Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 73 Usil



Sambara belum tertidur setelah hampir jam 3 pagi. Ia meregangkan tubuhnya lalu memeluk guling menghadap tubuh sang istri yang tertidur pulas dengan selimut yang menutup hingga ke dada.


Sambara mencoba bersabar meski di bawah selimut itu jelas ada sajian lezat yang harusnya ia santap malam ini. Tapi apa daya! Ia bukan si pemaksa yang akan melakukan pemerko*saan terhadap istrinya sendiri meski dirinya berhak.


Sambara memejamkan matanya dan akhirnya terlelap juga setelah beberapa menit lamanya memikirkan nasib malam pertama ini.


Nana menggeliat dan ia melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 8 pagi. Nana langsung terduduk dan panik.


Istri macam apa gue? Bangun kesiangan begini?


Nana langsung melompat dari atas ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia segera menyelesaikan mandinya sebelum Bara terbangun, karena ia harus memesankan makanan untuk sarapan mereka pagi ini.


Nana menggosok bagian pinggangnya dengan sabun dan...


"Kok gak sakit?" Nana baru tersadar bahwa rasa sakit di pinggangnya lebih banyak berkurang. Ia bahkan bisa membungkuk, dan berdiri tegak dengan leluasa.


Nana tertawa tanpa suara. "Punya bakat juga suami gue. Hihihi." Nana tak tahan untuk tidak mentertawakan dirinya yang merasa lucu sekaligus beruntung memiliki suami seperti Bara.


Nana memakai bathrobe dan ia mulai menggaruk pelipisnya. "Lah, gue pake baju apa?" Gumamnya.


Seingatnya semua isi kopernya adalah lingerie yang menggelikan itu. Nana keluar dari kamar dan melihat Bara masih terlelap memeluk guling.


"Gini nih kalau ranjang mahal. Gue lompat dari ranjang, dia sama sekali gak ke bangun sangking minimnya guncangan." gumamnya pelan saat melihat betapa pulasnya Bara tertidur.


Padahal ia tidak tahu, Bara baru bisa tidur setelah lewat jam 3 dini hari.


Nana berjalan menuju koper milik Bara dan dia tersenyum lega karena menemukan boxer dan kaos putih polos milik suaminya itu.


Ia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan memakainya. Ia pun langsung menyisir rambut basah yang mulai kering, memakai bedak tipis dan sedikit lipbalm di bibirnya.


Setelah memesan makanan melalui telpon, Nana berjalan medekati Bara.


"Morning, suami!" Bisiknya.


Bara langsung membuka matanya saat mendengar bisikan goib dengan suara merdu.


"Kok kayak suara Nana?" Gumamnya pelan dan Nana hampir tertawa, ia langsung menutup mulutnya.


Posisi Bara yang membelakangi Nana membuatnya tak sadar bahwa wanita itu ada di belakangnya.


Bara kembali membulatkan mata. "Astaga!" Ia memijat keningnya.


"Gue kan udah nikah sama dia."


"Hahahahah..." Nana tertawa dan seketika Bara berbalik.


"Ini aku, sayang! Bukan setan ranjang yang berbisik-bisik di telinga kamu!"


Bara langsung duduk diatas ranjang. Ia memperhatikan pakaian yang Nana pakai.


"Mandi gih!" Perintah Nana. "Aku udah pesen sarapan buat kita." Nana hendak berbalik dan niatnya berjalan kearah sofa sambil menonton tv.


"Aahh!" Nana berteriak saat baju bagian belakangnya di tarik oleh Bara sehingga membuat wanita itu jatuh terduduk tepat di samping suaminya.


"Bara!" Geram Nana saat ia mendengar Bara tertawa.


"Aku gak mau mandi!" Ucap Bara sambil memeluk perut Nana dengan satu tangannya.


"Jorok, ih!" Nana mencubit paha suaminya.


"Biarin!" Jawab Bara.


"Bau, Bara...!"


"Wangi kok!" Jawab Bara asal.


"Wangi dari mananya? Mandi gak?" Ancam Nana.


"Cium dulu!"


"Diih!" Nana menunjukkan raut wajah jijik. Keningnya berkerut dan ia menjauhkan wajahnya dari Bara. "Mandi dulu, baru cium!"


"Morning kiss itu diberikan saat bangun tidur, Na!"


"Iya, kalau sama-sama belum mandi, sayang!" Jawab Nana tak mau kalah.


"Aku kan udah mandi dan kamu belum."


"Cup!"


"Cup!"


Bara mengecup bibir Nana dua kali dan segera melompat dari tempat tidur karena ia yakin setelah ini akan ada teriakan 10 oktaf yang akan meruntuhkan gedung hotel ini.


Nah, kan! Benar! Bara sudah bisa menebaknya. Bara yang sudah berada di dalam kamar mandi terbahak.


"Senangnya dalam hati, bisa ngerjain istri." Nyanyinya di dalam kamar mandi sambil membuka kaos di tubuhnya.


"Jangan nyanyi, Baraaa! Pokoknya aku sebel sama kamu!" Teriak Nana.


"Kalo sebel dan marah, bales dong!" Teriak Bara sambil terkekeh dan setelahnya ia tak mendengar suara apapun lagi karena ia sedang berdiri dan mengguyur tubuhnya dibawah shower.


Bara keluar dari kamar mandi dengan wajah freshnya. Tidak akan ada adegan perut kotak-kotak yang dialiri tetesan air dengan rambut basah dan otot lengan yang menggoda iman karena Bara lebih memilih memakai bathrobe.


Nana melihat pria itu mengumbar senyum sementara dirinya sedang memberengut kesal di depan Tv. Bara berganti pakaian dengan boxer dan kaos yang sama seperti yang istrinya pakai.


Ia lalu duduk di sebelah Nana. "Ck! Sweet couple banget kita ya sayang!"


Tanpa dosa Bara merangkul bahu Nana. Ia meluruskan tangannya di sandaran sofa.


"Pagi-pagi, baju udah couplelan. Celananya juga lagi!"


Dengan bodohnya Nana melihat pakaian mereka berdua padahal ia sadar ia memang sedang memakai pakaian suaminya.


Nana menatap Bara yang dengan jahilnya menaik turunkan alis. "Gimana? Bukankah ini sebagai isyarat kalau kita adalah keluarga sakinnah, mawaddah, warrohamah?"


Nana tak lagi mampu menahan tawa. Ia lantas menarik hidung suaminya. "Gimana bisa, kamu menilai kita sebagai keluarga Sakinah hanya dengan pakaian ini, sayang!" Nana kembali tertawa.


"Kita baru beberapa jam resmi jadi suami istri. Kamu belum ngerasain tuh satu rumah sama aku yang kalau lagi PMS bisa tendang kamu dari lantai dua."


"Kamu belum ngerasain gak makan malam karena magernya aku untuk masak!"


"Kamu belum ngerasain risihnya aku kalau ada handuk basah diatas ranjang!"


"Kamu belum ngerasain gimana malesnya aku bangun pagi."


"Kamu belum ngerasain telor ceplok warna coklat buatan aku."


"Kamu belum ngerasain aku tendang dari atas ranjang karena saking rusuhnya aku tidur."


"Dan kamu bilang keluarga sakinah!" Nana menggeleng pelan. "Tapi aku aminin aja deh!"


Bara tersenyum lebar. "Aku jadi gak sabar menunggu semua itu. Kayaknya bakalan indah banget, sayang!"


Nana mengerutkan kening. Bersamaan dengan bel berbunyi tanda makanan mereka sudah datang.


Nana berdiri. "Awas aja nanti kalau diemin aku cuma karena telor ceplok gosong!"


Padahal semua itu hanya bercanda. Nana bisa memasak, bahkan beberapa makanan dari negara dimana ia mengenyam pendidikan. Ia tinggal sendiri di negara itu sehingga mau tak mau ia harus mandiri.


Nana dan Bara sarapan bersama. Mereka menikmati sarapan pertama mereka setelah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Aku butuh beberapa pakaian, Bar! Aku minta supir buat antar deh!"


"Gak perlu," larang Bara. "Percuma juga! Mama Ayu gak akan kirim baju itu untuk kamu!"


"Kenapa gitu?"


"Kalau dia mau, isi koper kamu gak baju begitu semua sayang!"


"Ck!" Nana berdecak kesal. "Memangnya kita harus 24 jam di kamar?"


"Aku kan pengen dinner di rooftop!"


"Pengen jalan-jalan keliling hotel."


Bara menyeka bibirnya dengan tissu. "Kita belanja online aja."


"Ide kamu lumayan juga!" Nana tersenyum senang karena Bara sepertinya faham betul tugasnya sebagai suami, yaitu membantu menyelesaikan masalah istri.


"Tentu..." Bara tersenyum lebar.


"Dan melihat pinggang kamu yang kayaknya udah baik-baik aja. Aku jadi punya ide..."


Nana mulai waspada. "Bagaimana kalau kita..." Bara menaikkan satu sudut bibirnya.


Nana tahu maksud suaminya. "Masih pagi dan aku masih kenyang!"


"Bagus dong!"


"Hitung-hitung olahraga!" Bara mengerling.


"Perut kenyang? Bisalah 1, 2, 3 kali putaran penuh!" Bara kembali mengerling sambil menghitung dengan jemari tangannya.