Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 55 Chat



Pesta pernikahan Putra dan Sherly sudah berakhir. Mereka semua kembali pada rutinitas seperti biasanya.


Nana menjejakan kakinya menyusuri lobby kantor. Karyawan kantor sudah terbiasa dengan kehadirannya. Dia yang tampak anggun dan ramah membuat para karyawan tak perlu lagi menebak-nebak bagaimana sikap anak bos yang satu ini.


"Selamat pagi, Bu Selena!" sapa Sam yang selalu rajin dan datang tepat waktu.


"Selamat pagi, Sam!" Nana terus berjalan dan masuk ke dalam lift. Namun ada hal yang membuatnya sedikit kesal karena ia hanya berdua dengan pria bernama Dodit.


"Selamat pagi, Selena."


"Selamat pagi, pak Dodit."


"Kenapa naik lift khusus karyawan jika kamu berhak untuk naik lift khusus petinggi?" tanya Dodit sedikit membuat Nana tersinggung.


Terserah padanya mau naik lift yang mana. Lagi pula statusnya hanya karyawan biasa, bukan Direktur atau manager.


Mulai julid nih mulut lemeess!


"Apa saya mengganggu ketenangan anda di sini?"


"Tidak, hanya saja terasa sedikit aneh, seorang anak bos tidak memanfaatkan fasilitas dengan baik."


Oh Tuhan, mengapa harus hanya berdua dengan pria ini?


"Jika anda ingin, silahkan gunakan lift khusus petinggi atau anda ingin saya mintakan izin pada pimpinan agar anda diberi kesempatan untuk menggunakan fasilitas khusus itu!"


Dodit tersentum tipis. "Terima kasih, tapi tidak perlu karena saya suka berdesakan disini!"


Nana diam tanpa ekspresi. Dasar otak kotor! Dia pasti suka berdesakan dengan karyawan wanita.


"Jika ingin berdesakan, harusnya anda naik lift lima menit sebelum jam kerja dimulai." Ya, karena saat mepet jam masuk biasanya lift akan ramai dipenuhi para karyawan.


"Tapi hari ini saya ingin bareng sama anak bos!"


Oh Tuhan! Apa seperti ini cara-Mu menguji kesabaranku?


Pintu lift terbuka dan Nana segera menuju ke ruang kerjanya. Dodit tidak terlihat dibelakangnya, karena pria itu mampir ke ruangan lain.


"Kenapa tuh muka?" tanya Salsa yang hari ini datang lebih cepat darinya. "Bara gak kasih morning kiss ya?" bisik Salsa membuat Nana langsung menatapnya.


"Ck! Enggak ya?"


"Ketebak banget!"


"Coba deh, bikin mood balik lagi, tauuu!" Kalimat Salsa bak bisikan setan di telinga Nana.


"Sok tau!" jawab Nana.


"Ck! Tau dong, gue tiap hari dapat vitamin B1 dari Ardi!"


"Dimas kali, mbak!" Sela Nana.


"Hahaha... Ardi lebih istimewa, Na. Gak semua orang manggil dia begitu."


"Jadi kayak panggilan khusus yang cuma buat gue."


Nana tersenyum tipis. "Na, bibir brondong ternyata manis banget!" bisik Salsa membuat Nana mendelik kearahnya.


Salsa malah tertawa melihat wajah Nana. "Bikin candu!" bisiknya semakin menjadi-jadi.


"Tau ah!" Nana cemberut. Ia mengambil ponselnya mencoba mencari hiburan disana.


Entah mimpi apa ia semalam. Di lift ia bertemu Dodit yang seperti setan bertanduk dan dimeja kerjanya ia bertemu Salsa yang terus berbisik seperti ibl*s penggoda manusia.


Ia melihat sebuah pesan dari Bara yang masuk sepuluh menit lalu. Ia tersenyum kecil membaca isi pesan itu lalu ia membalasnya.


Bara


Semangat kerjanya, Na!


^^^^^^*Sama-sama, kamu juga semangat kerjanya. Semoga urusan bengkel baru cepat selesai.^^^^^^


Udah nyampe di kantor?


^^^Udah, baru aja! Kamu?^^^


Aku belum berangkat,


mungkin sebentar lagi.


Jalanan juga masih macet, kan*?


^^^Oke. Nanti kalau berangkat, hati-hati dijalan.^^^


Nana berdiri dari kursinya. Ia merasa ada sesuatu yang aneh.


Astaga! Aku datang bulan!


Nana meraih tasnya dan segera berlari ke kamar mandi. Hari ini memang sudah menjadi jadwal tamu bulanannya. Untuk itu ia membawa persediaan pembalut di dalam tasnya.


"Kemana, Na?" tanya Salsa.


Salsa tersenyum jahil saat melihat ponsel Nana tergeletak diatas meja. Sebuah ide muncul di kepalanya.


"Na, minjem hape lo!" bisik Salsa.


"Ambil aja, mbak! Ada diatas meja, kok!" ucapnya lagi seolah menirukan suara Nana.


Salsa mengambil ponsel gadis itu dan melihat isinya.


"Kebiasaan banget, hape gak pake sandi," gumam Salsa saat melihat ponsel Nana dan tidak perlu bersusah payah memikirkan kata sandinya.


"Kan gue jadi enak!" lanjutnya tertawa licik.


Salsa membuka pesan Bara dan terkekeh kecil.


"Astaga, bocah SMP aja bisa lebih romantis dari ini."


"Chat apaan ini?"


"Kaku kek jemuran!"


"Lebih mirip sama rekan kerja dibanding pacar!"


Dan sebuah pesan chat dari Bara masuk ke ponsel Nana. Salsa dengan senang hati membuka isi pesan itu.


Ya, jangan terlambat makan siang.


"Ck! Bara, lo yang terlalu kaku atau Nana yang terlalu polos sih?" gumam Salsa.


Ia tersenyum lebar dan membalas chat itu. Lalu kembali meletakkan ponsel Nana diatas meja.


Ia tidak menghapus pesan itu karena, percuma saja, Nana juga akhirnya akan tahu. Ia sudah siap dengan segala resikonya.


Salsa sadar, yang ia lakukan ini sudah melanggar privasi Nana. Tapi rasa gemasnya terhadap sepasang kekasih itu membuat jiwa usilnya meronta-ronta.


Nana kembali dari toilet dan melihat Salsa senyum senyum sendiri sambil menatap kedatangannya. Nana mengerutkan kening merasa heran atas sikap gadis itu.


"Aneh lo!" Sindirnya pada Salsa.


"Biarin. Wleee!" Ejek Salsa.


"Kayaknya lo overdosis vitamin, deh." sindir Nana sambil terkekeh.


Salsa mengangguk. "Na, lo gak tau aja gimana rasa benda kenyal nan memabukkan itu," bisik Salsa sedrama mungkin.


"Ehhmm.." gadis itu membasahi bibirnya sendiri, membuat gaya sesensu*al mungkin dan berhasil membuat bulu kuduk Nana kompak berdiri tegak.


"Manis dan..."


"Lip gloss lo kali mbak, yang manis!" sahut Nana mencoba mematahkan pendapat Salsa.


Salsa mendelik menata Nana. "Ide lo bagus juga, Na!" Salsa tersenyum senang.


"Entar sore gue mau coba pake lip gloss stroberi ah! Do'i pasti makin semanget buat ngulang!"


"Ih!" Nana bergidik ngerih. "Gak nyangka gue, cinta bikin orang gil*a makin gil*a!"


"Lagian, Dimas bisa-bisanya jadi rakus begitu," keluh Nana melihat Salsa yang seperti orang gil* hanya karena menceritakan rasa manis bibir pria itu.


Sebuah balasan dari Bara kembali Nana terima. Dan matanya membulat sempurna melihat isi chat itu.


"Mbak Salsa!" Teriak Nana sambil berdiri sementara gadis disampingnya terbahak memegangi perut.


***


Sementara itu Bara sedang menyesap kopi dibalkon apartemennya. Ia menunggu balasan chat dari Nana.


Bara tersenyum saat mendengar suara notifikasi sebuah chat masuk.


"Uhuk! Byuur!" Kopi yang tak lagi panas itu menyembur keluar dari mulut Bara.


Matanya membulat sempurna. Ia melihat ulang balasan dari Nana.


Ia menyeka bibirnya dengan punggung tangan. Ia juga sempatkan melihat awan pagi yang tampak cerah ini karena tidak ada angin, tidak ada hujan, balasan pesan Nana sungguh diluar dugaan.


Sebuah balasan yang membuat Bara hampir lupa bagaimana caranya bernafas.


^^^Oke sayang. Kamu juga yaaa. Semangat kerjanya. Mmuaaachhh 😙^^^


Bara membaca chat itu berulang kali. Ia bahkan membongkar chat lamanya dengan Nana mencoba mencari balasan lain yang Nana selipkan sebuah ciu*man, namun tidak ia temukan.


Dia gak pernah kirim balasan begini sebelum-sebelumnya. Nana kenapa sih? Kenapa pagi ini tiba-tiba dia ngirim pesan begini?


Oh Tuhan, kenapa mesti dia sih yang mulai duluan. Apa dia seingin itu sampai dia yang memulai?


Tapi, seorang Selena yang gue kenal sepertinya gak seagresif ini.


Apa gue bales aja ya ciu*mannya?


Akhirnya dengan berfikir sejenak. Bara membalas pesan Nana hanya dengan sebuah ciu*man beserta emoticonnya.