
Nana turun dari mobil dan ia bisa melihat Bara juga turun dari mobilnya. Pria itu terlihat sangat menawan dan berwibawa dengan beskap berwarna putih yang digunakan.
"Belum boleh lihat, sayang!" Ayu tertawa dibelakang Nana. Salma juga tertawa kecil karena putri tercintanya mencuri-curi pandang pada calon suaminya.
"Sayang! Jangan lihat dulu, dong!" bisik Hadi. "Kemarin pas fitting kan udah lihat!"
Nana tersipu malu karena apa yang ia lakukan diketahui oleh orang tuanya. "Gak sengaja lihat, pa."
"Alasan kamu, sayang!" Hadi tertawa dan terus menuntun Nana.
"Langsung ke meja akad saja, pak! Penghulunya sudah datang!" perintah tim W.O yang merupakan seorang wanita berusia sekitar 45 tahun itu.
"Oh... iya, Bu." sahut Hadi dan langsung membawa Nana ke tempat dimana akad nikah akan di laksanakan.
"Indah sekali, Na. Lebih indah dari foto yang di kirim tim W.O," bisik Hadi.
"Iya, pa. Nana juga speachless lihat ini. Ini lebih dari sempurna."
"Papa jadi merasa seperti mengantarkan bidadari ke khayangan." Nana tertawa.
Bara dan Nana duduk di kursi yang letaknya bersebelahan. Keduanya saling tatap sebentar dengan perasaan malu. Apa lagi, mendengar siulan Calvin di belakang sana. Dia merasa gugup karena pandangan semua orang tertuju pada mereka berdua.
Hadi mengambil posisi bersebelahan dengan penghulu, karena ia akan menikahkan putrinya secara langsung.
Bara sungguh berdebar. Ia tidak menyangka momen ini akan datang secepat ini dan rasanya.... Huuuh! Seperti akan terjun bebas dari ujung tebing.
Suami Tamara dan suami Salma menjadi saksi pernikahan mereka. Hadi sengaja meminta hal ini karena benar-benar menganggap keduanya sebagai bagian dari keluarga mereka.
Kalimat ijab kabul dengan mahar emas murni seberat 50 gram berhasil Bara ucapkan dengan satu tarikan nafas.
Hadi tak mampu menahan haru karena detik itu juga ia telah melepas putri kesayangannya.
Bara masih mengatur nafasnya, meski penghulu tengah membacakan doa. Sebaris kalimat yang membuat Nana menjadi miliknya. Kini Nana sudah menjadi tanggung jawabnya.
Bara wajib menasehati dan menegur gadis itu jika melakukan kesalahan. Tapi Bara wajib menafkahi dan membahagiakan Nana lahir dan batin.
Semua proses berlangsung penuh haru. Terlebih saat Nana melihat papa dan mama kandungnya berdampingan dengan pasangan masing-masing.
Kebahagian begitu terasa. Membuat ia begitu bersyukur ada diantara orang-orang yang menyayanginya, meski orang tua kandungnya sudah tidak lagi bersama.
"Nasehat mama sudah cukup banyak, Nak! Dan hari ini mama cukup mendoakan agar rumah tangga kamu langgeng hingga maut memisahkan," bisik Salma saat Nana memeluk dirinya.
Semua orang mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua. Dan dalam hati, Nana selalu meng-aminkan doa mereka semua.
"Foto dulu, kali!" Bukan mengucapkan selamat, Calvin malah minta foto.
Calvin mengarahkan kamera ponselnya untuk berfoto ria bersama teman temannya dan pengantin yang baru sah beberapa menit lalu ini.
"Repot banget! Ada tim fotografer kali, Vin!" sindir Bara tapi tak urung, ia ikut berfoto dan tersenyum manis di depan kamera.
"Ck! Sok ngehujat! Senyum juga kan lo!" ucap Calvin sambil tertawa saat melihat hasil jepretannya. "Dasar deterjen!" sambung Calvin lagi.
"Hahahah..." Nana tertawa. "Netijen kali Vin!" ralatnya.
Dan Calvin kembali mengarahkan kamera ponselnya. "Satu lagi deh, buat di igeh!"
"Yang tadi buat dimana, Vin," tanya Zahra.
"Di W.A" sahut Calvin langsung meng-upload foto mereka.
"Ck! Mr Sosial media," sindir Dimas.
"Iri bilang, bos!" sahut Calvin.
Dimas dan Salsa saling rangkul dan berfoto bersama Bara dan Nana. Lalu bergantian dengan putra dan Sherly yang sedang menunggu kelahiran anak pertama mereka.
"Punya cewek dong! Biar gak sosmed mulu yang dimainin!" bisik Dimas lagi. Pria berkemeja batik itu menyeringai.
Calvin melirik tak senang. "Itu artinya lo nyuruh gue mainin cewek, Dim!"
Bara terkekeh. "Gak gitu juga kali, Vin!"
"Dunia mimpi aja kalah!" sambung Salsa dan Dimas mencubit hidung gadis itu.
"Makin pinter pacar aku!" ucap Bara membuat Calvin bergidik ngeri.
"Lebay banget sih kalian!" sindir Calvin pada pasangan itu.
"Dunia ini bukan cuma milik kalian berdua, kali!" lanjutnya.
"Bukan milik kita sih, Vin! Tapi seenggaknya kita menikmati dunia bersama orang yang kita cintai." Dimas duduk di samping Calvin.
"Gak kayak lo! Menikmati dunia maya, sendiri pula!" Dimas tertawa.
Kali ini giliran Zahra yang berfoto dengan mereka berdua. "Bar! Lo ditengah!" pinta Zahra. Ia berdiri disamping Bara.
Bara merasa ada yang kurang. "Vin! Sekalian sini!" panggil Bara dengan melambaikan tangannya.
"Foto dulu, sana!" Dimas menunjuk kearah Bara dengan dagunya.
Calvin melihat kearah Bara dan berjalan mendekat. Calvin langsung berdiri di samping Nana.
"Kok kesannya, lo pasangan sama Nana ya, Vin!" protes Bara karena Calvin berdiri disebalah istrinya.
"Elah! Ribet banget sih, Bar! Udah sah baru lo cemburu!" keluh Calvin.
Pria itu mengalah dan berdiri di samping Zahra sementara Bara berdiri di samping Nana. Calvin dan Bara mengapit Nana dan Zahra di tengah.
"Udah bang!" Bara memberi kode pada fotografer yang siap membidik mereka.
"Udah bang?" tanya Calvin.
Pria yang memegang kamera itu mengacungkan ibu jarinya. "Perfect, Mas!"
"Gak acara tunangan, gak akad, selalu lo yang bikin ribet, Vin!" Ucap Putra.
"Hahah, calon papa akhirnya ngomong juga setelah diem diem bae dari tadi." Calvin duduk di samping Putra. Ia malas duduk di dekat Dimas yang entah mengapa hari ini terlalu banyak menyindirnya.
Sementara itu Bara dan Nana berpindah pada tamu yang lainnya.
"Tau kenapa?" tanya Sherly.
Calvin mengeleng. "Emangnya kenapa suami lo, Sher? Sakit gigi?"
Sherly menggeleng. "Dia gak tahan sama aroma parfum lo!"
Calvin mengerutkan kening. Ia lantas mencium kemeja batiknya dan menghirup dalam-dalam aroma parfum mahal yang baru ia beli di online shop.
"Seger gini! Enak tau!" ucapnya. "Baru beli gue, Put!"
Putra menutup hidungnya. "Dan gue gak suka, Vin!" Putra berpindah tempat duduk. "Perut gue kayak diaduk-aduk."
Calvin semakin heran. "Aneh banget suami lo, Sher!"
Sherly tertawa. "Berdoa aja, entar lo gak ngerasain apa yang suami gue rasain!"
Calvin semakin bingung. "Emangnya dia sakit apa?"
Salsa tertawa. "Berarti selama ini Putra yang ngidam, Sher?"
Sherly tertawa dan mengangguk. "Iya, Mbak. Malah, sampe sekarang. Sampe usia kandunganku hampir 9 bulan!"
Salsa tertawa kecil. "Kasian banget, Put! Sabar ya... Yang penting istri sama baby kalian sehat."
"Mudah-mudahan setelah lahir, gak begitu lagi..."
"Memangnya ada yang begitu, Yang?" bisik Dimas.
"Ada... Dan aku berharap kelak kamu gak merasakannya ya..." Salsa menyandarkan kepalanya di lengan Dimas, pria yang siap menikahinya dalam waktu dekat.