Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 58 Grand Opening



Nana terlihat cantik dengan setelan blazer dan pencil skirt berwarna biru. Bara juga memakai kemeja biru dengan blazer berwarna hitam senada dengan celana yang ia pakai.


Ratusan tamu sudah datang dan duduk di tempat yang di sediakan. Kedatangan Bara dengan menggandeng Nana membuat para gadis mendadak gigit jari.


Sebagian orang menduga, Nana adalah sekertaris Bara, walaupun sebagian orang telah mengetahui bahwa Nana adalah kekasihnya.


Tapi perlahan mereka semua mengerti, melihat Bara yang memperlakukan Nana begitu istimewa. Bahkan gadis itu tampak turut bergabung dengan keluarga Bara.


Sebenarnya, selama ini kabar yang tersebar, menyatakan bahwa Bara adalah pria single dan belum pernah kedapatan membawa pasangannya. Dan itu membuat para orang tua, dan para gadis yang beberapa kali menjadi langganan D' Servis mendadak ingin diundang dalam acara grand opening ini.


Bara tentu menyambut baik keinginan itu, ia menganggap itu termasuk dukungan dari pelanggan pelanggannya.


Acara dimulai, Bara menyampaikan sambutannya di depan tamu undangan. Ada Wawan dan istri keduanya yang tersenyum bangga pada Bara.


Ada Tamara, mamanya yang juga turut hadir. Semua orang bangga dan salut pada Bara. Pemuda yang berasal dari keluarga kaya itu malah memilih jalannya sendiri.


Padahal ayahnya memiki perusahaan sendiri, sebuah kebun teh beserta pabrik pengolahannya. Bahkan Wawan juga memiliki pabrik pengolahannya menjadi minuman dalam kemasan botol.


Setelah mengguntingan pita, Bara berkeliling menyapa tamu. Ia ingin mengajak Nana dan memperkenalkannya, namun Nana menolak karena gadis itu lebih suka berbagi cerita dengan Tamara, mama kandung Bara.


Mama Ayu dan Papanya juga ada di tempat ini. Mereka berkumpul di meja yang sama.


"Kita jadi besanan, Di," ucap Wawan senang karena ia baru tahu putranya datang dengan menggandeng Nana, putri sahabatnya.


Hadi tertawa. "Iya. Semoga saja mereka berjodoh, Wan!"


"Aku juga gak ingin kalau akhirnya Nana memperkenalkan pria lain lagi. Aku harus mulai dari nol mencari tahu bibit, bebetnya, karakternya."


"Kalau Bara, kan aku sudah kenal." Hadi tertawa.


"Wah, masuk kriteria mantu dong anakku?" tanya Wawan.


"Bisa dibilang lulus seleksi kan, Di?" tanya Wawan lagi.


"Wah, aku juga gak tau, Wan! Keputusan final tetap di tangan Nana."


"Tapi kayaknya Nana udah ngerasa cocok kok sama Bara," potong Ayu sambil melirik putri sambungnya itu.


Semua orang berucap syukur, sementara Nana merasa khawatir karena pipinya yang sudah pasti bersemu merah. Dan itu sangat memalukan.


Jujur, ia merasa bahagia. Karena satu hal terpenting dalam suatu hubungan sudah ia dapatkan, yaitu restu orang tua.


Sedalam apa pun sepasang kekasih saling mencintai, jika tidak mendapat restu orang tua, akan sangat berat hubungan itu untuk dilanjutkan.


"Kamu kapan, siap dilamar, Na?" tanya Tamara. "Tante sudah mulai tua, gak sabar pingin nimang cucu."


"Loh, bukannya anak pertamanya sudah menikah ya, Mbak?" tanya Ayu. Yang dimaksud adalag Samara, kakak kandung Bara yang sekarang menetap di Singapura.


"Jauh, Yu! Di Singapur, bisa gendong setahun dua tiga kali kesempatan, setelah itu anaknya udah lari-larian!" Tamara tertawa mengingat cucunya yang berjumlah dua orang itu.


Pernikahan kedua Tamara, ia tidak di karuniai anak. Ia dan suami barunya justru merasa tidak ingin punya bayi di usia mereka yang tidak lagi muda.


Keduanya malah memilih untuk saling melengkapi satu sama lain. Saling dukung dan sayang hingga akhir hayat. Karena bagi mereka, kelak anak-anak mereka juga akan memberikan bayi lucu yang mereka sebut cucu.


Nana menggelengkan kepala. "Belum tahu , tante."


"Baranya juga masih mulai usaha, Nana juga masih baru bekerja."


"Nana rasa, gak perlu buru-buru. Masih muda juga, kan?"


"Menurut om, lebih cepat lebih baik."


"Bara itu punya hak di perusahaan om! Uang dia masih ada sama om kalau yang kamu khawatirkan adalah soal biaya."


Ya, setelah perceraian Wawan dengan Tamara, istri pertamanya, pria itu memberikan lima persen saham untuk Tamara, lima persen untuk Samara dan sepuluh persen untuk Bara. Sisanya adalah milik dirinya dan beberapa orang pemegang saham.


Hak Bara masih disimpan dengan baik oleh Wawan. Bara tidak ingin menerimanya. Tapi Wawan tetap menyisihkannya untuk tabungan Bara di masa depan.


Nana menghela nafas, di depannya ada Bara yang sedang menyapa seorang pria. Tatapan mata keduanya bertemu dan bara tersenyum kecil kearahnya.


Enak banget kamu bisa senyum disana, Bar. Sementara aku disini deg-degan setengah mat*i menghadapi keluarga kamu.


"Bukan begitu, Om." Nana tetap tidak ingin terlihat gugup.


"Usia kami masih muda, Om. Dan banyak faktor yang membuat Nana belum memikirkan sampai sejauh itu." Ia berbicara dengan penuh percaya diri.


"Salah satunya karena Bara belum pernah membahas ini bersamamu?" tanya Tamara.


Nana menatap calon mama mertuanya itu. Ia mengangguk. "Salah satunya itu, tan."


Memang benar, ia dan Bara belum pernah membahas mengenai pernikahan.


Tamara tersenyum kecil. "Bara memang seperti itu, Na."


"Dia itu jarang mengajak bicara mengenai hal-hal penting, tapi...."


"Sekali ia bicara, itu artinya hal itu sudah naik level menjadi sangat-sangat penting." Tamara tertawa kecil.


"Irit bicara ya, Mbak?" potong istri kedua Wawan.


"Iya, dia tuh bicara cuma untuk dua hal. Bercanda sama serius banget!"


"Kalau belum masuk kategori serius banget, dia gak akan bicara."


"Sama halnya kayak dia punya plan apa gitu, dia akan cerita kalau waktunya udah mepet."


"Mamanya Bara benar, Na." sambung Wawan. "Contohnya, Om. Om baru di kasih kabar tentang grand opening ini, kemarin sore!"


"Bisa kalian bayangkan, aku dari luar kota harus berangkat malam dan terburu-buru gara-gara kebiasaan Bara yang satu itu."


Mereka tertawa. Sementara Wawan membuat Nana tercengang. Pasalnya, ia sudah diberi tahu sejak beberapa hari lalu. Dan yang membuat heran justru papanya sendiri, Bara beri kabar kemarin.


"Anak Om yang satu itu memang ajaib. Makin gede makin susah di tebak."


"Makanya om tanya kamu, kapan siap di lamar."


"Kalau nunggu dia cerita atau minta izin, om jamin, malam pertunangan kalian, om baru dijemput sama dia!"


Mereka lagi-lagi tertawa. "Asal jangan dijemput pas hari H pernikahan mereka, Wan!" Ejek Hadi.


"Wah, kalau itu terjadi, ku suruh balik pak penghulu sama semua petugas dari KUA, Di." Lagi- lagi kalimat Wawan mengundang tawa.


"Biarin ditunda nikahnya sampai besok atau beberapa hari kedepan." Hadi tertawa bersama Wawan.


"Seru banget, lagi ngobrolin apa?" tanya Bara yang berdiri dibelakang kursi Wawan dan ia tepat memandang wajah Nana yang ada di depannya.


"Masalah pernikahan kamu sama Nana." Sahut Wawan membuat putranya itu tercengang.