Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 23 BERHASIL SELAMAT



Calvin mendengar suara Nana yang seperti memberikan petunjuk pada mereka.


"VIP Room nomor 6 Bar!"


Bara mencari letak ruangan yang Calvin maksud. "Yang mana, Vin?"


"Itu! Koridor warna silver!" Calvin mendengar Nana menyebutkan koridor warna silver tadi.


Keduanya menelusuri tembok berwarna silver dan "Itu!" Tunjuk Calvin saat melihat angak 6 diatas pintu.


"Dobrak, Bar!" Calvin bersiap mengambil kuda-kuda untuk menendang pintu. Sementara Bara memegang handlenya.


Calvin melompat dan "Braak!" pintu itu terbuka. Bukan karena kekuatan kakinya yang bisa membobol pintu yang terkunci, tapi karena Bara yang lebih dulu menarik handlenya.


"Elaah! Gak dikunci!" Calvin kecewa karena aksi kerennya terasa sia-sia.


Keduanya melihat dengan jelas dua orang pria sedang berusaha menyakiti Nana.


"Wooo! Terong loyo! Beraninya sama cewek!" Ejek Calvin dengan seringainya.


"Siapa kalian!" Keduanya menatap tajam pada Bara dan Calvin.


Bara dengan santai menutup kembali pintu ruangan itu. Ia tak ingin keduanya kabur dengan mudah.


Nana yang telah dilepaskan, berjalan mundur berusaha menenangkan dirinya.


Bara ada disini? Dia baik-baik aja, syukurlah.


"Kami, tamu di tempat ini," jawab Bara singkat. "Tapi tadi, sekarang kami adalah malaikat mencabut nyawa kalian!"


"Hahaha.... bocah ingusan jangan ikut campur!"


"Keluar atau mati!" Ancam pria bertubuh kurus itu.


"Ah... banyak bac*ot!" Calvin maju beberapa langkah dan memberikan satu bogem mentah ke wajah pria kurus yang kumisnya tebal itu.


Pria itu terjengkang kebelakang dan memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan Calvin yang terlalu keras.


Calvin mendekatkan kepalan tangannya di bibir dan meniupnya pelan. "Baru satu pukulan dengan level sedang. Tapi lo udah berdarah!"


"Sialan!" Pria bertubuh besar itu menendang Calvin dan sayangnya meleset. Calvin melompat mundur dan tertawa senang.


"Diet dulu kalau mau nendang!" ejek Calvin. "Susahkan angkat kaki segede itu?"


Pria itu semakin geram. Ia kembali menyerang Calvin tapi gagal karena Bara lebih dulu menendang perutnya.


Pria bertubuh besar itu tersungkur dan keduanya kembali menghajar mereka hingga tak sanggup lagi berdiri.


"Ampun! Ampun! Kami cuma malaksanakan tugas!" Bara menahan tangan Calvin yang hendak memukul dua orang yang sudah tak berdaya itu.


"Siap yang nyuruh lo berdua!" Bentak Bara.


"Ka...mi gak tau. Tapi orangnya cantik, masih muda."


"Dillara!" gumam Nana tapi di dengar Calvin dan Bara.


Bara menatap Nana penuh tanya. "Gue tadi ngikuti dia." tunjuk Nana pada pria bertubuh besar itu.


"Dia lagi ngomong sama Dillara, seolah mengatakan lo ada di ruangan ini."


"Gue ikuti dia dan ternyata gue di jebak."


"Jadi mereka gimana?" tanya Calvin.


"Lapor polisi!" ucap Nana penuh dendam.


"Ampun, mbak. Jangan laporin kami ke polisi. Bagaiman nasib anak dan istri kami." Keduanya bersujud memohon pengampunan Nana.


Nana tersenyum kecut. "Kalian mikirin anak istri gak, pas mau perk*sa gue!" bentak Nana.


"Kalian mikirin anak gak, pas mau nyakitin gue!"


"Udah gue kasih tau, jangan macem macem sama gue atau kalian akan menyesal!"


Nana berjalan keluar. "Ayo! Kita keluar dari sini."


Bara dan Calvin mengikuti langkah Nana dan sebelum pergi, Bara mengunci pintu ruangan itu.


***


Sementara itu, Dillara marah besar karena tidak bisa mendapatkan Bara. Anak buahnya kehilangan jejak.


"Dasar bod*h!"


"Tinggal nangkap tikus lemah aja gak bec*s!" Makinya sambil meneguk asal minuman di meja. Itu adalah gelas ke empatnya dan ia mulai kehilangan kesadaran.


"Baraaaa...." jeritnya.


"Oke. Gue akan tunggu di ruangan!" Dillara berjalan sempoyongan menuju ruangan yang sudah ia persiapkan sebelumnya.


"Yang mana?" tanyanya sendiri. Ia tidak ingat ruangan mana yang sudah ia booking karena mabuk.


"Duugh!" Keningnya menabrak punggung besar yang pemiliknya sedang berjalan sempoyongan sambil memegangi dinding.


"Lo, si...apa?" Pria itu berbalik dan menyipitkan matanya agar bisa melihat Nana dengan jelas.


"Ah... Bara!" Nana langsung memeluk pria asing itu. Ia mengira pria itu adalah Bara.


"Sayang...!" Pria itu memeluk tubuh kecil Dillara. "Kamu gak... mau putusin ... aku kan? Kita gak boleh... putus... sayang..."


"Ayo kita ke ruangan... yang udah gue booking, Bar!"


"Ayo sayang! Aku... akan... memuaskanmu!"


"Aku... akan ... buktikan kalau... aku lebih hebat... dari... si pecund*ng itu...!"


Dua orang yang sama-sama mabuk itu berjalan sambil saling rangkul.


"Ruangan nomor 2, sayang!"


Pria itu berjalan sempoyongan dan menatap angka diatas pintu ruangan.


"Ah, ini dia...!"


Keduanya masuk ke dalam. Pria itu langsung menghujani Dillara dengan cium*an nakal. Perlahan tapi pasti pakaian keduanya sudah terlempar entah kemana.


"Ahhh!" Jerit Dillara saat selaput daranya berhasil di robek oleh pria itu.


"Kenapa... kamu berbeda, sayang!" tanya pria yang langsung memegang kendali atas Dillara. Bukannya berhenti, pria itu terus melanjutkan aksinya.


Gadis itu benar benar sudah jatuh tertimpa tangga. Gagal mendapatkan Bara, ia malah berakhir dengan pria yang sama sekali tidak ia kenali.


****


"Huuh!" Nana menghembuskan nafas lega saat ia berhasil keluar dari tempat itu. "Mau mat* gue kena asap rokok!" keluh Nana.


"Na..." Sherly dan Zahra langsung memeluknya erat. "Gue khawatir tau...!" Zahra memegang bahu Nana.


"Bibir lo berdarah, Na?" Sherly memberikan tissu dari tasnya.


"Iya. Mana pedih banget lagi!" Nana memegangi sudut bibirnya yang terasa pedih.


"Kenapa bisa jadi begini, sih?" tanya Sherly penasaran.


"Panjang ceritanya."


"Bara, lo gak kenapa-kenapa?" tanya Zahra.


"Gue gak apa-apa!" Jawabnya singkat karena ia terus memikirkan kenapa Nana sampai senekat itu?


"Kita balik sekarang! Polisi udah on the way!" ucap Calvin.


"Kenapa kita pulang, bukannya pelapor juga harus ke kantor?" tanya Nana.


"Cincai! Gue minta kasusnya diurus sama pengacaranya bokap! Entar dijalan gue urus semuanya!"


"Dim! Bawa mobil!" Calvin melemparkan kunci mobilnya pada Dimas. Dimas terkesiap dan langsung menangkap kunci mobil itu.


"Sher, bawa mobil Nana! Gue mau antar dia pulang!"


"Tapi..." Nana berusaha menolak.


"Bawel!" potong Bara.


"Masuk!" Bara mendorong tubuh Nana untuk masuk di kursi depan mobilnya.


"Tapi, Bar... gue gak enak sama Sherly dan Zahra." Nana yang dipaksa masuk memberotak.


"Gak apa- apa Na, kita enak-enak aja kok." Jawab Zahra sambil mengerling.


Zahra dan Sherly berbalik dan berjalan masuk ke mobil Nana. Dimas dan Calvin juga masuk ke dalam mobil.


Bara berjalan memutari mobil. Ia masuk dan duduk di sebelah Nana. "Pakai sabuk, Na!" perintahnya.


"Iya!" Nana memakai sabuk pengamannya. Bara juga melakukan hal yang sama.


"Sakit banget?" tanya Bara tiba-tiba saat mobil sedang melaju dengan kecepatan sedang.


"Haaa?" tanya Nana kaget karena ia sedang melamun tadi.


"Itu, sakit banget?" Bara menunjuk sudut bibir Nana.


Nana menyentuh sudut bibirnya dan meringis. "Gak terlalu, bisalah gue tahan!"