Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 7 BENGKEL



Bara membelokkan mobilnya ke sebuah bengkel mobil dan langsung masuk ke dalam gerbang. Mobilnya bahkan diparkirkan sangat jauh ke dalam.


Nana takjub karena semua orang tidak ada yang peduli dengan kedatangan mobilnya. Para montir terus melanjutkan pekerjaannya seolah sudah terbiasa dengan kehadiran Bara.


Mikir apa lo, Na. Jelas mereka terbiasa, ini kan bengkel miliknya.


Belakangan Nana tahu dari papanya bahwa Bara yang menjalankan bengkel milik orang tuanya ini. Maka dari itu, Papanya yang notabene-nya adalah pelanggan tetap bengkel ini sangat percaya pada Bara untuk mengantar Nana pulang waktu itu.


Ada banyak mobil yang berjejer rapi di dalam. Ada yang kap mesinnya terbuka bahkan ada montir yang hanya terlihat kakinya saja sedangkan kepala dan badannya ada di kolong mobil.


"Mau masuk atau tetap disini?" tanya Bara saat mesin mobilnya sudah mati.


"Ha...! Masuk!" jawab Nana cepat karena ia tengah memperhatikan sekitar dari kaca jendela dan suara Bara mengejutkannya.


"Ayo!" Bara turun dari mobil.


Nana membuka pintu mobil dan berjalan mengekor di belakang Bara.


"Cuiiiit cuiiittt." Siulan menggoda dilemparkan beberapa orang berseragam khas montir kearah Bara dan Nana. Nana terus menunduk dan berjalan mengikuti Bara.


"Berkasnya sudah siap, Om?" tanyanya pada om Galuh, pria berusia 40an yang tak lain adalah manager di bengkel ini.


"Sudah. Ada di ruangan Bar, tinggal kamu tanda tangani."


"Duugh!" Nana yang menunduk menabrak punggung keras milik Bara.


"Aduuh!" Ia mengeluh dan memegang keningnya.


Bara berbalik dan menahan tawa melihat Nana yang mengusap-usap keningnya sendiri.


"Terima kasih, Om." Bara kembali berjalan menuju anak tangga untuk naik ke atas.


Nana celingukan melihat sekitar dan melihat Bara sudah beberapa langkah di depannya. "Tunggu, Bar!"


Ia memanjangkan langkah mendekat kearah Bara. Mereka menaiki anak tangga untuk sampai di lantai dua. Dimana ruangan Bara berada.


Dari atas, Nana bisa melihat keseluruhan bengkel dari tempatnya berdiri hingga ke depan gerbang.


Sangat luas dan rapi tapi aroma oli khas bengkel tidak bisa disangkal lagi. Tapi bengkel ini terbilang bersih karena tidak ada kaleng atau wadah bekas oli yang berserakan.


Bara membuka pintu salah satu ruangan dan Nana tetap mengekor.


"Duduk disitu sebentar!" perintah Bara pada Nana sambil menunjuk sebuah sofa minimalis.


Nana menuruti ucapan Bara. Ia duduk dengan sedikit canggung. Bara langsung duduk dibalik meja kerjanya.


Ia mengambil beberapa file dan kertas lalu mencoret-coret entah apa disana. Nana hanya bisa memperhatikan seluruh ruangan berukuran 4x4 meter itu sambil sesekali mencuri pandang ke arah pria yang berhasil mencuri hatinya itu.


"Mau minum?" tanya Bara tiba-tiba.


"Haaa!" Nana menatap Bara yang bicara tanpa mengalihkan pandangan dari kertas diatas mejanya. Tampaknya kertas itu jauh lebih menarik dari Nana.


"Mau minum?" ulang Bara. Tapi kali ini ia menatap Nana.


"Ehm... enggak deh," jawab Nana. Ia tidak butuh minum karena ia akan tetap sehat selama matanya menatap Vitamin B di depannya. Vitamin Bara. Hihihi.


Bara menatap Nana sebentar. "Masih bisa nunggu gak?"


"Maksudnya?"


"Gue periksa laporan mingguan dulu."


Nana mengangguk. Ia duduk di sofa dengan tenang. Tidak lagi memperhatikan Bara karena ia salah tingkah sebab tadi ia melihat dengan ekor matanya Bara tengah menatapnya.


Dari pintu yang terbuka itu ada seseorang yang masuk dengan membawa beberapa botol minuman dingin dan cemilan dalam kantong plastiknya.


"Mas, ini pesanannya."


"Oh, taruh di meja itu aja Dang."


"Siap, Bos!"


"Mbak, silahkan diminum!"


Nana mengangguk sungkan. "Terima kasih."


Perasaan tadi gue udah nolak, tapi kenapa ada yang mengantar ini.


"Minum aja, Na."


Dia panggil nama gue.


"I... iya."


Nana membuka segel tutup botol air mineral dingin itu. "Gue makan wafernya, boleh?" tanya Nana. Ia memang belum makan siang. Ia hanya makan sandwich bekalnya tadi. Itupun saat istirahat pertama.


"Makan aja. Itu memang buat, lo!"


Kok gue jadi merasa istimewa ya. Hehehe...


Bara sebenarnya sudah mengirim pesan pada salah satu karyawannya untuk membelikan Nana minuman dan cemilan di warung kecil di samping bengkel.


Ia tidak mungkin membiarkan anak orang kelaparan hanya karena menunggunya bekerja.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Bara menyelesaikan pekerjaannya. Ia membuka seragam sekolahnya dan berhasil membuat Nana menutup matanya.


Bara menahan tawa, menggeleng pelan. "Gue masih pake kaos."


Apa lo pikir dia bakal terlanja*ng di depan lo, Na? Batin Nana memprotes otaknya.


Bara mengambil hoodie di dalam lemari dibelakang kursi kerjanya dan memakainya.


"Mau langsung pulang atau makan dulu?" tanya Bara singkat.


Nana berfikir sejenak. Makan boleh juga. Tapi apa gak kesannya gue aji mumpung banget? Dikasih tumpangan, minta makan pula.


"Gue pulang aja deh. Takut mama khawatir." Sebanarnya ada sedikit penyesalan karena Nana menolak ajakan Bara untuk makan bersama.


Tapi tidak mengapa, ia tidak ingin terburu-buru dan terlalu mencolok mengagumi pria yang saat ini berdiri di hadapannya.


Bara mengambil minuman botol di atas meja, membuka tutupnya dan meminumnya.


"Tunggu!" Bara melirik Nana sekilas. Nana terlihat panik karena minuman itu bekas minumannya.


"Ada apa?" tanya Bara yang sudah menghabiskan air mineral yang tinggal setengah itu.


"Itu... bekas gue!"


Bara berlalu begitu saja. Ia melangkah lebih dulu. "Lo gak rabies kan?"


Nana kesal karena kalimat Bara yang seperti mengejeknya. Ia segera berjalan melewati pria berwajah tampan namun tanpa ekspresi itu.


"Emang gue anj*ng?"


Bara mengulum senyum. "Gue gak bilang."


Nana berbalik dan menunjukkan wajah kesalnya dengan bibir cemberut. "Lo jarang ngomong, tapi sekali ngomong bikin emosi tau gak?" Nana menuruni anak tangga lebih dulu. Membiarkan Bara berjalan dibelakangnya.


"Mbak, yang waktu itu kan?" tanya pria yang Nana tahu bernama Fahri yang minggu lalu datang bersama Bara untuk memperbaiki mobilnya.


Nana mengangguk. "Ayo! Katanya mau pulang!" Ucap Bara dingin sambil melewati Nana begitu saja.


"Duluan, Mas," ucap Nana pada Fahri seraya menganggu sopan.


Nana segera masuk ke dalam mobil dan memasang seatbeltnya. Bara sudah duduk dibalik kemudi dan siap mengantarnya pulang.


"Mau mampir?" tanya Nana pada Bara saat mereka baru saja sampai di depan rumah orang tua Nana.


"Gak deh, lain kali aja," tolak Bara sopan. "Gue juga harus pulang."


"Thanks ya," ucap Nana sambil membuka pintu mobil Bara.


Bara tersenyum kecil.


Nah, gitukan makin ganteng.


"Na,"


Merasa namanya di panggil, Nana yang sudah menurunkan satu kakinya kembali menatap Bara.


"Mobil lo nanti diantar sebelum malam."


Nana mengangguk pelan. "Kirim aja billnya ke nomor gue. Entar gue transfer," ucap Nana enteng padahal keduanya tidak saling menyimpan nomor ponsel satu sama lain.


"Om Hadi?"


"Jangan ke papa, uang gue masih cukup."


Bara mengangguk pelan. "No hp lo?" ucapnya masih dengan nada datar. Ia mengambil ponselnya dari kantong celana.


Oh my god! Kok gue berasa lagi di PDKTin. Batin Nana senang.


Nana membacakan nomor ponselnya dan Bara langsung mengetikkan di ponselnya.


"Jangan lupa, miskol." Nana turun dari mobil Bara.


"Hati-hati,"


Bara mengangguk. "Gue balik dulu." Mobil Bara langsung melesat pergi meninggalkan rumah Nana.


"Siapa, Na?" tanya Ayu yang sudah berdiri di teras rumah.


Nana berjalan mendekati mama sambungnya itu. Ia mencium punggung Ayu dan mengerling centil. "Calon mantu mama. Hahahah." Nana berjalan masuk ke rumah.


Ayu mengikuti Nana ke dalam. "Mama bilangin papa nih."


Nana berbalik dan tertawa. "Jangan, Ma!"


"Dia teman sekolah Nana, yang waktu itu juga nganterin Nana pulang pas mobil Nana mogok."


"Yang anak bengkel itu?" tanya Ayu.


"Iya ma."


Nana sebenarnya sudah mengirim pesan singkat pada Ayu bahwa mobilnya mogok dan ia akan pulang terlambat hari ini.


"Papa kenal dong?"


Nana menganggukkan kepala. "Nana mandi dulu, ya Ma. Bau asem." Nana mengerutkan hidungnya.


Ayu tertawa dan membiarkan Nana masuk ke dalam kamarnya.