Selena's First Love

Selena's First Love
Bab 62 Melamar



Nana menyeka bibirnya dengan napkin yang sebelum makan tadi sudah ia letakkan dipangkuannya agar tidak mengotori pakaiannya jika ada makanan yang terjatuh.


Semua hidangan sudah mereka santap. Semua piring kotor juga di bereskan. Namun mereka masih enggan untuk pulang.


Nana masih menikmati hembusan angin menerpa wajahnya meski tidak terlalu kencang, membuat anak rambut mnya bergerak perlahan.


Ia melihat kedepan dan tampak cahaya lampu kota begitu memanjakan mata. Sebuah tempat yang tidak Nana duga begitu indah. Ia sering melewati tempat ini, tapi tidak pernah tahu kalau pandangan disini begitu indah saat malam hari.


"Na... terima kasih sudah mau menemaniku malam ini." Bara menatap wajah Nana yang selalu tampak cantik dimatanya.


"Awalnya aku kesal. Dan aku juga masih kesal sebenarnya, karena kamu berbohong."


"Kamu tidak merencanakan makan malam dengan klien penting, sayang!" ucap Nana dan Bara malah tertawa tanpa suara.


"Klien penting mana yang lebih penting darimu, Na?" Ucapnya dan berhasil membuat hati kecil Nana tersentuh.


Bara menggenggam tangan Nana yang ada di atas meja. Nana tersenyum kecil. Jadi, aku klien yang Bara maksud? Lucu sekali.


"Na, perlu kamu tahu. Kamu adalah bagian paling penting dalam hidupku."


"Kamu kepingan puzzle terakhir yang akan membuat hidupku menjadi sempurna, Na."


Bara berdiri dan meraih tangan Nana. Ia mengajak gadis itu berdiri bersamanya. Bara menatap wajah gadis itu dalam-dalam.


"Kamu alasanku untuk terus berjuang, Na." lanjutnya.


"Kebahagianmu adalah alasan untuk aku menjadi pria sukses, Na."


Suara biola mulai terdengar. Namun, Nana tidak melihat orang lain ada disekitar mereka. Nana sempat ingin mencari siapa orang yang memainkan alat musik itu dengan melihat sekeliling, tapi Bara menggeleng pelan sebagai isyarat.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun untuk membuatmu bahagia. Tapi aku akan berusaha semampuku agar senyum di wajahmu tidak pernah luntur sedikit pun."


"Aku akan menjadikanmu sebagai satu-satunya wanita yang akan terus ada disampingku, menua bersamaku."


Bara menuntun Nana sedikit menjauh dari meja. Keduanya berdiri diantara lilin yang belum dinyalakan dan hanya ada cahaya bulan diatas sana.


Bara mengajak Nana untuk berjongkok.


"Lihat ini, Na." Bara mengambil satu lilin yang menyala dan menyalakan lilin yang belum menyala dengan menggunakan lilin ditangannya.


"Satu lilin bisa menyalakan ribuan lilin."


"Dan kamu seperti lilin ini, Na." Bara menunjukkan lilin menyala yang ia pegang.


"Kamu membuat hidupku lebih hidup. Kamu cahaya, kamu pembakar semangat dan kamu adalah temanku saat aku dalam kegelapan."


Nana terus menatap wajah Bara hingga ia tak peduli pria itu sudah menyalakan beberapa lilin.


"Aku ingin kamu terus menjadi cahaya dalam hidupku, Na."


"Menemaniku, dan menerangi dalam gelapnya hidupku."


Nana tersenyum kecil dan ia mengangguk. Ia tentu ingin terus bersama pria yang ia cintai ini. Ia ingin menjadi saksi bagaimana pria ini mencapai kesuksesannya. Ia ingin hidup bahagia dan menua bersama Bara.


"Kamu tahu, aku membawa kamu ke rooftop karena satu alasan." Bara meletakkan lilin yang ia pegang dan menatap Nana. Ia meraih tangan Nana dan memintanya untuk kembali berdiri.


"Karena rooftop adalah satu tempat yang menjadi saksi betapa jungkir baliknya hidupku, Na."


Nana mengerutkan kening. Tapi ia tetap menunggu Bara menjelaskan maksud dari perkataannya.


"Dulu, lima tahun lalu, di rooftop sekolah, untuk pertama kalinya ada orang yang bisa menasehatiku. Ada orang yang bisa membuatku keluar dari masalah yang sudah terlanjur menenggelamkanku."


Sudut bibir Nana melengkung. Ia tersenyum. Ia ingat moment itu. Ya, saat itu untuk pertama kalinya Nana dan Bara saling bercerita tentang ketidak sempuanaan keluarga mereka.


Mereka hidup dilatar belakang keluarga yang berbeda dengan kisah yang hampir sama, yaitu broken home.


Bara terus menggenggam kedua tangan Nana. "Dan kedua kalinya, masih di rooftop. Aku benar-benar kehilangan kamu, Na."


"Aku salah, dan kamu pergi."


"Fisikmu ada, tapi jiwamu entah kemana!"


"Aku melihat cinta dimatamu, tapi cinta itu seoalah mati untukku."


Pertengkaran hebat terjadi di rooftop yang sama. Kemarahan Bara membuat Nana akhirnya benar-benar melepaskan diri darinya. Gadis itu tidak lagi menjadi miliknya. Tali kasih diantara mereka terputus begitu saja.


"Benar-benar menjadi kita."


Nana masih terus menatap Bara. Ia menikmati suasana romantis ini. Ditambah alunan musik biola yang semakin memanjakan telinganya.


Nana tidak lagi peduli dengan debaran jantungnya. Ia tidak lagi peduli, kemana arah pembicaraan Bara. Yang pasti, malam ini pria itu sungguh berbeda.


Bara menuntun Nana untuk mengahadap kearah lilin yang ia nyalakan tadi. Sebuah tulisan Marry me mendadak membuat otaknya berhenti bekerja.


Bara berlutut dihadapan Nana yang masih speachless. Bara mengeluarkan satu kotak yang ia simpan di saku blazernya.


Sebuah cincin berlian membuat Nana tersadar, ia tengah dilamar.


"Na, jadilah pendampingku. Jadilah ibu dari anak-anakku."


"Jadilah wanita yang ku dekap dalam tidurku, ku lihat saat aku akan terpejam dan aku lihat kembali saat membuka mataku."


"Temani aku disepanjang hidupku, Na."


"Aku mencintaimu."


"Sangat sangat mencintaimu."


"Will you marry, me?"


Nana tidak lagi bisa berkata-kata. Ia sungguh merasa ini seperti mimpi. Ia merasa belum siap untuk melangkah maju, tapi hatinya ingin.


Terkadang, usia menjadi patokannya untuk membina rumah tangga. Tapi melihat Bara yang begitu siap, ia akhirnya mengangguk.


"I will,"


Bara tersenyum lebar. Hatinya mengatakan Yes... yes... yes... Ia pun memasangkan cincin itu ditangan Nana. Pas.


Bara segera berdiri dan ia memeluk Nana erat. "Terima kasih, Na. Kamu sudah menerimaku sebagai pria yang akan bertanggung jawab atas dirimu."


"Itu karena aku percaya padamu, sayang!" bisik Nana.


"Aku ingin terus bersamamu. Menghabiskan sisa hidupku."


"Berjanjilah untuk membahagiakanku, Bar!"


"Banyak waktu yang kita sia-siakan hanya untuk mengobati luka."


"Nyatanya, luka itu tetap ada dan hanya bisa sembuh saat kita kembali bersama."


Waktu yang Nana maksud adalah lima tahun yang mereka lalui dengan perasaan cinta yang menyiksa.


Bara mendekap tubun Nana. Ia merengkuh gadis yang sudah menjadi pemilik hatinya sejak bertahun lalu.


Ini yang Bara ingin. Selama ini, ini yang Bara cari. Memeluk cintanya. Menjalani hari bersama. Dalam hubungan yang lebih jelas kemana arahnya.


Perdebatan kecil, saling memaafkan dan tidak pernah bisa memandang gadis lain, membuat Bara yakin, memang Nana lah pelabuhan terakhirnya.


"Aku sudah meminta restu Om Hadi dan tante Ayu."


"Papa dan Mama juga sudah merestui kita."


"Na, setelah ini, aku ingin mempercepat pernikahan."


Nana menatap wajah Bara. Ia menengadahkan kepalanya keatas dan melihat pria itu tersenyum kecil padanya.


"Aku tidak akan lagi membuang waktu."


"Karena meski sekarang atau puluhan tahun lagi, wanita itu tetap sama, Na."


"Wanita itu tetap kamu."


Nana mengangguk. "Terima kasih karena mencintaiku sedalam ini, Sayang!" Nana sedikit berjinjit. Ia mengecu*p singkat rahang Bara.


Bara tersenyum dan mengecu*p kening Nana sebagai balasannya.


***