Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 48 Perjalanan



Nana mematut dirinya di depan cermin. Ia sudah bersiap sejak pagi tadi. Rencana akan berlibur ke puncak sekaligus- meramaikan acara foto prewedding Putra dan Sherly tentu tidak ia sia-siakan.


Ia menggeret sebuah koper kecil berisi beberapa pasang pakaiannya. Ia melihat Bara sudah menunggunya di ruang tamu sambil berbincang dengan Hadi.


"Itu, Nana!" tunjuk Hadi kearahnya. Pria yang ia panggil papa itu tampak tersenyum lebar. Entah perbincangan apa yang pria itu bahas dengan Bara tapi yang pasti sepertinya papanya itu merasa cocok dan senang menjadikan Bara sebagai lawan bicaranya.


"Sudah siap, Nak?" tanya Hadi.


Nana mengangguk. "Sudah pa. Ngobrolin apa? Seru banget kayaknya? Nana lihat dari atas pada ketawa-ketawa."


"Enggak. Cuma bahas masalah pria dewasa," jawab Hadi sambil tertawa. Dari ekor mata Nana, terlihat Bara juga ikut tertawa.


"Ck!" Nana pura-pura cemberut. "Pria dewasa? Papa udah mendekati..." Nana tak melanjutkan kalimatnya.


"Hahaha... iya... iya... papa udah mendekati lansia kan maksud kamu?"


Nana tertawa lantas langsung memeluk Hadi. "Umur papa boleh tua. Tapi fisik harus kayak usia 30an. Papa harus sehat terus." Nana merasa takut kehilangan papanya. Mengingat usia pria itu sudah hampir 60an tahun.


Nana berdiri menghadap papanya. Ia menunjuk dada pria yang berbalut kaos kerah itu.


"Jantung ini harus sehat. Jangan sampai ada penyumbatan. Olahraga teratur, kurangi kopi, makanan berminyak, dan makanan yang mengandung kolestrol berlebih!"


Hadi tertawa. "Dokter juga gak gini-gini amat menasehatinya, Na."


"Nana ini bukan dokter biasa, Pa. Kadang bisa jadi satpol PP, Security, kadang juga bisa jadi Hulk kalau papa gak nurut."


Ayu yang berjalan dari arah dapur malah terbahak. "Papa kamu memang minta di marahin tiap hari, Na."


"Bandel banget..."


"Marahin aja, Ma. Kalau perlu, cubit aja lemak-lemak di perut papa." jawab Nana memanas-manasi.


Bara dan Nana segera berpamitan setelah Ayu memberikan satu paperbag berisi makanan untuk bekal perjalanan mereka.


"Kita akan ke rumah Calvin, Dimas dan Zahra," ucap Bara setelah mobil mereka memasuki jalan raya yang lumayan padat.


"Mereka ikut mobil kita?" tanya Nana.


"Ya..." Bara mengangguk. "Harusnya mereka naik mobil Dimas. Tapi setelah ku fikir-fikir sebaiknya mereka ikut kita."


"Lagi pula, pasti kamu bosen diem diem aja di mobil sementara aku harus konsentrasi sama jalan yang akan kita lewati nanti."


"Nanti aku di belakang sama..."


"Enggak, kamu sama aku di depan!" potong Bara karena Nana meminta duduk di belakang bersama Zahra.


"Zahra biar bertiga sama Dimas sama Calvin. Kalau dirasa sempit, Calvin bisa dibelakang!"


Ya, Bara sengaja membawa mobil berukuran besar setelah tahu ketiga temannya itu ikut di mobilnya. Perjalanan yang lumayan panjang akan terasa tidak nyaman jika di dalam mobil terasa sempit.


"Sama koper dong?" tanya Nana sambil tertawa. Ya, dibagian belakang ada koper miliknya karena Bara hanya membawa satu ransel yang mungkin hanya berisi dua sampai tiga pasang pakaiannya.


Bara tertawa. "Biarin aja! Dia cocok banget berteman sama koper."


***


"Gi*laaaaa!" seru Nana takjub. "Ini sih sejuk banget!" Nana membuka lebar kaca mobil di sampingnya


"Ah, gue jadi pengen punya rumah disini!" ucap Nana. "Itu, di antara sawah sama pepohonan. Wah, pasti enak banget tuh!"


"Eh, Bar gak apa-apa kan gue buka?" tanyanya pada Bara saat mereka sudah memasuki kawasan dengan pemandangan hijau dan sawah yang membentang luas.


"Gak apa-apa," jawab Bara.


Zahra dan Dimas melakukan hal yang sama, membuka kaca dan menatap kearah luar. Sementara Calvin sibuk merekam perjalan mereka.


Hamparan sawah hijau berhasil menghipnotis mereka yang sudah terlalu penat dengan padatnya jalanan ibu kota.


Seketika tawa mereka pecah. "Itu kerbau lah Nana." Jawab Calvin lemas saat melihat dua ekor kerbau sedang berkubang dilumpur. Ia sempat mengira jika memang ada seseorang yang mirip dengannya.


"Hahaha... Gue terlalu excited Vin, jadinya ngasal nyebut nama lo." Nana tertawa sambil menyebutkan alasan yang tidak jelas.


"Calvin mah terlalu ganteng kalau dibandingin sama kerbau!" sela Dimas.


"Dia cocoknya disamaain sama apa bang, Dim?" tanya Zahra memancing satu jokes lagi.


"Sama orang-orangan sawah yang itu... tu...!" tunjuk Dimas pada orang-orangan sawah yang berdiri tegak di tengah hijaunya tanaman padi.


Sebuah boneka dari jerami berbentuk manusia, diberi pakaian bahkan dan topi layaknya manusia sungguhan. Gunanya untuk menakut-nakuti burung yang akan memakan padi milik petani.


"Hahaha...." Tawa mereka meledak seketika.


"Runtuh sudah reputasi babang Calvin guys!"


"Gil*! Lo masih live?" tanya Nana terkejut.


"Iyalah! Lihat nih yang comment sampe ratusan!" Calvin menatap layar ponselnya.


"Jangan heran, Na. Dia memang begitu, semua momen selalu di live-in. Lama-lama lagi pup juga dia bakalan live. Hahahah." ejek Zahra.


"Boleh dicoba ide lo, Ra! Gue kan meski lagi pup tetap aja ganteng!" ucap Calvin percaya diri setelah ia mengakhiri livenya di sosial media.


"Masa sih, Vin?" tanya Dimas. "Lo yakin? Emang pas lagi pup lo lihat ke cermin?" tanya Calvin Dimas.


"Ya, lo lihat tadi pagi pas kita lagi Video Call, gue jelek apa ganteng?" tanya Calvin.


"B aja." jawab Dimas cepat.


"B aja kan? Nah berarti gue tetep ganteng. Tadi gue tuh lagi pup, tau!"


"Astaga! Jorok banget sih lo, Vin." keluh Dimas dan yang lain mentertawakan Calvin.


Mereka tiba di lokasi, tepat dibelakang mobil Putra dan Sherly serta satu mobil lagi yaitu tim fotografi.


"Mahal ini, mahal!" Seru Calvin begitu ia turun dari mobil. Sebuah Villa dua lantai dengan halaman lumayan luas menjadi tempat beristirahat mereka sampai esok hari.


Nana juga turut mengagumi hunian mewah yang Putra sewa untuk mereka semua. Rumah minimalis modern yang di dominasi jendela besar dari kaca itu membuat Nana tak sabar melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu.


"Ayo masuk!" Ajak Putra setelah seorang pria penjaga villa membukakan pintu untuk mereka.


Mereka diajak berkeliling sebentar, agar memahami ruangan apa saja yang ada di dalamnya.


Bara melihat setiap sudut ruangan bahkan hingga tatanan taman di halaman belakang. Sebuah kolam renang yang tak terlalu luas menjadi salah satu fasilitas yang disuguhkan tempat ini.


Bara bisa melihat Nana begitu takjub melihat kondisi dan suasana rumah.


"Bagus banget, ya Na?" tanya Bara.


Nana mengangguk. "Banget! Paling enak ya udaranya, Bar! Gak bikin gerah!" Nana tertawa kecil.


"Kayaknya gue betah disini, Na," sambar Zahra. "Pindah ke daerah sini kayaknya seru juga!"


"Lo cari cowok ganteng warga sini, terus lo nikahi Zar!" Canda Sherly. "Di jamin lo bisa hidup di sini tanpa pusing-pusing sewa villa."


"Ngomong doang gampang, Sher! Gini hari, cari cowok serius susah tau! Buktinya bertahaun-tahun gue masih jomblo aja!"


"It's okey dede Zahra!" Dimas merangkul pundak gadis itu. "Babang Calvin masih ada."


"Ogah!"


"Ogah!" jawab Calvin dan Zahra bersamaan.