
"Bara?" gumam Nana terkejut sambil memandangi layar ponsel yang terus bergetar dengan nama lelaki itu yang muncul disana.
"Ha...llo, Bar?" sapanya agak ragu karena takut makhluk Tuhan paling tampan versi dirinya itu hanya salah mendial nomor.
"*Ha...llo, Na?"
Sumpah! Demi Apa? Dia beneran nelpon gue nih.
"Lagi apa*?" sambung Bara lagi.
"Ehm, gue lagi ngerjain tugas fisika, Bar. Ada apa?"
"Gak ada sih. Ganggu ya gue?"
"Eng... enggak kok. Tugasnya juga masih dua hari lagi dikumpulin."
"Gue boleh cerita, Na?"
Nah loh! Ketagihan kan lo cerita sama gue. Batin Nana.
"Cerita aja. Tapi sebentar ya, gue cari posisi dulu."
"Posisi?"
"Hahaha... Biasa aja suara lo."
"Gue cuma mau duduk nyender di sofa." Nana berpindah tempat duduk di sofa minimalis yang menghadap ke arah jendela kamarnya.
"Udah. Sekarang silahkan cerita, Bar!"
Bara sempat diam beberapa saat sampai akhirnya Nana mendengar helaan nafas berat.
"Gue udah bicara sama mama-papa Na."
"Gue udah kasih saran buat mereka cerai."
"Terus, mereka kayaknya mau tapi terlalu mikirin gue."
"Namanya juga orang tua, Bar. Pasti tetap mikirin anak."
"*Iya... Thanks soal tadi."
"Thank udah jadi teman bicara yang baik*."
"Dan menyenangkan! Tambahin itu."
Bara terkekeh. "Iya... iya...!"
"Gue utang budi sama lo!"
"Dan gue utang tagihan servis sama lo! Boleh anggap lunas gak?" tanya Nana.
"Gak boleh!" Jawab Bara tegas. "Budi disamaain sama duit. Gak! Gue gak mau."
Nana terkekeh mendengar kalimat Bara yang menurutnya lucu.
"Ceritain tentang hidup lo!"
Nana mengerutkan kening. "Sejak kapan lo jadi kepo, Bar." Nana tertawa.
"Ya... bukannya kepo. Siapa tahu cerita lo jadi inspirasi buat gue."
"Hahaha... ngaco! Hidup gue flat-flat aja. Gak ada menarik-menariknya, Bar!"
Bara dan Nana saling diam.
"Selama ini gue gak tahu kalau om Hadi punya lo. Dan gue juga baru tau kalau tante Ayu itu istri keduanya."
"Papa memang tipikal orang yang gak mau nunjukin anaknya ke orang-orang." Nana mencoba mengingat momen dimana masa kecilnya masih bersama orang tuanya dalam keluarga yang utuh.
"Papa itu... Dia gak akan paksain anaknya berada di tempat yang gak seharusnya. Kayak pesta rekan bisni atau acara perusahaan dan sebagainya."
"Jadi lo gak pernah ikut?"
Nana menggeleng. Padahal percuma saja karena Bara tidak bisa melihatnya. "Enggak. Pertama kalinya kemarin, pas ketemu lo."
*Dan gue langsung patah hati karena lihat lo yang dijodohin sama anak teman papa. Kadang gue mikir, kenapa gak dijodohin sama gue aja. Ha! Ngarep!
"Are you kidding me*?" Bara tampak kaget. Pengusaha sekelas Hadi Wirya tidak pernah membawa anaknya ke acara perusahaan bahkan pesta?
"Hahahah... Gak Bara! Gue serius. Kalaupun gue ada di pesta, itu cuma di acara keluarga aja. Dimana disana banyak anak-anak seusia gue yang gak lain adalah sepupu-sepupu gue sendiri."
"Lo gak marah sama bokap?"
"Enggaklah. Justru gue sendiri pun ngerasa gak nyaman ada di pesta kayak begitu."
"Gue gak suka keramaian apalagi orang-orang pada ngelihatin gue. Gue gak suka."
"Karena itu juga lo pindah sekolah?"
Nana mengerutkan kening mendengar pertanyaan tegas dari Bara.
"Gue... pindah karena mama harus pindah ke Bali dan gue gak mau ninggalin kota ini. Jadi, gue tinggal sama papa."
"*Kenapa gak tinggal sendiri?"
Banyak tanya nih orang*. Batin Nana.
"Karena gue gak mau. Justru ini kesempatan gue buat balik lagi ke papa. Buat menata ulang hubungan kami yang sempat gak baik."
Bara tak bicara lagi. Obrolan mereka juga harus berhenti karena Bara harus menjawab telpon dari manager bengkel.
****
Waktu terus berlalu, tak terasa sebulan sudah Nana menahan rasa sakit dan cemburu karena beberapa kali Diandra terus datang ke kelas meski Bara tak bicara sepatah katapun.
Dan Nana lebih terluka saat gadis bernama Dillara itu selalu datang menjemput Bara ke sekolah. Dillara bahkan tanpa ragu masuk ke area sekolah membuat Nana memicing curiga, Apakah seberpengaruh itu orang tuanya, sampai ia dengan sangat mudah masuk ke dalam sekolah yang bukan merupakan tempatnya belajar?
Tapi selama itu pula, Bara tidak pernah menjauhinya atau menghindar darinya lagi. Hingga membuat Nana berada di posisi yang serba salah.
Ia senang, karena selalu dekat dengan Bara. Tapi ia selalu cemburu, tiap kali melihat Bara bersama gadis lain.
Hari ini, Nana langsung menuju bengkel milik Bara. Servis rutin yang harus ia lakukan atas saran papanya.
Nana mengatar langsung mobilnya karena besok hari minggu dan biasanya bengkel akan tutup.
"Mbak..." Sapa Fahri pada Nana saat ia baru keluar dari dalam mobil.
"Baranya ada?" tanya Nana.
"Diatas, mbak," jawab Nana.
***
"Lo lebih baik pulang, Dil!" usir Bara pada Dillara yang tanpa sepengetahuannya langsung menerobos masuk ke bengkel.
Semenjak ia diancam oleh Bara, kini ia datang selalu dengan membawa dua orang bodyguard demi berjaga-jaga.
Bara sedang duduk di kursi kerjanya. Sementara Dillara duduk di sofa sambil berselancar di dunia maya dengan ponselnya.
"Jalan, yuk Bar!" ajak Dillara manja.
Bara diam saja.
"Lo gak bosen apa disini terus?"
"Lo gak pengen jalan gitu? Atau nonton kek."
"Gue aja baru beberapa menit udah bosen, Bar!"
Bara menatap tajam gadis itu. Dillara sampai meremas bantal sofa sangking takutnya dengan tatapan Bara yang menurutnya kali ini sangat menyeramkan.
"Lo gak lihat gue lagi apa!" Bentak Bara.
"Gue gak minta lo kesini! Gue gak minta lo nungguin gue!" Ucap Bara geram. Karena gadis itu selalu saja bicara hingga mengganggu konsentrasinya.
"Kalo lo bosen, pintu itu terbuka lebar untuk lo."
"Lo gak boleh kasar ke gue! Inget! Perjodohan kita belum dibatalin."
"I don't care!"
"Bar...!" Dillara mendekat kearah Bara. Ia menyandarkan bok*ngnya yang terbungkus rok sekolah panjangnya hanya sejangkal diatas lutut.
Bara terus menundukkan wajahnya menatap berkas diatas meja karena saat ini paha putih nan mulus itu ada di sampingngnya.
"Gak usah sok lugu, Bar! Anak motor kayak kamu itu identik sama kebebasan."
Dillara melipat tangannya di dada. Ia menatap sinis pada Bara.
Kalau gak sombong, pasti merendahkan orang lain. Kelakuan kok kayak begini banget. Batin Bara kesal.
"Atau bahkan kamu sudah merambah ke s*x bebas."
Buat spekulasi sendiri, uh!
"Kalau kamu yakin aku begitu, Jauhi aku karena aku bukan pria baik-baik." Ucap Bara dingin.
"Oh, yaaa? Gue mau lihat senakal apa, lo."
Dillara mendorong kursi yang Bara duduki. Ia bergeser sedikit dan kini ia berhadapan dengan Bara yang menyeringi di kursi kerjanya.
Dillara mendekat dan membuka satu, dua kancing bajunya. Tujuannya satu, menggoda Bara.
"Ceklek!" Pintu terbuka dan keduanya melihat kearah pintu.
****
Apa yang akan terjadi selanjutnya ? 😁