Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 47 Cemburu



"Loh, kamu jemput aku?" tanya Nana pada Bara saat dirinya melihat pria itu menunggu di dekat meja resepsionis di lobby kantor.


Pria berkemeja rapi itu juga baru saja pulang dari bengkel miliknya. Saat ini, Bara sedang mengembangkan bengkel mobilnya. Ia bahkan akan membuka dua cabang lagi di luar kota.


Pria itu belum ingin bekerja di perusahaan manapun, termasuk perusahaan milik papanya sendiri.


"Iya. Kenapa, Na? Gak boleh ya?" tanya Bara saat melihat wajah Nana begitu terkejut.


"Ehm, boleh," Nana mengangguk. "Heran aja, kamu gak ngabarin aku dulu."


"Tapi aku bawa mobil." Nana menunjuk mobil di parkiran.


"Gak masalah, tinggal aja disini. Besok pagi ku antar bekerja."


Nana berfikir sejenak lalu tak lama ia mengangguk setuju.


"Selamat sore Bu Selena..." Sapa Sam, si karyawan magang. Pria itu memakai jaket kulit miliknya dan di tangan kanannya ia membawa sebuah helm full face kesayangannya hingga tidak rela jika ditinggalkan di parkiran.


"Eh, hai. Selamat sore Sam!" balas Nana yang awalnya sedikit terkejut dengan sapaan Sam.


"Wah, dijemput pacar ya, Bu?" tanya Sam membuat Nana tersenyum canggung lalu mengangguk malu.


"Wah, saya terlambat nih sepertinya." Sam terkekeh dan menatap Bara yang juga menatap tajam kearahnya. "Udah ada yang duluin."


"Kira-kira masih bisa ditikung gak nih, Bu?" tanya Sam sambil bercanda.


"Tergantung kamu nikungnya dimana, Sam!" Nana malah membalas candaan Sam padahal wajah Bara sudah tidak bersahabat.


"Saya nikungnya di sepertiga malam aja deh, Bu. Dibalut dengan lantunan doa dan semoga saja berkah!" jawab Sam asal.


"Permisi Bu, permisi Mas. Saya duluan. Mau siap-siap nikung. Hahahah." Sam menunduk hormat sebelum pergi menuju parkiran dimana motor sportnya berada.


Nana masih menatap kepergian Sam. Lalu tangan Bara menggandeng tangannya dan membawanya berjalan menuju mobil.


"Dia siapa?" tanya Bara pada Nana.


"Dia? Maksud kamu Sam?" Tanya Nana dan Bara mengangguk.


"Oh...! Dia karyawan magang."


"Akrab sama kamu?" tanya Bara dengan nada datar.


"Ya, gak akrab banget sih, cuma sering minta tolong buat fotocopy-in berkas doang." jawab Nana lagi. Ia tidak menganggap serius apapun yang Sam katakan. Pria itu memang begitu, ramah dan suka bercanda dengan siapa saja.


"Kenapa?" tanya Nana.


"Enggak. Cuma heran aja, kok bisa cepat banget kamu akrab sama cowok itu padahal baru seminggu kamu bekerja."


Nana tahu kemana arah bicara pria disampingnya ini. "Kamu cemburu?" tanya Nana.


"Enggak!" jawab Bara cepat. "Aku tahu, kamu gak mungkin berhubungan sama laki-laki sembarangan."


"Kalau kamu bisa akrab sama dia mungkin memang karena dia benar-benar baik. Bukan baik karena mau modusin kamu," ucap Bara.


Nana tahu, ada rasa kesal di hati Bara. Ia duduk menghadap pria yang sedang mengemudikan mobil itu.


"Bar, kita udah komit buat nerusin hubungan ini. Buat kembali bersama dan mencoba memperbaiki diri dan sikap kita."


"Dan sekarang saatnya, Bar. Kamu harus fahami, sirkel pertemanan aku udah berubah, Bar!"


"Bukan hanya ada kamu, Sherly, Zahra dan yang lain."


"Aku bekerja di perusahaan papa, sekarang. Banyak orang yang ku temui, Bar. Sejenis ataupun lawan jenis. Mulai dari security sampai staff kantor."


"Mulai dari karyawan magang sampai klien penting yang datang ke perusahaan."


"Jadi, please!"


"Jangan sedikit-sedikit cemburu, sedikit-sedikit mikir negatif tentang aku."


"Aku juga gak bisa menutup diri dari mereka, Bar! Mereka tahu aku anak papa. Ada image yang harus ku jaga, Bar!"


"Aku bisa aja sombong ke mereka! Sok berwibawa atau mungkin aku naik menjadi sekretaris papa."


"Tapi itu semua gak sesuai sama prinsip yang ku pegang! Aku harus bisa berbaur sama siapa aja, Bar!"


"Please, sedikit aja, tiru caraku memperlakukan kamu!" Nana menunjuk Bara.


"Aku bebasin kamu kemana aja. Aku bebasin kamu bergerak, urus ini, urus itu. Pergi ke sana, pergi kesini."


"Sorry, Na."


"It's okey!" Nana mengangguk. "Ku rasa ini yang pertama dan terakhir kamu bersikap begini."


"Tanya baik-baik. Gak perlu pake ekspresi datar dan rasa kesal."


Bara menatap Nana sekilas. "Gak usah segitunya lihatin aku!"


"Aku udah tau kamu marah tadi! Aku udah tau kamu kesal."


"Ya, karena kamu balas semua ucapannya. Aku bisa melihat, dia tertarik sama kamu, Na," balas Bara.


"Harusnya kamu bisa bedain mana yang serius dan mana yang cuma bercanda, Bar!"


"Kalau kamu bisa lihat dia tertarik sama aku, seharusnya kamu juga bisa lihat kalau aku gak tertarik sedikitpun sama dia." Nana kesal. Ia menatap lurus kedepan.


"Na, sorry sekali lagi, yaaa." Bara mengusap bahunya. "Aku akan berusaha nahan emosiku."


"Harus, Bar!" tegas Nana.


"Iya... iya... aku harus nahan emosiku."


***


"Kamu balikan sama Bara?" tanya Hadi saat Nana baru saja tiba di rumah setelah jam 7 malam. Ia dan Bara memang menyempatkan diri menikmati jajanan pinggir jalan yang sudah lama tidak mereka rasakan selama tinggal di luar negeri.


Pria yang duduk di sofa bersama istrinya itu membuat Nana mau tak mau ikut bergabung. Hadi mengetahui bahwa Bara menjemput putrinya sore tadi.


Sebenarnya hubungannya dengan keluarga Bara baik-baik saja. Ia hanya heran, karena selama ini, Bara yang tidak pernah mampir ke rumah malah menjemput putrinya di kantor.


Nana menghempaskan tubuhnya asal di sofa. Hari ini tidak banyak pekerjaan tapi ia cukup merasa kelelahan.


"Ehm... kayaknya begitu, Pa!" jawab Nana.


"Kok kayaknya?" tanya Ayu. "Kamu ini gimana sih, Na?"


"Ya gimana lagi, Ma. Nana sama Bara coba jalani lagi semuanya. Mulai dari awal lagi," jawab Nana.


"Sudah kamu fikirkan baik-baik, Na?" tanya Hadi pada putrinya.


Nana mengangguk, "sudah, Pa."


"Ya sudah, jika memang kamu sudah memikirkannya. Papa cuma mau menasehati kamu. Dalam menjalin hubungan, tidak boleh ada satu pihak pun yang tersakiti."


"Ingat Na! Jika salah satu tersakiti, itu bukan hubungan yang sehat."


"Jika Bara masih mencintaimu dan kamu juga merasakan hal yang sama, papa dukung."


"Hidup kamu, kamu yang menentukan dan kamu juga yang menjalani."


"Papa cuma bisa menjaga da mengawasi."


"Yang penting, jaga diri baik-baik. Jangan membuat malu keluarga."


"Kamu harapan pertama papa."


Nana menganguk. "Iya, Pa. Nana janji gak akan buat papa kecewa."


"Pa, kenapa papa kayak kurang setuju kalau Nana balikan sama Bara?" tanya Nana karena semua yang Hadi ucapkan seolah karena pria itu meragukan sesuatu. Entah meragukannya atau meragukan Bara atau meragukan keberhasilan hubungan mereka.


"Papa gak bilang kalau papa gak setuju, Na."


"Kamu susah dewasa dan berhak menentukan pilihan."


"Papa kamu benar, Na," sambung Ayu. "Seorang papa akan tetap melindungi putrinya."


"Papa akan tetap khawatir meski kamu menjalin hubungan dengan orang yang ia tunjuk sekalipun."


"Meskipun papa menjodohkanmu dengan pria pilihannya, rasa khawatir itu pasti tetap ada."


"Mama cuma berpesan. Lepaskan saja jika kamu tersakiti, Na."


Ayu dan Hadi tau, lima tahun lalu hubungan keduanya sempat kandas. Meski tidak tahu alasan, tapi pasti karena ada hal yang tidak cocok diantara keduanya atau ada cekcok yang membuat salah satunya ingin melepaskan.


Ayu dan Hadi hanya ingin meyakinkan Nana atas apa yang telah gadis itu pilih. Mereka tak ingin melihat Nana menghabiskan waktu sia-sia hanya untuk kisah cinta yang pernah gagal dan mereka coba jalani kembali.