Selena's First Love

Selena's First Love
BAB 11 MAKAN MALAM



Malam Minggu biasanya para muda mudi akan menghabiskan waktu dengan keluar rumah bersama teman atau pacar. Tapi sayang, itu tidak berlaku pada Nana.


Ia yang tengah tiduran di ranjang sore tadi harus segera bersiap untuk ikut dalam acara makan malam papanya.


"Sudah siap, Na?" tanya Ayu yang mengintip di pintu kamar putri sambungnya.


"Udah ma." Nana segera meraih slingbag dan sepatu flatnya di lemari.


Nana keluar dari kamar. Ia memakai A-line dress berwarna putih motif bunga kecil dengan panjang sebatas lututnya.


"Cantik banget anak mama." Ayu menggandeng lengan Nana sambil menuruni anak tangga. Sementara Syakiel dan Hadi sudah menunggu di ruang tamu.


Nana dan Ayu memakai dress dengan motif yang sama. Hanya saja, gaun yang Ayu gunakan memiliki panjang sebetisnya.


Hadi melihat dua wanita yang sangat ia cintai begitu kompak.


"Mama udah punya partner nih sekarang!" Jadi yang menggendong Syakiel menjemput mereka di bawah tangga dan langsung merangkul bahu Nana.


Jika selama ini hanya Hadi yang memakai kemeja dengan motif atau warna yang sama dengan Syakiel. Maka kali ini, dresa Ayu bisa kembaran dengan dress yang dipakai Nana.


"Iya dong! Ini perdana loh, kak Nana ikut kita dinner sama teman-teman papa."


"Pas papa kasih tau kalau malam ini kita dinner, mama langsung cari gaun senada sama Nana."


Nana tersenyum mendengar bagaimana ia begitu disayangi disini. Ia merasakan keluarga hangat dan utuh meski bukan dengan mama kandungnya.


Mama apa kabar, Ma? Nana kangen mama, padahal belum sebulan kita berpisah.


Nana tersenyum hambar demi menutupi rasa rindunya pada mama Salma, mama kandungnya.


Mereka segera berangkat menuju acara makan malam yang dihadiri oleh dua teman baik Hadi. Mereka juga datang bersama keluarga masing-masing.


Hadi dan keluarga tiba di salah satu restoran mewah. Mereka langsung menuju VIP room. Nana masuk kedalam dan dua keluarga lainnya sudah tiba lebih dulu.


"Hadi... Apa kabar!" Dua orang pria seusia Hadi menyambutnya. Hadi langsung menyalami mereka.


"Kabar baik." Jawab Hadi tersenyum senang. Nana menggandeng tangan Syakiel dan terus menatap bocah yang terus saja mengayunkan genggaman tangan mereka.


"Kamu apa kabar, Sur?" tanya Hadi pada temannya yang bernama Suryo itu.


"Kamu apa kabar, Wan?" Tanyanya pada temannya yang lain yang benama Wawan.


"Duduk... duduk..." Suryo mempersilahkan Nana dan keluarganya untuk duduk.


Nana duduk di salah satu kursi dari sepuluh kursi yang melingkari sebuah meja besar. Nana merasa nyaman duduk di kursi empuk itu.


"Sebelumnya, perkenalkan ini putriku, Selena..."


****


Rumah keluarga Dharmawan.


"Bara gak ikut, Pa."


"Kamu harus ikut!"


"Bara gak suka ada di acara papa itu. Acara sandiwara!" Bara malas untuk ikut di acara makan malam papanya bersama sahabatnya.


Ia beberapa kali terjebak di acara yang membuat orang tuanya bersandiwara seolah pernikahan mereka harmonis dan itu sangat memuakkan bagi Bara.


"Ikut!" Bentak Wawan pada putra bungsunya. Putri sulungnya sudah menikah dan ikut suaminya di Singapura yang merupakan seorang pemilik restoran seafood yang lumayan terkenal.


Bara mengalah, akhirnya ia berada disini, di ruang VIP restoran mewah yang masih ada beberapa kursi kosong disebelahnya. Kursi berjumlah sepuluh yang disusun mengelilingi meja bundar berdiameter sekitar 3 meter.


Bara tidak peduli saat Wawan dan temannya menyambut kedatangan temannya yang lain. Ia tak ingin dengar ataupun melihat.


Ia terus menunduk risih karena gadis dihadapannya terus menatap wajahnya. Dan Bara tidak suka itu.


"Sebelumnya, perkenalkan ini putriku, Selena."


Suara om Hadi? Selena?


Bara mengangkat wajahnya dan menatap ke arah kanannya. Ia dan Nana saling tatap dalam beberapa detik. Sama-sama terkejut dan tenggelam dalam pesona masing-masing.


Jadi, Om Hadi adalah salah satu dari teman papa yang hadir kesini? Cantik. Batin Bara saat menatap Nana.


"Udah dong terpesonanya." Ucap salah satu pria paruh baya yang duduk beberapa kursi dari Nana.


"Na, perkenalkan sayang!" Hadi yang duduk di dekat Istrinya itu memperkenalkan Nana pada tiap orang di sini.


Dimulai dari sisi kanan Hadi. "Ini Om Suryo." Tunjuk Hadi pada pria yang mengatakan udah dong terpesona.


"Disebelahnya ada tante Salsabilla." Tunjuknya pada wanita cantik dengan lipstick merah menyala yang merupakan istri Suryo.


"Disebelahnya lagi ada..." ucapan Hadi menggantung karena ia lupa nama putri sahabatnya itu.


"Dillara, Om," sambung gadis itu dengan suara lembut.


"Hahaha... maaf, om lupa-lupa ingat soalnya." Tawa Hadi menular pada yang lainnya.


"Yang itu, Tante Tamara," tunjuk Hadi pada wanita cantik yang merupakan mamanya Bara.


"Yang itu, om Wawan. Pemilik bengkel D'Service yang sepertinya sekarang sudah jadi bengkel langganan kamu," ucap Hadi penuh tawa seolah menyindir putrinya.


Nana hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada semua orang yang Hadi tunjuk sebagai ajang perkenalan kepadanya.


"Nah, disebelah kamu..." Hadi menunjuk Bara yang masih memasang wajah datarnya. Ia masih melirik gadis di depannya yang terus saja menatapnya.


"Udah kenal kan?"


Nana dan Bara kompak tersenyum malu dan mengangguk. Nana bisa melihat wajah gadis bernama Dillara itu mulai menunjukkan reaksi tidak suka.


Makan malam berlangsung dengan canda tawa ketiga pasang orang tua itu. Sementara Dillara, dan Bara saling diam. Dan Nana selalu berbicara pada Syakiel yang menanyakan banyak hal padanya.


"Mamanya gak laku nih, sekarang Bu Ayu?" tanya Tamara pada Ayu sambil melirik Syakiel yang terus berbicara pada Nana.


Ayu tersenyum kecil dan mengangguk. "Iya nih, mbak."


"Kakaknya terus yang di ganggu."


"Abang!" Semua orang tercengang saat dengan gaya SKSD Syakiel memanggil Bara yang tangannya sedang bermain ponsel dibawah meja.


Bara menatap Syakiel dan tersenyum kecil. "Hai jagoan!"


"Bukan, Bang!"


"Syakiel polisi. Abang pencurinya!" Syakiel menunjuk dirinya dan Bara bergantian.


"Syakiel... Gak boleh ngomong begitu, Nak!" Tegur Hadi dengan nada lembut.


"Gapapa, Mas. Itu cuma peran mereka kok." Ayu mencoba menjelaskan bahwa apa yang Syakiel ucapkan bukan karena ia kurang ajar pada Bara. Tapi karena Syakiel masih mengingat perannya saat bermain dengan Bara tempo hari.


"Gak apa-apa, Om." Bara ikut bicara. Semua orang mulai bingung kenapa Bara kenal dengan Syakiel dan Nana padahal ini makan malam perdana mereka setelah Suryo pindah dari Bali.


Semua orang mencoba memahami situasinya saat Nana menjelaskan bahwa ia dan Bara teman sekelas. Dan Bara pernah ke rumahnya dan sempat bermain dengan Syakiel.


"Bagaimana Wan? Kita jadi besanan nih?" tanya Suryo pada Wawan dan berhasil membuat Bara berhenti memainkan game di ponselnya.


Ia beralasan tengah membalas chat dari karyawan bengkel dan itu sangat penting hingga harus segera di balas. Sementara Nana hany mengulum senyum karena tahu bahwa Bara sedang berbohong.


Wawan juga sebenarnya tahu kelakuan putranya. Tapi demi membuat image baik, ia terpaksa membela putranya yang tidak beretika itu.


"Jadi dong!" sahut Wawan mantap.


"Jadi, Papa dan Om Suryo akan menjodohkan kamu dengan Dillara."


Duaar!


Petir menyambar di hati Nana dan Bara bersamaan.


Bara merasa hidupnya seperti pion yang harus menututi kemauan papanya. Bara merasa dirinya seperti mainan papanya yang bisa digerakkan kesana dan kesini.


"Mas!" Teriak Tamara tanpa sadar. Dan tatapan tajam Wawan yang seakan mengulitinya membuat Tamara langsung diam.


Bara mengepalkan kedua tangannya erat. Ia geram dan ia marah. Bara bersiap bangkit dari kursinya, tapi tangan Wawan mencegah dengan mencekal tangan Bara dibawah meja. Kakinya juga menginjak kaki Bara. Tujuannya adalah agar Bara tidak pergi dari ruangan itu karena jika putranya itu pergi, maka ia yang akan mendapatkan malu.


Nana hanya bisa mengontrol degupan jantungnya. Ia tak menyangka ini akan terjadi pada kisah cintanya. Kisah cinta yang bahkan belum ia ungkapkan.


Air matanya hampir menerobos keluar. Nana berdiri dari kursinya. "Ayo sayang! Katanya Syakiel mau pipis?" Nana membawa Syakiel yang kebingungan keluar dari ruangan itu menuju kamar mandi.