
"Pa, Bara pacaran sama Nana." Aku Bara pada Wawan yang sedang duduk di depannya.
Beberapa menit lalu, ia masuk ke ruang kerja Wawan dengan tekat untuk mengatakan perihal hubungannya dengan Nana.
Dia diam cukup lama dan akhirnya ia membuka percakapan dengan kalimat singkat yang langsung keintinya.
"Ehm... Nana, anaknya om Hadi." lanjutnya karena Wawan tidak menunjukkan respon apapun.
Wawan masih diam dan terus menatap putranya yang sedikit terlihat gugup.
"Kami... kami saling mencintai." Ucap Bara lagi.
Wawan masih diam. "Kalau papa gak merestui. Gak apa-apa. Tapi Bara gak akan mundur." tekadnya.
"Terus?"
Bara bingung. Terus apa?
"Bara cuma mau mengakui itu supaya papa gak menjodohkan Bara dengan siapapun lagi."
"Oke!" Wawan mengangguk.
Ha? Oke? Kenapa jadi gini sih.
"Papa keberatan?" tanyanya.
Wawan menyeringai. "Buat apa? Toh kamu sendiri yang bilang gak akan mundur meski papa gak setuju kan?"
Ah, iya.
"Jadi papa setuju?"
Wawan mengangguk. Dan Bara menghembuskan nafas lega.
"Tapi..." wawan menggantung kalimatnya.
Tapi apa?
"Jangan berulah! Hubungan papa dan Suryo sudah memburuk karena kelakuan anak-anak."
"Jangan sampai kesalahan kalian membuat hubungan papa dan Hadi juga memburuk."
"Siap, Pa." Jawabnya senang.
Bara bersiap bangkit dari kursinya.
"Kapan kita lamar!" Bara menegang. Ia kembali duduk di kursi karena terlalu kaget dengan pertanyaan papanya.
"Pa..."
"Kapan?" tanyanya lagi.
"Ya... ya gak sekarang, Pa."
"Kita juga baru pacaran. Kita juga masih muda."
"Masih panjang perjalanan yang akan kami tempuh, Pa."
"Jadi mau gini-gini aja?" tanya Wawan.
Bara berfikir sejenak. Ia bingung harus menjawab apa. Ya begini, jadi harus bagaimana? Masa iya gue lamar Nana? Bisa dijitak om Hadi gue!
"Kan Nana mau kuliah dulu, Pa."
"Yang kuliah tapi menikah banyak, kok!" jawab Wawan.
"Yang kuliah sambil menyusui juga banyak."
"Yang menunda kuliah karena melahirkan juga banyak!"
Bara mendadak pusing."Bara gak tau, Pa."
"Heem!" Wawan menyeringai. "Kalau gak tau rencana kedepannya gimana, gak usah berani pacari anak orang!"
"Papa kenapa dulu jodohin Bara sama Dillara, padahal Bara gak punya rencana apapun."
"Tapi papa punya rencana."
"Tapi rencana papa kalah cepat sama Dillara." Ejek Bara.
"Gak usah merambat kemana-mana! Balik lagi ke masalah kamu!" Wawan berucap tegas.
"Oke." Bara mengangguk setuju.
"Kamu masih mau pacaran?"
Bara mengangguk.
"Masih mau lanjut sekolah, lalu kuliah?"
Bara kembali mengangguk.
"Yakin, gak akan kebablasan?"
"Yakin, Pa." Jawanya.
"Ehm..." Wawan mengudap dagunya. "Kok papa gak yakin."
"Gak yakin kenapa, Pa?" tanya Bara.
"Yaaa.... gak yakin aja. Zaman sekarang, hotel murah meriah dimana-mana. Kamu tinggal di apartemen. Alat pencegah kehamilan ba..."
"Bara gak sebajing*an itu!" Selanya.
Wawan tertawa. "Waauu! Jiwa muda kamu masih mengebu rupanya."
"Setan itu ada dimana-mana, loh!"
"Wait!" Wawan mengac*ungkan jari telunjuknya. "Papa gak bilang Nana gimana-mana. Papa cuma bilang setan dimana-mana."
"Cerna kalimat papa dulu!"
Bara menghela nafas yang memburu. Ia sulit mengendalikan emosinya karena Wawan terus saja mengimbangi dirinya.
"Papa akan bicarakan ini pada Hadi."
"Pa... Jangan!" Larang Bara.
"Papa gak mau dia percaya begitu saja sama kamu."
"Pa, Bara kan gak melakukan apapun?"
"Belum, besok-besok gak tau."
"Papa kenapa gak percaya sama Bara, sih!" Urat lehernya sampai menonjol karena ia menahan geram.
Ia meninggalkan papanya. "Jangan pacaran dulu, kalau kamu masih menyelesaikan masalah dengan cara kabur-kaburan begini!"
Bara menyeringai dan menoleh sedikit. "Like father like son!" Ia meninggalkan ruang kerja Wawan.
Yang ia maksud like father like son adalah cara Wawan menyelesaikan masalahnya dulu. Setiap kali selesi bertengkar dengan Tamara, Wawan selalu pergi bahkan meninggalkan rumah sampai berhari-hari. Sama sepertinya saat ini. Meninggalkan Wawan saat pembicaraan mereka belum final.
Baginya Wawan terlalu berlebihan menyikapi hubungannya dengan Nana. Mereka masih baru menjalin hubungan, mengapa harus segera bertunangan.
Menjaga Nana, jelas ia bisa. Ia bukan tipe pria yang langsung kehilangan akal sehat meski sedang berduaan dengan seorang gadis.
***
Pagi ini Bara langsung ke sekolah karena Nana mengirim pesan bahwa gadis itu diantar oleh papanya.
Bara berjalan ke arah ruang kelas. Namun ia terkejut karena lengannya ditarik oleh seseorang.
"Na?" Bara terkejut karena Nana menariknya kesalahsatu sudut parkiran. "Ada apa?"
"Baraaaa!" Nana mengeraskan rahangnya dan kedua tangannya menggenggam menahan geram.
"Ada apa sih, Na!"
"Kamu bilang apa sama om Wawan, Baraaaa?" Nana memukul dada Bara berkali kali. Bara menangkap tangannya hingga Nana tak bisa berontak lagi.
"Bilang apa?" tanyanya bingung.
"Papa nyuruh aku sama kamu tunangan!" lirihnya. Matanya mulai berkaca.
"Om Wawan sama Papa ngobrol sampe malam. Terus pagi tadi papa bilang kita bakalan tunangan, Bar!" ucapnya pelan takut ada yang mendengar. Nana menatap nanar pria di depannya.
"Na, tenang yaaa..." Bara mengusap bahunya. Nana menggerakkan bahunya berusaha agar tangan Bara menyingkir.
"Aku cuma bilang kita pacaran." bisik Bara. "Tapi papa sepertinya mikir kejauhan."
"Jadi gimana, Bar?"
"Nanti aku coba bicara lagi sama Papa yaaa..."
"Kamu tenang." Bara menggandeng tangannya untuk berjalan menuju kelas. "Kamu jangan panik, yaaa."
"Tapi aku pun masih mau sekolah, Bar!"
"Iya sayang! Iya..."
"Bara!" Nana mendelik karena Bara berucap begitu santai meski benerapa orang murid menatap keduanya.
"Gak apa-apa. Biar ada yang panas!" Bara menunjuk seseorang dengan dagunya. Nana tertawa kecil melihat Diandra yang tampak tegang melihat kedekatan keduanya.
"Ngaku mantanku!" Bara menarik satu sudut bibirnya. "Mantan apaan." kesalnya.
Nana sudah menceritakan perihal kejadian di toilet tempo hari saat Diandra mengaku sebagai mantan Bara.
Bara hanya bisa menggeleng geli karena menurutnya terlalu berani Diandra mengatakan hal bohong seperti itu.
"Mantan fans berat."
"Kita akan balik lagi. Gak sekarang tapi one day." Nana menirukan cara bicara Diandra tempo hari. Lalu ia tertawa terbahak.
Bara mengusap kepalanya. "Biarkan dia terus bermimpi, Na."
"Kamu tuh yang jahat. Dikejar malah gak mau!"
"Lah, kalau aku sama dia, kamu sama siapa?"
"Ada..."
"Dimas sama Calvin?" potong Bara. Dan Nana mengangguk.
"Kalau kamu sama Calvin, habis kamu dikuliti sama fansnya, Na."
"Habis kamu distalking!"
Nana bergidik ngeri. "Kalau sama Dimas, aman ya?"
"Aman! Aman banget pun!" jawab Bara. "Kamu sih bakalan nganggur kalau dia rapat osis. Kalau ada event di sekolah!"
"Hahaha... jadi paling aman sama kamu, nih?" tanyanya sambil terkekeh.
"Nah. Itu paling bener."
Keduanya sampai di depan kelas. "Erat banget pak pegangannya." Ucap Bellatrix penuh sindiran.
"Takut ilang, Bu..." jawab Bara sambil tersenyum dan mengerling.
Bella dan teman temannya melongo tak percaya. Bahkan beberapa teman mereka juga tak percaya melihat Bara yang berbeda.
"Itu Bara yang cupu?"