
"Diandra juga apa kabar ya, Bar!" tanya Nana yang sepertinya masih memikirkan kemunculan Dillara yang tiba-tiba.
Diandra juga menjadi salah satu gadis yang turut menjadi batu sandungan dalam hubungannya dengan Bara dulu.
Melihat Dillara yang sudah menikah dan memiliki anak, apakah Diandra juga sama?
Bara mengangkat bahunya. "Entah! Aku juga gak tau kabarnya dia."
"Masa?" tanya Nana.
"Sosial medianya, kamu tahu gak?" tanya Nana lagi.
Bara menggeleng. "Sejak ke Jerman, ya cuma Putra Cs yang masih selalu kasih kabar ke aku selain orang bengkel dan keluarga."
"Teman sekolah yang lain...." Bara menggeleng. "Lagian kamu kenapa sih? Nanyain Diandra segala. Dia udah bahagia kali, Na."
"Enggak sih, cuma kan, katanya kalau orang mau menikah itu banyak banget cobaannya."
"Salah satunya, mantan yang tiba-tiba nongol lagi." Begitu yang Nana dengar dari orang-orang.
Bara tertawa. "Aku gak punya mantan!" tegasnya. "Selain kamu!"
Nana tertawa. "Yakin tuh!"
"Iyalah!"
"Di Jerman?" tanya Nana dan Bara menggeleng.
"Sukanya produk lokal," sahut Bara cepat.
"Hahaha... kurang asem!" Keduanya tertawa bersama.
"Kapan kita ke Singapur, Na?" tanya Bara.
"Ngapain?" tanya Nana. "Libur panjang masih lama, Bar!"
"Kamu belum pernah ketemu sama kak Samara, kan?"
Nana menggeleng. Kakak perempuan Bara yang satu itu memang jarang kembali ke Indonesia. Karena kesibukannya membantu suaminya di sebuah restoran seafood yang mereka rintis bersama.
Saat pertunangan kemarin, Samara tidak bisa hadir karena ia memiliki bayi yang baru berusia 1 bulan.
"Belum."
"Nah, kapan-kapan kita kesana, ya... Dia baru ngelahirin sebulan lalu, jadi gak bisa datang ke acara pertunangan kita."
"Singapura, dua hari cukuplah!" lanjut Bara.
"Jumat malam kita berangkat, minggu sore kita sudah landing lagi di Jakarta. Gimana?" tanya Bara.
"Sekalian, healing!"
Nana diam sejenak. "Aku coba minta izin papa dulu, Bar!"
"Ck! Soal minta izin, itu tugasku Na. Kamunya mau gak?"
Nana mengangguk. "Ya aku mau! Kalau papa mengizinkan."
"Tenang! Aku yang akan bicara sama Om Hadi."
"Kita berdua aja?" tanya Nana.
"Mungkin iya. Tapi belum tahu juga. Papa mau ikut atau enggak."
"Mama Tamara, udah kesana sebulan lalu. Jadi, kayaknya mama gak akan ikut kita."
"Kamu atur deh, Bar!" Nana menyerahkan semuanya pada Bara.
***
Mereka tiba di rumah pada malam hari dan Hadi meminta Bara agar jangan pulang dulu. Mereka akan membahas beberapa hal penting.
"Kalian mau konsep pernikahan yang seperti apa?" tanya Hadi pada keduanya yang sedang duduk dihadapan pria itu.
Nana dan Bara saling tatap. Keduanya belum membicarakan hal ini. Karena mereka merasa masih lama dan pertunangan baru berlangsung beberapa hari yang lalu.
"Kalian belum fikirkan ini?" Keduanya menggeleng.
Hadi menghela nafas. "Bicarakan hal ini segera. Agar lebih mudah saat kalian menemui W.O untuk rencana pernikahan kalian."
Nana dan Bara mengangguk. "Iya, Pa. Segera."
Hadi menunjukkan polselnya. "Papa udah cari gedung, ya meski tidak turun langsung, tapi beberapa orang merekomendasikan beberapa tempat yang papa rasa bisa untuk kita pertimbangkan."
"Kalian pasti juga belum membahas mengenai pesta indoor atau outdoor juga."
"Kalian lihat-lihat dulu, dan nanti kita bahas lagi."
Nana dan Bara melihat beberapa foto di ponsel itu. Ada taman yang lumayan luas. Ada juga gedung dan hotel.
"Nana pengennya sih outdoor, pa! Paginya akad, dan malamnya resepsi."
"Pakai tempat yang sama aja. Hemat waktu dan biaya."
"Aku terserah kamu, Na."
"Tapi aku khawatir, kalau kita pilih outdoor. Karena cuaca kadang kan gak menentu. Kalau tiba-tiba hujan, kasian tamu yang datang!" lanjut Bara.
"Papa setuju."
"Mama juga sepemikiran, Na."
Nana diam sejenak. "Ya udah, stop pembicaraan ini. Papa salah cari waktu sepertinya. Kalian pasti capek kan..."
"Lain kali kita bahas ini lagi," lanjut Hadi.
"Ah, ya Bar! Om cuma mau bilang. Biaya pernikahan kalian, baik gedung ataupun dekorasi dan katering, nanti akan om bantu."
"Insyaallah, soal biaya Bara masih sanggup, Om."
"Semua itu udah jadi kewajiban Bara. Bara akan melakukan semua yang Nana inginkan termasuk pernikahan ini."
"Soal konsep dan semua urusannya, biar Bara dan Nana yang urus, Om. Om sama tante gak perlu repot-repot. Kalian gak boleh capek mengurus semua ini."
Hadi dan istrinya sepertinya menunjukkan ekspresi tidak suka dengan ucapan Bara yang seolah melarang Hadi dan Ayu untuk ikut campur mengenai urusan pernikahan mereka berdua.
Nana khawatir karena melihat perubahan ekspresi kedua orang tuanya. Ia takut akan terjadi perdebatan antara Bara dan kedua orang tuanya.
"Om tidak setuju, Bar!"
"Kalian cari W.O. Pilih gedung, pilih konsep. Terserah mau yang seperti apa."
"Om akan kasih masukan kalau memang ada yang kurang selama persiapan nanti."
"Dan soal biaya, itu tidak murah, Bar! Belum lagi mahar dan seserahan yang harus kamu persiapkan."
"Om tidak meremehkan atau meragukan kemampuan kamu. Om tahu kamu bisa mengatasi semuanya."
"Tapi, kan akan ada baiknya kalau sisa uang kamu, ditabung saja. Untuk keperluan kalian setelah berumah tangga."
"Toh, semua itu nantinya juga untuk Nana, Bar!"
"Om harap kamu tidak salah faham." Hadi hanya ingin meringankan biaya yang akan Bara tanggung nanti. Lagi pula, sebagian besar tamu undangan adalah keluarga dan rekan bisnisnya.
Nana juga merupakan putri satu-satunya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya itu di hari pernikahan yang ia haral hanya sekali seumur hidup.
Bara diam. Ia sebenarnya juga bingung. Tujuan ia mengatakan agar Hadi tidak mengurus semuanya sebenarnya agar pria patuhbaya itu tidak stress atau kelelahan.
Dan soal biaya. Jujur saja, sudah lebih dari cukup. Dan waktu 6 bulan lagi, juga masih bisa untuknya mengumpulkan biaya tambahan jika bengkel masih terus ramai.
"Gini deh, Pa." Nana mencoba menengahi. Ia sendiri merasa suasana sudah mulai tidak enak. Bara yang diam dengan wajah lelahnya, ditambah papanya yang sepertinya salah mengartikan kalimat Bara membuat Nana terpaksa bicara.
"Gimana kita bahas weekend ini. Kita dinner bareng sama keluarga besar Bara."
"Nana juga harus banyak ngobrol sama Bara, Pa."
"Banyak hal yang harus dipertimbangkan."
"Nana juga mau cari referensi di sosmed mengenai konsep dan segala macamnya."
"Jadi, Nana rasa apa yang papa katakan bahwa pembahasan ini kurang tepat waktunya, itu benar."
"Nana ada benarnya..." Ayu membenarkan. "Kamu terlalu antusias, Mas. Anak-anak bahkan belum membahasnya." Wanita itu mengelus bahu suaminya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
"Mereka masih menikmati status mereka yang baru aja berubah, satu langkah lebih dekat dengan pernikahan." Nana mengaguk membenarkan.
"Tunda dulu, deh. Seminggu atau dua minggu, Mas."
"Bara perlu tukar fikiran sama orang tuanya. Nana pasti juga ingin minta pendapat kita." Hadi menghela nafas.
Dan akhirnya pembicaraan ini selesai setelah Ayu menengahi. Dan Bara langsung pamit pulang karena hari juga sudah semakin malam.
"Hati-hati, Bar!"
Bara mengangguk dan tersenyum hambar. Nana tahu, Bara juga sedang tidak baik-baik saja.
Nana langsung ke kamarnya. Ia segera mandi. Sebelum tidur, Nana mengirimkan pesan pada Bara.
📨 Sayang
^^^Sorry atas keinginan papa yang mungkin melukai harga dirimu.^^^
^^^Aku tahu, papa gak bermaksud begitu, Bar!^^^
^^^Papa tulus mau bantu kamu.^^^
Tak lama Nana mendapat balasan dari Bara. Ponselnya bergetar beberapa kali.
Aku tahu, tapi apa salah kalau aku ingin menanggung semuanya. Ini pernikahan kita, Na. Dan aku gak mau merepotkan siapapun termasuk papa aku sendiri.
Aku mau kita belajar bekerja sama dan saling tukar pendapat sebelum akhirnya kita berumah tangga dan memutuskan apapun itu hanya berdua.
Kelak, kita juga gak boleh memuat orang tua kita terlalu ikut campur urusan rumah tangga kita, Na.
Kita bahas ini lain waktu, ya. Semoga nanti akan ada jalan tengahnya.