
Bara hanya diam tanpa merespon kalimat terakhir Nana yang mengatakan bahwa kebahagiaan justru datang saat manusia saling melepaskan.
Ia merasa apa yang Nana katakan ada benarnya. Selama ini orang tuanya yang memaksakan diri untuk terus bersama, toh nyatanya suasana semakin membeku, tak ada perubahan kearah yang lebih baik.
Bara menatap Nana yang memandang lurus ke depan. Bara menatap dalam wajah tenang dengan anak rambut yang bergerak-gerak di keningnya karena tertiup angin. Mata jernih itu sesekali berkedip membuat bulu mata nan lentik itu bergerak naik turun.
"Papa sudah punya anak dari wanita lain." Kalimat pertama meluncur begitu saja dari bibir Bara.
Nana langsung menatap Bara. Keduanya saling beradu tatapan saat ini. Cerita aja Bar, gue bakalan jadi pendengar setia lo."
"Dan mama sering menghabiskan waktu bersama atasannya," lanjut Bara.
Bara kembali menatap kedepan. "Heh!" Ia tersenyum sinis. "Sehancur-hancurnya rumah tangga yang hingga kini masih mereka coba untuk pertahankan."
"Tanpa niat mengubah atau memperbaiki keadaan."
"Alasan mereka bertahan cuma karena gue. Karena ingin memberi gue sebuah keluarga yang utuh."
"Padahal udah bertahun lamanya gue gak merasakan keluarga yang mereka sebut itu."
"Selalu terjadi pertengkaran."
"Selalu saling tuduh dan memojokkan."
"Dan terkadang keduanya kompak gak pulang ke rumah."
"Dan terakhir kali, mama malah mau kirim gue ke luar negeri untuk tinggal bersama kakak gue kalau seandainya gue udah gak sanggup lagi tinggal di rumah itu."
"Rasanya kayak dibuang."
Nana tersenyum getir melihat wajah yang terlihat sedih itu. Mata berkaca juga bisa Nana lihat disana.
Inikah sisi lemah Bara? Inikah lo yang sebenarnya, Bar? Bersembunyi di wajah dan sifat dingin itu?
"Kadang seperti itulah orang tua. Memasang tembok tertinggi demi melindungi anaknya."
"Padahal tanpa mereka sadari tembok itu malah menghimpit anak mereka."
"Sekarang, mungkin saatnya lo jadi pahlawan buat keluarga lo sendiri."
"Kasih kebahagiaan buat kedua orang tua, lo."
"Bebaskan mereka dari hubungan gak sehat itu."
****
Malam harinya...
Bara menemukan mamanya sedang duduk di sofa menghadap sebuah laptop yang terletak diatas meja.
Bara duduk di samping mamanya. Tamara melihat putranya. "Baru pulang, Bar?"
"Iya, ma. Papa ada?"
Tamara mengerutkan kening karena tidak biasanya Bara menanyakan papanya. Bara biasanya pulang dan langsung masuk ke kamar. Putranya itu bahkan sangat jarang menemuinya.
"Papa ada di ruang kerjanya."
Bara berdiri dari duduknya. "Ma, ikut Bara yuk. Kita bicara bertiga." Bara mengulurkan tangannya.
Tamara tersenyum kecil dan mengangguk. Keduanya berjalan berdampingan. Tamara bahkan menyandarkan kepalanya di lengan Bara yang tinggi badannya lebih dari 20 centimeter diatasnya itu.
Bara mengetuk pintu berwarna coklat itu. "Siapa?" suara dari dalam membuat Bara berdehem untuk menetralkan suara sekaligus detak jantungnya.
Bara membuka sedikit pintu itu. Ia mengintip ke dalam. "Bara, Pa. Boleh Bara masuk?"
Wawan mengangguk pelan. "Masuk, Bar."
Wawan tampak terkejut saat melihat Tamara bergelayut manja di lengan putranya. Dan herannya lagi, Bara tidak menolak dan tidak terlihat risih sama sekali.
Bara dan Tamara duduk di depan meja kerja Wawan. Keduanya seperti karyawan yang tengah menghadap atasan mereka.
"Ada apa, Bar?" tanya Wawan to the point.
"Bara mau bicara serius sama mama papa."
Wawan dan Tamara terkesiap. Keduanya menegakkan posisi duduk masing-masing.
"Bara tau ini mungkin terlalu tiba-tiba. Tapi Bara yakin ini yang terbaik."
"Mama, papa sebaiknya bercerai," ucapnya pelan namun tegas. Tidak ada suara gugup dan bergetar, tidak ada raut kesedihan dan mata berkaca. Bara ingin menunjukkan bahwa ia yakin dengan apa yang ia katakan.
Ia sudah memikirkan ini baik-baik selama di bengkel sore tadi. Yang Nana katakan ada benarnya. Mungkin mereka akan bahagia saat tidak lagi bersama.
"Bara!" Wawan dan Tamara sama terkejutnya.
"Jangan ngelantur, Bara!" Bentak Wawan.
"Kamu bicara apa?" Ucap Tamara tak kalah keras.
"Bara rasa ini yang terbaik, Ma, Pa."
"Kamu jangan bicara omong kosong, Bara!" Wawan murka sementara Tamara menatap putranya yang merupakan korban keretakan rumah tangganya.
"Bara serius, Pa. Dengarkan Bara sebentar saja. Bara baik-baik aja. Jangan korbankan kebahagiaan dan perasaan kalian hanya demi bisa memberi Bara keluarga yang utuh."
"Papa, kalau ada wanita yang lebih membuat papa bahagia. Jemput dia, Pa." Bara menatap Wawan.
"Bagitu juga mama. Kalau ada yang bisa membuat mama bahagia, Mama bisa bersamanya, Ma." Bara menatap Tamara.
"Bara akan lebih bahagia melihat kalian bahagia."
"Kalau bukan di rumah ini, maka jemput kebahagiaan itu di luar sana."
"Bara lebih gak sanggup ada di rumah yang terkesan angker karena penghuninya yang gak saling bicara."
"Bara rindu rumah yang penuh canda tawa, Ma, Pa."
Wawan menunduk dalam menyadari semua yang Bara katakan benar sementara Tamara sedang menyeka air matanya. Bara menghadap mamanya dan ikut menghapus air mata yang terus turun itu.
"Ma, Bara sayang mama."
"Jangan fikirkan Bara. Bara bisa tinggal dengan siapapun. Bisa dengan mama atau papa atau di rumah sendiri."
"Bara gak tahu sumber masalah dari hilangnya keharmonisan rumah tangga kalian itu apa."
"Tapi yang pasti, Bara lihat kesempatan untuk bersama sudah tidak ada lagi."
"Dari pada di coba dan gagal lagi, lebih baik berhenti."
"Kasihan orang yang sudah setia menunggu kalian di luar sana."
"Mereka salah karena menjadi orang lain yang merebut kalian dariku."
"Tapi kalian jauh lebih bersalah karena memberikan kesempatan mereka untuk masuk."
"Dan saat ini yang terpenting adalah kita mulai dari awal."
"Bara juga mau, Papa kasih salah satu rumah papa ke mama sebagai bentuk terima kasih sudah merawat Kakak, Bara dan kita semua selama puluhan tahun ini."
"Bara...!" Wawan sudah tidak sanggup berkata-kata lagi.
"Papa sebenarnya..."
"Ssstt!" Bara menempelkan telunjuknya di bibir. "Jangan katakan apapun Pa."
"Bara belum siap, Pa. Bara masih butuh sendiri. Kalian selesaikan masalah ini secara baik-baik. Jangan ada keributan apalagi mengenai harta gono-gini."
"Bara permisi dulu." Bara bangkit dari duduknya. Ia memeluk Tamara sebentar. "Bara percaya, mama juga sayang Bara."
"Bara harap setelah ini mama bahagia." Bara melepaskan pelukannya dan berjalan hendak meninggalkan ruangan itu.
"Bara!" Suara Wawan menghentikan langkahnya.
"Kamu baik-baik aja?"
Bara menoleh dan mengangguk mantap.
"Terima kasih, Bar!" Ucap Wawan dengan nada bergetar.
Bara keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega. Setelah ini ia harus memikirkan babak baru dalam hidupnya. Entah itu dengan Wawan dan istri barunya atau dengan Tamara dan suami barunya atau bahkan hidup sendiri tanpa kedua orang tuanya.
Bara masuk ke kamarnya. Ia duduk di atas ranjang, memandang layar ponsel dimana sedang menampilkan nomor seseorang.
Bara segera menghubungi orang tersebut.