
Jakarta.
Nana memasuki halaman sebuah rumah mewah yang sudah ia tinggalkan lebih dari tiga tahun.
Tukang kebun yang membukakan pintu gerbang untuknya sampai terkejut melihat dirinya yang tiba-tiba pulang.
Nana sengaja memilih menumpang taxy dari pada meminta jemputan dari keluarganya. Teman-temannya yang lain memilih dijemput dibanding dengan mencari taxy. Ya, Nana berangkat dari Bali bersama-sama dengan lima orang temannya yang lain.
"Ssstt!" Nana menempelkan telunjuk di bibirnya. "Jangan berisik, Kang. Saya mau kasih surprise."
"Mama ada kan?" tanyanya.
"Ada, Non!"
Nana berjalan ke arah pintu utama dan ia mengetuk pintu rumahnya. Ia menyembunyikan kopernya di samping pintu dan memakai masker serta kaca mata hitamnya.
"Assalamualaikum, permisi. Selamat siang?" sapa Nana.
Tak berselang lama, pintu di buka dan muncullah Ayu, mama sambungnya dengan apron masih terpasang di tubuhnya.
"Cari siapa?" Tanya Ayu yang tidak mengenali Nana.
Mama gak ngenali gue? Hehehehe.
"Cari pak Hadi, Bu! Bapaknya ada?" jawab Nana dengan suara yang ia buat berbeda dari suara aslinya.
Ayu mengerutkan kening. "Bapak lagi kerja. Kamu siapa, ya?"
"Saya anaknya!"jawab Nana yakin.
Ayu melotot kearahnya. Nana ingin tertawa sekarang. Melihat wanita lemah lembut itu ternyata bisa terlihat garang juga.
"Jangan ngaku-ngaku, ya!" Ayu marah-marah. "Kamu mau apa? Minta apa? Minta pengakuan lalu minta warisan?" cecar Ayu.
"Anak Suami saya cuma dua. Satu lagi masih di Bali!" Ucap Ayu marah-marah.
"Akang kebun kemana sih? Kenapa izinin sembarang orang masuk!" Ayu menggerutu kesal sambil memanjangkan lehernya berusaha mencari tukang kebun yang biasa membukakan pintu gerbang
"Kamu sebaiknya pulang, ya. Atau saya akan lapor polisi!" Ancam Ayu.
"Mama lagi PMS ya?" bisik Nana pelan dengan suaranya yang seperti biasa. Ia juga membuka masker dan kaca mata hitamnya.
Ayu mendelik tak percaya. Ia langsung memeluk gadis yang ia temui beberapa bulan lalu, pada acara wisudanya.
"Nana..." teriak Ayu. "Kenapa pulang gak ngabarin mama dulu?" tanyanya.
"Kamu sama siapa?" Ayu melongok ke arah belakang Nana dan tidak menemukan siapapun disana.
"Nana sendiri, Ma. Naik taxi."
"Ayo masuk!" Ayu menggandeng tangannya. "Kenapa gak kasih tau mama kalau mau balik ke Jakarta? Mama sama papa kan harusnya bisa jemput kamu, Na." Nana tertawa tanpa suara mendengar omelan mama sambungnya ini.
"Bik, bawakan koper Nana ke dalam!" Perintah Ayu pada asisten rumah tangganya.
"Kalau minta jemput, mama gak akan terkejut kayak tadi dong?" tanya Nana.
"Iya sih, tapi kan kamu gak perlu naik taxi sayang."
"Kalau kamu nyasar gimana?"
"Ma, aku gak akan nyasar, Ma. Baru juga 3 tahunan aku diluar negeri," jawab Nana.
***
Malam harinya.
"Jadi, mereka nyusulin kamu kesana, Na?" tanya Hadi saat Nana menceritakan bahwa teman-temannya menyusul ke Bali dan mereka pulang bersama ke Jakarta.
"Iya, Pa. Sekalian liburan. Setelah lulus, ini moment pertama kami liburan bareng."
"Ada Bara juga dong?" tanya Ayu sambil senyum-senyum.
"Ya, ada ma. Kan Nana sebut namanya tadi."
"Ehmm...Gak ada tanda-tanda cinta yang akan bersemi lagi nih?" goda Ayu.
Nana tertawa. "Kita lihat nanti ya, Ma."
"Kalian kemana saja?" tanya Hadi. Nana menyebut banyak tempat wisata di daerah Bali yang sempat mereka datangi.
"Seru dong, Na?" tanya Hadi dan Nana mengangguk.
"Mama kamu apa kabar, Na? Mama jadi pengen liburan ke Bali lagi." tiba-tiba Ayu menanyakan mantan istri suaminya yag kini menjadi sahabat sekaligus saudara baginya.
"Terakhir tahun lalu, pas libur sekolah Syakiel."
"Syakiel juga mau kesana lagi, Ma," sambung bocah kelas tiga SD itu.
"Asyiikk!" Teriak Syakiel. "Janji kak?"
"Janji..."
***
Seminggu Nana di Jakarta. Sebuah pekerjaan baru ia jalani. Menjadi salah satu staff keuangan di kantor papanya sendiri.
Hampir semua orang mengetahui siapa dirinya karena dengan gamblang Hadi memang memperkenalkan Nana sebagai putrinya di depan seluruh karyawan kantor.
Terkadang Nana merasa risih karena semua orang di perusahaan itu menatapnya sungkan. Kadang ada juga yang memberi hormat dengan mengangguk dan membungkuk. Nana rasa itu sangat berlebihan, tapi ia juga tidak mungkin menegur satu persatu, meminta mereka untuk tidak bersikap demikian.
"Selamat pagi, Bu Selena!" Dialah seorang anak magang berwajah tampan yang selalu mondar mandir berkeliling hanya untuk mengantar dan menjemput berkas yang akan atau telah di fotocopy.
"Selamat pagi, Sam." Ya, namanya Samuel.
"Butuh kopi?" tanya pria itu sambil cengengesan karena menyadari itu bukan tugasnya.
"Kamu mau magang jadi OB?" tanya Nana sambil mengentikan langkahnya karena pria berkemeja putih itu bicara padanya.
"Ya enggaklah, Bu. Saya cuma bisa pesankan." Pria seusia Nana itu tertawa kecil.
"Iya deh, mentang-mentang salah satu OB disini sohib kamu." Nana memang mengetahui bahwa salah satu OB adalah sahabat Sam saat SMA yang kurang beruntung karena tidak bisa melanjutkan kuliah.
"Saya duluan, Sam." Nana meninggalkan Sam yang masih terpukau dengan kecantikannya. Padahal Nana hanya memakai setelan rok pensil selutut dan kemeja putih yang ia lapis dengan blazer.
Nana masuk ke ruangan dimana terdapat banyak kubikel di dalamnya. Ia duduk di kursi kerjanya dan mulai menghidupkan perangkat komputernya.
"Pagi, Na..." Sapa gadis dua tahun lebih tua darinya. Salah satu gadis yang tidak memandangnya sebagai putri Hadi Wirya.
"Pagi juga, Mbak Salsa," balasnya. Nana membersihkan meja kerjanya dari debu yang menempel dengan tissu yang tersedia diatas meja.
"Kerjaan kemarin, belum gue beresin, Na." Curhatnya pagi-pagi buta.
"Pusing banget nih kepala. Hidung gue udah kayak tomat. Lihat, nih!" ia menunjuk hidungnya dan menghadap kearah Nana.
"Lagian, flu datang gak pake permisi dulu!" Wanita itu tampak menghidupkan perangkat komputernya dan membersihkan meja kerjanya dari debu yang menempel. Lantas membuka berkas yang harusnya ia kerjakan sejak kemarin.
Nana tertawa kecil. "Pagi-pagi udah ngomel, mbak! Pamali tau!"
"Bodok amat Na! Mau pamali atau bukmali, yang penting hati gue plong! Hidung gue udah mampet masa iya hati gue ikutan mampet juga!"
"Duh! Semoga aja gak pagi-pagi buta berkasnya diminta bu Berta." Salsa menyebut nama atasan mereka.
Nana hanya bisa menggeleng pelan mendengar ocehan rekan kerjanya ini.
"Pagi, Selena!" Sapa seorang pria yang meja kerjanya tepat di depan Nana. Hanys berbatasan dengan sekat terbuat dari kaca yang tingginya sekitar setengah meter diatas meja.
Nana sebenarnya sedikit kurang nyaman dengan pria yang suka mencuri pandang padanya itu. Tapi ia hanya berusaha profesional dan tidak ingin memanfaatkan statusnya untuk sembarangan meminta bertukar kubikel dengan karyawan lainnya.
"Pagi, Pak Dodit," balasnya menekankan kata Pak karena pria itu berusia lebih dari tiga puluh tahun. Tidak tampan, tapi sok ke cakepan.
"Pagi-pagi udah sibuk, aja. Belum juga masuk jam kerja!" Pria itu bukannya menghidupkan perangkat komputer miliknya, tapi malah duduk bersandar di kursi sambil memutar-mutar penanya.
"Pak Dodit harusnya bisa memberi contoh yang baik pada juniornya." Sindir Salsa yang sedang fokus pada layar komputernya.
"Tunjukkan semangat bekerjanya, bukan malah leye-leye di kursi. Saya rasa, orang dengan jabatan setinggi Pak Hadi juga gak sempat melakukan apa yang anda lalukan sekarang," sindiran Salsa membuat Nana hanya bisa menahan senyum.
Ia tahu banyak yang tidak suka dengan kelalukan pak Dodit. Tapi selama ini hasil kerjanya tidak pernah mengecewakan hingga ia tidak pernah terancam di Phk atau dipindahkan ke bagian lain.
***
Jam makan siang...
Ponsel Nana berdering. "Hallo, Bar!" sapanya. Salsa dan Dodit menatap Nana. Keduanya penasaran dengan pria yang ia panggil Bara itu. Pria itu selalu mengajaknya makan siang bersama dan pernah juga sekali mengirim makanan pada Nana saat ia lembur kerja.
"Oke. Pesankan nasi soto aja, Bar! Gue lagi pingin!" Nana berdiri dan siap meninggalkan meja kerjanya. Ia meraih tas jinjingnya dan berjalan keluar.
"Hahah... Ngidam apaan? Siapa juga bapaknya? Hahahah." Nana tertawa dan perlahan tubuhnya menghilang setelah melewati pintu.
"Itu pacarnya, Sa?" tanya Dodit pada Salsa. Gadis itu bersiap keluar dari ruangan menuju kantin perusahaan.
"Mana gue tau!" jawabnya acuh. "Suaminya kali!"
"Kata pak Hadi dia masih single!" jawab Dodit. "Masa iya, bokapnya bohong!"
"Single bukan berarti gak ada yang punya ya, Pak Dodit! Lagian kenapa sih tanya-tanya?" Salsa mulai kesal karena menganggap Dodit sedang berusaha mendekati Nana.
"Gak usah ngarep deh! Dia juga gak mau sama situ!" Salsa meninggalkan Dodit yang menatap sinis pada gadis yang selalu bicara blak-blakan itu padanya.
****
Nana udah masuk lingkungan kerja dan semoga Bara gerak cepat karena saingan dimana-mana 😄😄😄