
Menunggu waktu 2 minggu untuk kembali melakukan pemeriksaan nyatanya bukan membuat Bara jenuh atau pun tidak sabaran.
Ia justru menikmati proses demi proses perubahan yang terjadi pada diri Nana. Mulai dari jadwal tidurnya, selera makannya dan juga moodnya yang naik turun tak tertebak. Belum lagi lelahnya wanita itu harus bolak balik kamar mandi hanya untuk buang air kecil yang semakin sering.
Bara ingin mengukir memori dalam otaknya agak kelak ia bisa membagi cerita itu pada anaknya. Bagaimana mamanya itu menginginkan es krim di pagi hari. Bagaimana saat mamanya itu menginginkan soto babat di jam 11 malam. Dan bagaimana saat mamanya itu ingin memanjat pohon mangga hanya karena menginginkan buahnya.
Semua itu akan Bara ceritakan kelak. Bara tak pernah sedikitpun melewatkan momen ngidam aneh khas istrinya.
Selama dua minggu ini, Bara selalu menjaga agar Nana tidak kelelahan. Nana tetap akan berhenti bekerja sesuai keinginan Bara dan orang tuanya. Tapi, Nana mengajukan syarat agar dirinya bisa sering-sering ikut ke bengkel bersama Bara.
Bara setuju untuk itu. Bengkel mobilnya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Tidak terlalu lama untuk Nana duduk di dalam mobil. Bara bisa memberikan posisi yang nyaman di dalam mobil selama perjalanan mereka.
"Kita berdua aja?" tanya Nana pada Bara yang langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempatnya akan kembali memeriksakan kehamilannya.
"Mama udah nunggu disana, sayang!" jawab Bara. Mama mertuanya itu memang sudah menghubunginya, dan mengatakan bahwa sudah menunggu di rumah sakit.
"Mama juga udah reservasi, jadi kamu gak perlu antri terlalu lama," lanjut Bara
Mereka tiba di rumah sakit. Keduanya sudah melihat Ayu duduk sambil bercerita dengan wanita hamil lainnya yang akan memeriksakan kandungan.
"Mama..." Sapa Nana yang langsung duduk disamping wanita yang memakai blus berwarna putih itu.
"Hari ini mual lagi?" tanya Ayu seperti biasanya. Meski jarang sekali datang ke apartemen putrinya, tapi Ayu selalu menanyakan hal itu disetiap mereka melakukan panggilan video.
Nana mengangguk. "Iya. Tapi gak sampe muntah, Ma."
Ayu tersenyum. "Bisa sarapan pagi ini?" tanya Ayu lagi.
Nana mengangguk. "Nana akali dengan makan buah setiap hari, Ma. Lumayan buat hilangin mual."
"Kadang sebelum makan, kadang juga sehabis makan."
"Gak masalah, asal jangan buah yang memancing kontraksi rahim ya sayang, seperti nanas muda sama durian."
"Ngidam aneh boleh, tapi yang masih boleh dimakan sama ibu hamil, Nak!"
Ayu menasehati Nana karena ia pernah mendengar cerita dari Bara bahwa ibu yang tengah hamil muda itu ingin minum minuman bersoda.
Tak menunggu lama, Nana dipanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
"Tekanan darahnya rendah, ya Bu."
"Wajib minum tablet tambah darah. Nanti saya resepkan lagi."
"Sekarang, berbaring yuk bunda!" ajak Dokter tersebut.
"Alhamdulillah, selamat ya bunda..."
Mereka memperhatikan layar. "Ini janinnya." tunjuk Dokter pada titik kecil di tengah lingkaran yang tidak terlalu besar.
"Yang kecil itu, dok?" tanya Bara takjub.
Dokter tersebut tersenyum. "Ya, Mas. Babynya masih sebesar kacang."
"Ukurannya 5 mm," lanjutnya.
"Janinnya tunggal dan semuanya bagus."
Bara terkesima saat dokter memperdengarkan padanya suara detak jantung bayi yang masih sangat lemah.
"Detak jantungnya mulai terdengar."
"Semakin besar kandungan dan ukuran bayi, makan detak jantungnya akan semakin kuat terdengar."
Bara dan Nana tak henti tersenyum. "Pasti ayah sama bundanya gak sabar nih pengen cepat-cepat besar janinnya."
"Asupan asam folat sangat penting ya, Bunda. Karena hingga minggu ke 12 nanti, sel-sel penting pada janin mulai terbentuk. Seperti otak, jantung dan bagian tubuh penting lainnya."
"Asam folat bisa di dapat dari berbagai buah dan sayuran. Seperti Alpukat, bayam, jagung dan banyak lagi."
"Trimester pertama masih rentan untuk babynya, bunda. Jadi, tetap saan saya, jangan terlalu lelah. Hindari aktivitas berat seperti naik turun tangga terlalu sering dan mengangkat beban yang berat."
Mereka pulang dengan senyum tak pernah luntur. "Akhirnya..." Bara menghela nafas panjang.
"Kenapa?" tanya Nana.
"Udah lega, bisa lihat babynya yang masih kecil banget."
Nana tersenyum dan mengangguk. "Aku gak sabar, nunggu dia nendang di dalam sini." Nana mengelus perutnya.
"Nanti kalau dia udah nendang, kasih tau aku ya sayang!" pinta Bara. "Aku juga pengen ngerasain."
"Pasti..." Nana mengangguk.
"Mama Ayu baik ya, Bar!" Tiba -tiba Nana mengatakan hal itu setelah mereka saling diam cukup lama.
Nana memandang lurus ke depan sementara Bara sedang fokus pada jalan raya.
Bara tertawa kecil. "Kamu baru menyadarinya sekarang atau gimana, Sayang?" tanya Bara.
Sejak SMA Nana sudah tinggal bersama mama Ayu dan papa Hadi. Tapi mengapa Nana baru mengatakan bahwa mama Ayu adalah orang yang baik.
Bara tersenyum kecil dan mengusap kepala Nana yang memasang raut kesedihan.
"Mungkin bukan menggantikan, Na. Tapi mengisi peran mama Salma!" balas Bara.
"Mama Salma tetap mama kamu meski kalian terpisah."
"Mama Salma pasti akan melakukan hal yang sama kalau dia ada disini, di dekat kamu."
"Kelak aku mau jadi orang tua sebaik mama Ayu!" Nana mengusap perutnya.
Bara mengangguk. "Kamu pasti bisa jadi mama sebaik dan sesabar mama Ayu."
Nana menatap Bara sekilas. "Mama Ayu rela mengorbankan karier, waktu dan kesenangannya hanya untuk keluarga."
"Mama Ayu selalu ada untuk papa. Mama Ayu selalu menjadi rumah bagi papa. Tempat cerita, tempat berkeluh kesah dan tempat bermanja." Nana menyebut sederet kekagumannya pada mama sambungnya itu.
"Lihat, bagaimana beruntungnya Syakiel hidup dalam kasih sayang yang utuh." Senyum itu terbit dengan pandangannya yang kosong kearah depan.
Ia pernah mendapat kasih sayang itu, tapi tidak bertahan lama karena papanya yang tidak bisa menerima kekurangan mama Salma seutuhnya serta mama Salma yang lebih mementingkan karirnya.
"Sepulang bekerja, papa masih sempat untuk sekedar menyapanya." Nana tersenyum lagi.
"Bar, kadang aku merasa belum siap jadi orang tua." Nana menatap Bara.
"Tapi hadirnya dia disini, membuatku yakin. Allah aja percaya kalau aku bisa." Nana memandang perut ratanya.
"Kelak, sama-sama kita besarkan dia dengan penuh cinta, yaaa."
Bara mengangguk dengan senyum kecil. "Pasti sayang!"
Bara juga bertekad dalam hatinya agar kelak anak-anaknya tak kekurangan kasih sayang darinya dan Nana.
Untuk itu ia tidak ingin masuk dalam perusahaan papanya yang akan membuatnya meeting hingga ke luar kota.
Biarlah ia menjalankan bengkel mobil yang ia rintis sejak SMA. Ia bisa hidup sederhana yang penting kebutuhan terpenuhi dan mereka hidup rukun dalam keluarga yang harmonis.
Memiliki mama yang pernah menjalin hubungan spesial dengan atasannya juga menjadi alasan mengapa Bara tak ingin Nana kembali bekerja. Ia tak ingin hal yang sama terjadi pada pernikahannya.
Trauma? Bukan!. Tapi lebih menghindari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
"Aku gak mau apa yang kita rasakan, juga dirasakan sama dia," lanjut Nana.
"Setialah Bara! Berjalanlah dengan tetap memegang teguh tanggung jawab kamu sebagai kepala keluarga!"
"Maka aku yakin, rumah tangga kita akan baik-baik aja."
"Kalau bosan, please jangan lari ke wanita lain."
"Kalau sedih, jangan cerita ke wanita lain."
"Sejatinya aku adalah rumah untuk kamu, Sayang!" Nana mengusap bahu suaminya.
Bara menghela nafas saat melihat Nana menangis. Istrinya itu jadi sering menangis selama hamil.
Hanya karena hal kecil seperti ditolak keinginannya untuk minum minuman bersoda rasa lemon yang sering muncul di tv.
Atau karena kelelahan akibat membersihkan kamar sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga.
"Kamu percaya ya... Aku akan tetap jadi suami kamu sampai kapanpun!"
"Tanpa orang ke tiga?" tanya Nana.
Bara mengangguk. "Tanpa orang ke tiga," jawab Bara yakin.
Nana tersenyum kecil. "Minggir kiri, Sayang!" ucap Nana tiba-tiba.
Bara terkejut. Nana seolah sedang meminta supir angkot untuk menurunkannya segera.
Bara langsung menepikan mobilnya. "Kenapa sayang?" tanya Bara.
"Mau beli itu!" tunjuk Nana pada jajanan yang dipegang anak SD yang sedang dijemput orang tuanya.
"Telur gulung sama es potong?" tanya Bara tak yakin.
Dan anggukan bersemangat dari Nana akhirnya terpaksa membuatnya turun dari mobil.
"Kamu tunggu disini ya..."
"Gak mau!" tolak Nana. "Aku mau lihat cara buatnya."
"Yang ingin, kamu atau babynya sayang?" tanya Bara jahil.
"Bara junior!" jawab Nana dengan tawa kecil. Nana langsung turun dari mobil dan mencari pedangan yang berjualan makanan yang ia inginkan itu.
Bara lagi lagi hanya bisa terkagum-kagum pada ibu hamil itu. "Tadi nangis, mellow, sedih, bikin orang terharu."
"Sekarang happy banget, lihat jajanan seperti itu!" gumam Bara yang juga ikut turun dari mobilnya.