
Ada yang berbeda dari rumah Hadi Wirya siang ini. Suasana rumah yang biasanya tampak sepi, hari ini mendadak menjadi ramai. Bukan karena hal buruk, justru karena ada hal baik yang akan diselenggarakan di rumah itu siang ini.
Acara pertunangan Bara dan Nana. Meski mendadak, tapi semua persiapan berjalan dengan lancar. Event Organizer yang mereka percaya sungguh bisa menyulap rumah ini menjadi begitu indah sesuai dengan keinginan Nana.
Sebelum bersiap, Nana sempatkan diri untuk berkeliling melihat seluruh dekorasinya. Senyum mengembang ia suguhkan pada para karyawan E.O karena ia begitu puas dengan dekorasinya.
Ia juga sempat berbincang dengan MC atau pembawa acara yang sudah standbye beberapa jam sebelum acara.
Nana sedang berada di kamarnya. Gadis yang sedang berbahagia itu duduk di kursi rias menghadap seorang wanita yang sedang memoles wajah cantiknya.
Kebaya berwarna biru muda sudah melekat di tubuh langsing itu. Ia perlahan membuka dan menutup matanya.
"Nyaman gak, mbak?" tanya perias itu pada Nana setelah memasangkan bulu mata palsu pada Nana.
"Nyaman kok, mbak!" jawab Nana. "Ringan."
Perias itu tersenyum tipis. "Bulu mata mbaknya udah bagus dan lentik. Jadi, saya pakai yang gak terlalu tebal."
"Lipsticknya yang nude aja ya, mbak. Aku gak biasa pakai yang terlalu jreng soalnya." Pinta Nana.
Nana terlihat sempurna. Make up natural dan tidak berlebihan membuatnya terlihat kian cantik. Ia tersenyum puas melihat tampilannya di cermin.
Ia juga puas tatanan rambut yang disanggul dengan untaian rambut disisi kanan dan kiri wajahnya.
"Anak gadis mama, ini semua seperti mimpi, Nak!" Mama Salma memeluk Nana dari belakang. Ada mama ayu juga di dekatnya.
"Terima kasih, mama bisa datang di hari penting ini, Ma." Nana menempelkan kepalanya di lengan mamanya.
Mama kandung yang membesarkannya. Meski dulu mamanya adalah wanita yang sibuk dengan pekerjaan, namun Nana tetap menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.
Nana tidak pernah lupa bahwa ia adalah satu-satunya bayi yang pernah dilahirkan wanita berusia hampir 50 tahun itu.
"Maaf merepotkan mama dan membuang waktu mama."
"Kamu bicara apa sih sayang! Jangankan mama, papa kamu aja antusias banget ingin hadir di pertunangan kamu."
"Kak Evan sama istrinya juga datang."
"Kamu udah lihat sendiri kan, Na."
"Kami semua sayang kamu. Jadi, moment penting dan bahagia ini gak akan mungkin kami lewatkan, sayang!"
Nana mengangguk. Meskipun mereka hanya saudara sambung. Tapi rasa sayang itu begitu luar biasa. Terlebih Evan, kakak yang selalu mendukungnya.
"Ma..." Nana mengulurkan tangannya kearah Ayu, mama sambungnya.
"Terima kasih, sejauh ini selalu dukung Nana."
Ayu mengusap setitik air mata diujung matanya. Ia tidak bisa menahan rasa haru karena kehadiran dan posisinya begitu dihargai oleh putri sambungnya itu.
Selama tinggal bersamanya, tidak pernah sekalipun Nana berkata tidak sopan padanya. Perdebatan kecil sering terjadi, namun keduanya tidak pernah saling mendiamkan.
"Mama akan selalu ada dibelakang kamu, Na. Membantu dan memastikan kamu baik-baik aja."
"Mama berharap, hari ini menjadi awal mula kebahagiaan kamu bersama Bara."
Ayu kembali menyeka air matanya. "Ini masih tunangan, loh! Gimana kalau kamu nikah?" Ayu tertawa. "Mama bisa kehabisan stok air mata, Na."
Nana menarik tangan mama Salma dan mama Ayu. Ia menggenggam kedua tangan lembut itu.
"Kalian adalah hal berharga dalam hidup Nana. Nana minta, mama Ayu dan mama Salma terus menasehati Nana untuk menjadi istri yang baik."
"Bantu Nana untuk terus belajar, Ma."
"Nasehati Nana kalau Nana salah."
***
"Sudah siap ganteng!" tanya Tamara pada putranya.
Pria dengan kemeja batik berlengan panjang itu tampak gugup. Bara sedari tadi hanya memandangi jam di pergelangan tangannya.
"Baru pertunangan, tapi udah gugup begini!" Ejek Wawan yang baru saja keluar dari kamarnya. "Gimana kalau nikah!"
"Bisa keluar masuk kamar mandi berapa kali kamu, Bar?"
"Ck! Ejek terus, Pa." kesal Bara. "Namanya juga baru pertama kali," jawabnya asal.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, Mas. Karena lebih cepat sampai kan lebih baik. Dari pada keluarga perempuan menunggu terlalu lama," usul istri kedua Wawan. Wanita bernama Ajeng itu berucap begitu lemah lembut.
Mereka akhirnya berangkat ke rumah Nana. Mereka memilih untuk berkumpul di rumah Wawan, karena selain apartemen, Bara lebih sering pulang ke rumah itu dibanding rumah Tamara.
Awalnya Bara meminta untuk berangkat sendiri dari apartemen. Tapi wawan tidak setuju. Malam tadi, Bara sudah tidur di rumah itu.
Mereka tiba di rumah Hadi. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga dari pihak perempuan.
Mereka dipersilahkan masuk dan duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan. Seserahan yang mereka bawa juga langsung diletakkan di atas meja yang sudah di sediakan.
Acarapun dimulai. Pertama kali adalah acara salam dan sambutan dari keluarga perempuan kepada keluarga pria. Kali ini dilakukan oleh suami Mama Salma. Selaku papa sambung bagi Nana. Pria yang tidak memiliki anak perempuan itu begitu antusias kala ditunjuk sebagai juru bicara dari keluarga Nana.
Acara selanjutnya, pihak keluarga pria menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke kediaman Hadi ini.
Bara dan Nana hanya bisa saling melempar senyum karena belum giliran mereka untuk bicara.
Dan selanjutnya adalah giliran Nana untuk menjawab pertanyaan tentang ketetapan dan kemantapan hatinya atas pinangan yang diajukan mempelai pria.
Nana berdebar hebat saat mikrofon sudah berada di tangannya. Ia tersenyum sebentar untuk menghilangkan kegugupannya.
"Sebelumnya, terima kasih saya ucapkan kepada Sambara Dharmawan yang telah mempercayakan hatinya kepada saya serta mencintai saya dengan begitu tulus."
Bara tersenyum melihat Nana yang jelas tampak gugup. Ia juga sebenarnya merasa gugup sedari tadi, tapi ia berusaha melawan kegugupannya karena hari ini adalah hari penting baginya.
"Insyaallah, dengan restu Papa dan Mama..." Nana menatap ke dua pasang orang tuanya yang duduk di sampingnya.
"saya bersedia menerima kamu sebagai suami dan imam dari bahtera rumah tangga yang akan kita jalani kelak."
"Saya menerima lamaran kamu..."
Helaan nafas lega terdengar dari bariaan keluarga Bara karena lamaran itu diterima oleh Nana.
"Alhamdulilah..." gumam Bara lega.
Selanjutnya masih ada beberapa hal yang disampaikan oleh Hadi, yaitu nasehat untuk putrinya dan juga untuk calon menantunya.
"Selangkah lagi, Nak. Papa akan benar-benar melepas kamu. Selangkah lagi, kamu akan menyandang status sebagai istri dari seorang pria yang kamu pilih. Maka, teruslah belajar untuk bisa menjadi istri yang baik, putriku."
"Kelak, berbaktilah padanya. Dan tetaplah saling mencintai meski gelombang kehidupan datang menerpa bahtera rumah tangga kalian..." Hadi tak mampu menahan gejolak di dadanya. Ia sempat menyeka setitik air mata di sudut matanya. Berat rasanya melepas putri kesayangannya untuk pria lain.
Ada beberapa nasehat yang ia berikan pada Nana. Semuanya Nana dengar dengan baik. Air mata haru tak tertahan lagi. Tissu di genggaman tangannya sudah entah berapa kali ia pakai untuk menyeka air matanya.
"Bara, cintai putriku dengan sebaik-baiknya. Bimbing dia untuk terus menjadi istri yang baik. Tetaplah bertanggung jawab untuk satu sama lain."
"Kalian adalah harta tak terhingga untuk masing-masing."
"Kelak, om akan titipkan mutiara paling berharga yang om miliki. Maka teruslah belajar untuk bisa menerima dan menjaganya, dengan tidak melukainya baik perasaan maupun fisiknya."
Bara melihat bagaimana beratnya seorang Ayah melepas putrinya. Ia memantapkan hati dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menyakiti Nana.
Pengorbanan seorang ayah begitu besar untuk putrinya. Namun, setelah dewasa seorang ayah harus rela melepaskan putrinya untuk pria lain.
Aku berjanji, Om. Akan membahagiakan Nana. Aku berjanji akan selalu ada untuknya. Aku akan selalu melindunginya. Batin Bara.