
Bara dan Nana masuk ke sebuah kamar yang disediakan pihak W.O untuk mereka beristirahat menunggu waktu malam tiba. Karena resepsi akan diadakan di tempat ini, setelah sholat Isya sesuai permitaan Nana.
Bara membuka peci putihnya dan meletakkan diatas meja. Bara membuka beskap dan menyisahkan kaos putih di tubuhnya.
Nana malu melihat Bara yang membuka pakaian itu tanpa ragu sedikitpun padahal pria itu tahu ia ada di dalam dan mereka hanya berdua.
Nana menunggu tim MUA untuk membereskan riasannya, membuka sanggul dan segala aksesoris di kepalanya.
Nana menutup matanya saat Bara membuka celana asal dan meletakkannya di punggung sofa.
Bara tertawa melihat Nana yang sekatika langsung menutup matanya. "Masih ada boxer di dalamnya sayang!"
Bara mendekat dan ia melihat wajah Nana yang tampak bersemu merah.
Bara mengecup singkat pipi Nana. "Nanti malam baru ku tunjukan ada apa di dalamnya." Bara mengerling dan langsung masuk ke kamar mandi.
Nana tak sanggup lagi menahan jantungnya yang berdetak hebat. "Kamu selalu berhasil buat aku seperti ini, Bar!" gumam Nana.
Tim MUA masuk ke ruangan itu dan membantu Nana membersihkan wajah dan sanggulnya. Nana sudah berganti pakaian dengan bathrobe yang panjang selutut.
Nana memperhatikan tingkah Bara dari bayangan di cermin. Suami yang awalnya memilih duduk di ranjang sambil melihat dirinya itu lama kelamaan malah menyandar di bantal dan tertidur.
Nana tahu, Bara kelelahan. Pria itu selalu datang ke tempat ini sejak kemarin demi mamastikan semuanya sempurna. Padahal bukan itu yang Nana harapkan. Ia sudah mempercayakan semuanya pada tim W.O dan berulang kali meminta Bara agar tidak terlalu mengkhawatirkan masalah dekorasinya.
Tidak harus 100 persen sama seperti permintaan mereka, yang terpenting saat acara berlangsung semua berjalan lancar, tidak ada kendala apapun.
Nana bahkan lebih mendukung pria itu jika seandainya Bara mencari pawang hujan demi kelancaran acara ini. Ya, karena pernikahan mereka kan di outdoor.
Nana sudah selesai. Ia mencepol rambutnya dan duduk di ranjang. Tim MUA sudah keluar dan membiarkan mereka beristirahat karena jam 5 sore nanti, mereka harus sudah kembali bersiap.
Nana menelisik wajah Bara yang terlelap. Perlahan ia mendekat dan mengecup kening pria itu. Bara tidak bergerak sedikitpun.
Nana semakin berani, ia mencoba mencium pipi Bara. Dan saat bibirnya menempel di pipi suaminya. Badannya seperti tertarik.
Ternyata Bara memeluk Nana. Pria itu melingkarkan tangan di tubuhnya. Ia lantas terkejut dan berusaha menarik diri.
"Mau kabur kemana sayang?" bisik Bara dan berhasil membuatnya meremang.
"Ehm, aku mau..."
"Jangan cari alasan, Na. Kamu duluan loh yang mulai."
Tubuh mereka sangat dekat, bahkan sudah menempel. Nana menahan tangannya di dada Bara.
Nana menatap mata suaminya. "Aku kan cuma cium kening kamu, Bar!"
"Tapi kamu nambah loh, mana pindah ke pipi lagi."
Nana langsung memutus tatapannya dimata Bara. Ia malu karena ketahuan.
Bara meletakkan tangannya di belakang kepala Nana dan mendorong kepala itu ke dadanya.
"Jangan malu lagi, ya..." Bara mendekap Nana erat.
"Aku ikhlas lahir batin kok, kamu curi cium*an kayak tadi."
"Kamu perk*sa aku juga rela, Na." bisik Bara pelan.
Bukannya marah, Nana malah terkeleh di dadanya. "Malah ketawa."
"Habisnya kamu aneh, sih! Aku gak mungkin gituin kamu, Bar!"
"Berarti harusnya aku dong yang gituin kamu?" balas Bara sambil tertawa.
Nana menengadahkan kepalanya demi bisa melihat wajah Bara. "Kamu mau aku nagis sepanjang malam, sayang?"
Bara diam dan menyipitkan matanya tanda ia tak mengerti dengan pertanyaan Nana.
"Kamu gak ngerti maksud aku?" tanya Nana dan Bara menggeleng.
"Maksudku, kalau kamu perk*sa aku, aku bisa nangis sepanjang malam, Bar!"
"Pemaksaan itu kan caranya kasar!" Nana mencoba memberi pengertian. "Dengan cara lembut aja, kalau pertama kali bagi perempuan, itu rasanya sakit, sayang!"
"Ih! Apaan sih! Kamu kok gitu terus ekspresinya!" Nana mencubit hidung Bara.
Bara tertawa dan melepaskan Nana. Gadis itu langsung menegakkan duduknya. Bara juga langsung duduk diatas ranjang.
"Aku heran, Na. Kamu tahu dari mana kalau rasanya sakit?" Bara terus mentertawakan istrinya.
"Dari Sherly!" Sahut Nana cepat. "Oops!" Wanita yang masih gadis itu menutup mulutnya karena keceplosan.
Bara semakin tidak bisa menahan tawanya. "Pantes aja, kalau udah nge-ghibah sama Sherly muka kamu auto tegang dan serius!" Bara menarik hidung Nana.
***
Malam harinya...
Nana dan Bara masuk ke area pesta dengan bergandengan tangan. Sambutan meriah para MC dan tamu undangan membuat Nana semakin melebarkan senyum.
Percaya dirinya begitu besar karena kepuasannya terhadap gaun yang ia pakai. Gaun sepanjang mata kaki itu membalut sempurna tubuh semampainya.
Ia masih ingat, di dalam kamar Bara berulang kali memuji penampilannya.
"Sempurna."
"Cantik..."
"Paripurna!"
Dan entah apa lagi. Nana sampai merasa Bara terlampau berlebihan.
Dari pelaminan, mereka melihat ribuan orang tumpah ruah di bawah langit malam yang cerah. Suasana outdor yang tidak semuanya terang, membuat suasana di berbagai titik tampak hangat dan romantis.
Live musik sebagai hiburan dengan menampilkan beberapa penyanyi profesional meski bukan dari kalangan artis.
"Kita taruhan, Na!" bisik Bara sambil tersenyum ke arah depan.
"Dimas sama Mbak Salsa pasti lagi mojok di gelap-gelapan sana!"
Nana tertawa. "Siang bolong aja mereka berani kissing basah, apa lagi malem hari dengan suasana agak gelap begini, sayang! Wah, Dimas bisa nambah-nambah tuh!"
Keduanya tertawa jaim karena takut di perhatikan oleh para tamu.
"Mbak Salsa kayaknya berhasil banget membimbing Dimas ke jalan yang sesat." Bara menatap lurus ke depan. Ia memang belum melihat kedatangan pasangan itu
"Jangan salahin ceweknya dong sayang. Dimasnya juga doyan kali!" Nana merasa kesal karena Bara malah seolah menyalahkan Salsa.
"Ck! Kok kita jadi berantem di pelaminan gini sih? Gara-gara Dimas pula!"
"Iya ya." Nana membenarkan. "Pokoknya jangan bahas mereka lagi. Aku gak mau tamu undangan lihat muka aku jadi jelek gara gara badmood berantem sama kamu."
Pesta berjalan lancar. Hadi dan Wawan merasa moment ini begitu membahagiakan. Kedua orang tua itu malah lebih heboh jika dibandingkan dengan sepasang pengantin yang merasa kelelahan menyalami sebegitu banyaknya tamu.
Wawan dan Hadi bahkan selalu tertawa lepas tiap kali bertemu dengan rekan bisnis ataupun teman kuliah dan SMA mereka dulu.
Pesta selesai, namun aktivitas Nana dan Bara masih belum selesai. Keduanya berganti pakaian, dan membersihkan diri.
Seluruh keluarga menunggu mereka selesai dan keluar dari kamar.
Nana memakai celana jeans dan denim jaketnya, begitu juga Bara.
Keempat pasang orang tua itu berdiri di parkiran mobil dengan sebuah koper besar di depan mereka.
"Selamat sayang! Have fun yaaaaa...." Mama Salma memeluk Nana. "Semoga bisa cepat kasih mama cucu." Bisik wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.
"Selamat menjalankan status baru sebagai istri sayang..." Mama Ayu memeluk Nana.
Keduanya memeluk satu persatu orang di sana. Rasa lelah terbayar sudah dengan selesainya acara dan berjalan dengan lancar.
"Terima kasih semuanya...."
"Kalian hati-hati di jalan yaaa..." Ucap Nana sambil melambaikan tangan saat ia dan Bara sudah berada di dalam mobil.
Keduanya akan diantar supir menuju hotel, tempat mereka akan menginap beberapa malam disana.