karena aktivitas di sekolah tadi.
Nana turun ke lantai bawah dan mendapati Syakiel tengah bermain mobil-mobilan bersama mama Ayu.
Mama Ayu memang mengurus Syakiel sendiri tanpa bantuan baby sitter. Hanya saja untuk urusan rumah dan pekerjaan rumah tangga, Ayu mempekerjakan beberapa orang asisten rumah tangga.
"Belum, ma." Ia memang belum makan siang. Bekal yang ia makan dari jam istirahat pertama tadi mampu membuatnya kenyang hingga jam pulang sekolah.
"Mau mama siapin?"
Nana berfikir sejenak. "Nanti Nana ambil sendiri, Ma."
"Syakiel main apa, sayang?" tanya Nana.
Tapi Syakiel enggan menjawab, ia masih asik mendorong mobil-mobilan kecil ditangannya. Saat ini mereka duduk di lantai di ruang keluarga.
"Syakiel, kak Nana nanya loh. Dijawab dong, sayang."
Nana tau, bocah ini masih marah padanya karena pagi tadi Syakiel memaksa Nana untuk ikut dengan mobil yang membawanya ke sekolah.
"Syakiel gak berteman sama kakak," gumam bocah itu sambil cemberut.
Nana dan Ayu saling tatap dan keduanya kompak menutup mulut menahan tawa.
"Kakak minta maaf yaaa..." bujuk Nana.
"Janji deh, besok atau lusa kakak ikut mobil Syakiel." Nana mengacungkan jari kelingkingnya dihadapan adiknya itu.
Syakiel mengangkat wajah dan menatap Nana yang duduk bersila dihadapannya.
"Janji!" tanyanya.
"Janji!"
Nana dan Syakiel menautkan jari kelingking mereka.
"Awas kalau bo'ong!" Ancam Syakiel.
"Iya... iya... kakak gak bohong, Syakiel."
"Bu, ada tamu di depan." Tiba-tiba asisten rumah tangga datang memberi tahu jika ada tamu yang datang.
"Siapa, Bik?"
"Teman Non Nana, katanya." Nana dan Ayu kembali saling tatap.
Siapa yang datang? Batin Nana.
Nana langsung ke depan untuk melihat tamunya. Ia melihat seorang lelaki dengan kemeja dan jeans selutut berdiri memunggunginya.
"Cari siapa?" Lelaki itu berbalik.
"Bara?" Nana terkejut saat melihat Bara yang datang ke rumahnya.
"Ngapain?" tanya Nana heran.
"Ngerjain tugas Fisika lah."
Nana tercengang kaget. Tadi bara seolah tak peduli akan tugas yang Bu Gina berikan dan kini lelaki itu repot-repot datang ke rumahya.
Akhirnya mereka masuk ke dalam. Nana duduk di depan laptop milik Bara yang ia bawa dari rumah.
"Gue juga punya laptop, Bar. Repot banget lo bawa dari rumah," ucap Nana saat ia tengah berselancar di internet mencari materi yang menjadi tugas kelompok mereka.
"Kata lo ini tugas kelompok, ya anggap aja gue sedang berpartisipasi," ucap Bara yang tengah duduk di karpet dan sedang mendorong mobil-mobilan kecil di tangan kanannya.
Nana langsung menatap lelaki itu sinis. "Maksud gue bukan partisipasi yang begini, Bara! Ya Allah, bingung gue ngomong sama lo!"
Nana kesal, namun ia tetap mengerjakan makalah itu, ia mulai menyusun materi di Aplikasi Ms Word dan membuat data serapih mungkin.
"Abang curang!" Teriak Syakiel pada Bara, keduanya sedang asyik bermain mobil-mobilan sedari tadi.
Ayu sudah melarang Syakiel untuk tidak mengganggu mereka. Tapi Bara malah merasa tidak keberatan Syakiel mengajaknya bermain.
Ayu saat ini tengah di dapur membuat makanan untuk mereka bertiga.
"Loh, kan memang begini harusnya!" jawab Bara.
"Abang kan pencuri... harusnya abang Syakiel tangkap!"
"Bukannya kabuur," ucap Syakiel tanpa cadel namun tetap dengan nada kesal seorang balita pada umumnya.
"Loh, pencurinya harus kabur dulu, dong! Nanti polisinya kejar dari sana, sama dari sana." Tunjuk Bara pada arah depan dan belakang mobilnya.
"Harus begitu?" tanya Syakiel dengan raut wajah penuh tanya.
"Iya dong!."
Syakiel segera berdiri, "Tunggu sebentar, bang."
Ia berlari kearah ruang bermainnya dimana banyak mainannya tersimpan disana.
"Syakiel mau kemana, Na?" tanya Bara pada Nana yang masih fokus pada layar laptop milik Bara.
Nana sempat melihat kemana Syakiel pergi hanya bisa mengangkat bahu. Ruang bermain bukan tempat yang bahaya bagi Syakiel. Semua barang-barang disana aman bagi anak empat tahun itu.
Tak lama Syakiel kembali dengan sebuah kotak lumayan besar di tangannya. Ia kembali duduk di dekat Bara.
"Abang pencuri jangan kabur lagi, yaa..." Syakiel mengeluarkan 3 mobil polisi berbagai ukuran dan meletakkannya di depan, di samping kanan dan kiri mobil-mobilan yang Bara pegang. Dan mobil-mobilannya yang satu lagi ada di belakang mobilan Bara.
"Jangan kabur lagi pencuri!"
Bara terkekeh, melihat balita yang sangat pintar ini.
"Ampun pak polisi!" ucap Bara pura-pura memohon.
Bara makin terkekeh saat Syakiel hendak memborgolnya dengan borgol mainan. Dan sayangnya borgol itu tidak muat untuk dipasang ditangannya.
Dan semua itu juga tak luput dari penglihatan Nana.
Lo kelihatan beda banget, Bar!
Selama ini apa lo kesepian sampai-sampai lo jadi orang yang pendiam banget?
"Syakiel, udah mainnya sayang!" Ayu berjalan mendekat dengan membawa dua piring spaghetti carbonara untuk Bara dan Nana.