Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 45 Balikan



"Na..." Bara akhirnya memberanikan diri untuk bicara dengan Nana.


Nana berbalik dan menemukan Bara ada di belakangnya.


Ia menunduk sejenak untuk menetralkan debaran jantungnya. Jujur, ia merasa terkejut karena kehadiran pria itu.


"Ya..." Nana menatapnya sekilas. "Butuh sesuatu?" tanyanya. Mungkin Bara ingin makan atau minum sesuatu hingga pria itu datang ke dapur.


Bara menggeleng. "Bisa bicara sebentar?" tanya Bara.


Nana melihat sekitar dan jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, apakah wajar jika keduanya berbicara tengah malam begini dan hanya berdua?


"Sebentar aja, Na."


"Kutunggu di halaman belakang." Bara membuka pintu di dapur dan berjalan ke halaman belakang. Ada sofa disana, tepatnya di teras belakang yang langsung menghadap ke taman kecil yang sepertinya dirawat dengan baik.


Pencahayaan yang terang membuat Bara tidak takut jika ada yang melihat mereka. Toh, keduanya tidak melakukan apapun. Mereka hanya ingin berbicara serius.


Nana membawa sebotol minuman dingin di tangannya. Ia mengikuti langkah Bara.


Baiklah, jika tidak sekarang, kapan lagi? Lagi pula besok pun belum tentu kami punya waktu untuk bicara berdua.


Nana duduk di samping Bara. Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Nana melirik Bara yang sepertinya belum siap untuk bicara.


Terdengar helaan nafas Bara. "Na... Aku gak tahu harus mulai dari mana."


Nana menatapnya sekilas sebelum akhirnya memandang lurus ke depan. Ia sedang mempersiapkan hatinya untuk semua kemungkinan yang akan terjadi.


"Pertama, sorry untuk tuduhanku lima tahun lalu yang menyamakanmu dengan..."


"Huuh!" Bara menghebuskan nafas dan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Jujur, aku gak tahu dia adalah kakakmu. Dan bod*ohnya lagi aku baru tahu malam ini."


"Lima tahun aku hidup dalam kesalahfahaman." Bara menertawakan kebod*ohannya itu.


Nana diam saja. Ia bahkan enggan menatap Bara.


Aku memang tidak ingin memberi tahu siapa pria itu sampai kamu yang bertanya Bar, tapi nyatanya sampai detik ini kamu tidak bertanya meski pada teman-teman kita.


Aku menganggap bahwa kamu memang tidak mempercayaiku sedikitpun. Kamu lebih percaya atas apa yang kamu lihat.


"Sorry kalau aku gak pernah memperjelas status kita."


Semuanya sudah jelas ketika kamu benar-benar tidak pernah lagi mengajakku berbicara membahas masalah ini.


"Aku terlalu pengec*ut untuk mengatakan hal yang terjadi sebenarnya pada orang tua kita."


Kamu memang pengec*ut!


"Sorry aku memilih pergi dan pindah sekolah."


Pengecu*t!


"Itu karena aku gak sanggup lagi melihatmu yang kerap kali diam. Aku gak mau lihat kamu yang merasa enggak nyaman karena keberadaanku, Na."


"Dan sekarang, aku kembali. Aku memohon maaf atas semua kesalahan dimasa lalu."


"Aku merasa gagal menjadi seorang pria karena aku membiarkan gadis yang ku cintai terluka." Nana menatap Bara dengan mata berkaca.


Kamu mencintaiku? Itu dulu, Bar!


Bara bisa melihat air mata menggenang dipelupuk mata gadis itu.


"Dan sampai sekarang perasaan itu masih sama, Na," lanjut Bara seolah tahu isi hati Nana.


"Aku hidup dalam rasa bersalah, Na. Untuk mencintai gadis lain, aku gak bisa." Bara menggeleng pelan.


"Hatiku tertinggal di negara ini meski aku berada jauh di negara orang lain."


"Aku gak pernah bisa memulai hubungan dengan siapapun. Aku menyerah bahkan saat aku belum mencoba."


Bara diam sejenak. Ia menghela nafas yang rasanya sudah hampir habis karena terus bicara tanpa jeda.


"Na, aku gak tahu rasa itu masih sama atau enggak." Bara meraih tangan Nana dan meletakkan botol yang gadis itu pegang di atas meja.


"Yang ada dihatimu masih cinta atau lebih di dominasi oleh luka." Bara menatapnya.


"Aku datang, Na." Bara menggenggam erat kedua tangannya.


"Memohon maaf padamu." Ada bulir bening di sudut mata pria itu.


"Aku ingin kita kembali, memulai kisah itu lagi."


"Aku ingin memperbaiki apa yang rusak karenaku."


"Aku akan berusaha menjadi pria yang bisa menjaga, melindungi dan membawa kebahagiaan untukmu."


"Na, aku akan berusaha untuk berubah. Ajari aku untuk jadi pria yang lebih baik lagi."


"Jadilah satu-satunya alasanku untuk hidup dan berjuang."


"Na, bisakah kita bersama lagi."


"Mengulang kisah tak sempurna yang dulu kita tinggalkan begitu saja?"


Nana masih diam. Dia harus menjawab apa kali ini?


"Bar..."


"Aku..."


Bara menunggu jawaban gadis itu.


"Aku sebenarnya hanya ingin satu hal darimu."


"Katakan!" Bara tersenyum kecil Ada secerca harapan untuk mereka bersama kembali.


"Bicarakan apapun itu yang ada di hati dan fikiran kamu."


"Jangan mengambil kesimpulan sendiri."


"Karena apa yang memurutmu benar belum tentu benar, Bar."


"Aku hanya terlalu kecewa atas keegoisanmu."


"Aku minta maaf, Na..." Ucapnya tulus.


"Setelah ini, belajarlah jadi Bara yang dewasa."


"Aku butuh pria jujur dan bertanggung jawab."


"Pria yang mempercayaiku dan pria yang menganggapku penting dalam hidupnya."


"Aku akan menjadi apa yang kamu mau, Na."


Nana tersenyum kecil dan mengangguk. "Terima kasih..." Bara memeluknya.


Nana membulatkan mata karena apa yang Bara lakukan ini diluar dugaannya. Nana berusaha melepaskan diri namun sulit.


"Aku berjanji akan terus berusaha menjadi Bara yang lebih baik lagi."


Nana tidak bisa melepaskan diri dan satu ide cemerlang melintas di fikirannya.


"Kak Evan!" ucap Nana pura-pura terkejut.


Bara langsung melepaskan pelukannya dan melihat sekeliling. Dan saat ia menyadari Nana berbohong ia sudah menemukan gadis itu berjalan menjauh darinya.


"Jangan lakukan lagi atau kak Evan akan benar-benar muncul dan mematahkan tanganmu!" Nana tertawa kecil.


"Jangan lupa kunci pintunya," lanjutnya.


Bara berjalan masuk ke kamarnya setelah membuang botol kosong bekas minuman Nana yang telah ia habiskan sisanya dan mengunci pintu belakang.


"Dari mana?" tanya Calvin yang masih mencrol beranda akun media sosialnya.


"Dari dapur," jawabnya singkat.


"Oh! Kirain dari kamar Nana."


"Uhuk!" Bara terbatuk.


Calvin menyeringai. "Benar dugaanku!" gumamnya.


"Seorang tamu menyelinap di kamar tuan rumah dan..."


"Bug!" Bara melempar bantal tepat mengenai wajah Calvin.


"Udah gede, ota*k masih kotor aja!" gumam Bara kesal.


"Dari bayi," jawabnya enteng.


Dimas dan Putra yang sudah tidur pulas diatas ranjang tak lagi bisa mendengar ucapan Calvin.


Calvin tidur dibawah dengan kasur lipat. Sementara Bara mengambil posisi di samping Dimas.


"Tidur! Besok gue mau ajak kalian ke resto khas Bali. Makan sepuasnya." Bara menutup matanya.


"Ce illeeee... yang balikan!"


"Nginep di resort dong. Pengen snorkling-snorkling manja gue sama ikan ikan kecil."


"Beres! Kalau ada paket snorkling bareng hiu, gue bayarin lo!"


"Hahaiii. Beneran balikkan, nih!" Calvin terus mengejek Bara.


"Sekali lagi lo ngomong! Gue beneran lempar lo ke tengah laut besok!"


Calvin tidak bicara apapun lagi. Tapi Bara masih bisa mendengar tawanya.