
Setelah selesai menikmati makan malam bersama keluarga Nana, Bara memilih untuk duduk di luar rumah tepatnya di halaman belakang.
Ia merasa kedua orang tua Nana begitu menerima kedatangan mereka. Perbincangan ringan namun terasa hangat bisa ia saksikan tadi. Meski di meja makan ia lebih banyak diam.
Satu penyesalan lagi datang menghantam isi kepalanya. Ia menemukan bahwa pria yang ia lihat bersama Nana tadi ternyata merupakan kakak tiri gadis itu. Pria bernama Evan itu ternyata juga sudah berumah tangga.
Istrinya juga sangat cantik dan begitu akrab dengan Nana meskipun mereka baru bertemu kembali. Nana juga selalu menggoda keponakannya yang masih berusia dua setengah tahun itu.
Selama lima tahun, gue salah sangka sama dia. Kenapa gak ada yang berusaha kasih tahu ke gue kalau ternyata pria itu kakaknya Nana? Kenapa Nana gak berusaha jelasin ketika gue nuduh dia, dulu?
Bara menghela nafas berat. Rasanya rasa bersalah mengisi seluruh perasaan dan hatinya. Ia merasa menjadi pria paling bod*h dan jahat.
"Kenapa sendirian?" Bara menoleh ke samping dan melihat Evan duduk di kursi yang sama dengannya.
"Ehm, cari angin, Kak!" jawabnya.
"Untuk apa kamu liburan ke Bali bersama teman-temanmu, kalau kamu malah menyendiri begini?" tanya Evan.
"Karena udara di luar lebih sejuk dan menyegarkan."
Evan terkekeh pelan. "Di dalam terasa panas?" tanyanya menatap wajah Bara.
Bara membalas tatapan itu dan mengangguk ragu.
Evan terkekeh lagi. "Udaranya yang panas atau hatimu?"
Bara terus menatap Evan tanpa berkedip. Pria yang ia tatap malah terus tertawa meski dengan suara pelan.
Sadar, Bara terus menatapnya, Evan langsung diam dan menatap lurus ke depan.
"Jangan menatapku seperti itu!"
"Aku bukan musuh, apa lagi saingan bagimu." Evan menatap wajah Bara. Lalu ia duduk bersandar dan menyilangkan kakinya.
"Aku kakak bagi Nana."
"Dan semua yang terjadi antara kamu dan dia, aku tahu semua."
Bara membulatkan mata. Bagaimana bisa Nana percaya pria yang baru ia kenal?
"Biasa saja melihatku!" ucap Evan tegas. Dan Bara langsung menunduk.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padanya?" tanya Evan.
Bara diam dan tidak menjawab.
Evan menghela nafas. Dasar kulkas dua pintu!
"Baiklah, biar aku yang menilai!" Bara melihat wajah Evan lagi.
"Aku bisa melihat dari caramu menatap kami saat di depan, tadi. Ada rasa cemburu disana."
"Aku bisa melihat dari caramu menatapnya saat makan malam tadi, ada rasa penyesalan disana."
"Mungkin karena kamu baru mengetahui siapa aku sebenarnya."
Evan tertawa. "Kamu terlalu sibuk dengan fikiranmu sendiri hingga kamu tidak memperhatikan ada begitu banyak fotoku dan keluarga kecilku di rumah ini."
Bara mengangguk setuju. Bahkan ia baru menyadarinya setelah makan malam tadi.
"Dan aku melihat rindu begitu besar saat kamu melihatnya tertawa bersama teman-teman kalian tadi, sesaat sebelum akhirnya kamu keluar dan duduk disini."
"Jika masih ingin bersamanya, datang dan katakanlah!"
"Dia menunggu permintaan maafmu."
"Dia tidak akan memaafkanku," lirih Bara. "Salahku sudah terlalu banyak padanya."
"Nana benar, kamu belum mengenalnya dengan baik." Evan tersenyum sinis.
Bara ingat, itu kata-kata Nana lima tahun lalu.
"Kamu tidak mempercayainya. Kamu lebih mengutamakan apa yang ada dalam hati dan fikiranmu. Itu egois namanya, Bara!" Cecar Evan tanpa jeda. Tangannya menunjuk dada Bara.
"Pergilah!" usir Evan. "Kamu bukan pria yang pantas untuk adikku." Bara diam mematung.
Deg!
Jantung Bara terasa berhenti berdetak saat mendengar Evan mengatakan bahwa Nana masih mencintainya.
Nana masih mencintaiku? Bagaimana mungkin? Sikapnya saja begitu dingin padaku. Ia bahkan enggan menatapku. Pria ini sedang berbohong untuk membuatku semakin merasa bersalah atau dia memang mengatakan yang sebenarnya?
Evan tersenyum miring. "Adikku itu memang bod*h, menaruh hati dan menunggu pria pengecut sepertimu!" geram Evan.
Nana menungguku? Apa aku tidak salah dengar?
"Setelah ini, ku mohon, benar-benar pergilah dari hidupnya."
"Aku tidak ingin adikku terus terluka saat melihatmu."
Dia diam karena terluka saat melihatku?
"Dia mencintaimu, dan dia ingin bersamamu. Namun, hal buruknya adalah, kamu ada di depannya tapi tidak bisa ia raih."
"Kamu bisa bayangkan betapa menyakitkannya hal itu, kan?"
"Tapi dia rela menahan sakit, Bar!"
"Demi masa depannya. Karena dia merasa tidak akan bisa hidup bersamamu yang seperti ini!" Evan menunjuk Bara dengan dua telapak tangannya.
"Pengec*t dan egois."
Evan berdiri dan merapihkan kaosnya. "Jika masih ingin memperbaiki semuanya. Maka sekaranglah saatnya."
"Karena jika kamu terlambat sedikit saja, Nana akan pergi dan kesempatan itu tidak lagi ada."
"Nana akan keman?" tanya Bara.
"Mengambil S2-nya di Los Angeles!" Evan meninggalkan Bara yang diam mematung. Ia tak percaya atas apa yang ia dengar.
Bukankah, dia akan bekerja di Jakarta? Aku sering mendengar obrolan mereka. Lalu mengapa sekarang kakak laki-lakinya malah mengatakan dia akan kuliah di luar negeri lagi?
Na, apa benar kamu masih mencintaiku? Apa benar kamu masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu?
Ck! Aku memang pengec*t!
Bara berdiri dan berjalan ke arah dalam rumah. *Jika aku hanya diam dan diam, semua gak akan clear. Aku dan dia harus bicara.
Apapun akhirnya, seenggaknya aku sudah mencoba*.
Evan tersenyum lebar saat bara kembali masuk ke dalam rumah dengan wajah tegang namun tampak penuh harap.
Evan sebenarnya hanya ingin keduanya bicara baik-baik. Ia tidak suka suatu hubungan memburuk selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian.
Mereka berpisah dalam keadaan hati yang memanas. Tidak dengan fikiran jernih. Dulu, keduanya masih sama-sama remaja dan mengedepankan keegoisan masing-masing.
Kini, Evan berharap, keduanya bisa kembali membicarakan masalah keduanya. Lima tahun, ia rasa sudah cukup untuk keduanya menilai. Keduanya pasti mengerti apa yang hati mereka inginkan.
Evan sudah membuka jalannya. Ia merasa tugasnya sebagai kakak sudah selesai.
Maaf, Bar! Dia gak akan ke Los Angeles! Aku cuma bercanda tadi, tapi kalau kamu menanggapinya serius. Ya, itu menguntungkan bagiku! Evan terkekeh dalam hatinya.
Bara masuk ke dalam rumah. Ia masih melihat Nana dan teman-temannya menonton film bergenre komedi. Mereka bahkan saling bersahut-sahutan saat tertawa.
Bara ingin bergabung. Sebaiknya jangan, karena Nana akan merasa canggung saat melihatku. Batin Bara.
Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamar dan menunggu sampai mereka selesai.
"Gabung, Bar!" tawar Putra.
"Gue duluan, ngantuk soalnya!" Bara berjalan menjauh. Sepertinya tidak ada yang peduli dengan kepergiannya karena mereka masih terus fokus pada film, tawa mereka juga terdengar begitu keras.
Hampir tengah malam, Bara segera keluar kamar saat Calvin, Dimas dan Putra baru saja masuk ke dalam kamar. Ia akan ke kamar mandi di dapur, karena di kamar mereka tidak ada kamar mandi di dalamnya.
Keluar dari kamar mandi, Bara melihat Nana sedang berdiri di depan pintu kulkas yang terbuka.
Inikah saatnya?