
Setelah libur selesai.
Sejak melihat Nana bersama seorang pria di pusat perbelanjaan kala itu, Bara tidak lagi pernah menghubungi Nana. Ia sengaja memberi ruang untuk dirinya memahami bagaimana perasaannya yang sebenarnya.
Bara baru pertama kali menyukai seorang gadis. Dan gadis itu adalah Nana. Gadis yang tidak manja, tidak mengejarnya dan tidak pula bersikap berlebihan. Baginya, Nana bukan gadis yang suka cari perhatian, tidak menginginkan popularitas dan yang pasti dia punya pemikiran luas.
Bel masuk tinggal lima menit lagi. Tapi Nana belum juga muncul. Bara sedari tadi melihat kearah pintu menanti kedatangan gadis itu.
"Nana gak masuk, nih?" Tanya Zahra pada Sherly. Dan gadis itu hanya mengangkat bahunya.
"Kecapek-an kali, Sher!" Lanjut Zahra. "Gue lihat story w*a dia seru banget main ke pantai terus."
Bara membulatkan matanya. Sudah sejak beberapa hari lalu ia tidak pernah melihat story Nana di sosial media manapun termasuk di w*a.
Apa gue dikecualikan ya? Batin Bara.
"Heem! Dia bener-bener menikmati liburan singkatnya."
"Ah! Panjang umur tuh anak!"
Kalimat Zahra membuat Bara langsung menatap kearah pintu dimana Nana baru saja masuk bersama Dimas.
Bara menatap keduanya yang sama sekali tidak saling bicara. Bara terus menatap Nana yang saat ini sudah duduk di sampingnya.
Gadis itu terlihat berbeda. Rambutnya tidak di ikat dan dipotong sebahu.
"Fresh banget, Na!" Puji Sherly. "Bali kasih aura positif nih kayaknya." Nana tertawa tanpa suara.
"Bukan pertanda lagi broken heart kan?" Sahut Zahra sambil tertawa.
"Hati gue emang gak baik-baik aja." Nana diam sebentar.
"Tapi berkat healing-healing tipis, lumayan lah! Ngerefresh otak gue buat ngadepin ujian minggu depan."
"Hati mah belakangan! Entar juga sembuh sendiri!" Ucapnya acuh.
Bara tidak mengerti artinya tapi yang pasti gadis disampingnya itu masih marah padanya.
"Hahah..." Zahra tertawa. "Cadangan lo ganteng!" Bisiknya kemudian.
Bara mendengar itu dan rasa penasarannya semakin besar. Apa pria yang kemarin gue lihat yang dimaksud Zahra?
Nana belum menjawab, tapi bel masuk sudah berbunyi.
"Lo hutang cerita ke kita!" lanjut Zahra sambil berdiri karena mereka harus ke lapangan untuk upacara bendera.
***
"Tunggu, Na!" Bara menarik tangan Nana dan membawanya ke roof top. Saat ini jam pulang sekolah dan selama beberapa jam berlalu Bara diselimuti rasa penasaran dan rasa bersalah.
Penasaran dengan pria yang dimaksud Zahra dan rasa bersalah saat mengingat Nana mengatakan hatinya tidak baik-baik saja.
"Kamu mau bawa aku kemana, Bar?" Pertanyaan Nana membuat Bara bernafas lega. Setidaknya dia tidak menggunakan kata lo-gue.
Dengan langkah terseok, Nana mengikuti Bara. Dan tangan Nana akhirnya dilepaskan setelah mereka sampai di roof top.
"Aku mau bicara, Na!"
Nana menatapnya dengan wajah datar. Ia marah karena Bara menariknya seperti seekor kambing dan banyak siswa yang melihat hal itu.
Nana merasa malu karena perlakuan Bara sungguh tidak manusiawi menurutnya.
"Na... kamu dengar aku kan?" Tanya Bara melihat diamnya Nana.
"Heem!"
"Aku udah mutusin soal hubungan kita!"
Nana masih diam.
"Aku mau kita bertunangan dalam waktu dekat."
Nana masih diam.
"Jadi, aku mau kita baikan ya..." Bara memegang tangannya.
"Maaf terlalu lama mengambil keputusan. Tapi satu hal yang aku rasa selama gak ada kamu, Na."
"Sepi. Kehilangan dan yang pasti aku gak bisa kalau gak ada kabar dari kamu."
Nana tersenyum tipis. "Aku akan fikir-fikir lagi soal hubungan ini, Bar!" Nana berbalik dan hendak meninggalkannya.
Bara membulatkan mata. "Kamu mau kemana, Na?" Tanyanya sambil meraih tangan Nana.
Nana menghempaskan tangannya. "Aku mau pulang!"
"Tapi kita masih perlu bicara, Na!"
"Apa lagi Bar! Aku udah bilang kan? Aku mau fikir-fikir dulu!" Jawab Nana tegas.
Bara tertawa sinis. "Kamu gimana sih, Na?"
"Kemarin kamu yang paksa aku untuk cepat mengambil keputusan! Dan sekarang kamu yang bimbang!"
Nana diam.
"Pria yang bisa belanjain kamu! Yang bisa membuat kamu tertawa hanya dengan sepasang sepatu?" Tanya Bara membuat geram Nana.
"Kamu gak ada bedanya sama Diandra!" Kata paling menyakitkan yang pernah Nana dengar. Dia disamakan dengan gadis yang ada main dengan pria hidung belang.
Plaak!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Bara. Ia sampai memegang pipinya yang terasa kram seketika.
"Buat apa kamu memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini kalau fikiran kamu tentang aku seburuk itu!" Bentak Nana.
"Buat apa kamu memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini kalau kamu aja gak percaya sama aku?" Matanya berkaca. Ia maju selangkah.
"Buat apa, Bar?" Bisiknya.
"Awalnya aku percaya. Tapi setelah kamu meminta waktu untuk berfikir ulang, aku pun percaya ada hubungan antara kamu dan pria itu. Kamu meragu, kamu bingung untuk memilihku atau pria itu!"
Nana tertawa tanpa suara. "Dangkal banget cara fikir kamu!"
"Kamu menghakimi aku cuma dari apa yang kamu lihat?"
"Aku online 24 jam. Kamu bisa tanya siapa pria itu?"
"Kamu bisa tanya apa hubunganku dengannya!"
"Kamu bisa tanya, Bar! Bahkan ke papa sama mama sekalipun!"
Nana tak habis fikir. "Kamu tahu dia belikan aku sepatu."
"Woow! Hebat!" Nana tertawa lebar. "Kamu melihat kami, dan memilih jadi penguntit?"
"Atau kamu punya mata-mata?" Tanya Nana lagi.
Nana maju selangkah lagi. "Banyak-banyak latihan buat berfikir dewasa, Bar!"
"Pakai logika, jangan cuma hati kamu yang penuh rasa buruk sangka yang kamu dengerin!" Nana menunjuk dada Bara.
"Aku gak akan mungkin menerima sesuatu dari orang lain, Bar! Bahkan dari kamu sekalipun!"
"Lihat aku!" Nana menunjuk wajahnya.
"Heem!" Nana tertawa sinis. "Kamu belum mengenalku dengan baik."
"Belajarlah mengenaliku dulu, baru menghakimiku!"
Nana berbalik dan berjalan meninggalkannya. "Ah, yaaa!" Nana berhenti dan melihat arah samping agar Bara bisa melihat wajahnya.
"Aku bukan kambing yang bisa kamu seret sesukamu." Nana kembali melanjutkan langkahnya.
"Aku cemburu, Na!" Ucap Bara tegas.
"Aku cemburu kamu jalan sama pria itu!"
"Aku merasa kecil saat melihat pria itu tampak dewasa dan sempurna."
"Aku takut kamu lebih memilih dia daripada aku!"
"Maaf, aku terlalu cemburu!"
"Aku tidak menghubungi kamu, karena aku takut kamu terlalu asyik bersama pria itu sehingga kamu tidak membalas chat dariku."
"Tetap disana bersama rasa takutmu, Bar!" Jawab Nana.
"Aku butuh pria pemberani. Pria dewasa dan bertanggung jawab."
"Bukan pria egois sepertimu."
"Terima kasih telah menunjukkan sisi lain dirimu."
"Jangan pernah membahas apapun lagi tentang kita."
"Ku anggap kisah kita gak pernah ada."
Nana benar-benar meninggalkan Bara disana. Nana melangkah maju sambil menyeka air matanya. Bermenit-menit ia menahan agar air mata itu tidak tumpah. Tapi nyatanya sangat sulit meskipun ia berhasil.
Gue lebih baik mundur, Bar. Kelak, jika memang berjodoh, kita pasti akan bersama lagi.
Gue pernah memimpikan menikah dengan cinta pertama gue. Tapi sepertinya gue terlalu dini untuk jatuh cinta. Dan hati gue jatuh di orang yang salah.
Gue gak akan mungkin terus mengorbankan perasaan gue, Bar! Gue gak mungkin terus mengalah dan menunggu lo yang selalu sibuk sama fikiran lo sendiri.
Bara terdiam. Ia tak menyangka cinta ini kandas hanya karena dirinya.
"Aarrhh!" Teriaknya menarik rambutnya sendiri.
Kenapa gue gak bisa nahan emosi gue! Kenapa gue seret Nana kayak tadi? Kenapa gue sebodoh ini? Kenapa gue ragu ke dia. Harusnya gue mengerti kalau dia bukan gadis sembarangan. Harusnya gue tau dia hidup dalam keluarga yang menyayanginya.
Sekarang, apakah semua benar-benar berakhir, Na?