Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 49 Menghindar



Menjelang sore hari, pemotretan Sherly dan Putra mulai dilaksanakan. Hari ini mereka hanya mengambil foto di sekitar villa karena pemandangan di sini tak kalah bagus dengan di luar area villa. Esok hari, barulah rencananya mereka akan foto di area persawahan dan hutan pinus.


Nana menjadi penonton setia acara pemotretan itu. Zahra sesekali membantu Sherly merapikan make-up. Karena foto prewedding kali ini, gadis itu tidak menyewa jasa make up artist. Sementara Calvin dan Dimas duduk agak jauh sambil bermain game di ponsel mereka masing-masing.


"Serius baget," bisik Bara yang baru saja datang di belakang Nana.


Gadis itu sampai terkejut dan langsung menoleh kesamping. Dan sialnya wajah Bara begitu dekat dengannya. Bibir mereka bahkan hampir saja menempel.


Nana kembali menatap lurus kedepan. Bara yang terkekeh melihat kegugupan Nana malah ikut duduk disamping gadis itu.


"Gitu doang udah kaget, Na," ucap Bara pelan.


"Salah kamu, tiba-tiba bisik-bisik di telingaku. Aku kan mikirnya setan, atau..."


"Ck! Mana ada setan gantengnya kayak begini, Na," gumam Bara dan Nana langsung menatapnya tajam.


Nana terus menatap pria berhidung mancung yang kini menatap lurus ke depan. Pria yang katanya merupakan kekasihnya itu sama sekali tidak merasa terganggu.


"Benarkan kataku?" ucap Bara.


"Yang mana?" tanya Nana.


"Ganteng!"


"Ih!" Nana pura-pura menatapnya jijik.


"Hahahah... Ih... ih... tapi dari tadi dipandangi terus!" Sindir Bara.


Saat ini gantian dirinya yang mandangi Nana yang sedang membuang muka dan malah memilih untuk melihat Putra dan Sherly yang sedang mengatur gaya mereka.


Sherly memang cantik dan tampak berbeda dari biasanya. Gadis itu memakai gaun putih panjang yang mengekspos bagian bahu gadis itu. Sementara Putra memakai jas berwarna hitam.


"Mereka serasi ya, Na." tanya Bara enggan melanjutkan perdebatan mereka.


Nana mengangguk. "Banget, Bar! Dari zaman sekolah aja udah kelihatan banget mereka cocok. Apa lagi sekarang."


"Bentuk badan Putra makin proporsional, Sherly makin cantik dan boddynya gil*!" seru Nana kagum. "Dia nge-gym kali ya. Tuh lemak di perut gak ada sama sekali!"


Bara tertawa pelan. "Kamu juga cantik, Na."


Nana seketika langsung menatap Bara. "Sorry, aku lagi gak bawa recehan."


Nara tertawa tanpa suara. "Kamu fikir aku minta imbalan!"


Nana mengangkat bahunya. "Kamu jarang-jarang muji aku soalnya. Ya aku antisipasi aja, sih! Siapa tahu kamu minta..."


"Cukup balas dengan keseriusan kamu, Na."


"Aku gak pernah main-main, Bar!"


"Aku tahu!" jawab Bara. "Kalau kita menikah dalam waktu dekat gimana, Na?"


Nana langsung menatap Bara. Keduanya saling diam tapi keduanya mencoba mencari jawaban dari tatapan itu.


Nana mencoba mencari tahu, apakah Bara hanya bercanda atau serius. Sementara Bara sedang mencari jawaban apakah nana bersedia atau tidak.


"Bang! Ini yang dua! Fotoin sekalian!" Kalimat yang Calvin ucapkan dengan suara keras membuat keduanya terkesiap. Nana belum sempat menjawab tapi pengacau sudah datang.


"Gak kalah romatis soalnya!" lanjut Calvin.


"Apaan sih, Vin!" Nana memukul bok*ng Calvin yang ternyata berdiri di belakang Bara.


"Habisnya kalian berpose melebihi Sherly sama Putra!"


"Melebihi gimana? Kita cuma duduk doang ini!" Nana memberengut kesal kepada Calvin.


Bara hanya diam dan mengu*lum senyum. Ia tahu, jarak mereka begitu dekat tadi. Mungkin jika Calvin atau yang lain berfikir mereka akan berci*uman, Bara tidak bisa marah karena jarak mereka memang benar-benar dekat.


"Duduk tapi tuh..."


"Vin!" Bara menegur Calvin. Ia tak ingin Nana merasa malu dan akhirnya merajuk.


"Stop, ya." pinta Bara.


"Ck!" Decak Calvin kesal. "Lain kali ingat tempat."


"Iya... iya... gue gak maksud kayak begitu, Vin! Mungkin lo-nya aja yang mikir kejauhan!"


"Iya... iya... salah ota*k gue yang mikirnya sampai ke sono!" jawab Calvin. Ia tahu? Bara hanya sedang menjaga mood Nana.


Calvin kembali ke posisinya semula. Sebenarnya ia mendekat hanya untuk mengambil minuman kaleng yang tersedia diatas meja dekat tempat duduk Bara dan Nana.


Ting!


Sebuah notifikasi ponsel. Bara memeriksa, bukan dari ponselnya. Dan ternyata Nana yang menerima notifikasi.


Bara tidak ingin ikut campur. Ia hanya melihat gadis itu mengerutkan kening saat membaca pesan tersebut.


"Siapa, Na? Papa kamu?" tanya Bara karena Nana hanya mengerutkan kening sambil membaca dan tidak membalasnya sama sekali.


"Bukan siapa-siapa. Gak penting, Bar!"


Bara merasa curiga mendengar jawaban Nana yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kamu yakin?"


Nana mengangguk. Tapi tak lama dering ponsel gadis itu berbunyi. Bara melihat sebuah nomor baru muncul di layar ponsel Nana.


"Ada yang VC itu, Na."


"Ck! Males banget, Bar! Biarin aja deh." Nana meletakkan ponsel mahal itu diatas pangkuannya.


Bara tahu, itu pasti nomor seorang pria yang berniat atau bahkan sering mengganggu Nana. Dan gadis itu hanya tidak ingin meladeninya.


"Biar gue angkat!" Bara mengambil paksa ponsel Nana dan langsung menjawab panggilan video itu.


Nana berusaha merebut ponselnya namun Bara berhasil mencegah Nana.


"Hai Selena..." sapa pria bersuara sedikit kurang nyaman di dengar ditelinga.


Bara yang penasaran langsung mengarahkan ponsel itu ke wajahnya. Ia bisa melihat pria berwajah agak dewasa dengan rambut agak ikal memenuhi layar ponsel Nana.


"Oh. Kamu siapanya Selena?" tanya pria itu sok kenal.


"Saya pacarnya. Anda siapa, ya?"


"Oh... Hahaha perkenalkan. Saya Dodit, teman kerja Nana."


Bara mengangguk pelan. "Ada perlu apa ya pak?"


Nana mengu-lum senyum karena Bara memanggil Dodit juga dengan sebutan Bapak. Harusnya pria itu sadar sudah setua apa wajahnya. Bukannya sok tebar pesona berlagak masih muda.


"Oh, saya hanya ingin mengundang Nana ke acara perayaan ulang tahun saya di club X."


"Ulang tahun dirayain. Kayak bocah SD aja." gumam Bara.


"Saya harap Selena bisa datang. Dia bisa ajak kamu sekalian. Semua teman-teman kantor saya undang juga, kok!"


"Ah, ya Pak. Akan kami usahakan," jawab Bara. Ia mengakhir panggilan itu.


"Kenapa kamu jawab begitu. Harusnya langsung tolak aja!" marah Nana.


"Kita gak boleh patahin semangat orang yang sedang ulang tahun, Na!" Bara tertawa pelan.


"Btw yang ke berapa, Na?" tanya Nara sambil tertawa lagi.


"Mana aku tau! Lihat wajahnya, kamu pasti udah bisa nebak sendiri, Bar!" Ucap Nana acuh.


"Empat tiga kayaknya, ya?"


Nana tertawa. "Jahat banget kamu, ih!" Nana memukul bahu Bara.


"Ya kan itu tebakanku. Kalau salah ya berarti aku belum beruntung!" Lagi-lagi Bara memancing tawa Nana.


"Btw, kenapa menghindar, Na?" tanya Bara.


"Gak apa-apa sih. Males aja."


"Ck! Padahal aku mikirnya ini si Sam loh! Taunya ada lagi yang berusaha deketin kamu."


"Mana lebih mateng!"


Nana kembali tertawa. "Jadi takut kalah saing nih sama Dodit yang mateng itu?" goda Nana.


"Takut kalah saing sih enggak, Na. Aku cuma takut kamu khilaf. Kalau gak khilaf aku yakin kamu tetap pilih aku!" Ucap Bara percaya diri.


"Kayaknya Jerman ngajarin kamu buat meningkatkan rasa percaya diri, deh!"


"Hahah... bisa iya bisa enggak sih!"


"Kok gitu?"


"Ku katakan enggak, karena disana aku benar-benar minder, Na."


"Mereka semua tinggi, besar, rambut pirang, kulit putih. Pokoknya gak pede deh, Na."


"Tapi bisa juga ku katakan ya. Jerman mengajarkan aku untuk percaya diri."


"Aku perlahan mulai menegakkan kepala, berani menatap mereka. Meski kulit masih hitam karena kelamaan main sama oli bekas di bengkel." Bara dan Nana kompak tertawa.


"Dan seiring berjalannya waktu aku mulai mengenal beberapa orang yang berasal dari negara yang sama denganku."


"Kami berteman, dan kami saling dukung."


"Akhinya aku punya rasa percaya diri. Aku merasa gak sendirian disana."


"Dan sekarang, udah glow up!" sambung Nana.


"Bentar lagi juga bakalan kucel lagi, Na."


"Karena bengkel?" tanya Nana seolah tahu apa yang akan Bara katakan.


Bara mengangguk.


"Lagi pula, kenapa kamu gak bekerja di perusahaan aja, Bar?" tanya Nana.


Bara menggeleng. "Aku gak mau kerja sama orang, Na."


"Kalau bisa aku menciptakan lapangan kerja untuk orang lain."


"Kamu tahu, Na. Banyak pria lulusan SMK khususnya jurusan otomotif yang punya keahlian tapi terbatas sama modal."


"Dan susahnya mencari kerja membuat mereka jadi pengangguran atau bekerja tanpa memanfaatkan keahlian mereka."


"Aku ingin merangkul mereka, Na. Memberika pekerjaan yang mudah-mudahan bisa membuat perekonomian mereka membaik."


"Kamu gak malu kan punya calon kayak aku?" tanya Bara pada Nana.


Nana menggeleng pelan. "Aku tahu tujuan kamu mulia, Bar! Semoga jalan kamu terbuka lebar dan diberi kelancaran disetiap urusan kamu."


"Amin."