Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 37 NASEHAT PUTRA



"Lo sendiri aja gak tahu sedalam apa perasaan lo ke Nana," sambar Putra saat Bara tidak menjawabnya.


"Gimana lo mau yakin untuk hubungan lo ke depannya."


Bara menatap Putra yang juga sedang menatapnya.


"Gue gak ngerti, Put. Gue sayang sama dia." Bara mengakui perasaannya.


"Gue gak mau dia terluka. Gue gak suka di berada dalam bahaya. Gue gak suka dia sedih. Gue..."


"Lo ingin terus disampingnya, gak?" potong Putra.


Bara diam. "Kalau cuma gak mau terluka, dan hal hal yang lo sebutkan tadi, gue juga ngerasain hal itu ke Lo, Bar!" lanjut Putra.


Bara memundurkan kepalanya. Ia waspada pada Putra yang seolah mengatakan memiliki perasaan padanya.


Putra tertawa. "Hahah! Gak usah gitu muka Lo!" Tangannya mendorong wajah Bara.


"Gue gak doyan sama lo!" Putra yang tampak berwibawa di sekolah, sekejap bisa jadi sosok lain yang ternyata sangat menyenangkan diajak bicara. Ia bisa menyesuaikan situasi dimana dia berada.


"Jadi...?" tanya Bara.


"Lo ingin hidup sama dia gak?"


"Lo punya cita-cita untuk bersama dia gak, dimasa depan nanti?"


"Lo pernah bayanging gak? Kelak saat lo berumah tangga, lo punya anak dan dialah yang jadi istri lo?"


Bara menatapnya bingung. "Lo pernah mikir begitu, Put?" Bara malah kembali bertanya.


Putra mengangguk. "Iya lah!"


"Sama Sherly?" tanya Bara tak percaya.


"Iyalah! Masa sama Calvin!" Kesal Putra.


"Percuma gue jalani hubungan bertahun-tahun kalau gue gak punya keinginan kesana!"


"Gue gak maulah waktu, tenaga dan fikiran gue terbuang sia-sia."


"Gue lihat, Sherly punya tujuan untuk kesana juga. Jadi, kita udah buat komitmen. Kita udah buat rencana tiap tahunnya kita mau apa. Setelah lulus kita mau kemana. Semua udah kita rancang, Bar!"


"Ya, walaupun tetap Tuhan yang menetukan."


Bara masih diam. Putra menghela nafas. "Bar, lo dengar gue?"


"Iya! Gue dengar!" Sahut Bara.


Putra duduk diatas ranjang dan ia meneguk minuman yang ia bawa tadi. "Orang tua lo memang pernah gagal, Bar! Tapi bukan berarti hal itu juga akan terjadi sama Lo."


***


"Tau ah, Sher!" Nana cemberut saat melihat wajah Sherly di layar ponselnya dihiasi tawa mengejek. Keduanya sedang melakukan panggilan video.


Nana menceritakan kekesalannya terhadap Bara pada sahabatnya itu. Dan Sherly malah tertawa lepas.


"Sorry... sorry..."


"Emang tuh anak minta ditatar, Na."


"Besok, bakal abis tuh anak ditangan gue sama Zahra!"


"Lo tenang aja."


"Ck!" Decak Nana. "Ngomong sama tugu perbatasan emang susah Sher!"


"Hahahah!" Sherly tertawa saat Nana menyebut Bara dengan nama tugu perbatasan.


"Dia pohon pisang, Na. Punyanya cuma jantung, gak punya hati!" gadis itu kembali tertawa.


"Padahal gue gak berharap dia bilang iya loh, Sher!" Bibir Nana cemberut dan terlihat wajah kesalnya.


"Gue juga gak berharap pertunangan dalam waktu dekat."


"Orang tua kita juga diakhir pembicaraan kemarin, gak memaksa untuk setuju."


"Mereka cuma mau kami berdiskusi dan membicarakan ini."


"Walaupun akhirnya kita sepakat untuk gak bertunangan dulu."


"Tapi Bara susah sekali diajak bicara!"


"Dia takut gagal padahal kita bisa menolak loh!"


"Apanya coba yang akan gagal kalau gak ada pertunangan sama sekali?" Nana merasa semakin kesal.


"Status kita cuma pacaran. Dan kalau pacaran aja dia takut gagal, buat apa dijalani, kan?" tanyanya pada Sherly.


"Mungkin dia belum terbiasa, Na. Kalian pacaran juga masih baru, kan?" tanya Sherly.


"Hahahah... Dia gak belok kanan kiri aja udah syukur banget, Na!"


"Dia tuh bukan manusia gue rasa! Dia kayak vampir yang jalannya lompat terus tangannya lurus ke depan-"


"Yang ditempelin kertas di keningnya, baru diem gak bergerak?" potong Nana.


Sherly terbahak, dan Nana ikut tertawa juga.


"Korban film kamu, Na!"


"Hahaha... dulu waktu kecil gue sering nemeni papa lihat film begitu, Sher!" Keduanya masih tertawa.


Sherly merasa perutnya kram karena terus tertawa. "Oke. Balik lagi ke pohon pisang, Na!"


"Ah! Pusing lihat sahabat kamu, Sher! Biarin aja dia sama pemikirannya sendiri. Gue capek!"


"Hahahah! Iya... iya...!" Sherly mengalah.


"Na, menurut gue, ini sih Bara cuma muter-muter sama fikirannya sendiri!"


Nana menatap wajah Sherly yang tampak serius. "Dia mau tunangan tapi takut gagal."


"Kalau dia bilang enggak mau, kayaknya salah deh! Dia tuh mau. Dia ingin tunangan sama lo."


"Ya.Gue yakin, dia mau, Na," ucap Sherly mantap.


Nana mencebikkan bibir. "Sok tau, lo!"


"Gue yakin, Na! Ini mah akibat terlalu sayang sama lo!"


"Sayang gimana, Sher?" tanya Nana.


"Ya iya. Dia sayang sama lo. Jadi, dia takut nyakiti lo dan lo pergi."


"Itulah kenapa dia ngotot takut gagal. Karena keinginan dia untuk melangkah maju itu lebih besar dari pada mundur."


***


"Selamat pagi, pacar orang!" Nana tersentak kaget. Ia baru tiba di parkiran sekolah dan baru saja keluar dari mobilnya.


Nana melihat Dimas dengan wajah berseri pagi ini. Nana mengerutkan dahinya heran.


Nih anak kenapa begini? Mukanya cerah banget.


"Kok diem? Temenin ke kantin yuk! Gue belum sarapan!" Dimas menarik paksa tangan Nana yang masih kebingungan.


"Kenapa?" ditengah lapangan, keduanya berhenti. Dimas menatap Nana yang berjalan dibelakangnya, bukan di samping meski tangannya memegang tangan gadis itu.


"Haa?" tanya Nana terkesiap.


"Kenapa di belakang terus?" tanya Dimas.


"Ya... ya lo! Jalannya terlalu cepat, Dim! Gue juga belum bilang iya."


Dimas menggaruk tengkuknya. "Hahah... lupa gue! Ayolah Na... Gue laper banget nih!" Dimas membujuk Nana.


Nana berfikir sejenak. Di kelas, yang gue lihat pasti Bara. Dan gue belum siap lihat wajahnya. Gue masih kesel sama dia.


"Ayo deh!" Nana mengangguk dan berjalan lebih dulu.


"Eh, Na. Yang laper gue apa lo sih?" tanya Dimas memanjangkan langkah menyusul Nana.


"Lo lama-lama banyak omong, sama kayak Calvin."


Dimas terbahak. "Jangan sebut namanya, Na!"


"Kenapa?"


"Entar dia muncul." jawab Dimas.


Baru tiga langkah. "Puk!" tepukan di bahu Dimas membuatnya melihat siapa orang itu.


"Nah kan, Na... Datang kan jinnya."


Nana melihat kebelakang dan dia tertawa lepas. "Hahah panjang umur nih anak, Dim!"


"Amiiin!" seru Calvin. "Lagi pada ngomongin gue ya?" Calvin merangkul bahu Dimas.


Nana dan Dimas memutar bola mata mereka. "Nambahin dosa, Vin!" jawab Nana.


"Iya. Gak penting juga!"


Ketiganya sampai di kantin. Calvin dan Dimas benar-benar menghabiskan sarapan yang mereka pesan. Sedangkan Nana memilih minum kopi hangat, karena sepertinya rasa kantuk akan menyerangnya hari ini akibat kurang tidur malam tadi.


Dari kejauhan, Bara melihat ketiganya saling tertawa lepas. Bahkan sesekali ia melihat Calvin mendorong pelan bahu Nana. Dan Nana sesekali menarik rambut Calvin.