
"Lo?"
"Astaga? Dunia kenapa bisa sesempit ini?" keluh Bara saat melihat wajah Dimas yang juga tampak terkejut.
"Lo pacaran sama mbak Salsa?" tanyanya masih dengan rasa tidak percaya.
Ini mbak Salsa loh, teman kantor Nana dan kami gak ada yang tau tentang hububgan mereka? Dimas gak lagi sewa pacar kan?
"Ini cewek yang lo maksud, Dim? Lo seriusan?" Sulit di percaya oleh Bara. Tapi tidak mungkin juga seorang Dimas asal menyebut seorang gadis dengan panggilan sayang.
Ia faham, Dimas yang ia kenal memang seperti itu, serius dan lebih banyak aksi daripada bicara. Selama ini sahabatnya itu tidak pernah bercerita apapun mengenai gadis manapun. Wajar saja jika Dimas sepertinya selangkah lebih maju darinya. Bara sendiri masih gugup bahkan enggan memanggil Nana dengan sebutan sayang.
Sialan! Berarti ucapannya untuk merebut Nana saat di Bali bulan lalu cuma gertakan? Karena Dimas gak mungkin bawa mbak Salsa kalau dia masih baru mengenalnya.
Gue rasa, Dimas gak segegabah itu.
Dimas mengerutkan keningnya melihat reaksi Bara yang sepertinya berlebihan.Jujur saja, ia tidak tahu kalau Bara mengenal Salsa. Bahkan sahabatnya itu memanggil dengan sebutan mbak, seolah Bara begitu akrab dengan gadis yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu.
Ia hanya tahu bahwa Salsa bekerja diperusahaan yang sama dengan Nana, tapi keduanya sama sekali tidak pernah membahas terlalu jauh mengenai pekerjaan masing-masing. Dimas tidak ingin terlihat membatasi atau terlalu ikut campur mengenai pekerjaan gadis itu.
Ia percaya sepenuhnya bahwa Salsa juga memiliki niat yang sama sepertinya, yaitu serius dalam menjalin hubungan mereka.
Dimas mengangguk. "Lo kenal?" tanyanya.
Bara tertawa tanpa suara. "Habis lo sama Nana!" Bara menunjuk wajah Dimas.
Huh! Udah gue duga! Pasti Bara kenal Salsa dari Nana. Harusnya gue tanya ke Salsa mengenai Nana. Gak mungkin Salsa gak kenal Nana yang notabenenya anak pemilik perusahaan. Batin Dimas.
Sementara Salsa hanya bisa menatap dua pria yang tampaknya sangat akrab itu. Salsa tidak menduga, Dimas Ardiansyah yang ia kenal baik itu juga mengenal Bara dan Nana.
"Mbak, ayo!" Bara menangkap pergelangan tangan Salsa dan membawanya ke arah Nana.
"Bar!" panggil Dimas. "Mau dibawa kemana cewek gue!" Dimas mau tak mau mengikuti arah Bara membawa gadisnya.
"Ck! Cewek lo!" gumam Bara geli mendengar kata-kata teraneh itu dari bibir Dimas.
"Bang Dim, gue minjem sebentar doang!" Bara terus membawa Salsa menuju tempat dimana Nana dan Zahra berdiri.
"Na..." panggil Bara dan Nana langsung melihat kearahnya.
Nana sempat ingin marah saat Bara datang bersama seorang gadis.
"Lihat! Gue bawa siapa?" Bertepatan dengan Nana yang menatap wajah gadis itu.
"Mbak Salsa...??" ucapnya terkejut. "Kenal sama yang nikah?" tanya Nana tak sabar karena ia tak menduga teman akrabnya di kantor juga ada di tempat ini.
"Kerabatnya Putra atau Sherly?" lanjut Nana.
Salsa nyengir, menunjukkan gigi putihnya. Ia sendiri tidak tahu harus memberi jawaban apa. Ia sama sekali tidak mengenal sepasang pengantin yang mengadakan resepsi malam ini.
"Kamu jangan tanya dia, Na."
"Tanya nih anak!" Bara menarik jas Dimas dan terkekeh. Tubuh Dimas sampai maju selangkah mendekat dengan mereka. "Dia yang bertanggung jawab, Na!"
Mata Nana membulat sempurna. "Mbak Salsa dateng sama dia?" Nana menunjuk Dimas yang masih bisa staycool padahal Nana akan membawanya ke meja persidangan. Hahaha.
Salsa mengangguk pelan. "I...iya, Na."
"Dia... dia... yang buat mbak se-nyum... senyum kemarin?" tanya Nana tanpa sadar membongkar kelakuan Salsa.
Gadis di depannya itu tersipu lalu mengangguk pelan.
"Cin...cin... itu..." Nana menunjuk cincin di jari tangan Salsa yang kemarin sempat Nana minta untuk dilemparkan saja ke luar jendela.
Salsa kembali mengangguk. Sementara Dimas sedang berbunga-bunga hatinya karena baru mengetahui bahwa Salsa begitu senang menerima hadiah darinya.
"Oh, God!" Nana tertawa senang. "Cocok sih kalian." Nana memeluk Salsa.
Bara, Dimas, Calvin dan Zahra yang kebetulan agak lola hingga sulit memahami apa yang sebenarnya terjadi, mendadak melongo tak percaya.
"Semoga cepat menyusul Putra sama Sherly."
Nana melepas pelukannya dan beralih pada Dimas. "Diem-diem, gerak lo cepat juga!" sindir Nana.
"Semoga langgeng!"
"Cincinnya ganti sama yang agak gedean dikit. Ya kali, juragan minimarket cincinnya kecil kek kutu!" Ejek Nana.
"Yang juragan bokap gue kali, Na," Sangkal Dimas. Ia hanya sedang berusaha belajar untuk meneruskan usaha orang tuanya. Ia belum sepenuhnya mewarisi usaha orang tuanya itu.
"Ck! Minimal kecipratan dikitlah, Dim!"
"Awas lo macem-macem!" tuding Nana ke wajah Dimas. "Jangan lo sakiti mbak Salsa!"ancamnya lagi.
"Iya... iya..." Ucap Dimas pasrah.
Mereka segera berkumpul di satu meja yang sama karena acara akan segera di mulai.
Putra dan Sherly begitu serasi saat untuk pertama kalinya mereka berjalan bergandengan menuju plaminan dengan dekorasi serba softblue.
Acara berlangsung begitu meriah. Bahkan Calvin dan Zahra tak segan-segan menyumbangkan suara emas mereka.
"Untuk Putra dan Sherly, our best friend yang sudah bersama sejak.... "Calvin berfikir sejenak.
"May be hampir 7 tahun, ya..."
"Satu lagu, dari gue dan si mantan K-Pop Lovers." Tamu undangan tertawa namun gemuruh tepuk tangan juga tak kalah heboh.
Sebuah lagu berjudu A thousand years yang dinyanyikan oleh Christina Perri menggema di ball room hotel. Sebuah lagu yang menceritakan tentang kesetiaan dan cinta yang tak luruh meski waktu telah berlalu.
Dan acara paling di tunggu para single pun tiba. Pelemparan buket bunga yang menjadi bagian penting dari keseruan acara pesta pernikahan itu.
Putra dan Sherly masih berdiri menghadap ke depan. Ada banyak gadis yang sudah berdiri di depan plaminan. Tapi keduanya melihat dimana posisi sahabat-sahabat mereka.
"Target kita Nana!" bisik Sherly pada Putra.
"Hanya untuk yang single ya bu-ibu..." semua orang tertawa saat seorang pemandu acara memperingatkan bahwa acara ini hanya untuk para gadis dan pemuda yang belum menikah.
"Kami single...!" teriak para cewek yang sudah bersiap menangkap buket bunga.
"Loh, entar kalau dapet buketnya, mau minta nikahi siapa, mbak?" canda pemandu acara yang merupakan seorang pria berusia 27 tahunan itu.
"Kan masih single? Belum punya pacar kan?"
"Minta nikahi, mas nya aja!" teriak gadis-gadis itu kompak.
"Eh!" Pemandu acara itu pura-pura terkejut. "Kalau gitu, mas Putra, kasih ke saya aja buketnya, terus saya bisa pilih salah satu dari mereka, gimana?" tanya pria berjas rapi itu.
"Setuju gak bu-ibu?"
"Setuju!!!" Sorak tamu undangan yang lain.
"Gak maju, Na?" bisik Bara yang duduk di samping Nana.
Nana tertawa pelan. "Enggaklah!"
"Siapa tahu pengen cepat nyusul."
Nana menatap Bara. "Gak percaya begituan, Bar!"
"Na, ayo sini!" Zahra melambaikan tangan kearah Nana. Gadis itu sudah berdiri dibarisan paling belakang.
Nana menggeleng. Tapi Zahra menariknya hingga ia ikut berdiri. "Mbak Salsa, ayo ikut!" ajak Zahra juga.
"Buat seru-seruan aja! Ya kali, kalian tega lihat Putra sama Sherly. Mereka pasti sedih karena kalian kayak gak menikmati pesta ini!"
"Vin, Dim, Bar! Ayo!" Ajak gadis itu juga.
"Hayuklah!" Calvin segera berdiri dari kursinya. "Buat nge-ramein acara!"
Mereka akhirnya ikut berdiri meski dibarisan paling belakang.
"Sherly....! Lempar ke sini!" teriak Zahra pada pengantin yang sudah bersiap.
"Oke... kita mulai yaaaa!"
"Yaaaaa!" Sorak pemandu acara dibalas terikan oleh mereka semua.
Putra dan Sherly sudah berbalik dan memunggungi mereka. "Satu... dua... tiga....!"
Buket bunga terlempar jauh kebelakang. Nana dan Salsa yang berdiri berdekatan mendadak memalingkan wajah karena buket bunga itu melayang kearah mereka.
"Hap!" Bara dan Dimas yang berdiri dibelakang gadis itu sama sama berhasil menangkap buket itu.
"Yeeeee!" Sorak semua orang.
"Wah, masnya jangan rebutan dong!" Ucap pemandu acara membuat Putra dan Sherly langsung berbalik melihat siapa yang mendapatkan buket bunga itu.
Keduanya tertawa saat melihat Bara dan Dimas menangkap buket itu. Nana dan Salsa juga terkejut saat melihat ke depan dan buket bunga itu melayang di depan wajah mereka.
Dimas melepaskan buket itu. "Buat lo aja, Bar!"
"Buat lo aja!" Bara memberikan buket itu ke dada Dimas.
"Lo aja!"
"Lo aja, Dim!"
"Lo aja, Bar!"
Perdebatan mereka menjadi tontonan tamu undangan.
"Udah... udah!" Pemandu acara mencoba menghentikan perdebatan mereka.
"Sini, saya bagi dua aja buketnya, gimana?"
Putra dan Sherly mengangguk setuju.
"Gak perlu." Bara mengangkat tangannya agar pemandu acara tak perlu turun dari panggung plaminan.
Bara yang masih memegang buket itu di dadanya, menatap Nana dan Salsa yang sedang menatap dirinya dan Dimas bergantian.
Bara tersenyum simpul. "Buat kamu!" Bara meraih tangan Nana dan memberikan buket bunga itu padanya.
Semua tamu menatap dan bersorak kearah mereka berdua.
Nana membulatkan mata. Bara mendekat dan berbisik. "Ada tidaknya buket itu ditangan kamu, aku akan tetap membawamu kearah yang sama, plaminan!"
Suara sorakan host, tamu dan teman-temannya tak lagi Nana pedulikan. Ia masih terpaku mendengar kata terakhir yang Bara ucapkan. Plaminan.