
"Sakit, Bar!" Teriak Nana sambil menendang perut Bara dengan kakinya membuat suaminya itu jatuh terduduk diatas ranjang.
Pria yang sudah on dan siap tempur itu harus ekstra sabar menghadapi istri bar-barnya.
Bagaimana tidak, miliknya baru tenggelam sekitar beberapa senti, tapi istrinya sudah menendangnya dengan tenaga kuda.
Bara hanya bisa menggaruk tengkuk melihat Nana yang duduk bersandar di headbord ranjang. Selimut tebal itu ditarik hingga menutupi hampir seluruh tubuh polosnya.
"Sayang!"
"Jangan maju!" Nana mengancam dengan mengacungkan jari telunjuknya.
Bara hanya bisa diam ditempat, menarik sisa selimut untuk menutup miliknya yang gagal tempur.
"Na..."
"Diam!" sambar Nana.
"Oke!" Bara mengangkat kedua tangannya dan mengambil posisi disamping Nana. Ia merebahkan diri dan meminta Nana untuk berbagi selimut.
Keduanya saling diam beberapa saat. Tidak ada yang ingin bicara lebih dulu. Ya, kejadian menggelikan yang baru saja terjadi membuat Bara sedikit geli.
Ia berhasil membujuk Nana untuk melakukan aktivitas iya-iya setelah sarapan. Tapi, semua kacau karena gadis itu tak kuat menahan sakit dan perih.
Bara melirik Nana yang masih saja diam menatap lurus ke depan. Apa rasanya sakit banget, sampe dia diem gak bergerak begitu? Padahal milikku juga sakit karena sulit menembusnya, tapi aku gak seberlebihan ini? Batin Bara.
"Sorry!" Nana menatap Bara yang sedang melamun.
Bara langsung melihat kesamping dan tampaklah Nana dengan raut wajah menyesalnya.
"Gak apa-apa!" jawab Bara.
"Kamu marah?"
Bara menggeleng. "Masih bisa lain kali."
"Kalau begini terus gimana?" tanya Nana.
Bara menggeleng. "Kapan-kapan pasti bisa."
Nana merebahkan dirinya di ranjang. Ia mendekat kearah Bara dan menjadikan lengan suaminya itu sebagai bantal.
"Sorry ya..." ucapnya lagi.
Bara mengusap pipi Nana. "Gak apa-apa. Untuk yang baru pertama kali, kayaknya hal begitu udah biasa."
"Beneran sakit, tau!" ucap Nana kesal.
Bara tertawa pelan. "Iya... iya... aku tau."
"Maaf udah tendang kamu, tadi."
"Gak apa-apa. Aku ngerti kok."
"Cari di youtu*be, gimana caranya biar gak sakit!" Perintah Nana seperti angin segar ditelinga Bara.
"Emangnya ada?" tanya Bara pura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah lebih banyak belajar dari Putra. Dan semua yang sahabatnya itu sarankan sudah ia lakukan.
Bara mengerti, semua tidak berjalan mulus karena Nana merasa cemas dan tidak rileks.
"Ada, mungkin!"
Dengan bodo*hnya sepasang pengantin baru itu mencari tipsnya dan keduanya sama-sama merasa geli sendiri. Bara dan Nana mengulum senyum dan tak lama keduanya malah tertawa.
"Kenapa ketawa?" tanya Bara.
"Kamu juga ketawa?" balas Nana.
"Hehehe. Ngerasa beg*o aja! Masa urusan begini sampe nonton di you*tube!" jawab Bara.
"Sama. Aku juga mikirnya gitu. Kita yang mau action, kok malah nanya sama...." Nana menutup mulutnya karena mentertawakan betapa anehnya mereka.
"Harusnya senyaman kita aja kan, Na?"
Nana mengangguk.
Bara meletakkan ponsel ditangannya dan memeluk istrinya. "Jadi, kalau kamu belum nyaman. Kita masih bisa lakukan lain waktu."
Bukan menjawab, Nana malah menempelkan bibir keduanya. Nana berusaha menciptakan rasa nyaman, dan percaya pada suaminya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Nana berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang akan ia beri memang kewajiban baginya dan hak bagi suaminya.
****
Nana menarik selimut hingga ke dada setelah tubuh Bara ambruk disampimg tubuhnya.
Akhirnya ia berhasil menjalankan kewajibannya sebagai istri. Nana merasa dirinya sekarang sudah sempurna menjadi istri Bara.
Nana bahkan tak sadar dirinya sampai melenguh dan mende*sah memanggil nama suaminya.
Bara memeluk perut rata Nana yang tersembunyi dibawah selimut. Ia mengecup bahu putih itu berulang kali.
Rasa sakit yang sejak pertama dirasakan istrinya membuat Bara bisa menebak bahwa Nana belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dan bercak darah yang ia temukan ditengah-tengah aktivitas mereka membuatnya percaya. Nana benar-benar menjaga dirinya.
"Terima kasih udah jaga diri kamu, Sayang!"
Nana mengusap rambut Bara. "Itu memang prinsipku, Sayang. Akan menyerahkan kehormatanku pada suamiku."
Bara mencium kening Nana. "Aku akan berusaha menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab, sayang."
"Aku akan berusaha menjadi sebaik-baiknya suami demi kamu."
"Terima kasih, Sayang!"
Bara memejamkan matanya beberapa saat. Dan tak lama ia membuka kembali matanya. "Kamu mau mandi atau mau langsung tidur, sayang?"
"Aku mau mandi dulu." jawab Nana. "Tapi sebentar lagi, Sayang!"
"Aku siapin air hangat di bathtube ya?" tawar Bara.
Nana menggeleng. "Gak usah. Aku pengen mandi air dingin aja dibawah shower."
"Bareng aku?" tanya Bara.
Nana tertawa. "Yang ada bukannya mandi sayang!"
Nana menyibak selimut dan perlahan bergerak mencoba untuk bangun dari tidurnya. Nana meringis merasakan pedih dibawah sana.
"Sakit banget?" tanya Bara yang seketika langsung duduk di ranjang.
"Ku gendong aja, Na!" Bara segera turun dari ranjang.
Nana menolak. "Aku bisa sendiri, sayang."
Nana menurunkan kakinya dan berdiri disamping ranjang. Ia perlahan berjalan menuju kamar mandi.
"Pinguin dari kutub bisa sampe sini juga!" Bara tak tahan untuk tidak berkomentar.
Nana berjalan pelan ke kamar mandi. Ia hanya bisa tertawa mendengarkan kata-kata Bara.
Bara hanya duduk di ranjang melihat istrinya yang sedikit kesulitan untuk berjalan itu.
"Beneran gak mau aku bantu, Na?" tanya Bara lagi.
"Udah sampe juga." Nana masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya perlahan.
Bara melihat ponselnya bergetar beberapa kali. Ia mengambilnya dan melihat pesan yang masuk.
Grup W.A dimana ada dia dan sahabat-sahabatnya yang bergabung di grup itu.
Putra : Bar, sukses?
Sebuah pesan yang memancing banyak balasan dari yang lain.
Calvin : Ganggu lo Put. Ini dia lagi berusaha kali!
Dimas : Tau lo Put! kayak gak ngerti aja sama penganten baru!
Putra : Hahahah... gue kan cuma nanya, sukses Bar? Kan itu artinya luas. Sukses check in? Sukses sarapan bareng? Sukses tidur nyenyak? Masih banyak lagi woii!
Calvin : Ngeles aja lo! Pertanyaan lo itu pertanyaan sakral buat pengantin baru, Put!
Dimas : Jangan ditanya lagi dong, Put! Kayak lo gak pernah aja. Ya, langsung goal lah dari tadi malam!
Putra : Jago dong? Gue libur dulu 5 hari karena kepalang pintu merah.
Calvin : Hahahaha... sumpah lo? Kenapa gak pernah cerita?
Dimas : Malulah dia, Vin!
Putra : Tapi langsung goal di percobaan pertama.
Zahra : Kalian bubar gih! Masih pagi untuk bahas beginian!
Sherly : Sayang! Entar malam tidur diluar!
Bara : Lanjutkan Sher! Jangan kasih selimut! Hahahah.
Bara meletakkan ponselnya. Ia berdiri, memakai pakaiannya dan merapihkan ranjang yang hancur berantakan. Ia juga menggulung seprei yang terdapat sedikit bercak merah.
Akan ia bersihkan dengan sabun sebelum akhirnya ia minta kepada pihak hotel untuk diganti.