
Malam ini Nana merasa heran melihat meja makan penuh dengan hidangan nan menggugah selera. Entah akan ada acara apa, yang pasti air liurnya sudah berulang kali hampir menetes tiap melihat asisten rumah tangga membawa satu demi satu hidangan ke meja makan.
Aroma soto yang masih mengepul uapnya itu kian menggugah seleranya. Bahkan panci besar berisi kuah soto itu belum diturunkan dari atas kompor.
"Ma, makan besar nih?" tanyanya pada Ayu yang sibuk menata hidangan di meja makan.
Ayu menatap Nana yang memakai setelan celana pendek dan kaos oblong. "Astaga! Kamu belum siap-siap, Na?" tanya Ayu sedikit kaget.
"Haaa?" Nana juga kaget. "Siap-siap keman, Ma?"
Ayu menepuk keningnya. Ia terlalu sibuk memasak sampai-sampai ia lupa untuk memberi tahu putri sambungnya itu bahwa malam ini akan ada acara makan malam bersama keluarga Dharmawan.
Ayu memegang kedua bahu Nana dan mendorongnya pelan menuju anak tangga. "Kamu ganti baju yang rapih, yang cakep, yang cantik, pakai parfum dan yang pasti, rambut kamu ini, dicatok!" Ayu memegang rambutnya yang di cepol asal itu.
Nana menatap mamanya, curiga. "Sejak kapan mama jadi cerewet begini?" tanyanya heran.
"Cepat, Na!" Perintah Ayu.
"Jawab dulu, Ma? Sejak kapan?" tanyanya memaksa.
"Sejak tadi."
"Ayo, cepat. Om Wawan akan sampai dalam sepuluh menit."
Nana memutar bola matanya. "Oh, Om Wawan."
"Om Wawan doang mah..."
"Sama Bara!" sambar Ayu cepat.
"Apa?" Nana kaget.
"Makanya cepat!"
"Ah! Iya Ma... iyaa!" Nana lari seribu menuju kamarnya.
***
Nana turun dari lantai dua dan mendapati meja makan sudah ramai berisi beberapa orang.
Sebuah senyum terukir indah kala melihat sosok yang begitu ia rindukan. Ia tidak menyangka, wanita cantik yang selama ini hidup bersamanya kini ada di depan matanya. Ia segera berlari menuruni beberapa anak tangga yang tersisa.
"Mamaaaaaa!" Seorang wanita menyambutnya dengan pelukan.
"Kangen mamaaaa." Air mataya menetes seketika. Pelukan hangat mama Salma, wanita yang melahirkannya membuatnya lupa bahwa ada orang lain dalam ruangan itu.
"Mama juga kangen kamu, Na." Pelukan erat yang sama sama mereka rindukan.
"Kamu gak pernah main ke Bali, ya..."
Keduanya mengurai pelukan. "Rencana libur semester, ma."
Salma menatap putrinya dan menangkup pipi basah itu dengan kedua tangannya. Matanya melirik Hadi dan Ayu. Nana seoalh mengerti arti tatapan mata itu.
"Boleh, kan Pa?" tanya Nana pada Hadi.
Hadi mengangguk kecil. "Boleh dong!"
Senyum ceria terbit di bibir keduanya. "Nah, lihat kan Ma? Pasti boleh."
"Na, ayo duduk."
Nana di perkenalkan oleh istri baru Wawan dan suami baru Tamara. Kedua orang tua Bara ada disini.
Nana juga senang bertemu dengan papa sambungnya, hanya saja kakak tirinya tidak bisa hadir karena pekerjaan penting yang tak bisa ditinggalkan.
Makan malam selesai dan mereka semua berkumpul di ruang tamu.
"Papa dan Om Wawan sepakat."
Nana langsung menatap curiga pada Hadi yang tiba-tiba bicara serius sambil menatapnya.
"Kamu dan Bara akan bertunangan."
"Apa?"
"Apa?" Nana dan Bara sama kagetnya.
Semua orang dalam ruangan itu menahan senyum karena reaksi keduanya begitu menggelikan.
"Jangan dulu!"
Bara menatap Nana yang dengan lantang mengatakan penolakan.
"Ma..maksud Nana..." ia berusaha menjelaskan alasan penolakannya karena sepertinya Bara tidak suka dengan jawabannya itu.
"Maksud Nana, gak mau terlalu cepat, Pa."
"Aku juga." jawab Bara. "Kami masih sekolah, Om, Pa."
"Terlalu dini untuk menikah."
Hadi dan Wawan tertawa. Bahkan mama Ayu juga menahan tawanya. "Yang meminta kalian menikah dini siapa, Na?" tanya Hadi.
"Kami cuma sepakat agar kalian bertunangan."
"Setelah lulus nanti, barulah kita bicarakan lagi," sambung Hadi.
"Iya... Om hanya ingin hubungan kalian tidak diganggu siapapun lagi," timpal Wawan.
"Kalian akan menjadi pengikat hubungan dua keluarga. Hahaha, sepertinya empat keluarga, ya Di?" Wawan meralat perkataannya membuat semua orang yang ada disana sontak tertawa.
Hubungan itu jelas akan menghubungkan banyak keluarga. Keluarga Wawan, Salma, dan dua keluarga baru kedua orang tua Bara.
"Tapi, Bara hanya takut ga...gal!" ucap Bara agak ragu. "Kami masih terlalu labil..."
*Aku t*akut, sifatku menurun dari kedua orang tuaku, Na. Untuk menikah masih sangat lama. Apakah selama pertunangan ini, kita bisa menjaga hubungan ini? Aku takut satu kesalahanku akhirnya membuatmu pergi dan berimbas pada hubungan orang tua kita. Batin Bara.
Nana langsung menatapnya dalam. Kenapa kamu pesimis begini, Bar? Apa kamu memulai hubungan ini dengan niatan hanya untuk main-main.
Keempat pasang orang tua itu terdiam. Mereka sadar yang Bara takutkan adalah hal yang sangat wajar mengingat orang tua mereka punya track record yang buruk dalam rumah tangga masing-masing.
Wawan menepuk bahu Bara. "Justru dengan bertunangan, kalian akan belajar menyesuaikan diri bahwa hubungan kalian tidak main-main." Bara menatap papanya.
"Kalian tidak akan mudah memutuskan untuk berpisah dan pergi setiap kali ada masalah. Kalian malah akan belajar menyelesaikannya."
"Kalian akan mengerti satu sama lain sampai akhirnya kelak kalian menikah dan tinggal satu atap."
Kali ini Nana setuju dengan nasehat Wawan. Ada benarnya, karena dia tipe gadis yang tidak pernah ingin bermain-main dalam satu hubungan, jadi ia menginginkan satu hububgan yang sudah ia mulai ini akan ia jalani hingga akhir.
Untuk pertama kalinya Nana jatuh cinta, dan tidak bertepuk sebelah tangan pula. Sepertinya tidak ada salahnya jika ia ingin hubungan ini terus berlanjut hingga mereka menua dan mati bersama.
"Mama juga setuju sayang." Nana menatap mama Salma.
"Bukannya mama tidak ingin kamu mengejar cita-cita kamu, Nak."
"Tapi mama sadar, kodrat seorang wanita adalah mengurus suami dan anak-anaknya."
"Bekerja boleh, berkarier boleh, tapi melupakan mereka..." Mama Salma menggeleng pelan. "Itu satu kesalahan besar yang pernah mama lakukan padamu dulu."
"Mama yakin, anak mama adalah gadis yang bisa berfikir dewasa dan bertanggung jawab."
"Mama juga yakin, Bara dan Nana bisa meraih cita-cita kalian dengan saling bergandeng tangan," Tamara ikut bicara.
"Raih impian kalian, setelah itu menikahlah dengan cara baik-baik. Kalian pasti faham maksud mama," lanjut Tamara.
"Hindari pergaulan bebas! Jangan melangkah diluar batas!" Sambar Hadi.
"Mama cuma bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian." Ayu membuat Nana tersenyum kecil kearahnya.
"Kalian bisa fikirkan ini baik-baik. Berbicaralah berdua. Kami akan memberi waktu satu minggu untuk kalian memikirkan ini." ucap Wawan.
"Jika memang kalian benar-benar tidak ingin, papa tidak akan memaksa." Lanjut Wawan.
"Yang terpenting, ingat kata-kata om Hadi!"
"Jangan mendekati perbuatan yang merugikan dan menghancurkan masa depan kalian."
"Jika tidak bisa menjaga diri, lebih baik kalian menikah muda dari pada membuat malu keluarga."
Nana dan Bara tetap diam. Keduanya hanya sesekali mengangguk dan tersenyum kecil.
Gue gak nyangka, mereka mikir sejauh itu. Batin Nana.
Ada disampingnya aja udah berhasil buat gue berdebar, apalagi sampai.... Ah! Entahlah! Para orang tua ini ada-ada aja mikirnya. Batin Bara.