
Waktu berlalu begitu cepat. Satu persatu drama kehamilan terlewati dengan begitu baik, mulai dari ngidam makanan aneh hingga ingin pergi ke tempat yang tak biasa.
Jangan tanya sesabar apa seorang Sambara saat menghadapi seorang Selena yang tengah mengandung Bara Junior.
Jika ia bisa membawa Gunung Himalaya dan meletakkannya di depan gedung apartemen, mungkin akan ia lakukan. Tapi apa daya, Bara hanya manusia biasa yang hanya bisa menjanjikan liburan setelah Nana melahirkan nanti.
Tidak mungkin ia menuruti permintaan Nana untuk melihat puncak Himalaya dari dekat di usia kehamilan yang ke 35 minggu.
Bara, disinilah ia sekarang. Tepat di depan ruang operasi dimana sang istri tengah ditangani oleh beberapa dokter dan petugas medis.
Nana semangat untuk melahirkan secara normal hingga ia mengikuti kelas kehamilan, namun semuanya tidak sesuai keinginan dan rencana.
Nana harus melewati persalinan secara Cesar karena bayi dalam kandungannya terlilit tali pusat.
Mati-matian Bara membujuk Nana untuk mengikuti saran dari dokter. Nana terus saja ingin melahirkan normal dengan alasan ia sudah mengikuti senam hamil secara rutin.
"Ayolah sayang! Mau Cesar atau normal, kamu tetap jadi ibu loh, Na."
"Gak ada sedikitpun yang mengurangi betapa hebatnya kamu untuk menghadirkan dia ke dunia ini."
"Gak akan mengurangi betapa bangganya aku sama kamu..."
"Tapi, rasanya sia-sia aku ikut kelas. Sia-sia aku ikut senam hamil..." isak Nana membuat Bara hampir tertawa. Keadaan ini diluar kendali mereka.
"Iya... tapi ini bukan tentang kamu ikut senam atau enggak, tapi ini karena babynya yang pengen cepat-cepat ketemu kita..."
Nana menatap Bara. "Kamu ngertikan sayang. Hari perkiraan lahir masih 2 minggu lagi, tapi babynya ngasih tau ke kita kalau dia harus segera keluar sayang."
Saat melakukan pemeriksaan rutin, mereka mendapati bayi dalam kandungan Nana terlilit tali pusar sebanyak 2 lilitan yang menyebabkan Nana merasakan bahwa janinnya jarang bergerak.
Akhirnya Nana setuju untuk segera melahirkan bayinya. Melihat wajah papa Hadi dan mama Ayu, ia merasa bahwa keselamatan bayinya, cucu pertama bagi semua orang tua mereka ada pada keputusanya.
Nana mencoba menenangkan diri saat ia dibawa ke ruang operasi. Dokter dan suster mengajaknya bercanda demi mengurangi ketegangan.
Tatkala ia mendengar suara tangis bayi, ia menghela nafas lega. Dan saat dokter mengatakan bayinya sehat, ia menjadi semakin tenang. Rasa takut dan kecewa pada diri sendiri menguap begitu saja. Yang tersisa hanya rasa haru dan bahagia atas hadirnya malaikat kecil yang kelak akan menjadi pelindung baginya.
Semua proses berjalan dengan baik. Nana masih di ruang pemulihan sementara bayi mereka sedang di ruangan khusus bayi.
"Terima kasih sudah hadir diantara papa dan mama, sayang!" Bara terus menatap bayi mungil itu dari dinding kaca dibagian depan ruangan itu.
"Sagara Dharmawan..." gumamnya pelan.
"Nama yang bagus..." Suara yang ia kenal serta tepukan dibahu yang membuat nyaman.
Bara tersenyum pada pria yang mwmiliki andil besar hingga ia ada di dunia ini, Wawan Dharmawan.
"Papa suka?" tanyanya.
"Tentu..." Wawan menatap bayi laki-laki yang terlelap di ranjang bayi tersebut.
"Hadirnya dia sama seperti saat kamu hadir di dunia ini. Papa- mama bahagia, dan rasa syukur tidak pernah lupa papa ucapkan kala itu."
"Selamat menjalani kehidupan sebagai orang tua, Bar!" Rangkulan di bahu Bara semakin menguat.
"Jangan pernah jadi seperti papa yang pernah gagal."
"Teruslah saling mencintai bersama Selena."
"Demi Sagara, putra kalian."
"Sagara artinya laut, kan?" tanya Wawan.
Bara mengangguk. Ia bisa melihat tetesan air mata hampir tumpah disudut mata papanya.
"Harapan kamu, dia akan menjadi anak yang memiliki hati yang luas, dan berguna seperti laut yang menjadi tempat banyak orang menggantungkan hidup."
"Lebih dari itu, Pa..." Bara menatap lurus ke depan.
"Semua doa yang baik selalu Bara selipkan untuknya, Pa."
"Ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang ayah."
Bara menyeka air matanya. "Menunggunya lahir saja rasanya begitu menyiksa."
"Dia berjuang bersama mamanya sementara Bara hanya harus menunggu. itu rasanya seperti pengec*ut, Pa." Bara tertawa kecil.
"Terima kasih untuk semua yang papa lakukan selama ini."
"Sekarang Bara mengerti, menjadi orang tua ternyata tidak semudah yang Bara fikirkan."
Bara memeluk Wawan, sosok papa yang sempat ia benci dan hindari. Tapi, sekarang dia faham, biar bagaimanapun papa tetaplah papa. Pria yang selalu mengkhawatirkan hidup dan masa depannya.
***
"Selamat pagi wanita hebat!"
Suara yang pertama kali Nana dengar saat ia baru membuka mata pagi ini. Ia sudah pindah ke ruang perawatan dan selama semalaman ia ditemani oleh suaminya.
"Kamu apaan sih, Sayang!" Nana tersipu saat Bara duduk disamping ranjangnya dengan membawa bucket mawar yang sangat besar.
"Masih pagi, dan aku masih mengantuk." keluh Nana.
"Eits, gak boleh tidur lagi sayang!" Bara melarang Nana.
"Kamu harus cuci muka dan sikat gigi, lalu sarapan dan kita akan coba buat ASI-in baby Gara."
Nana membuka matanya lebar-lebar. "Astaga, iya!"
"Aku kok lupa ya, kalau sekarang aku udah punya baby..."
Bara tertawa melihat wajah syok istrinya.
"Mana babynya sayang?" tanya Nana.
"Tuh!" Bara sedikit bergeser dan tepat dibelakangnya ada mama Ayu yang sedang menggendong baby Gara.
"Sejak kapan dia disini, sayang?" tanya Nana.
"Baru aja diantar sama suster."
"Sini, Ma... aku mau gendong!" Nana tak sabar ingin menimang anaknya.
"Cuci muka dan gosok gigi dulu, Na."
Nana ke kamar mandi dibantu oleh suaminya. Bara dengan sangat telaten mengurusnya.
"Terima kasih!" Nana meneteskan air mata saat Bara telah selesai membantunya menggosok gigi.
Bara tersenyum kecil dan mengangguk.
"Aku selalu ngerepotin kamu."
"Udah jadi kewajiban aku." balas Bara.
"Aku suka keras kepala saat kamu nasehati."
"Aku udah biasa menghadapi kamu yang seperti itu," balas Bara lagi.
"Maaf belum bisa jadi istri yang baik buat kamu."
Bara menatap wajah sendu itu. Ia mengusap air mata di pipi Nana. "Kamu ibu sekaligus istri terbaik."
"Pengorbanan ku, cuma seujung kuku kalau dibandingkan dengan pengorbanan kamu."
"Maaf kalau kadang masih belum bisa mengerti perasaan kamu, Na." Bara memeluk Nana.
"Bara....!" teriakan mama Ayu membuat mereka melepas pelukan.
"Jangan lama-lama berduaan di dalam. Nanti Nana hamil lagi!"
Bara dan Nana tertawa. "Mama ada-ada aja."
Selesai sarapan, Nana tak sabar untuk memangku bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu.
"Terima kasih sudah berjuang untuk ada ditengah-tengah kami semua, Nak!"
"Mama bahagia punya Gara...." Nana mencium kening bayi yang ada di dekapannya itu.