
"Kena mental banget pak Dodit!" ucap salah satu gadis yang baru saja keluar dari gedung perkantoran menuju tempat parkir. "Lagian, berani banget mojokin anak bos!" lanjut gadis itu lagi. Dari caranya bicara sepertinya gadis itu juga termasuk orang yang tidak suka dengan sikap Dodit.
"Untung aja Selena bukan tipe cewek mental kerupuk yang bakalan melempem karena ulah pak Dodit tadi." ucap Seorang pria yang berjalan di samping gadis itu. "Atau dia bakalan jadi langganan mulut ember pak Dodit!"
"Ah, dasar Doditnya aja yang gil*! Masa anak bos dikata-katain begitu!" balas gadis itu lagi. "Gue yang cuma dengerin aja pengen nonjok!"
"Nah, itu dia. Dan kayaknya Selena gak laporin ini ke bokapnya deh. Buktinya hari ini pak Dodit gak dipanggil ke kantor," balas pria itu lagi.
"Iya. Kayaknya Selena bukan tipe anak manja yang sedikit-sedikit ngadu, deh! Dia juga cerdas banget lagi pas memperingatkan pak Dodit supaya gak ge-judge dia sembarangan," balas gadis itu sambil tertawa.
"Mana mbak Salsa mantep banget lagi balesnya. Kalau gak mikirin reputasi kantor, udah gue videoin terus gue up ke tok-tok!" Gadis itu tampak tertawa.
Bara menatap kepergian dua orang karyawan yang menyebut nama Nana dan Dodit. Ia sedang menunggu di tempat parkir hanya bisa terdiam mendengar percakapan mereka.
Dodit? Bukankah dia pria yang mengundang Nana ke partynya? Pantes aja Nana gak mau angkat telponnya. Ternyata pria itu rese' ke Nana.
Bara melihat pria bernama Dodit itu berjalan mendekat dan membuka pintu mobil yang terparkir disamping mobilnya. Ia masih ingat wajah pria yang katanya kemarin sedang berulang tahun itu. Entah yang ke berapa tapi kali ini Bara menebak itu ulang tahun yang ke tiga puluh sembilan. Tua!
"Pak Dodit, bukan?" tanya Bara sok kenal dan pria bernama Dodit itu menatapnya.
Bara bisa melihat kening pria itu berkerut. Seperti sedang mencoba mengingat wajahnya.
"Ya, saya Dodit. Anda..."
Bara mengulurkan tangannya. "Pacarnya Selena, Pak! Yang kemarin bicara pada bapak melalui panggilan video," potong Bara cepat. Ia memperkenalkan diri sebagai pacarnya Nana.
"Oh..." Wajah pria itu berubah riang. "Ya, saya ingat!" Dodit menjabat tangan Bara dan langsung melepaskannya dalam hitungan detik.
"Sedang apa?" tanya Dodit basa-basi.
"Tentu sedang menjemput Selena, Pak!" jawab Bara dengan senyum mengembang.
Dodit menelisik wajah Bara. Ia mencoba menerka-nerka. Apakah Selena sudah mengadu pada pacarnya mengenai perdebatan pagi tadi atau belum, ya?
Jika sudah, tidak seharusnya pria ini bersikap ramah padaku. Dan seharusnya pria ini marah ataupun acuh.
Atau mungkin memang sudah, tapi pria ini hanya pura-pura baik padaku. Batin Dodit.
"Ah, ya... Maaf tidak bisa hadir dalam pesta anda! Selamat ulang tahun!"
Dodit tersenyum kecil. "Terima kasih. Tidak masalah. Saya maklum kok. Kalian pasti punya urusan yang jauh lebih penting," jawab Pria itu.
Bara tersenyum dan mengangguk. "Anda benar sekali, Pak!"
Dodit tersenyum remeh padanya. "Saya duluan. Dodit menepuk bahu Bara sekali."
"Silahkan!"
Mobil hitam keluaran tahun 2005 itu perlahan mundur dan meninggalkan area parkiran.
Bara menatap kepergian pria itu dengan banyak pertanyaan.
Apa yang pria itu lakukan terhadap Nana? Sepertinya dia orang baik. Tapi senyumnya seperti orang yang berakal licik.
Dari kejauhan, Nana melihat Bara yang sedang bicara dengan Dodit. Ia sengaja tidak langsung menghampiri Bara karena enggan melihat wajah pria yang sedang bersama pacarnya itu.
"Mana pacar lo, Na?" tanya Salsa yang baru saja keluar dari kantor karena ia menyempatkan diri ke toilet sebentar. "Belum jemput?"
"Udah!" jawab Nana yang sedang berdiri di taman kecil di depan gedung.
Selama ini Salsa memang belum pernah bertemu langsung dengan Bara. Nana juga tidak banyak bercerita mengenai hubungannya dengan Bara.
Bagi Nana, tidak semua hal tentangnya harus di umbar terlebih ia adalah anak dari pimpinan perusahaan. Ia harus menjaga privasinya dengan baik supaya tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang diam-diam suka mencari keuntungan untuk dirinya sendiri.
"Dimana? Kok gak di datengin?" tanya Salsa.
Nana menunjuk Bara dengan dagunya. "Tuh!"
"Tuh lagi ngomong sama Dodit. Masih males gue lihat mukanya," jawab Nana.
Salsa melihat kearah Bara. Dan matanya membulat sempurna.
"I...itu?" Salsa menunjuk Bara. "Yang pake sweater biru dongker?" tanya Salsa lagi.
Nana mengangguk. "Iya, mbak!"
"Oh God!" Salsa ternganga. "Lo dapet oppa-oppa dari mana, Na?" seru Salsa takjub.
"Tapi gantengnya ngelewati garis khatulistiwa, belok dikit tembus ke Korea dan bahkan hampir mendekati Turki!" Salsa membuat Nana tertawa.
Bara tidak setampan itu, baginya. Hanya saja pria itu memang tampak lebih dewasa setelah pulang dari Jerman. Tampak berisi dan bersih. Dan kali ini Bara memang tampak fresh dan sepertinya pria itu baru saja mencukur rambut halus disekitar rahangnya.
"Mbak ini ada-ada aja. Dia asli Indonesia, mbak!" Nana berjalan kearah Bara karena Dodit sudah meninggalkan tempat parkir.
"Ayo, mbak. Sekalian ku antar ke kos!" ajak Nana pada gadis yang biasa naik ojek online itu.
Salsa tertinggal di belakang. Ia mengejar Nana dengan langkah panjang. "Lo ngajak gue bareng, Na?" tanya Salsa takjub.
"Iya. Ayo bareng! Kita bakalan ngelewati daerah kos-kosan mbak kok!"
"Lo gak takut gitu, kalo pacar lo tertarik sama gue, Na?" tanya Salsa sambil bercanda.
"Hahahah..." Tawa Nana pecah. "Justru gue berterima kasih kalo dia kepincut sama lo, mbak!" jawab Nana dan Salsa terkejut.
"Lo masih punya cadangan?" tanya Salsa lagi.
"Hahah.. ya gak lah! Satu aja gak habis-habis, mbak!"
"Maksud gue, kalo dia bisa kepincut sama mbak, itu udah cukup membuktikan kalau dia gak bisa setia dan sama saja dengan pria baj*ngan lainnya!" jawab Nana tanpa beban.
Nana tersenyum saat melihat Bara berdiri di samping mobil tersenyum lebar kearahnya.
"Hai... sorry lama!" Nana berdiri di depan Bara sementara Salsa yang berdiri di belakangnya diam-diam menelisik wajah Bara.
Dari deket lebih ganteng! Batin Salsa kagum. Tapi buat apa ganteng doang kalo dia gak suka sama gue! Mending Ardi kemana-mana. Dia udah kasih cincin juga ke gue. Salsa melihat cincin cantik di jari tengahnya.
"Bar, ini mbak Salsa. Temanku!" Nana memperkenalkan Salsa.
"Bara, mbak!" Salsa dan Bara saling berjabat tangan.
"Dia nebeng sampai ke kosan gak apa-apa kan?" tanya Nana. Bara mengangguk.
Mereka akhirnya meninggalkan area parkir. Nana duduk di depan sementara Salsa duduk di belakangnya.
"Ada masalah apa sama Dodit, Na?" tanya Bara pada gadis yang duduk di sampingnya.
Nana terkejut karena ia tidak memberi tahu Bara sama sekali. Apa dia ribut sama Dodit tadi?
"Enggak! Gak ada, Bar!" jawab Nana agak panik.
"Gak apa-apa kalau gak mau cerita. Tapi aku cuma pesan sama kamu. Jangan lengah!"
"Senyumnya aja udah menandakan ot*knya selicik apa!" lanjut Bara.
"Dia gak akan berani lagi, Bar!" Sahut Salsa. Nana hanys bisa menggigit bibir bawahnta. Sepertinya Salsa akan membuat Bara mengetahui hal yang sebenarnya.
"Tapi kita kan gak tau isi fikiran orang lain, mbak! Kalau dia punya rencana jahat gimana?" tanya Bara.
Salsa duduk bersadar. "Itu tugas lo jaga Nana."
"Di kantor masih aman. Di jalan, gue gak jamin!" sambung Salsa membuat Nana mendelik.
"Dia seburuk itu, mbak?" tanya Nana.
Salsa mengangkat bahu. "Entahlah! Tapi hati-hati juga gak ada salahnya, Na!"
"Kamu dengar itu, Na. Mulai sekarang aku akan antar jemput kamu!" perintah Bara.
Nana menghela nafas. "Kamu sibuk, loh Bar! Aku masih bisa sama papa."
"Tapi kalau pulang kadang kan gak bisa bareng, om Hadi!"
Salsa mendengar pembicaraan itu dan ia menyimpulkan Bara mengenal baik keluarga Nana.
"Ya, aku..."
"No debat, Na! Kamu tanggung jawab aku sekarang!"
"Sejak kapan?" tanya Nana terkejut.
"Nikahin, Bar! Nikahin aja! Nih anak terlalu mandiri kalau gue lihat!" sahut Salsa tanpa dosa.
"Doain segera, mbak!" sahut Bara sambil tertawa dan Nana salah tingkah.