
Waktu terus berlalu, Sebulan sudah dan kini orang tua Bara resmi bercerai. Dan Bara memilih pindah ke sebuah apartemen milik papanya.
Rumahnya saat ini kosong karena Wawan memilih rumah lain yang kelak akan ditinggalinya bersama istri barunya
Tamara juga memilih keluar dan tak lama lagi, ia akan tinggal bersama suami barunya setelah menikah nanti.
Bukan keputusan berat bagi Bara untuk tinggal sendiri. Ia bisa hanya sekedar untuk menyapu, mencuci atau memasak menu sederhana. Hitung-hitung belajar menjadi lelaki mandiri.
Bara menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Ia baru saja pulang sekolah. Ia mengedarkan pandangan ke kamar di unit apartemennya di lantai 20 itu.
"Makasih, Na. Berkat lo gue merasakan kelegaan seperti ini."
"Berkat saran lo, gue bisa membebaskan diri gue sekeluarga dari hubungan gak sehat yang selama ini kami jalani."
"Kalau gue tahu caranya sesimple ini, gue udah lakuin dari dulu."
"Tapi..." Bara mengangkat bahu. "Mungkin alasannya memang harus melalui lo, Na." Bara tersenyum miring. Ia merasa kalah jauh dari gadis itu.
"Lo bisa berfikir sebijaksana itu di usia lo yang terbilang muda," gumam Bara. Ia diam untuk beberapa saat. Entah apa yang ia fikirkan sambil menatap langit-langit kamar itu.
"Huuuhh." Ia menghembuskan nafas berat. "Tentu karena dia terlahir dari orang tua yang hebat."
****
Sepulang sekolah, Nana mampir ke sebuah cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Nana. Ia ingin membelikan makanan untuk Syakiel dan mamanya di cafe yang baru buka itu.
Nana memesan dan mengatakan untuk dibungkus saja. Nana menunggu di salah satu kursi paling pojok.
Ia mengeluarkan ponsel dari kantong roknya. Ia langsung terfokus pada benda petak nan canggih itu.
"Malam ini, gue akan eksekusi." Suara yang Nana kenal terdengar samar di telinganya.
"Udah cukup Bara ngeremehin gue!" Suara itu terdengar seperti pemiliknya menahan geram.
"Bahaya gak sih Dil?" tanya suara yang lain.
Nana mengedarkan padangannya saat mendengar nama Bara disebut. Nana mencoba mencari siapa orang yang menyebut nama Bara.
Dan matanya terbuka lebar melihat seseorang yang ia kenali duduk dengan 2 temannya yang lain.
"Dillara," gumam Nana pelan saat melihat gadisi itu tepat di belakangnya. Mereka duduk di luar ruangan. Nana melihat dari dinding kaca yang lumayan tebal.
"Bahaya atau gak, yang penting gue harus buat dia bertekuk lutut." Gadis itu tersenyum remeh.
"Gue gak ikut-ikut deh!"
"Gue juga! Lagian malam ini gue mau ke puncak sama pacar gue."
Keduanya menolak ikut dalam rencana busuk Dillara.
"Lo berdua memang gak bisa diandelin. Tapi terserah lo. Gue bisa gerak sendiri."
"Dengan bantuan cuan! Apapun bisa gue dapetin."
Mereka punya rencana apa untuk Bara? Gue gak harus gagalin. Gue gak bisa diem aja. Selama ini gue fikir hubungannya sama Bara itu sangat baik sampai-sampai gue mundur buat perjuangin Bara. Sampai-sampai gue buang jauh-jauh perasaan gue demi bisa terus kuat untuk berteman dan melihat wajah Bara.
Ternyata selama ini gue salah. Gue melepas Bara untuk seekor ular. Lihat Dillara! Gue akan gagalin rencana lo.
"Malam ini, di club X."
Nana mendelikan matanya. Ini gawat. Dia punya rencana apa di club itu.
"Kalau lo hamil gimana?"
"Terserah. Kalau dengan begitu, Bara jadi milik gue, why not?"
Ini gila. Bener-bener gila!
Nana segera meninggalkan tempat itu setelah pesanannya selesai. Ia terus menghubungi nomor Bara tapi tidak di jawab.
Ia mengirimkan pesan chat, tapi tidak kunjung dibaca.
Menjelang malam, Bara juga belum ada kabar. Nana mondar mandir di kamarnya. Ia menggigit kukunya dan mulai berfikir.
"Kalau gue kesana, bahaya gak ya? Gue kan belum pernah masuk ke tempat begituan?"
"Kalau gue diem aja, keburu Bara dipatok kobra."
Nana kembali memeriksa ponselnya. "Ini Bara kemana lagi, sih! Dari siang, pesan gue gak dibaca! Telpon gue gak diangkat!"
"Gak bisa! Gue gak bisa diem aja! Gue harus gerak!"
Nana bersiap. Ia memakai jeans panjang dan sweaternya. "Kalau gue begini, yang ada gue gak bisa masuk ke sana!"
Nana berfikir cepat. "Oke. Gue ada ide!"
Nana mengambil sebuah dress dari dalam lemarinya. "Kalau gue pakai dress ini untuk masuk kesana yang ada gue kayak orang cupu." Ia membentangkan dress yang panjangnya selutut dan berlengan panjang.
"Bodoh amat! Waktu gue gak banyak." Nana memasukkan dressnya ke sebuah paperbag. Ia segera turun dan mendapati papa, mama dan Syakiel sedang menonton tv.
Aduh! Jawab apa gue!
"Ehm... ke rumah Bara sebentar pa. Kembaliin bukunya. Tugasnya banyak dan harus segera kerjakan, Pa. Dan Bara belum mulai sama sekali. Kasihan kalau dia kena hukum, Pa."
Hadi dan Ayu saling tatap seketika. "Kenapa gak Bara yang ambil, Na."
Aduh! Ini apa lagi. Udah dong papa.
"I... iya. Sekalian Nana mau beli... ada deh." Nana nyengir menunjukkan gigi putihnya.
"Teman Nana ulang tahun, Ma, Pa."
"Sebentar kok, Pa."
Sorry Nana gak jujur, Pa.
Nana mencium punggung tangan kedua orang tuanya setelah mendapatkan izin.
"Jangan pulang malam-malam sayang."
"Oke mama." Nana berjalan menuju pintu depan. "Nana pulang pagi, kok. Hahahah..." Dia tertawa lepas membuat Hadi dan Ayu juga ikut tertawa.
Nana melajukan mobilnya menuju rumah Bara. Sepi?batinnya karena tidak melihat mobil terparkir di luar rumah.
Nana bertanya kepada security yang berjaga di gerbang rumah itu.
"Permisi, Pak."
"Ya, ada yang bisa saya bantu, Neng?" tanya pria bertubuh besar itu.
"Ini benar rumahnya Sambara Dharmawan?" Nana belum pernah ke sini, tapi ia tahu alamat ini dari Zahra.
"Ya, betul Neng."
"Huuh! Syukurlah," ia bernafas lega.
"Saya temamnya, Pak. Boleh saya masuk?"
"Boleh, Neng! Tapi Den Baranya sudah pindah ke apartemen."
Nana terkejut. Ia menatap tak percaya kearah rumah besar dimana Bara sudah tidak lagi tinggal di sana.
"Haaa? Sejak kapan, Pak?"
"Baru beberapa hari ini."
Lo gak cerita apapun, Bar! Apa segitu gak berartinya gue?
Nana meninggalkan tempat itu setelah pria itu memberi tahu unit apartemen tempat Bara tinggal. Ia kecewa. Tapi keselamatan Bara jauh lebih penting untuk saat ini.
Nana melajukan mobilnya. Ia mengetuk stir berkali-kali. "Gue gak punya akses. Dan gue gak bisa masuk kesana."
"Gue coba telpon Bara lagi." Panggilannya lagi-lagi tidak dijawab.
"Tuh, bocah kemana sih?" omel Nana.
Nana mencoba menghubungi nomor telpon bengkel. "Gak diangkat. Pasti udah tutup. Besok kan hari minggu."
"Astaga, lo kemana sih, Bar. Pliss gak usah buat gue khawatir gini."
"Calvin!" Teriak Nana saat menyadari mobil di yang menyalip ke depan mobilnya.
"Tin... Tin... Tin..." Percuma, Calvin tidak menghentikan laju mobilnya.
Nana meraih ponselnya dan menghubungi pria yang menaruh hati padanya itu.
"Ah, Vin. Syukurlah." ucapnya pertama kali saat panggilannya dijawab.
"Na? Ini serius, lo telpon gue!" Suara diseberang sana tampak seperti orang yang mendapat undian dua M sangking speachlessnya.
"Iya. Lo bisa berhenti sebentar gak. Mobil gue dibelakang mobil lo. Gue kejer susah banget!"
"Lo stalking gue, Na."
"Sumpah! Demi apa!"
"Calvin, please! Ini emergency."
"Oke. Gue berhenti di depan minimarket."
Nana segera mencari minimarket yang di maksud Calvin. Dan ia bernafas lega saat Calvin benar-benar berhenti disana.
***
Bara kemana guys?